
"bang Arga"
Mahendra berbalik saat mendengar suara adiknya yang memanggil dirinya. laki-laki yang mempunyai wajah mirip dengannya itu, datang menghampiri mereka.
"kenapa Danil telpon, nomor abang nggak aktif sih" gerutu Danil
"masa sih, perasaan ponsel abang nggak lobet" Mahendra memeriksa ponselnya dan melihat ponselnya dalam keadaan mati atau sengaja ia matikan
"maaf, tadi abang matikan karena lagi kuliah. udah makan, ayo duduk" ucap Mahendra
Danil duduk di samping Mahendra, Selda sengaja bergeser agar adik sahabatnya itu dapat duduk di dekat Mahendra.
"nggak masuk kelas Dan...?" tanya Robi
"udah keluar bang, nanti jam 4 sore lagi baru masuk kembali" jawab Danil yang menyeruput minuman Mahendra
"mau makan nggak, abang pesankan" tanya Mahendra
"boleh deh, tapi dibungkus ya, untuk Alan dan bang Olan" jawab Danil
"emang bang Olan nggak kerja...?"
"nggak, Alan bilang hari ini bang Olan cuti"
"ya udah, mau abang pesankan makanan apa...?"
"gado-gado aja, tapi tunggu Danil telpon Alan dulu dan bang Olan, mereka mau dibawakan apa" Danil merogoh ponselnya di kantung celananya dan menghubungi Alan
Danil
(halo bang, bang Alan mau Danil bawakan makanan apa...?)
Alan
(nasi padang)
Danil
(terus bang Olan...?)
Alan
(tunggu ya, gue ke kamar bang Olan dulu, jangan dimatikan)
Danil tidak mematikan panggilan seperti yang diucapkan Alan. dia memperbesar suara speaker ponselnya dan menaruhnya di atas meja.
"bang...bang Olan" terdengar suara Alan di sebrang sana yang sedang memanggil Olan
"bang Olan"
Alan
(tunggu bentar ya Dan, bang Olan sepertinya nggak ada, gue mau cari ke dapur dulu)
Danil
(iya bang)
"bang Olan...kemana perginya bang Olan sih" ucap Alan yang didengar oleh Mahendra dan yang lain
"Dan, bang Olan nggak ada, aaaaa...."
"astaghfirullah" Danil terlonjak kaget mendengar teriakan Alan, begitu juga Mahendra dan yang lain
Danil
(halo, bang Alan...bang Alan)
"mati bang" Danil menghubungi Alan kembali namun nomor Alan kini tidak aktif lagi
"kita pulang" Mahendra bergerak cepat
"sayang" Maureen menahan tangan Mahendra
"maaf sayang, aku harus pulang. nanti aku telpon kamu ya" Mahendra mengelus kepala Maureen kemudian meninggalkan mereka
"itu temannya Mahendra kok malah teriak histeris seperti itu" ucap Selda yang sangat penasaran apa yang terjadi dengan teman kost Mahendra
"semoga nggak terjadi apa-apa" ucap Maureen
sementara Mahendra mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, dia menyelinap motor yang menghalangi jalannya. pikirannya sekarang tertuju kepada Alan. setelah kejadian yang menimpa Kevin dan Damar satu tahun yang lalu, Mahendra begitu waspada meskipun pembunuh itu telah tertangkap namun tetap saja baik dirinya maupun yang lain, benar-benar tidak ingin kehilangan lagi.
setelah sampai di kost, Danil langsung melompat dari atas motor dan masuk ke dalam kost. Mahendra menstandar motornya dan berlari masuk ke dalam.
"Al... Alan" panggil Mahendra dan juga Danil
"bang Olan, bang"
Mahendra naik ke lantai dua menuju kamar Alan, saat dibuka tidak ada penghuni kamar di dalam itu. dia pun memeriksa balkon namun tidak ada siapa-siapa.
"bang Arga" suara teriakan Danil terdengar keras dari lantai bawah
secepat kilat Mahendra berlari bahkan beberapa tangga ia lompati begitu saja, gerakan refleks memang akan kita lakukan pada saat dalam keadaan panik.
