
Gadis itu lumayan cantik, dan Rudi merasakan perasaan yang berbeda saat dia melihat gadis mungil pemilik sepatu kecil itu. Sayangnya Rudi tak pernah bertemu dengannya lagi. Jangankan orangnya, sepatunya saja dia tak pernah menemukannya lagi.
"Kenapa pikiranku selalu padanya? Padahal aku belum mengenalnya!" katanya dalam hati.
Dia membuka aplikasi galeri di ponselnya, Dilihatnya foto sepatu kecil yang didapatnya dari aplikasi belanja online.
"Hmm, kamu dan pemilikmu membuatku penasaran. Kamu dimana sekarang? Jangan sembunyi lagi dong. Beri aku kesempatan sekali lagi untuk melihatmu dan pemilikmu." Rudi berbicara pada ponselnya.
Lamunannya terganggu oleh panggilan telepon di ponselnya. Tertera tulisan IBU di ponselnya.
"Assalamualaikum, Bu."
"Wa'alaikumsalam, Nak."
"Kenapa, Bu?" tanya Rudi penasaran karena mereka belum lama bertemu di rumah Arini.
"Ibu cuma mau nanya pendapatmu tentang Arini. Menurutmu gimana?"
"Cantik, Bu. Tapi terus terang Rudi belum ada perasaan untuknya," jelas Rudi
"Gak apa-apa. Kamu kenali lebih dekat dulu aja, dia itu anak baik, dari keluarga baik juga, pendidikannya juga tinggi," kata ibunya.
"Iya, Bu. Nanti Rudi usahakan biar bisa mengenalnya lagi."
"Ya sudah. Nanti ibu atur lagi pertemuan kalian, tapi kali ini hanya kalian berdua, ya? Biar kalian bisa lebih leluasa untuk saling mengenal."
"Iya, Bu."
"Ya sudah. Begitu aja dulu. Assalamualaikum, Nak."
"Wa'alaikumsalam, Bu."
Lagi-lagi perjodohan, Rudi sebenarnya kesal dengan perjodohan itu. Di jaman modern masih saja ada perjodohan, tapi dia tak berdaya untuk menolaknya. Rudi tak mau membuat ibunya sedih. Tapi Rudi akan berterus terang tentang perasaannya pada Arini saat pertemuan mereka berikutnya.
***
Arini merapikan piring-piring dan peralatan lainnya yang tadi telah mereka gunakan untuk makan malam bersama keluarga Rudi.
"Bu, gimana ya, cara nolak mas Rudi? Arini takut menyinggung perasaan orangtuanya." Arini membuka pembicaraan dengan ibunya sambil mencuci piring.
"Memangnya kamu nggak mau mempertimbangkannya dulu, Ar? Sepertinya Rudi itu laki-laki baik dan bertanggung jawab."
__ADS_1
"Arini nggak mau mengkhianati mas Fajar."
"Memangnya Fajar sudah mengabari kamu?"
"Sudah, Bu. Semalam dia menelepon, katanya masa tugasnya di sana tinggal sebentar lagi, tapi belum tau tanggal pastinya."
"Oh begitu. Ibu cuma bisa mendukung apapun keputusanmu. Ibu hanya bisa memberi saran, sebaiknya segera kamu jelaskan pada Rudi kalau kamu tidak bisa melanjutkan perjodohan ini. Jangan sampai Rudi menaruh harapan padamu, nanti masalahnya akan lebih rumit."
"Iya, Bu. Arini juga rencananya akan mengatur pertemuan dengan mas Rudi dan menjelaskan semuanya padanya."
"Bagusnya sih begitu, dan jangan ditunda-tunda," ujar ibu Arini.
Malamnya Arini menelepon Sarah, dia menceritakan pertemuannya dengan pria yang akan dijodohkan dengannya dan keputusannya untuk menolak perjodohan itu.
"Kamu gak mau mengenalnya lebih jauh dulu, Ar?" tanya Sarah.
"Rasanya nggak perlu, Sar. Aku gak mau dia menaruh harapan padaku."
"Ibu udah mengetahui keputusanmu ini?"
"Udah, Sar. Alhamdulillah ibu mendukung. Sekarang tinggal mencari waktu untuk bertemu dengannya."
"Makasih ya, Sar."
"Oh iya, Ar. Kemarin waktu aku jalan-jalan sama teman kantorku, aku melihat Rizal."
"Hah?! Beneran, Sar?" tanya Arini penasaran.
