Misteri Sepatu Kecil

Misteri Sepatu Kecil
48


__ADS_3

Rudi dan Sarah mulai disibukkan dengan persiapan pernikahan mereka. Mereka sudah memutuskan untuk menikah sebulan lagi setelah berkonsultasi dengan pihak Wedding Organizer. Pihak WO menyanggupi menyiapkan acara pernikahan mereka paling cepat dalam waktu satu bulan, karena semua urusan diserahkan pada mereka, mulai dari pengurusan dokumen, izin serta hal-hal lainnya.


Rudi tak mau direpotkan dengan semua persiapan itu mengingat kesibukannya di kantor yang cukup menyita waktunya. Dia juga tak mau membuat Sarah repot. Mereka berdua harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk menyelesaikan target pekerjaan karena Rudi merencanakan untuk pergi honeymoon setelah pernikahan mereka nanti.


Namun begitu, keluarga Rudi tetap ingin ikut dalam menentukan beberapa hal terutama dalam menentukan catering dan dekorasi. Mereka adalah ibu Rudi dan Fathia. Tak jarang mereka berselisih pendapat dalam menentukan keputusan. Sementara ayah Rudi hanya menerima keputusan dan memberi sedikit saran.


"Pokoknya menunya harus sesuai dengan yang ibu tulis, paling ditambah beberapa gubuk makanan tambahan," kata ibunya.


"Jangan lupa tulis juga makanan kesukaan Fathia, Bu!" pinta Fathia.


"Kalian ini ribut aja. Biarkan saja Rudi dan Sarah yang menentukan, kan mereka yang bayar. Kenapa harus repot-repot?" kata ayahnya.


"Biarin aja. Nanti kalau duit mereka kurang, biar ibu yang tambahin! Yang penting menunya seperti yang ibu mau!" jawab ibunya.


"Ah terserah kalian saja! Ayah pusing denger kalian ribut terus!" kata ayahnya lalu pergi ke ruang kerjanya.


***


Lain halnya dengan Rizal yang masih terpuruk dalam penyesalan tak berujungnya. Dia memutuskan untuk kembali menemui Sarah dan anaknya Fabio. Selain rindu, diapun ingin membahas sesuatu dengan Sarah, namun dia tak berani menghubungi Sarah lewat telepon. Dia takut Sarah akan menolak untuk bertemu dengannya.


Hari Sabtu pagi Rizal sudah berada di teras rumah kontrakan Sarah. Dia sengaja tak mengetuk pintu karena tak ingin mengganggu istirahat dua orang yang disayanginya. Namun baru sebentar menunggu, terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah. Seketika wajah Rizal berubah menjadi ceria, lalu diketuknya pintu rumah Sarah.


Sarah sangat terkejut saat membuka pintu. Dia mengira bahwa yang datang adalah Rudi, namun yang dilihatnya adalah orang yang berbeda. Sarah segera menutup pintunya, tapi dia kalah gesit dengan Rizal yang telah lebih dulu menahan pintu itu.


"Sayang, tolong jangan ditutup. Aku cuma ingin bicara, nggak lebih!" ujar Rizal memohon.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi!" jawab Sarah dari balik pintu.


"Tolong buka dulu! Aku cuma sebentar! Please...!" pinta Rizal lagi.


Akhirnya Sarah membuka pintunya dan menghadapi Rizal, lalu ditutupnya pintu itu kembali agar suara mereka ak mengganggu Fabio yang masih tidur.

__ADS_1


"Silakan bicara," ujar Sarah dingin.


"Aku ke sini mau minta maaf sama kamu. Aku tak bermaksud untuk mengambil Fabio darimu. Tapi kalau kamu bersedia memberikannya padaku aku akan sangat berterima kasih," ujar Rizal.


"Sampai kapanpun aku tak akan pernah memberikan anakku pada siapapun. Dia bukan barang yang bisa seenaknya dipindahtangankan!" jawab Sarah tegas.


"Iya, tidak apa-apa. Aku percaya kamu akan menjaganya dengan baik. Seperti yang aku bilang, aku ke sini untuk meminta maaf padamu. Aku tak mau hubungan kita menjadi rusak hanya karena masalah ini. Aku ingin hubungan kita baik seperti dulu dan kita bisa menjaga dan mengurus anak kita bersama-sama. Kamu mau, kan?"