"kenapa...?" tanya Mahendra saat sudah berada di lantai bawah
"itu..." Danil menunjuk ke arah dapur dengan tubuh yang gugup
saat melangkah mendekat ke arah dapur, Mahendra melihat darah di lantai putih itu. tentu saja Mahendra shock dan sangat panik. dengan cepat dia berlari masuk ke dapur dan hal yang ia lihat pertama adalah Alan dalam keadaan tidak sadarkan diri di lantai, sementara ada seekor kucing yang telah dihabisi dan bergantung di jendela dapur.
"Dan... Danil" Mahendra memanggil adiknya
__ADS_1
"iya bang" Danil datang dengan wajah pucat, dia begitu takut melihat begitu banyaknya darah
"bantu abang mengangkat Alan dan kita bawa ke ruang utama"
"baik bang"
keduanya mengangkat tubuh Alan dengan hati-hati dan membawa remaja itu ke ruang utama. di sana, Mahendra membaringkan Alan di kursi panjang.
"jaga Alan, abang harus mengurus kucing tadi"
"bang" Danil menghentikan Mahendra
"nggak akan ada apa-apa, percaya sama abang. tetap di sini jaga Alan, kalau kamu melihat sesuatu atau siapa saja yang nggak kamu kenal, kamu teriak sekencangnya"
"tapi Danil takut"
"kita nggak mungkin membiarkan Alan sendirian disini dek. atau kamu yang mau mengubur kucing itu"
"ya udah, biar Danil di sini" Danil pasrah saja
Mahendra melepas tasnya dan menyimpannya di atas meja. dia kemudian kembali ke dapur, darah kucing itu menodai lantai dapur yang putih.
"siapa yang tega melakukan hal ini kepada kucing yang tidak berdosa ini" ucap Mahendra
Mahendra mencari kain kemudian membungkus kucing malang itu. selanjutnya dia keluar dari kost menuju halaman belakang dan menguburkan kucing itu di sana. saat kembali, dia berpapasan dengan Olan yang baru saja datang dengan kresek belanjaan di tangannya.
"loh Hen, udah pulang...?" tanya Olan
"abang darimana...?" tanya Mahendra
"dari kios di depan beli kopi sama roti sekalian makanan" jawab Olan memperlihatkan kantung belanjaan
"bajumu kenapa ada noda darahnya begitu...?" Olan bertanya saat melihat baju kaos putih Mahendra terkena darah kucing tadi
"masuk dan lihat bang" Mahendra masuk ke dalam dan Olan mengikutinya
"lihat bang, seseorang entah siapa dengan sengaja menakuti Alan dengan seekor kucing yang telah dibunuh dan digantung di jendela dapur. darah di lantai ini adalah darah kucing yang udah gue kubur tadi" ucap Mahendra
"astaghfirullah, brengsek...siapa yang beraninya melakukan ini" raut wajah Olan berubah marah
"abang nggak melihat siapapun yang masuk ke dalam kost ini...?"
"nggak Hen, sejak tadi gue di ruang utama mengerjakan pekerjaan kantor. karena laptop gue lobet, gue beralih masuk ke dalam kamar. merasa lapar, gue keluar mencari makanan untuk gue dan Alan sekalian membeli kopi" Olan menjawab dan masuk ke dalam dapur
ia pun membersihkan darah kucing tersebut sementara Mahendra diminta ke ruang utama untuk menunggunya di sana.
