Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 45


__ADS_3

setelah mayat itu di bawa ke rumah sakit, orang-orang membubarkan diri kembali beraktivitas seperti biasa. hanya dua orang polisi Mahesa dan Angga yang masih sibuk mencari jejak si pembunuh.


kejadian tersebut berada di lampu merah di jalan merpati. mayat wanita itu ditemukan di semak belukar di bawah jembatan.


"kalau dia di bunuh di tempat ini otomatis berarti pembunuh itu akan terekam cctv di bagian sana, kare hanya itu satu-satunya jalan untuk bisa turun di bawah ini" Mahesa menunjuk cctv yang ada di lampu merah itu


"tapi kalau misalkan dia tidak terekam cctv, berarti ada jalan lain yang dia lewati" lanjut Mahesa


"jalan lain gimana, elu kan tadi bilang hanya itu satu-satunya jalan yang menuju ke sini" Angga menimpali


"elu tau, seorang pembunuh akan punya banyak cara untuk bisa menghabisi korbannya" saat ini mereka masih berada di tempat penemuan mayat


Mahesa mengambil koran-koran bekas itu untuk dibuangnya namun kemudian dia mencium wangi sesuatu, wangi sebuah minyak wangi yang tercium di hidungnya.


(minyak wangi ini....aku pernah mencium wangi ini sebelumnya, tapi dimana ya) batin Mahesa mengingat-ingat


"kenapa Hes...?" Angga membuyarkan lamunan Mahesa


tidak menjawab, Mahesa berjongkok dan mendekatkan hidungnya di tanah untuk memastikan apakah harum minyak wangi itu ada di terbaringnya mayat itu dan memang benar dia mencium harum minyak wangi meskipun samar.


"kenapa sih, elu ngapain...?" tanya Angga lagi yang merasa aneh dengan kelakuan rekannya itu


"gue mencium harum minyak wangi" jawab Mahesa kembali berdiri


"minyak wangi...?" tanya Angga


"iya, coba cium koran ini" Mahesa memberikan koran tadi kepada Angga dan Angga mulai menggunakan hidungnya untuk mencoba mencium harum yang dikatakan oleh Mahesa


"iya benar, ini minyak wangi yang dipakai laki-laki" ucap Angga


"darimana elu tau kalau ini minyak wangi yang dipakai laki-laki...?" tanya Mahesa


"dari harumnya saja kita udah tau kalau ini untuk laki-laki. bungkus korannya, akan gue berikan kepada adek gue untuk mencari tau minyak wangi apa ini, karena dia banyak tau tentang minyak wangi, udah puluhan dia gonta ganti pakai"


Mahesa kemudian menyimpan koran itu di plastik putih yang transparan dan memberikannya kepada Angga.


"sekarang elu periksa cctv, gue akan periksa disekitar sini mungkin saja dia menggunakan jalan lain untuk sampai ke tempat ini" perintah Mahesa


"baik"


Angga segera naik ke atas untuk memeriksa cctv, sementara Mahesa mulai melakukan pencariannya. saat itu juga dia melihat bekas tanda sepatu milik seseorang, yang tidak jauh dari tempat mayat wanita itu.


Mahesa mengikuti jejak sepatu itu, bahkan dirinya sampai pada semak-semak yang dia perkiraan adalah jalan yang digunakan oleh si pembunuh. saat menyusuri itu, Mahesa tiba di sebuah jalan yang jaraknya 20 meter dari bawah jembatan.


"sepertinya dia tau tempat yang tidak ada kamera pengawas sehingga dia mengambil jalan ini" gumam Mahesa


"tunggu, apa ini...?" Mahesa menemukan sesuatu di bawah kakinya


"gelang...?" sebuah gelang yang cantik ada pinggir jalan itu saat akan memasuki jalan semak belukar itu. gelang itu adalah gelang khusus untuk dipakai perempuan yang mempunyai tulisan huruf H, sepertinya huruf itu adalah inisial nama seseorang


"sepertinya ini gelang wanita itu" gumam Mahesa


Mahesa mengantongi gelang itu dan berbalik arah, kembali ke tempatnya semula. sudah ada Angga di sana yang sedang menunggu kedatangannya.


