Misteri Sepatu Kecil

Misteri Sepatu Kecil
41


__ADS_3

Seperti biasa bu Sani menyambut baik kedatangan Sarah dan Fabio seolah mereka itu adalah keluarganya sendiri. Memang sejak dulu ada keinginan di dalam hatinya untuk menjadikan Sarah dan Fabio benar-benar bagian dari keluarganya. Karena itu saat Sandi berniat untuk menjadikan Sarah istrinya, bu Sani sangat mendukungnya. Namun dia harus menerima kenyataan bahwa Sarah tak bersedia menjadi istri Sandi.


"San, kamu beli makanan gih. Ibu gak masak apa-apa nih, Ibu kira tak akan ada tamu," ujar bu Sani pada Sandi


"Nggak usah repot-repot, Bu. Makan yang ada aja, nggak usah beli segala. Lagian kasihan mas Sandi, baru pulang kerja. Pasti capek, " cegah Sarah.


"Nggak apa-apa, kasihan nih cucu Ibu kalau makanannya gak ada yang enak," jawab bu Sani.


"Iya, gak apa-apa. Gak jauh juga koq belinya. Ayo Bio, mau ikut ayah nggak? Kita beli makanan!" ajak Sandi pada Fabio.


Fabio mengangguk dan berjalan ke arah Sandi.


"Wih, anak ganteng Ayah ini. Tambah berat aja!" ucap Sandi saat dia menggendong Fabio dan pergi dari rumah itu.


Akhirnya bu Sani leluasa untuk bicara dengan Sarah.


"Ada apa, Sayang?"


"Nggak ada apa-apa, Bu. Cuma ingin menjauh dari rutinitas aja," Sarah berusaha tak menunjukkan kesusahannya.


"Bicaralah, Nak. Ibu tau kalau kamu sedang ada masalah. Bicarakan dengan ibu, siapa tau setelah bicara kamu akan merasa lega."


"Ini tentang ayahnya Fabio, Bu?" jawab Sarah sambil menunduk.


"Kenapa dengan dia?"


"Dia ingin mengambil Fabio dari aku," ujar Sarah sendu.


"Jadi mereka sudah bertemu? Alhamdulillah. Kenapa dia tiba-tiba meminta Fabio? Seakan tak menyadari bahwa dia telah mengabaikan kalian selama ini!"


"Panjang ceritanya, Bu. Dia bilang kalau dia tak mau berpisah lagi dengan orang yang dicintainya," jelas Sarah.


"Jadi dia mau kamu kembali padanya? Kamu sudah jelaskan tentang perceraian kalian?"


"Udah, Bu. Sarah udah jelasin sejak awal. Dia sangat kecewa dan sedih. Tadinya dia gak tau kalau kami punya anak. Lama-lama mungkin dia sering melihat kami pergi bersama, dia mulai curiga dan menanyakan tentang anaknya."


"Terus kamu kasih tau dia?" tanya bu Sani.


"Iya. Mas Rudi bilang kita gak boleh memutus nasab seseorang, berdosa hukumnya," jelas Sarah.

__ADS_1


"Tunggu, tunggu. Siapa Mas Rudi?" tanya bu Sani


Sarah tampak ragu untuk menjawabnya.


"Mas Rudi itu... dia adalah laki-laki yang saat ini dekat dengan Sarah." jawab Sarah pelan.


"Oh... Alhamdulillah. Semoga kalian berjodoh. Kamu sudah terlalu lama sendiri, Nak. Sudah waktunya kamu punya pasangan lagi. Harus kamu segerakan." Ternyata bu Sani mendukung hubungannya dengan Rudi.


"Pada awalnya mas Rizal tak membahas soal dia ingin mengambil Bio. Makanya Sarah tenang aja. Tapi tadi dia bilang begitu. Sarah jadi takut," Sarah memeluk bu Sani.


"Jadi kamu ke sini untuk menghindari dia?"


Sarah mengangguk.


"Bagus kamu datang ke sini, kalau tidak ibu akan sangat mengkhawatirkan kalian. Untuk sementara kalian tinggal di sini sampai kamu merasa tenang dan siap menghadapi ayahnya Bio. Ayo, bawa barang-barangmu ke kamar. Sebentar lagi maghrib, kamu bersih-bersih dulu."


Bu Sani menuntun Sarah menuju kamarnya dan tak lama Sandi dan Fabio datang membawa dua bungkus sate ayam.


"Mama, lihat ini. Ayah beliin kita sate ayam. Bio mau makan pake sate ayam!" teriak Fabio.


"Iya, Nak. Tapi sekarang Bio mandi dulu, ya? Nanti habis mandi baru makan sate. Oke?" ujar Sarah.