"bagaimana dengannya...?" tanya Olan menghampiri mereka, dia sudah selesai membersihkan lantai tersebut
"sepertinya dia shock banget" jawab Mahendra
"kita bawa ke kamarnya saja" ucap Danil
"Danil jadi takut kalau seperti ini" Danil melihat Alan yang belum sadarkan diri
"kalian tetap di sini, gue akan periksa setiap sudut kost" Olan berdiri
"kita bagi tugas bang, gue di luar, abang di dalam" ucap Mahendra
"ya sudah" Olan naik ke lantai atas sementara Mahendra keluar
Mahendra menyusuri dan mengelilingi kost tersebut, dalam keadaan siang seperti itu tidak dilihatnya satu orangpun yang mencurigakan.
dua kali dia mengelilingi kost tersebut, saat kedua kalinya dapat ia dengar suara langkah kaki yang mengikutinya. Mahendra mempertajam pendengarannya, memang ada seseorang yang mengikutinya di belakang.
dengan gerakan cepat, Mahendra memutar badannya dan melayangkan tendangan ke arah orang tersebut.
buaaaak
bughhh
"aaaggghh"
"astaghfirullah, bang Iyan"
rupanya yang mengikuti Mahendra adalah Iyan. karena terkena tendangan dari Mahendra, Iyan langsung menghantam dinding dan mendarat kasar di tanah.
"woi Hen, lu punya dendam ya sama gue" Iyan meringis sakit
Mahendra membantu Iyan berdiri dan menepuk bajunya yang kotor karena ulahnya.
"aw...patah pinggang gue" Iyan memegang pinggangnya
"maaf bang, gue nggak tau kalau itu adalah bang Iyan. lagian abang ngapain sih ngikutin gue kayak pencuri aja nggak ada suara"
"ya abis gue lihat elu serius banget mengelilingi kost ini, ya gue ikuti elu aja. tau-taunya malah di tendang" cebik Iyan
"maaf banget bang, ayo gue bantu kita ke dalam"
"nggak usah, kaki gue nggak patah, gue bisa jalan sendiri. tolong elu pegangin tuh tas gue"
"iya bang" Mahendra mengambil tas Iyan dan mereka berjalan ke halaman depan dan masuk ke dalam kost
"loh, tumben pulang cepat banget yan" ucap Olan saat melihat Iyan masuk bersama Mahendra
"gue izin nggak enak badan. ini Alan kenapa...?" tanya Iyan saat melihat Alan masih terbaring di kursi
Mahendra pun menceritakan kejadiannya, karena hanya dia dan Danil yang melihat semua itu sementara Olan berada di luar saat mereka tiba.
"kok bisa, siapa yang ngelakuin itu" ucap Iyan
"itu juga yang kami pertanyakan, selama ini belum pernah ada orang yang masuk berbuat iseng seperti itu" jawab Olan
__ADS_1
tok tok tok
"assalamualaikum"
belum sempat menimpali ucapan Olan, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Danil segera pergi membuka pintu tersebut.
"wa alaikumsalam, cari siapa...?" tanya Danil melihat seseorang yang tidak ia kenal berdiri di depan pintu
"bang Rahim ada, gue Riki yang mau melihat kamar kosong" ucap laki-laki itu
"bang Rahim nggak ada, tapi silahkan masuk, ada bang Olan dan yang lain yang bisa memperlihatkan kamar kosong buat abang" Danil mempersilahkan Riki untuk masuk ke dalam
"siapa Dan...?" tanya Iyan
"yang mau lihat kamar kosong bang" jawab Danil mendekat bersama Riki
"oh iya, bang Rahim udah bilang sama gue tadi. ayo gue tunjukkan kamarnya" Olan beranjak dan mengajak Riki untuk melihat kamar Wili yang pertama
"bang, Danil lapar" ucap Danil memegang perutnya
"beli makanan di depan aja ya" jawab Mahendra
"kayaknya masih ada mie instan dan telur deh di dapur, kalau elu mau biar gue yang masak. kebetulan gue juga lapar belum sempat makan tadi" ucap Iyan
"boleh deh bang, Danil juga malas keluar" Danil pun setuju
Iyan segera menuju dapur untuk memasak mi instan dan juga telur. Mahendra pada akhirnya membentang kasur di depan televisi kemudian memindahkan Alan ke kasur itu.
"Dan, Hen...udah masak nih. ayo makan, ambil masing-masing ya" Iyan memanggil dari arah dapur
"abang mau nggak...?" tanya Danil kepada Mahendra
"nggak, abang udah kenyang, kamu aja" jawab Mahendra
Danil pergi menuju dapur kemudian dia dan Iyan kembali ke ruang utama dengan mangkuk masing-masing di tangan mereka dan juga air minum.