"bagaimana...?" tanya Mahesa


"lihat ini" Angga memperlihatkan rekaman itu yang ada di ponselnya


seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam melintas dan menyebrangi jalan dan hampir saja salah satu pengendara motor menabraknya. terlihat dalam rekaman itu, pengendara motor tersebut membanting motornya ke kanan dan dia pun terseret menabrak trotoar.


seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam itu, tidak mempedulikan kecelakaan itu, dia hanya melihat sekilas kemudian pergi meninggalkan tempat itu. tidak dilihat jelas siapa orangnya karena wajahnya ditutupi masker dan topi.


sementara pengendara bermotor tadi dibantu oleh para warga untuk bangun begitu juga dengan motornya. hingga kemudian mereka meninggalkannya dan pengendara motor itu pun kembali naik ke atas motor dan meninggalkan tempat itu.


"gue seperti mengenal motor ini" ucap Mahesa memperbesar gambar motor tersebut


"iya gue kenal siapa pemilik motor ini" ucap Mahesa yakin


"memangnya siapa...?" tanya Angga saat ponselnya ia ambil kembali dan memasukkan ke dalam jaketnya


"dia Mahendra, penghuni kost 010" jawab Mahesa


"elu yakin...?"


"gue bahkan sering bertemu dengannya saat kasus psikopat Wili Alfiansyam, jelas gue tau kendaraan yang dia gunakan"


"kalau begitu kita harus bertemu dengannya sekarang"


"jangan sekarang, kita harus ke rumah sakit dulu. ada yang gue ingin pastikan. untuk Mahendra, nanti gue hubungi dia setelah kita pulang dari rumah sakit"


"bagaimana dengan Cakra, Zulfikar dan Damar...?" tanya Mahesa


"Cakra sedang di luar kota menghadiri pernikahan kakak sepupunya. Damar masih di kantor sementara Zulfikar masih di rumahnya"


"ya sudah, kita berangkat sekarang ke rumah sakit"


mereka berdua kembali naik ke atas untuk menuju jalan raya. kemudian masuk ke dalam mobil Mahesa dan meninggalkan tempat itu.


tok tok


"bang Olan" panggil Randi mengetuk pintu kamar Olan


cek lek


"kenapa Ran...?" Olan keluar dengan wajah kusutnya bahkan beberapa kali menguap pertanda dirinya masih mengantuk


"tumben baru bangun, nggak kerja kah bang...?" tanya Randi


"nggak, hari ini gue mau cuti dulu. ada apa, elu butuh sesuatu...?"


"bang Rahim panggil abang di ruang utama"


"ini jam berapa sih...?" tanya Olan


"jam 8 bang"

__ADS_1


"hummm, ya udah nanti gue nyusul"


Randi meninggalkan kamar Olan sementara Olan menutup pintu kamarnya dan mengambil handuk kemudian masuk ke kamar mandi.


"mana Olan Ran...?" tanya Rahim saat ia melihat Randi datang seorang diri


"nanti bang Olan datang katanya bang, mungkin masih mau mandi soalnya baru bangun" Randi menjawab dan duduk di kursi


"emang ada apaan sih bang...?" tanya Alan


"gue mau suruh dia untuk menunggu seseorang yang akan datang memeriksa kamar kosong. kalau dia merasa cocok, dia akan menjadi penghuni baru yang akan ngekost di tempat ini. soalnya gue mau ke kampus pulang mungkin malam karena ada urusan lain. kalau kalian kan pasti mau ke kampus juga" Rahim menjawab


"emang dia datangnya jam berapa bang...?" tanya Randi memastikan


hanya ada mereka sekarang di kost itu, Mahendra, Danil dan Iyan sudah pergi sejak tadi saat selesai sarapan pagi.


"gue juga kurang tau. ya kalau ada yang datang untuk menanyakan kamar berarti sudah dia orangnya. gue belum sempat menanyakan namanya siapa"


"satu orang saja ya bang...?" tanya Alan


"iya, baru satu orang. kalau kalian ada di kost, kalian saja yang memperlihatkan kamar-kamar kosong itu" jawab Rahim


"kalau sore mungkin gue bisa karena paling gue pulangnya siang, tapi kalau siang dia datang jelas nggak bisa" ucap Randi


"biar Alan aja, kebetulan hari ini Alan nggak ada mata kuliah" ucap Alan


"ya udah biar elu sama Olan saja yang sambut dia nanti ya" timpal Rahim


"sambut siapa bang...?" Olan baru saja datang dan duduk bergabung bersama mereka


"yang mau lihat-lihat kamar kosong, kalau dia cocok, dia akan kost di sini" jawab Rahim


"terus kunci tiap kamar dimana...?" tanya Olan


"sebentar gue ambilkan" Rahim pergi ke kamarnya mengambil tiga kunci masing-masing kamar kemudian kembali lagi dan menyerahkan kepada Olan


"oke sip, biar gue yang tangani dia nanti" ucap Olan


"Alan juga bang" ucap Alan


"elu nggak ngampus...?"