Kening Sarah berkerut seakan tak mengerti dengan apa yang dikatakan Rizal.


"Apa maksud omonganmu ini?" tanya Sarah.


"Aku ingin kita berdua menjaga dan mengurus anak kita bersama-sama agar anak kita mendapatkan keluarga yang utuh seperti anak lainnya!" kata Rizal.


"Sejak bayi Fabio sudah terbiasa memiliki hanya satu orang tua, yaitu aku, ibunya!"


"Iya, aku tau. Aku menyadari aku memang tak pernah ada untuk kalian. Karena itu aku ingin menebus semua itu sekarang!" jelas Rizal.


"Lalu apa yang kamu mau sekarang?"


"Itu tidak mungkin. Kita sudah bercerai dan sudah tak ada kemungkinan untuk kembali bersama! Kamu harus sadari itu!" jelas Sarah berusaha menolak Rizal.


"Aku akan menggunakan identitas baru. Aku bisa mengurus semua dokumennya. Itu bukan hal yang sulit. Please... kamu mau kan kita bersama lagi?"


"Apa maksud kamu? Ternyata kamu tak pernah berubah. Kamu mau mengulangi hal yang pernah kamu lakukan padaku. Kamu dengan seenaknya meninggalkan istrimu!" ujar Sarah datar.


"Ini masalahnya berbeda, Sar. Aku meninggalkan dia karena aku memang tak pernah mencintainya. Aku menikahinya karena terpaksa!"


"Apapun masalah kalian, kamu tak boleh meninggalkan istrimu begitu saja!" ujar Sarah.


"Aku tak pernah mencintainya. Percayalah padaku! Dan aku yakin sekarang dia sedang bersama laki-laki lain!" jelas Rizal.

__ADS_1


"Kalau begitu kamu susul dia, jangan malah datang kemari. Aku tak mau memperkeruh hubungan kalian!" ujar Sarah sambil menatap tajam pada Rizal.


"Sarah, please... Tolong mengerti aku. Aku hanya mencintai kamu, dan..."


"Dan aku tidak mencintaimu. Bagiku kamu adalah masa lalu yang telah kukubur dalam-dalam sejak putusan hakim keluar! Dan kamu tak akan pernah lagi ada di masa depanku!" jelas Sarah.


"Aku mohon, Sar!" pinta Rizal.


"Assalamualaikum!" tiba-tiba Rudi datang.


"Wa'alaikumsalam," Rizal dan Sarah menjawab salam Rudi.


"Maaf, karena aku menyela pembicaraan kalian. Aku hanya ingin memberikan ini padamu!" kata Rudi seraya menyerahkan undangan yang baru semalam diantar oleh pihak WO ke rumahnya.


Rizal menerima undangan itu dan membacanya. Dia tampak terkejut saat membaca tulisan yang ada di undangan itu.


"Jadi ini alasan sebenarnya kamu gak mau menerimaku kembali!" kata Rizal lirih.


"Salah satunya. Namun kalaupun aku tak menikah, aku tak akan pernah mau kembali bersamamu!" jawab Sarah datar.


Dengan penuh kekecewaan Rizal meninggalkan Rudi dan Sarah. Keduanya memandang kepergian Rizal sambil menarik napas panjang.


"Aku rasa dia tak akan berani mengganggumu lagi," kata Rudi.


"Semoga saja!" jawab Sarah


"Apa gak sebaiknya kalian pindah ke rumahku? Biar sementara aku tinggal di rumah orang tuaku sampai kita resmi menikah!" saran Rudi.


"Tidak perlu. Sepertinya dia tak akan datang lagi. Dan kalau seandainya dia datang lagi, aku akan mempertimbangkan untuk pindah seperti saranmu," kata Sarah.


Rudi mengangguk setuju, tapi dia masih tetap mengkhawatirkan Sarah dan Fabio. Dia tak yakin bahwa kedua orang yang dicintainya akan aman berada di rumah itu. Namun dia tak bisa memaksakan kehendaknya pada Sarah.

__ADS_1


"Semoga saja semua baik-baik saja dan tak ada hal buruk yang akan terjadi pada mereka berdua!" batin Rudi.


Tak lama terdengar suara Fabio dari dalam rumah. Rupanya dia sudah bangun dari tidurnya dan mencari keberadaan ibunya.


__ADS_2