"jadi bagaimana, apa elu merasa cocok dengan salah satu dari ketiga kamar itu...?" Olan bertanya, kini mereka kembali lagi ke ruang utama
"iya, gue mau ambil kamar yang nomor 5" laki-laki yang bernama Riki itu menjawab
"baiklah. jadi kapan elu akan pindah ke sini, agar kami dapat membersihkan kamarnya" ucap Olan lagi
"sore nanti gue harus sudah pindah, jadi kalau bisa gue akan bersihkan kamar itu sekarang" timpal Riki
"nggak masalah, lebih cepat lebih bagus. gue akan membantumu, tunggu sebentar ya gue ambil sapu dulu di dapur" Olan ke dapur mengambil sapu
"makan bang" Danil mengajak Riki untuk makan bersama
"iya, terimakasih, gue kenyang" tolak Riki dengan sopan
"ayo. oh iya nama elu siapa...?" Olan datang dengan sapu lidi dan sapu ijuk di tangannya
"Riki bang" jawab Riki ramah
"kalau gue Olan, terus itu Iyan, Danil, Mahendra dan yang tidur itu adalah Alan. masih ada Faiz, Randi dan bang Rahim yang belum datang" ucap Olan
"salam kenal ya, gue harap kita bisa saling akrab kedepannya" ucap Riki
Mahendra tersenyum dan mengangguk, setelah itu Olan mengajak Riki untuk ke kamar nomor 5, bekas kamar yang ditempati oleh Wili.
setelah membersihkan kamar barunya, Riki pun pulang dan akan kembali sore hari dengan membawa barang-barangnya.
Alan sudah sadarkan diri, Mahendra menyuruh Danil untuk mengambil air minum kemudian memberikan kepada Alan.
"gimana perasaanmu...?" tanya Mahendra
"gue takut bang, kucing itu..." Alan nampak pucat
"tenang Al, ada kami disini. kucing itu sudah dikubur oleh Mahendra" Olan menenangkan
"elu lihat seseorang nggak tadi...?" tanya Iyan
"hanya sekelabat bayangan yang lewat di jendela dapur"jawab Olan
"apa kita sekarang ini sedang diteror" ucap Danil
"jangan berpikir macam-macam, kita kan nggak pernah bermasalah sama orang. itu mungkin hanya orang yang iseng saja" jawab Iyan
"tapi....tadi ada tulisan ancaman di dinding dapur bang" ucap Alan
"ancaman...?" mereka semua bertanya
"iya, tulisannya berupa ancaman. jelas-jelas itu adalah orang yang punya dendam dengan kita" jawab Alan
"tapi tadi gue nggak melihat tulisan ancaman itu Al" ucap Mahendra
"ada bang, ada. Alan jelas-jelas lihat, ditulis di kertas dan di tempel di dinding" Alan kekeh melihat tulisan itu
"kita akan bicarakan ini dengan bang Rahim nanti, sebaiknya elu istrahat di kamar" ucap Olan
"nggak mau, Alan mau di sini saja nggak mau di kamar" Alan menolak
"padahal elu jago beladiri loh Al, harusnya elu nggak usah takut. bukannya dulu elu pernah berhadapan langsung dengan Wili waktu itu yang menjadi psikopat" ucap Iyan
"tapi tetap saja Alan takut. bang Mahen, abang di sini ya temani Alan" Alan menatap Mahendra
"nanti Danil temani bang Alan, tenang saja" Danil yang menjawab
"iya, abang dan Danil akan temani elu di sini" ucap Mahendra
dulu saat Alan merasa takut seperti itu, Wili lah tempat dia mencari perlindungan. namun sekarang laki-laki itu sekarang sudah tidak ada, kini Alan semakin dekat dengan Mahendra karena perhatian Mahendra kepadanya sama seperti apa yang dilakukan Wili dulu. namun bukan berarti abang-abangnya yang lain tidak memperhatikannya.
__ADS_1