
"Selamat, ya?" Rudi menyodorkan tangannya untuk menyalami Sarah.
"Terima kasih, Pak."
Sarah masih saja tak percaya bahwa orang di depannya adalah CEO perusahaan tempatnya bekerja. Selama ini memang dia tak pernah berusaha mencari tahu tentang pemimpin perusahaan itu. Baginya yang penting dia mendapat pekerjaan, bekerja dengan baik dan mendapatkan uang. Dalam bayangannya, CEO perusahaan itu adalah seorang yang sudah tua, botak dan bertampang serius. Sangat bertolak belakang dengan profil orang yang ada di hadapannya sekarang.
"Jangan sungkan. Lagipula kita kan sudah kenal sebelumnya. Oh iya, apa kabar Bio?" tanya Rudi berusaha mencairkan suasana agar Sarah tidak merasa canggung lagi.
"Alhamdulillah baik," jawab Sarah lirih.
"Jadi kangen sama dia. Bio itu anak yang cerdas, omongannya sangat terarah, mandiri dan tidak cengeng. Umur berapa dia?"
"4 tahun."
"Kapan-kapan aku boleh, kan ketemu sama dia? Itu pun kalau ayahnya mengijinkan juga, biar gak ada salah pengertian."
Sarah terkejut mendengar ucapan Rudi, namun dia pun tak berusaha menjelaskan bahwa dia adalah orangtua tunggal bagi Fabio. Sarah hanya terdiam.
Melihat Sarah seperti itu Rudi menjadi bingung dan bertanya-tanya apa yang salah dengan ucapannya.
"Maaf. Apa kata-kataku ada yang salah?"
"Oh, tidak. Tidak ada. Tidak ada yang salah."
"Oh iya, mungkin tidak lama lagi kamu akan mendapat panggilan wawancara sehubungan dengan lomba itu. Kamu persiapkan diri, ya?"
Rudi berusaha membuat Sarah tak merasa gugup berada di depannya. Mulai hal-hal mengenai penulisan hingga hal yang tak penting pun dia bicarakan, bahkan sesekali Rudi melontarkan lelucon dan membuat Sarah tersenyum.
"Ah, manis sekali senyumannya," batin Rudi.
"Jadi kamu temannya Vina?" tanya Rudi.
"Iya."
"Kalian pasti berteman baik, kemarin waktu di rumahnya kalian nampak sangat akrab, bahkan Fabio juga terlihat tidak malu berada di antara keluarga Vina. Kalian sudah berteman lama?"
"Tidak. Saya mengenal Vina di kantor ini. Dia orangnya baik dan mudah akrab," jelas Sarah.
Entah kenapa Rudi sangat betah berlama-lama bicara dengan Sarah, selalu ada saja bahan pembicaraan untuk menahan Sarah agar tetap berada di ruang itu. Lain halnya dengan Sarah yang sudah sangat ingin keluar dari ruangan itu. Dia teringat dengan target kerjanya minggu ini. Setiap kali dia ingin berpamitan, Rudi seperti menghalanginya dan terus mengajaknya bicara.
"Maaf, pak. Saya mohon diri dulu. Tadi saya belum sempat mengerjakan apa-apa untuk tulisan minggu ini," Sarah segera berpamitan begitu dia mendapat kesempatan.
__ADS_1
"Oh iya, saya malah jadi menahan kamu di sini. Maaf, ya? Kalau begitu silakan kembali ke tempat kerja kamu."
"Baik, Pak." Sarah berdiri dan membungkuk hormat pada Rudi sebelum dia membalikkan badannya dan menuju pintu ruangan itu.
"Sarah!" Panggilan itu membuatnya menghentikan langkah dan menoleh ke arah suara itu.
"Kapan-kapan kita bisa ngobrol lagi, kan?" tanya suara itu lagi, yang tak lain adalah suara Rudi.
