Misteri Sepatu Kecil

Misteri Sepatu Kecil
27


__ADS_3

Semakin hari kedekatan Vina dan Rudi semakin terlihat, dan membuat Sarah dan Feni harus menjalani hari-hari berdua saja. Terasa ada yang kurang setiap kali mereka pergi makan siang, tak ada lagi canda, tawa dan ulah usil dari Vina sang penyemarak suasana.


Meski Vina dan Rudi tidak pergi bersama tiap hari, namun absennya Vina diantara Sarah dan Feni tak ayal menciptakan suasana yang berbeda, tapi Feni dan Sarah tak pernah mempermasalahkannya. Mereka berdua berharap Vina dan Rudi segera meresmikan hubungannya.


"Hei, Sar. Nanti siang makan siang di tempat biasa, ya? Kangen gue makan bareng kalian." Vina menyapa teman-temannya dan sedikit berbasa-basi


"Hei, Vin. Tumben mau makan bareng kita-kita. Memangnya kamu gak janjian sama pak Bos?" tanya Sarah menggoda Vina.


"Hari ini kayaknya nggak deh, Bang Rudi mau makan siang sama rekanannya."


Sejauh ini hubungan mereka tampak biasa saja, tak ada yang berubah. Vina masih ceria dengan canda, tawa dan keusilannya membuat suasana yang tadinya sedikit canggung mencair kembali seperti sebelumnya.


"Vin, kayaknya hubungan kalian udah serius nih!" celetuk Sarah di tengah-tengah obrolan mereka yang penuh dengan gurauan


"Hubungan apa?"


"Kak Vina ini suka pura-pura kayaknya, kak Sarah," timpal Feni.


"Lu berdua ngomongin apaan sih? Gue gak ngerti?"


"Itu lho, Vin, hubungan kamu dengan pak Rudi," jawab Sarah.


"Gue? Sama bang Rudi?"


Feni dan Sarah mengangguk mengiyakan.


"Ya ampun..., jadi kalian nganggap gue ada hubungan spesial dengan bang Rudi?"


"Terus kalian ngapain dong kalau bukan ada hubungan spesial? Hampir tiap hari lho pergi berdua," jelas Sarah.


"Gue gak ada hubungan spesial sama bang Rudi. Gue cuma bantu dia."


"Bantu? Maksud kamu gimana, Vin?" selidik Sarah.


"Jadi gue itu bantu bang Rudi buat... Ah, nanti juga kalian tau deh."


"Apa sih, kak Vina? Koq main rahasia-rahasiaan segala."


"Gue sih udah sejak awal pengen cerita sama kalian, tapi..."


"Ya sudah kalau kamu gak mau menjelaskannya. Pokoknya aku sama Feni selalu mendoakan yang terbaik buat kamu. Lagipula kamu sama pak Rudi memang cocok koq."

__ADS_1


"Ih jangan salah sangka dulu, Sar. Beneran, gue sama bang Rudi itu gak ada hubungan apa-apa. Dia itu udah gue anggap kakak. Lagian bang Rudi itu bukan tipe gue."


Sarah dan Feni menanggapi omongan Vina dengan senyuman.


"Jodoh gak ada yang tau, kak. Kita gak akan bisa nolak meski kita gak suka."


"Ih, ogah amat gue nikah sama orang yang gue gak suka!"


"Ya sudah, ayo kita kembali ke kantor. Jam istirahat sudah hampir habis."


Mereka bertiga beranjak dari tempat duduknya dan segera meninggalkan tempat itu untuk segera kembali ke kantornya dan melanjutkan pekerjaan mereka.


***


Vina mulai merasa tidak nyaman dengan pandangan orang-orang kantor itu yang mulai membahas kedekatannya dengan CEO kantor itu. Dia juga sudah tak tahan untuk memberitahu Sarah apa yang terjadi sebenarnya, dia tak mau kesalahsangkaan itu berlangsung lebih jauh.


"Bang, kayaknya info tentang Sarahnya udah gue kasih semua tuh," ujar Vina membuka pembicaraan mereka.


"Terus terang aku ragu.."


"Ragu dengan info dari gue? Yaelah, terus ngapain Abang nanyain ke gue?" Vina menyela omongan Rudi dengan emosi sebelum Rudi sempat menyelesaikannya.


