
Karena ini hari Minggu Sarah membiarkan anaknya tidur lebih lama. Tampak Fabio masih tertidur dengan nyenyak. Wajahnya yang tampan mengingatkannya pada seseorang yang tak ingin diingatnya lagi. Sarah terus memandangi wajah anaknya yang sedang tidur itu, sesekali nampak dia menyunggingkan senyuman manisnya. Ah, rupanya dia bermimpi.
"Semoga mimpi yang manis selalu menghiasi setiap mimpimu, Nak," gumam Sarah.
Karena sudah siang, Sarah membangunkan anaknya dengan ciuman lembut di pipinya. Fabio masih tetap tertidur. Sarah tak tega membangunkan lebih lanjut. Dibiarkannya Fabio tidur dan memutuskan untuk membiarkannya bangun sendiri.
Tak lama Fabio bangun. Sambil mengosok-gosok matanya lalu menguap panjang dia melihat sosok ibunya berada di sampingnya. Dia lalu memeluk Sarah dan berbisik, "Aku sayang sama mama."
Dia mencium pipi Sarah. Sarah tersenyum melihat kelakuan anaknya itu.
"Mama juga sayaaaang banget sama anak mama yang ganteng ini," balas Sarah.
"Ma, tadi Bio mimpi!"
"Mimpinya seru, ya? Tadi mama lihat Bio senyum-senyum waktu tidur," kata Sarah.
"Iya, Ma. Bio mimpi ketemu papa. Bio digendong sama papa, jalan-jalan ke tempat yang banyak mainannya," jelas Fabio dengan semangat.
"Oh ya? Pantesan Bio ketawa waktu tidur tadi."
"Tapi abis itu papa pergi lagi. Papa tinggalin Bio. Bio kejar tapi papanya udah gak ada. Ma, Bio punya papa, kan?" tanya Fabio mengejutkan Sarah.
Sarah terdiam, dia memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan anaknya.
"Nak, semua anak di dunia ini sudah tentu punya papa dan mama. Tapi gak semua anak bisa bertemu dan tinggal bersama papa dan mamanya. Kayak mama ini, mama gak tau orangtua mama ada dimana, tapi Allah kasih mama orangtua baru yang sangat menyayangi mama. Bio juga sama. Allah kasih Bio mama yang sayang banget sama Bio," jelas Sarah.
"Kalau Bio punya papa, terus papa Bio ada dimana?" tanya Fabio penasaran.
"Ada di suatu tempat, tapi Bio belum bisa ketemu sekarang. Nanti kita tunggu Allah kasih waktu yang baik buat Bio."
Fabio mengangguk-angguk seolah memahami apa yang dijelaskan Sarah.
"Ya sudah, sekarang Bio mandi terus sarapan. Setelah itu kita jalan-jalan. Bio mau jalan-jalan?" tanya Sarah yang disambut dengan anggukan dan mata berbinar Fabio.
__ADS_1
***
Sarah membawa Fabio ke sebuah mall yang tak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Diajaknya Fabio ke tempat bermain, dan membiarkannya bermain sepuasnya di sana. Sesekali dia pun ikut bermain dengan anaknya.
Saatnya makan siang. Sarah mengajak Fabio keluar dari arena bermain itu dan membawanya ke sebuah restoran yang ditunjuk oleh Fabio.
"Bio mau makan di sini?" tanya Sarah yang dijawab dengan anggukan.
Selesai makan Sarah mengajak Fabio ke mushola mall untuk menjalan shalat Dzuhur. Sarah menyuruh Fabio duduk di sampingnya sementara dia menjalankan shalatnya.
"Bio tunggu di sini, ya? Mama shalat dulu sebentar, jangan kemana-mana."
***
Di tempat jamaah pria di mushola yang sama, tampak Rudi sedang menyelesaikan raka'at terakhirnya. Setelah berdoa, dia beranjak pergi menuju rak sepatu untuk mengambil sepatunya. Tak sengaja dia melihat sepatu kecil yang sangat dirindukannya. "Sepatu itu..," ucapnya dalam hati.
"Ah mungkin itu hanya sepatu dengan model sama. Lagipula ini kan sepatu biasa, siapa saja bisa memakainya," pikir Rudi dan pergi meninggalkan mushola itu.
***
Saat sedang memilih-milih baju Sarah melepas tangan Fabio dan membiarkan Fabio bergerak di sekitar dirinya. Sarah tak sadar bahwa Fabio sudah tak ada di dekatnya lagi
***
Fabio berada di luar toko, dia mengikuti seorang wanita yang dikiranya ibunya. Saat berada di luar dia terkejut karena ternyata wanita itu bukan ibunya. Dia mendekati seorang pria yang ada di dekatnya.
"Om, mama Bio dimana?" tanya Fabio sambil menggoyang-goyang tangan pria itu. Pria itu terkejut.
"Kamu siapa? Mamanya tadi ada dimana?"
"Namaku Fabio, Om. Bio gak tau mama dimana. Bio lupa, Om," jelas Fabio tenang.
"Jadi Bio terpisah dengan mama, ya?" tanya pria itu. Fabio mengangguk.
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang Bio ikut om, kita cari mama, ya?"
"Iya." Fabio mengikuti langkah kaki pria itu, tapi tak lama dia berhenti karena kakinya capek.
"Bio capek? Sini, om gendong!" ucap pria itu lembut.
Dalam gendongan pria itu, Fabio memperhatikan wajahnya.
"Nama Om siapa? Om kayak papa Bio yang ada di mimpi Bio. Om ini papanya Bio bukan?" tanya Fabio. Rudi tersenyum mendengar pertanyaan anak yang digendongnya.
"Nama Om, Rudi. Om bukan papa Bio, om juga bukan orang jahat. Om mau bantu Bio ketemu mama," jelas Rudi sambil mengelus kepala Bio.
"Om mau gak jadi papanya Bio?" tanya Fabio mengejutkan pria bernama Rudi itu. Rudi hanya bisa tersenyum menanggapi pertanyaan anak itu.
***
Sarah tersentak saat dia menyadari bahwa anaknya sudah tak ada di dekatnya. Dia berkeliling toko itu untuk mencari Fabio. Dia bertanya pada pegawai toko, dan mereka mengaku tidak melihatnya. Sarah mulai panik, tapi dia berusaha untuk tenang. Dia keluar dari toko itu dan matanya mencari-cari sosok kecil anaknya di sekeliling lantai itu. Tapi tak ditemukannya dimana pun.
Tiba-tiba terdengar pengumuman dari pusat informasi mall bahwa ditemukan seorang anak dengan ciri-ciri seperti Fabio.
Setengah berlari Sarah menuju pusat informasi, dan dilihatnya Fabio sedang asyik mengobrol dengan seorang pria. Rasanya dengkul kakinya mau copot begitu dia sampai di tempat itu. Dihampirinya Fabio, lalu dipeluknya.
"Mamaaaa!" jerit Fabio lalu memeluk Sarah.
"Mama, maafin Bio, ya? Bio nakal, gak nurut mama. Bio kira tante tadi itu mama," jelas Fabio.
"Mama juga minta maaf, Nak. Mama gak perhatiin Bio", kata Sarah sambil menyeka air matanya.
"Mama jangan nangis. Bio gak apa-apa koq. Bio juga gak sedih karena ada Om Rudi temani Bio. Om, ini mama Bio. Cantik, kan?"
***********
Para pembaca yang baik, jika kalian suka dengan tulisanku, tolong klik like, beri comment, jadikan favorit, dan vote yaa.. Terima kasih❤️❤️
__ADS_1