"nggak bang, hari ini Alan free"


"kalau gitu gue cabut dulu ya, udah waktunya mau ngajar" Rahim mengambil tasnya. dia sejak tadi sudah bersiap untuk pergi namun teringat akan ada yang datang melihat kamar kost, akhirnya Rahim menyuruh Randi untuk memanggil Olan menggantikan dirinya


setelah Rahim pergi, Randi pun ke kamarnya untuk bersiap ke kampus. kini tinggal Olan dan Alan di ruang utama


"enaknya bikin apa nih bang, sumpek juga kalau nggak ada kegiatan" ucap Alan


"bikin anak" Randi menjawab asal saat hendak menuju pintu


pluuukk


"aw, bang Olan kejam banget sih" Randi cemberut Olan melempar dirinya dengan botol air minum


"awas kalau lu pulang ya" Olan mengancam di dekat pagar


"hehehe, dadaaa bang" Randi cengengesan melambaikan tangan dan berlalu pergi


"dasar adik nggak akhlak" Olan menggeleng kepala dan masuk lagi ke dalam


kini tinggal Olan dan Alan di kost itu. mengingat pakaian kotornya sudah menumpuk, Alan kembali ke kamar untuk mencuci sementara Olan kembali kamarnya mengambil laptop dan membawanya di ruang utama.


ting


ting


pesan masuk di ponsel Olan, dia yang sedang bekerja karena teman kerjanya mengirimkan file untuk dikerjakan, mengambil ponsel itu dan memeriksanya.


ada dua pesan yang masuk. pertama Olan membaca pesan dari kekasihnya, yaitu Hana.


Hana : sayang, kita bertemu sebentar boleh nggak...?


Olan : jam berapa...?


Hana : sore jam 4, ada yang mau aku bicarakan


Olan : malam aja ya, kalau sore aku nggak bisa


Hana : ya udah malam aja, jam 7 ya


Olan : iya sayang


setelah berbalas pesan dengan Hana, Olan membuka pesan berikutnya, sebuah nomor yang tidak dikenalnya.


nomor tidak dikenal : dari tadi loh aku hubungi kamu, kenapa nggak angkat...?


Olan mengangkat sebelah alisnya, karena malas berurusan dengan nomor yang tidak ia ketahui itu, dirinya langsung menghapus pesannya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


drrrttt...drrrt


nomor itu kembali menghubungi Olan, sebenarnya Olan paling malas mengangkat nomor yang tidak ia kenal, namun karena merasa mungkin itu adalah sesuatu yang penting, dia pun mengangkat panggilan itu.


Olan


(halo)


nomor tidak dikenal


(hai apa kabar)


Olan


(ini siapa)

__ADS_1


nomor tidak dikenal


(segitu cepatnya kamu melupakan ku, padahal baru saja beberapa waktu lalu kita menghabiskan waktu indah bersama)


Olan menyunggingkan senyum dan melihat nomor yang tertera di layar ponselnya.


Olan


(Rianti ya...?) Olan menebak


nomor tidak dikenal


(hebat, seratus buat kamu. kenapa tidak pernah mengangkat telpon ku. aku juga menghubungi Iyan tapi nomornya nggak pernah aktif)


Rianti adalah gadis kenalan Olan dan Iyan setahun yang lalu. waktu itu keduanya yang baru saja sama-sama pulang kerja, tanpa sengaja saling bertemu di minimarket. kemudian mereka memutuskan untuk pulang bersama. di perjalanan mereka melihat seorang wanita yang akan dijambret oleh seseorang. mereka menolong wanita itu yang tidak lain adalah Rianti. sejak saat itu, Rianti sering menghubungi Olan dan Iyan dan bahkan mereka pernah jalan bertiga.


Olan


(kamu ganti nomor...?)