"Makanya jangan main sela dulu, dengerin dulu sampai selesai omongan Abang. Maksud aku tuh bukan gak percaya info dari kamu, tapi Abang ragu kalau Sarah akan menerima Abang."


"Iya, iya. Tapi kamu mau bantu Abang, kan?"


"Hadeeeh, gue kurang bantu apa, Bang. Semua yang gue tau tentang Sarah udah gue omongin!"


"Please, Vin. Aku juga lagi nyari cara untuk mendekati dia, tapi rasanya koq... dia seperti semakin tak terjangkau," ujar Rudi.


"Bang, jujur gue udah gak tahan dengan omongan orang tentang hubungan kita. Mereka itu udah salah sangka, Bang. Gue takut ini akan lebih parah. Gimana kalau papa mama gue tau, bisa-bisa dipaksa nikah kita, Bang!"


"Iya, Abang ngerti. Oke! Kita akhiri semua ini, tapi kamu janji bantu Abang mendekati Sarah. Oke?"


"Gak tau ah, udah males mikir gue!"


"Vina. Please, sekali lagi, ya? Bantu Abang."


"Oke. Tapi gue minta Abang ikutin apa yang gue suruh. Gue akan atur semuanya!"


"Tapi, Vin.."

__ADS_1


"Kenapa? Ragu dengan apa yang akan gue lakuin? Bang, inget ya? Sarah itu temen gue. Gue udah tau dia kayak gimana. Dan gue pengen dia bahagia."


"Oke."


"Jadi mau ngikutin apa yang gue suruh?"


Seperti kerbau dicucuk hidung, Rudi menerima syarat yang diajukan Vina. Karena bagaimanapun apa yang dikatakan Vina itu benar. Jika bukan dengan bantuan Vina, mungkin tak ada cara yang bisa dilakukannya untuk mendekati Sarah.


Demi Sarah dia harus mengesampingkan egonya yang biasa mengatur dan memutuskan masalah, kali ini dia harus mengikuti arahan orang lain yang notabene orang itu posisinya di bawah dia dalam segala hal.


Dengan emosi yang masih tersisa di dadanya, Vina keluar dari ruangan CEO diiringi dengan tatapan ingin tahu dari orang-orang yang berada di luar ruangan itu. Vina menarik napas panjang dan berusaha untuk menenangkan perasaannya.


Robi menyambut Vina dengan berdiri dari kursinya dan menganggukkan kepalanya menunjukkan rasa hormat. Dia mengira bahwa antara Vina dan atasannya ada hubungan spesial.


Di ruang kerja pun Vina masih harus menghadapi tatapan-tatapan yang seperti menyelidik. Vina betul-betul sudah tidak tahan dengan keadaan itu, tapi dia berusaha untuk tetap tenang.


Di tempat duduknya dia berusaha menenangkan perasaannya dan mulai memusatkan perhatiannya pada pekerjaan yang harus diselesaikannya. Cukup lama juga dia termenung di kursi sambil menatap layar komputer di hadapannya. Hal itu tentu mengundang perhatian Feni.


"Abis ketemu seseorang koq malah ngelamun, kak?"


Vina sedikit terkejut. Dia hanya menghela napasnya mendengar pertanyaan Feni membuat Feni tak berani bertanya lebih lanjut.


Tak lama Vina beranjak dari kursinya dan menuju ke meja Sarah.


"Hai, Vin!" sapa Sarah saat melihat Vina sudah ada di hadapannya.


Sarah sedikit heran saat melihat raut muka Vina yang tak ceria seperti biasanya.


"Kamu kenapa, Vin? Ada masalah? Mau share sama aku?"


"Sar, pulang kerja aku mau ngomong sama kamu."


"Apa masalah kamu ini ada hubungannya sama aku?"


"Nanti aja, Sar. Biar kita bisa ngobrol banyak. Kalau bisa lo nginep aja di apartemen gue."


***


Pembaca yang paling baik..


Please berikan komen, klik suka dan berikan bintang dan juga vote untuk karya sederhana ini...

__ADS_1


Terima kasih❤️❤️❤️


__ADS_2