
Masuknya Feni menjadi bagian penulis kantor media itu membuat hari-hari Sarah dan Vina sedikit lebih ceria sepeninggal Leni yang telah resign dari kantor itu. Candaan mulai ada lagi diantara mereka, dan terkadang Feni lah yang menjadi sasaran candaan Vina dan Sarah.
Feni yang merupakan anak baru dan pada dasarnya orangnya sedikit serius dan misterius sering kali tidak menyadari bahwa dialah yang menjadi objek candaan mereka, bahkan cenderung tak menanggapi candaan itu.
"Aaahh.. hari-hari menuju gajian itu terasa berat dan lama. Udah mah dompet juga jerit-jerit minta dikasih makan. Kasian dompet gue udah kurus," ujar Vina saat berjalan keluar dari ruang briefing menuju meja kerjanya.
"Sabaaar. Sekurus-kurusnya dompet kamu masih kurusan dompetku, Vin. Dompet kamu biar gak ada uangnya, tapi ada kartu ATM yang isinya bejibun, belum lagi kartu kredit yang tagihannya akan dibayar oleh papa kamu," jawab Sarah.
"Gak enak pake uang ortu, entar ujung-ujungnya diinterogasi gue. Kamu ini katanya mau mandiri, masih aja nyusahin orangtua, pake uang itu jangan sembarangan, bla bla bla bla..."
Sarah tertawa mendengar ocehan Vina, sementara Feni hanya diam saja.
Vina melirik Sarah, lalu memberi tanda dengan lirikan ke arah Feni, Sarah mengangkat alis dan bahunya menyatakan ketidaktahuannya.
"Misterius banget ya orangnya. Angot-angotan. Entar ceria entar diem. Sebenernya dia tuh orangnya gimana sih?!" tanya Vina.
"Kamu harusnya yang lebih tau. Kan meja dia deketan sama meja kamu, jangan cuma mejanya yang diajak ngobrol, orangnya juga!"
"Sialan lu, siapa juga yang suka ngajak ngobrol meja? Ngobrol sama dia mah banyak diemnya, gue mulu yang nyerocos."
Sarah tertawa mendengar omongan Vina.
"Tar abis gajian kita jalan, yuk?" ajak Vina pada Sarah dan Feni.
"Tapi jangan pas pulang kerja, ya?" kata Sarah.
"Biar bisa ajak Fabio, yaa...?" Sarah mengangguk.
"Gue kangen sama dia. Lucu, ceriwis!" sambung Vina.
"Mungkin nurunin tantenya yang ceriwis", jawab Sarah.
"Terus aja gue yang negatif-negatifnya!" Vina mendelik pada Sarah.
"Fen, kalau lo gimana? Mau ikut nggak?"
"Belum tau, kak. Lihat nanti aja, ya?" jawab Feni.
__ADS_1
"Ya udah, entar kita koordinasikan dan kondisikan lagi!" kata Vina sambil nyengir.
"Bahasamu itu lho, Vin, tinggi banget, aku jadi harus manjat. Tangga mana, tangga?" ledek Sarah. Vina tertawa terbahak-bahak.
***
Sarah dan Fabio sudah berada di sebuah restoran cepat saji di sebuah mall. Dia dan Fabio masuk ke restoran itu karena Fabio terus-terusan merengek minta makan di tempat itu. Dan karena Vina belum datang juga, akhirnya Sarah menuruti keinginan Fabio.
"Ma, tante Vinanya mana? Katanya mau jalan-jalan sama tante Vina," tanya Fabio.
"Sebentar lagi datang. Sekarang makan dulu, ya?" Fabio mengangguk.
Sarah menyuapi Fabio yang sesekali melirik ke tempat bermain anak yang disediakan restoran itu.
"Bio mau main?" Fabio mengangguk.
"Ya sudah, boleh main, tapi kalau makanan di mulutnya udah habis, Bio balik lagi ke sini, ya?"
"Iya, Ma!" Dengan riang Fabio menuju tempat bermain itu sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Haaaai...!" teriak Vina yang membuat beberapa pengunjung restoran itu menatap ke arah mereka.
"Udah lama nunggu, ya?" kata Vina berbisik.
"Sampai berakar aku nungguin kamu, Vin." jawab Sarah asal-asalan.
"Mana akarnya? Biar gue cabut."
"Kamu tuh, ya? Kamu yang ngajak, kamu juga yang nentuin jamnya, eh malah telat datangnya!"
"Sorry..., gue ketemu papa dulu. Katanya kangen sama anaknya yang cantik ini..." kata Vina sambil mengedip-ngedipkan matanya.
Sarah menarik napas panjang melihat kelakuan temannya itu.
"Mana si ganteng keponakan gue?" Vina mencari-cari Fabio dengan matanya ke sekeliling restoran.
"Itu dia." Sarah menunjukkan jarinya ke arah Fabio yang berlari ke arahnya.
__ADS_1
"Hei, gantengku. Makin tinggi dan makin ganteng aja ponakan tante ini," Vina memeluk Fabio dan mencium pipinya.
"Gak boleh, Tante! Bukan muhrim..." Vina melotot lalu melirik Sarah, lalu mereka tertawa.
"Ya, ampun... anak lo, Sar. Gue harus nikahin dia dulu nih biar bisa cium dia."
"Naudzubillah, amit-amit..., jangan sampai deh punya mantu kayak kamu," Sarah mengetuk-ngetukan jarinya ke meja.
"Feni gak jadi ikut?" tanya Sarah sambil menuntun Fabio keluar dari restoran itu.
"Nggak bisa katanya. Gak taulah, gue suka bingung dengan anak itu. Misterius!"
"Sudahlah, orangnya memang begitu mungkin. Tapi jujur aku juga kadang suka bingung dengan sikap dia."
"Nah, kan... Sama kalau gitu pendapat kita. Kayak ada sesuatu gitu sama diri dia yang disembunyikan. Iya gak, Sar?"
"Iya sih, tapi ya sudahlah. Bukan hak kita ikut campur dalam urusan dia."
Mereka melanjutkan langkahnya menelusuri mall itu. Vina membelikan beberapa mainan dan baju untuk Fabio. Meski Sarah tahu bahwa Vina berkecukupan, dia tetap saja merasa tidak enak dengan pemberian Vina yang begitu banyak pada Fabio.
"Vin, jangan terlalu memanjakan Bio. Nanti dia kebiasaan meminta apa-apa sama kamu."
"Gak apa-apa, aku suka koq. Lagian tadi aku baru dikasih uang sama papa. Cash. Katanya takut ketauan mama kalau transfer, ntar diomelin kalau mama tau."
Vina mengajak Fabio membeli es krim kekinian yang antrian pembelinya lumayan panjang. Sarah duduk di bangku mall sambil menjaga barang belanjaan mereka.
Vina dan Fabio muncul dengan membawa es krim dan dua gelas minuman dingin di tangan mereka.
"Sar, Sar, gue tadi lihat si Feni jalan sama cowok!" ujar Vina antusias.
"Serius? Dimana?" tanya Sarah penasaran.
"Di sana, tadi dia masuk ke toko itu. Kalau dia belum keluar kita bisa lihat dia."
"Kamu yakin itu benar-benar dia?"
"Yakin.. 100 persen, eh 1000 persen malah."
__ADS_1
Tak lama Feni keluar dari toko yang ditunjuk Vina sambil membawa tas belanjaan dari toko itu. Penampilan Feni juga sangat berbeda dengan penampilan biasanya saat di kantor. Lebih dewasa dan memakai riasan wajah.