"Iya, dia sedang bersama seorang wanita, mungkin istrinya."
"Rizal melihatmu?"
"Sepertinya iya, aku hanya melihat dia bicara dengan wanita itu, dan wanita itu masuk sendiri ke restoran."
"Terus kamu gimana?"
"Aku langsung melarikan diri ke apartemen temanku. Aku takut, Ar."
"Takut kenapa?"
"Aku takut dia menanyakan Fabio dan mengambilnya dariku."
__ADS_1
"Dia gak boleh melakukan itu meskipun dia ayah kandungnya. Dia sudah melalaikan kewajibannya sebagai seorang ayah dan suami. Kalau itu terjadi, aku akan membelamu."
"Makasih ya, Ar," kata Arini lirih.
"Kalau kamu belum siap menghadapinya, lebih baik kamu menghindarinya."
"Iya Ar. Aku pikir juga begitu. Selain itu aku juga tak mau terjebak dalam kenangan masa lalu. Bagaimanapun dia sudah bukan suamiku, dan dia sudah menjadi suami orang lain."
"Kamu benar, Sar. Aku setuju dengan langkah yang kamu ambil. Ya sudah, ya Sar, sekarang kamu istirahat. Jangan terlalu dipikirkan, nanti kesehatanmu tergamggu."
"Iya, Ar Terima kasih kamu mau mendukungku.."
"Sarah, sebelum kamu meneleponku waktu itu untuk menitipkan anakmu, beberapa kali Rizal datang ke rumahku mencarimu. Dia pikir kamu ada di rumahku. Tapi dia tak menceritakan masalah kalian, dia hanya bilang kamu sedang marah padanya dan melarikan diri. Awalnya aku sempat berburuk sangka padamu. Aku mengira kamu sudah berubah menjadi wanita tak bersyukur dan melupakan kewajibanmu sebagai seorang istri. Ternyata aku salah, Sar. Maafkan aku karena sudah berburuk sangka padamu."
Sarah terkejut mendengar hal itu, dia takut kalau Arini telah memberitahukan tentang Fabio pada Rizal.
"Ar, kamu jujur padaku, ya? Apa kamu memberitahu Rizal bahwa aku ada di kota ini dan menceritakan keberadaan Fabio?"
"Tadinya aku mau memberitahunya begitu kamu meneleponku, tapi beruntung ponselnya tak bisa dihubungi. Dan kemarin dia meneleponku lagi."
"Kamu memberitahu Rizal soal aku dan Fabio?" tanya Sarah penuh selidik.
"Nggak, Sar. Aku tak sebodoh itu. Aku sadar ini bukan urusanku, hanya kalian sendiri yang bisa menyelesaikannya. Ini menyangkut perasaan. Perasaan dia dan kamu. Aku tak boleh terlibat terlalu jauh dalam masalah kalian."
Sarah semakin terisak mendengar pengakuan Arini.
"Kamu istirahat ya, Sar? Jangan terlalu dipikirin. Selama kita hidup masalah selalu datang menghampiri. Dan itu akan membuat kita semakin kuat kalau kita bisa menghadapinya. Aku tau kalau kamu seorang wanita yang kuat." Arini berusaha menghibur Sarah yang terdengar sedang menangis.
"Iya, Ar. Doakan aku sanggup menghadapinya, ya?"
"Tentu. Aku akan selalu mendoakanmu. Kamu juga doakan aku, ya?"
"Iya, Ar. Assalamualaikum." Sarah menutup pembicaraannya dengan Arini.
Sarah merasa lemas setelah mendengar semua cerita Arini tentang mantan suaminya, Rizal. Dia tak tahu apa yang harus dilakukannya selanjutnya. Yang ada dipikirannya sekarang hanyalah rasa takut kehilangan anak yang sangat disayanginya.
"Kenapa kamu mengganggu hidupku lagi, mas Rizal? Kamu telah mencampakkanku, apa itu belum cukup bagimu untuk menyiksaku? Di saat aku sudah mengikhlaskanmu, kenapa kamu harus kembali lagi?"
Bulir-bulir air mata Sarah terus membasahi pipinya. Dilihatnya Fabio yang sedang tidur nyenyak. Dielusnya pipi Fabio dengan lembut.
"Sampai kapanpun kamu akan selalu bersama mama, Nak. Mama akan melakukan apapun untuk mempertahankanmu dari siapapun, termasuk ayahmu sendiri."
__ADS_1