Misteri Sepatu Kecil

Misteri Sepatu Kecil
18


__ADS_3

Arini masih terus tertawa. semakin berusaha menahannya semakin dia merasa geli. Hal itu membuat Rudi semakin malu dan salah tingkah. Menyadari hal itu Arini segera menghentikan tawanya meskipun rasanya sulit baginya. Dia menarik napas panjang.


"Hhmmp... huuuh... ayo lanjutin ceritanya," ujar Arini.


"Nggak ah, nanti kamu ketawa lagi!" jawab Rudi.


"Iya, maaf, habisnya lucu sih. Terus rencananya sekarang gimana?"


"Belum tau, aku juga bingung. Karena sepertinya yang kukejar gak ada wujudnya."


"Jangan pesimis begitu. Mungkin kalau usahanya lebih giat, wanita itu bisa ditemukan."


"Aku gak yakin. Sepatunya saja sudah tak pernah kelihatan lagi, gimana aku bisa menemukan orangnya?"


"Sudah minta bantuan orang lain belum? Di kantor punya asisten, kan?"


"Ada," jawab Rudi singkat.


"Nah, minta bantuan dia aja!" Arini memberikan saran.


"Nggak ah, nanti bertambah lagi orang yang menertawakanku. Bahkan mungkin lebih parah, dia bisa menganggap atasannya sudah tidak waras," tolak Rudi.


"Namanya juga usaha. Mau ketemu gak?"


"Robi itu orangnya serius, apa-apa selalu dipikirin, dia menganggap semua hal harus masuk akal. Apa yang harus kukatakan padanya? Bisa-bisa dia menganggapku tidak waras dan perlu dirawat dokter atau psikolog," terang Rudi.


"Terus gimana dong? Aku mau bantu, tapi nggak tau caranya."


Beberapa saat mereka terdiam.


"Aku penasaran. Ada foto sepatunya nggak?" tanya Arini.

__ADS_1


Rudi meraih ponselnya, lalu tak lama dia menunjukkan gambar screenshot sepatu itu pada Arini.


"Ini!" Rudi menyodorkan ponselnya pada Arini.


"Wah, saking penasarannya sempat-sempatnya memotret sepatu ini."


"Gambar itu aku dapat dari internet," jawab Rudi.


Arini segera mengambil ponsel itu dan melihat gambar yang ditunjukkan Rudi. Dahi Arini berkerut, dia seperti sedang berpikir.


"Model sepatunya biasa, seperti tak ada yang istimewa, malah modelnya cendrung ke model sepatu untuk anak-anak," pikir Arini sambil terus mengamati foto itu.


"Rasanya model sepatu ini tidak asing. Aku yakin pernah melihat seseorang memakainya, tapi siapa?" batin Arini.


***


Hari-hari terus berlalu, tapi hari Senin selalu menjadi hari kerja yang paling sibuk di kantor media itu Sarah pun berkutat dengan pekerjaannya melakukan riset dan mencari beberapa referensi untuk tulisannya. Tapi pikirannya menjadi tidak fokus saat melihat meja Leni yang kosong tanpa penghuni. Dihampirinya meja Vina yang ada di sebelah meja Leni.


"Lah gue juga baru mau menanyakan hal yang sama sama elo. Gak biasanya dia kayak gini. Gue kira dia ngabarin lo kalau gak masuk hari ini."


"Nggak tuh. Kemana, ya dia? Udah ditelepon belum?"


"Udah gue WA, tapi cuma ceklis satu."


"Sama. Kita tunggu aja siapa tau dia terlambat datangnya. Kalau sampai jam makan siang gak datang juga, baru kita telepon dia lagi. Aku masih sibuk dengan riset dan referensi!"


Vina mengangguk, Sarah pun melangkahkan kakinya kembali menuju meja kerjanya.


Saat jam istirahat makan siang Vina dan Sarah berganti-gantian berusaha menghubungi Leni dengan ponsel masing-masing. Tapi hasilnya nihil, Leni benar-benar tak dapat dihubungi dan menyisakan rasa penasaran pada dua sahabatnya itu.


Genap seminggu Leni tak masuk kerja tanpa ada yang tahu alasannya. Tiba-tiba ada pesan masuk ke ponsel Sarah dengan nomor pengirim tak dikenal yang menyuruhnya bersama Vina menemuinya di sebuah tempat. Ternyata itu pesan dari Leni. Sarah memberitahu Vina mengenai pesan itu.

__ADS_1


Seusai kerja Sarah dan Vina segera menuju ke tempat itu. Sebuah coffee shop kecil tak jauh dari kantor mereka.


Leni sudah menunggu mereka di salah satu sudut coffee shop itu dengan ditemani segelas capuccino di hadapannya.


"Leeeeni...!" Vina dan Sarah berhambur ke arah Leni lalu memeluknya.


"Lo kemana aja? Kenapa gak ngabarin kita kalau gak masuk kerja? Kita kuatir banget, tau?" Vina nyerocos.


"Nggak kemana-mana, Vin. Aku di rumah aja."


"Terus kenapa lo gak kerja? Lo sakit?" tanya Vina lagi. Leni menggeleng.


"Len, kalau ada masalah cerita dong sama kita, jangan disimpen sendiri," kata Sarah sambil memandangi wajah Leni yang kuyu dan lesu. Tampak matanya sembab dan berkantung mata.


"Aku gak apa-apa, Sar. Aku kangen kalian."


"Lo jangan bilang gak apa-apa, tapi ternyata apa-apa. Cerita dong sama kita. Kita ini udah kayak saudara, bukannya teman lagi!" Vina menatap tajam Leni membuat Leni tak bisa menahan air matanya.


"Vin, kayaknya kita harus bawa Leni ke tempat lain deh, yang agak tenang", saran Sarah.


"Ke apartemen gue aja, lo berdua nginep di apartemen gue, kalau perlu bawa anak lo juga", ujar Vina. Vina segera membayar minuman yang mereka pesan lalu mengajak Sarah dan Leni ke mobilnya.


Mobil Vina terlebih dulu meluncur ke rumah Sarah untuk menjemput Fabio yang sedang berada di rumah Arini lalu membawanya ke apartemen Vina.


Beruntung Fabio tidak rewel dan setelah makan malam dia tertidur sehingga membuat Vina, Sarah dan Leni leluasa untuk mengobrol.


"Aku disuruh nikah sama ayah dan ibu tiriku."


"Nikah sama siapa? Lo gak pernah cerita-cerita sama kita kalau lo punya cowok!"


Air mata Leni mulai keluar membasahi pipinya.

__ADS_1


Leni mulai menceritakan masalahnya bahwa ayah dan ibu tirinya menjodohkannya dengan seorang pria yang Leni belum kenal. Saat ini usaha ayah Leni mengalami kesulitan keuangan sehingga membuat ayahnya harus meminjam uang pada pria itu. Karena ayah Leni tak bisa membayarnya, lalu pria itu meminta ayah Leni untuk menikahkannya dengan Leni. Pria itu memang sudah lama menyukai Leni, tapi Leni tak pernah mempedulikannya. Leni juga tak pernah tau bahwa ayahnya berhutang pada pria itu.


__ADS_2