Misteri Sepatu Kecil

Misteri Sepatu Kecil
47


__ADS_3

Rudi merasa mendapat angin segar pada hubungannya dengan Sarah karena dia melihat ibunya sangat menyukai Fabio. Dia juga meminta bantuan Fathia untuk mendekatkan Fabio dengan ibu mereka. Fathia menyetujuinya karena merasa kasihan pada kakaknya, selain itu dia juga memang senang kalau Fabio ada di rumahnya.


"Tolong, ya Dek. Dekatkan Fabio dengan ibu. Ini demi hubungan Abang sama kak Sarah!" Rudi memohon pada Fathia.


"Iya, Bang. Tenang aja, tapi Abang harus sering-sering bawa Bio ke sini. Sisanya... serahkan sama adek Abang yang paling comel ini!"


"Betul, betul, betul!" jawab Rudi menggoda Fathia.


"Tapi entar kalo berhasil, Bang Rudi kasih Fathia hadiah, ya?" pinta Fathia


"Beres. Itu bisa diatur! Tinggal bilang aja!"


"Oke deh kalo gitu. Nanti Fathia juga mau menghasut ayah biar ikut-ikutan suka sama Bio!" Rudi tertawa mendengar ucapan adiknya itu.


"Bahasanu, Dek. Eh, ayah itu gak ada masalah dengan hubungan Abang sama kak Sarah. Yang agak susah itu ibu, Dek!" jelas Rudi.


"Gampang itu. Serahkan pada ahlinya!"


"Kabari Abang kalau kamu sedang gak ada kuliah, ya? Biar Abang bisa bawa Bio ke rumah," pinta Rudi


"Siap, Bos!"


Beberapa kali Rudi membawa Fabio ke rumah orang tuanya dengan alasan Fathia yang menginginkannya, karena dia merasa kesepian di rumah.


Meski ingin sekali menampik keberadaan Fabio di rumahnya, ibu Rudi tak kuasa menolak pesona dan kelucuan Fabio. Selain itu Fabio juga terus-menerus mengajaknya bicara, memuji masakannya dan mengajaknya main. Fathia tak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk mendekatkan ibunya dengan Fabio.


"Gimana progresnya, Dek? Ada kemajuan?" tanya Rudi.


"Progres? Dikata ini proyek, pake progres segala!"


"Kan biar keren. Ini kan sebuah kerjasama juga!" goda Rudi.


"Iya deh. Atur aja!" jawab Fathia.


"Terus gimana?"


"Apanya yang gimana?" tanya Fathia pura-pura tak mengerti.


"Progres...!" kata Rudi.


"Bagus. Semuanya lancar. Ibu gak bisa nolak Bio. ibu berusaha menghindari Bio, tapi untungnya Bio pinter deketin ibu. Tiap ibu mau pergi, Bio ngikutin. Ada aja yang jadi obrolan mereka!"


"Bagus kalau begitu. Berarti Abang tinggal melakukan rencana berikutnya!" kata Rudi.


"Ada rencana lagi? Rencana apa?" tanya Fathia penasaran.


"Ada deh. Lihat aja nanti!" jawab Rudi.


"Ih, Abang. Fathia kan bagian dari tim sukses. Masa gak dikasih tau rencananya. Kasih tau dong master plan-nya apa? Siapa tau adek Abang yang top ini bisa bantu!"


"Iya, nanti Abang kasih tau. Sekarang Abang mau mikirin dulu langkah selanjutnya yang paling bagus!"

__ADS_1


Fabio memang menyukai saat-saat bersama ibunya Rudi. Dia merasa kalau ibunya Rudi adalah neneknya yang sebenarnya, sehingga dia boleh bermanja-manja dan bermain dengannya. Meskipun ibunya Rudi kadang suka marah dan membentaknya, Fabio tetap saja ingin berdekatan dengan ibunya Rudi.


"Bio sama tante Fathia, ya? Nenek capek, mau tiduran dulu!" ujar ibu Rudi.


"Nenek capek? Ayo, Bio pijetin. Mama juga suka dipijetin Bio kalau capek. Katanya pijetan Bio enaaak banget. Ayo, Nek. Bio pijetin!" Fabio menarik tangan ibu Rudi dan menyuruhnya duduk di sofa.


Dipijatnya kaki ibu Rudi dengan sungguh-sungguh.


"Nenek capek, ya masak terus? Kasian. Kalau Bio bisa masak, Bio mau koq bantuin nenek. Biar nenek gak capek lagi. Nanti Nenek ajarin Bio masak, ya? Biar Bio bisa bantu nenek masak makanan yang enak!" kata Fabio sambil mengacungkan jempolnya.


"Nggak apa-apa. Biar Nenek aja yang masak, Nenek gak mau kamu kena cipratan minyak panas, atau luka karena keiris pisau!" jelas ibu Rudi yang tadinya ingin menghindari Fabio, malah jadi betah mengobrol dengan anak itu.


Acara pijat memijat itu akhirnya berubah menjadi acara obrolan panjang antara nenek dan cucu. Sesekali mereka tertawa bersama.


Lama kelamaan keberadaan Fabio di rumahnya menjadi penyemarak suasana yang selalu dirindukan di rumah yang biasanya sepi itu.


Sarah tak mengetahui perihal kedekatan anaknya dengan ibu Rudi karena dia tak pernah menanyakannya. Fabio memang sering bercerita tentang nenek, tapi Sarah mengira bahwa nenek itu adalah ibunya Arini yang sudah biasa bersama Fabio.