Rianti


(iya, nomor ku yang lama telah rusak. oh iya, bagaimana kalau kita bertemu, kita ke tempat kerja Iyan)


Olan


(maaf Rianti, aku tidak bisa. mungkin kapan-kapan saja, tapi kalau kamu mau bertemu Iyan, pergilah. dia pasti senang bertemu dengan mu)


Rianti


(kamu tidak asik banget, padahal aku kangen banget sama kamu. ya sudah, aku akan bertemu Iyan saja. kalau ada waktu, kita harus bertemu bertiga ya)


Olan


(tentu saja)


Olan memutuskan panggilan dan menyimpan nomor wanita itu. bukan tidak ingin bertemu namun Olan tau wanita itu menyukainya dan Olan berusaha menjaga jarak dengan wanita yang bernama Rianti itu.


"apa yang elu mau periksa Hes...?" tanya Angga


"jelas mayat korban" jawab Mahesa


mereka kemudian langsung ke kamar mayat untuk melihat mayat wanita itu. hanya memperlihatkan tanda pengenal, mereka diizinkan langsung masuk ke dalam.


"mayat wanita yang menjadi korban pembunuhan ada di sana pak" suster menunjuk salah satu brankar yang ada di bagian pojok


"terimakasih" ucap Mahesa


keduanya mendekat mayat itu, Angga membuka kain dan terlihat wajah wanita itu yang sudah memucat, bajunya dipenuhi darah.


Mahesa mencium pakaian wanita itu yang tidak terkena noda darah.


(persis, wanginya sama persis dengan yang aku cium tadi di TKP) batin Mahesa


(aku sangat yakin pernah mencium bau wangi ini, tapi dimana)


ia pun memeriksa kedua pergelangan tangan wanita itu, tidak ada bekas seperti pemakaian gelang atau semacamnya.


(kalau bukan gelang wanita ini, lalu apakah ini milik pembunuh itu. apa iya pelakunya seorang wanita) batinnya


"bagaimana Hes...?" tanya Angga


"kita tunggu hasil otopsi, sekarang kita kembali ke kantor"


"bukannya kita ingin bertemu Mahendra...?"


"ya ampun, gue sampai lupa. gue akan menghubungi dia dulu"


mereka keluar dari kamar mayat itu dan menuju ke lobi rumah sakit. di lobi, Mahesa menghubungi Mahendra, namun karena nomornya tidak bisa dihubungi, dia mengirimkan pesan kepada Mahendra.


Mahesa : kamu ada waktu, aku ingin bertemu dan membahas sesuatu


"ayo pergi"


"bertemu Mahendra...?"


"bukan, dia belum membalas pesanku. kita ke kantor saja"


mereka berdua masuk ke dalam mobil Mahesa dan meninggalkan rumah sakit.


"kalian sudah melihat penemuan mayat tadi pagi...?" Selda bertanya. saat ini keempat sahabat itu sedang berada di kantin kampus


"tentu sudah, beritanya tersebar sejagad maya" jawab Robi


"penemuan mayat...?" Maureen bertanya


"iya, bagaimana bisa elu nggak tau berita yang kini tengah heboh itu" ucap Selda


"gue memang belum menyalakan televisi dan membuka ponsel, selain berkabar dengan Mahendra" jawab Maureen


"bucin banget sih lu berdua" cebik Selda saat Mahendra memegang tangan Maureen


"elu pengen juga di bucinin sayang" Robi menggoda Selda


plaaaak


Selda memukul lengan Robi yang sedang tersenyum nakal ke arahnya.


"pacar lu aja cemburuannya luar biasa, mau nge bucinin gue. bisa main jambak-jambakkan kami" kesal Selda


"tapi...soal wanita itu, apakah pembunuhnya" terlihat wajah Maureen begitu tidak tenang


"sayang, psikopat itu udah nggak ada. Wili udah dihukum mati, jadi kamu jangan terlalu takut. kalau takut keluar rumah, kamu di rumah aja" Mahendra menenangkan


"iya benar, kalian berdua kalau nggak ada hal yang penting untuk di urus di luar, lebih baik jangan keluar" Robi membenarkan ucapan Mahendra

__ADS_1


Maureen dan Selda mengangguk, keduanya memang sangat patuh kepada dua laki-laki itu jika menyangkut kebaikan mereka berdua.


__ADS_2