"Sama mama aja, kasihan Om Sandi masih capek," ujar Sarah karena merasa tidak enak pada Sandi.


"Nggak apa-apa, Sar. Sekalian aku mau mandi juga," Sandi menarik tangan Fabio.


Tak sengaja tangan mereka saling bersentuhan dan membuat Sarah kaget lalu melepaskan tangannya.


"Ayo kita mandi, Yah!" ajak Fabio mengagetkan Sarah dan Sandi.


"Oh iya, ayo. Ayo!" jawab Sandi.


***


Sementara di tempat lain Rudi kembali kehilangan Sarah dan berusaha untuk menghubunginya. Dia sangat khawatir karena Sarah tak memberinya kabar sejak pagi tadi. Sore pun saat dia mengunjungi rumah Sarah, tak ditemuinya Sarah dan Fabio.


Rudi bertanya pada Arini, namun Arini pun tak memberikan jawaban yang bisa memuaskannya. Dia mulai memikirkan segala hal, termasuk kecurigaannya terhadap Rizal. Apalagi beberapa hari terakhir Sarah selalu mengeluhkan ketakutannya terhadap mantan suaminya itu.


Dengan bantuan Arini, Rudi mendapatkan nomor ponsel Rizal. Tapi dia masih ragu dan mempertimbangkan untuk menghubunginya. Rudi berniat menyelidiki Rizal secara diam-diam.

__ADS_1


Berhari-hari Rudi tak mendapatkan kabar apapun dari Sarah. Teman-teman kantor Sarah menanyakan padanya tentang keberadaan Sarah, terutama Vina yang merasa sangat kehilangan Sarah.


Sampai suatu hari Vina memberitahu Rudi bahwa Sarah menghubunginya. Rudi sangat antusias dengan kabar itu dan meminta Vina mberitahunya keberadaan Sarah dan Fabio saat ini.


"Kamu serius, Vin?" tanya Rudi.


"Iya, Bang. Sarah bilang dia butuh waktu untuk menyendiri. Tapi gue curiga ini ada hubungannya dengan mantan suaminya. Soalnya Sarah bilang dia nggak mau dipisahkan dengan Fabio!" jelas Vina.


"Aku juga sempet mikir begitu. Tapi setelah kuselidiki si Rizal juga sama sedang mencari Sarah dan Fabio," kata Rudi.


"Coba aja nanti malam Bang Rudi telepon Sarah, soalnya dua hari ini dia nelpon gue malem-malem."


"Nomor hpnya kasus sama, kan?" tanya Rudi.


"Masih. Mungkin kalau siang dia takut mantan suaminya meneleponnya dan bisa melacak keberadaannya. Bang Rudi WA Sarah aja dulu sekarang, bilang kalau nanti malam mau nelpon dia."


"Iya, coba nanti aku bikin janji dulu lewat WA, ya?" ujar Rudi.


Malamnya Rudi menelepon Sarah seperti yang dijanjikannya lewat chat WA.


"Assalamualaikum" sapa Sarah.


"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah akhirnya aku bisa nemuin kamu. Kamu sama Bio baik-baik aja, kan di situ?" tanya Rudi bahagia.


"Alhamdulillah, Mas. Mas, maaf aku gak bisa masuk kerja dulu sementara. Boleh nggak?"


"Iya, nggak apa-apa. Nanti aku koordinasikan dengan bagian kamu agar bisa mengirimkan tugasmu via online ke emailmu."


"Memang boleh begitu, ya?" tanya Sarah.


"Yah menyesuaikan kondisi kamu sekarang, lagipula kantor juga butuh tulisan kamu. Besok aku kabari lewat email, ya?"


"Alhamdulillah, makasih, ya Mas?" ujar Sarah.


"Nggak usah bilang makasih. Ini juga buat kepentingan kantorku juga, kan? Oh iya, Sayang. Kamu tuh sebenernya kenapa sih? Coba kamu ceritain sama aku!"


Sarah menceritakan semua kejadian dan kekhawatirannya jika Rizal benar-benar akan mengambil Fabio.


"Aku sama Vina udah curiga ini ada hubungannya dengan dia. Ternyata benar dugaan kami. Kamu jangan khawatir, Sar. Kamu tetap di sana dulu, aku akan menyelidiki Rizal. Selanjutnya kita akan berhubungan lewat email dan Skype, ya? Aku gak akan menghubungimu ke nomor ini. Kalau bisa kamu gunakan nomor baru, ya?"

__ADS_1


Sarah menyetujui hal itu dan menonaktifkan nomor ponselnya.


__ADS_2