Suatu hari Rudi mengajak Sarah dan Fabio ke rumah orang tuanya. Pada awalnya Sarah ragu untuk menerima ajakan itu, karena takut mendapat penolakan dari ibunya Rudi lagi. Tapi karena Rudi memaksa dan meyakinkan Sarah bahwa semuanya akan baik-baik saja, dengan berat hati Sarah menerima ajakan itu.


"Nanti kalau ibu tak suka padaku sama Bio, aku akan pergi saja, ya?" kata Sarah pada Rudi.


"Udah, percaya aja sama aku. Semuanya akan baik-baik aja!" kata Rudi.


Rudi yakin kali ini ibunya akan menerima Sarah sebagai calon menantunya. Tentu saja berkat Fabio yang supel dan lucu yang berhasil mengambil hati ibunya.


Saat turun dari mobil, Fabio berlari masuk ke dalam rumah orang tua Rudi.


"Assalamualaikum, Nenek... Tante Fathia... Kakek...!" teriak Fabio


"Biarin aja! Bio pengin ketemu kakek sama neneknya!" kata Rudi mencegah Sarah.


"Tapi...!"


"Nggak apa-apa. Biarin Bio main sama mereka!" kata Rudi lagi.


Fabio sudah berlari masuk ke dalam rumah orang tua Rudi. Terdengar sambutan orang tua Rudi pada Fabio.


"Eh, cucu Kakek udah datang lagi. Sama siapa, Nak?" tanya ayah Rudi.


"Paling juga dianter Rudi. Fathia kalau lagi ada di rumah suka minta abangnya anterin Bio ke sini, Yah. Katanya kesepian!" jelas ibunya.


"Ibu juga kesepian, kan kalau gak ada Bio?" goda suaminya.


Fabio sudah duduk diantara ayah dan ibu Rudi.


"Nenek udah masak?" tanya Fabio.


"Udah dong. Memangnya Bio mau makan?" tanya ibunya Rudi.


"Yah, Bio gak bisa bantuin Nenek masak deh. Sekarang Nenek pasti capek. Mau Bio pijetin lagi?" tanya Bio

__ADS_1


"Wah, rupanya sekarang Ibu udah punya tukang pijet pribadi, ya?" kata ayah Rudi.


"Iya nih. Pijetannya lumayan enak, Yah. Coba deh sekali-kali!" bisik istrinya.


Rudi sengaja mencegah Sarah untuk menyapa orang tuanya dulu. Dia memberi kode pada Sarah untuk diam dan memperhatikan keakraban Fabio dengan kedua orang tuanya.


"Assalamualaikum," Sarah dan Rudi bersamaan mengucapkan salam.


"Wa'alaikumsalam!" jawab ayah dan ibu Rudi


Sikap ibu Rudi sangat berbeda kali ini. Dia sangat ramah dan menyambut kedatangan Sarah dan Rudi.


"Bio suka tinggal di sini?" tanya Rudi.


"Suka!" jawab Fabio.


"Kenapa Bio suka?" tanya Rudi sambil menggendong Fabio.


"Soalnya di sini ada tante Fathia yang suka ajakin Bio main, ada nenek yang masakannya enak banget, ada kakek juga yang suka ajarin Bio main bola!" jawab Fabio.


Omongan Bio itu membuat semua orang yang ada di rumah itu tertawa. Saking gemasnya ibu Rudi ingin menggendong Fabio, tapi Fabio menolak.


"Nenek jangan gendong Bio. Bio kan berat, biar Papa aja yang gendong. Bio gak mau nanti nenek jadi sakit gara-gara gendong Bio. Nanti gak ada yang bikin makanan enak lagi deh..." celoteh Fabio.


"Pinter amat cucu Nenek ini...!" ujar ibu Rudi gemas.


Akhirnya semua menyetujui hubungan Rudi dan Sarah, bahkan ibunya meminta Rudi segera meresmikan hubungan anaknya dengan Sarah.


"Jangan menunda hal baik. Kalau bisa disegerakan saja, biar tidak mengundang fitnah juga!" kata ibu Rudi.


"Iya, Ayah setuju sama Ibu. Segerakan saja, tak usah bermewah-mewah, undang keluarga dan beberapa relasi bisnis. Buat sesimpel mungkin, yang tak memerlukan banyak waktu untuk mempersiapkannya," kata ayah Rudi.


"Iya, Yah. Besok Rudi akan menghubungi WO yang bisa menyiapkan semuanya dalam waktu yang cepat. Rudi juga gak mau menunda-nunda," jelas Rudi


"Ya pastilah Abang gak mau menunda-nunda, soalnya udah kebelet, kaaaan?" goda Fathia.


"Hush, kamu ini anak kecil, tau-tauan kebelet segala!" kata Rudi.


"Ih, Fathia bukan anak kecil lagi, Bang. Udah 22 tahun. Tuh yang anak kecil itu Bio, bukan Fathia!"


"iya deh. Udah gede. Bentar lagi kebelet juga tuh minta dinikahin!" goda Rudi.


"Nggaklah. Fathia mau berkarir dulu, baru deh nikah!" kata Fathia.


"Emang bakalan ada yang mau sama kamu, Dek?" goda Rudi lagi.


"Abang...!" Fathia nampak kesal pada kakaknya.


"Sudah. Kalian ini kalau ketemu pasti berantem. Malu sama Sarah tuh!" kata ibunya.


"Abang yang mulai!" rajuk Fathia.

__ADS_1


"Gak boleh berantem! Ayo maafan Papa sama Tante Fathia! Salaman!" kata Fabio seperti seorang guru yang memarahi muridnya.


Sarah hanya tersenyum melihat kelakuan Rudi dan Fathia. Dia juga masih bingung dengan keakraban anaknya dan calon mertuanya. Bagaimana bisa Fabio bisa seakrab dan sedekat itu dengan mereka.


__ADS_2