"Boleh." Jawab Sarah singkat. Sarah melangkahkan kakinya lagi.
Sepeninggal Sarah entah kenapa Rudi merasa sangat bahagia. Bagai orang yang kehausan dan menemukan sebotol air, menyegarkan dan memberi semangat hidup.
"Hei, sepatu itu?! Dia memakai sepatu itu!!" Rudi baru menyadari bahwa Sarah memakai sepatu yang selama ini dicari dan dirindukannya.
"Apa dia orangnya?"
***
Waktu makan siang tiba, dan seperti biasanya Rudi dan Sarah terlebih dulu menjalankan kewajibannya menjalankan shalat Dzuhur di mushola kantor.
Rudi kembali memperhatikan rak sepatu di depan tempat wudhu, tapi dia tak menemukan apa yang dicarinya. Sepatu kecil itu.
Karena penasaran Rudi menunggu sampai orang terakhir keluar dari mushola itu. Dia masih tetap tak menemukan sepatu itu dan juga pemiliknya.
***
Di kantin tempat biasa Sarah dan teman-temannya berkumpul untuk makan siang, Vina dan Feni sudah menunggunya.
Makanan pesanan mereka sudah tersaji di meja. Sarah segera duduk di samping Vina.
"Sar, lu ngapain aja sih? Koq lama," tanya Vina uang sudah kelaparan.
"Perasaan biasa aja, sama dengan hari-hari sebelumnya. Aku cuma shalat terus langsung ke sini."
"Bukan itu. Maksud gue kenapa lu lama di ruang Kepala Divisi? Lu disuruh ngapain? Apa dia gak percaya kalau itu karya elo?"
"Nggak, Vin."
"Jadi beneran dia gak percaya? Mentang-mentang belum jadi penulis senior, terus dia gak percaya dengan kemampuan elo?" Vina tampak emosi.
"Sabaaar. Makanya dengerin dulu penjelasan aku, jangan maen emosi aja. Gini lho, Vin. Aku di ruang Kepala Divisi cuma sebentar, dia hanya mengucapkan selamat dan menyuruhku untuk mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu dipanggil untuk kepentingan lomba itu," jelas Sarah.
__ADS_1
"Lah terus yang lamanya dimana? Kita berdua sampai kuatir, takutnya kakak kenapa-kenapa," Feni menjelaskan.
"Itu lho, aku kan disuruh ketemu dengan CEO. Nah, dia itu yang nahan aku lama banget."
"Serius lo dipanggil CEO?" tanya Vina penasaran.
"Iya. Mana aku gak tau lagi CEO itu orangnya yang mana. Ternyata orang yang aku tanya itu adalah CEO-nya. Ya Allah, malu banget aku."
"Elo gak tau CEO perusahaan kita ini? Helow, kemana aja lo? Gue kira lo udah kenal, soalnya gue pernah lihat lo ngobrol sama dia malam itu, waktu ulangtahun gue."
"Beneran, aku gak tau, Vin. Aku kenal dia juga gak sengaja. Mana dia ngajakin ngobrol melulu. Semua dia bahas," jelas Sarah.
"Mungkin dia suka elo, Sar." Vina menggoda Sarah
"Ngaco kamu!" Wajah Sarah bersemu merah.
"Siapa tau jodoh, Sar. Kalian berdua cocok. Pasangan yang serasi," goda Vina lagi.
"Udah ah, jangan dibahas lagi. Kamu tuh bisanya menggoda saja."
"Yaelah, Sar. Muka elo tuh gak bisa bohong, merah-merah semua. Kalau suka juga gak apa-apa kali, kan sama-sama singel."
"Vinnnaaaa!" Sarah mencubit lengan Vina.
"Aduuuh, sakit, Sar!" Vina meringis kesakitan karena cubitan Sarah.
***
Setelah pertemuan itu Rudi tak pernah bertemu lagi dengan Sarah. Rudi merasa penasaran dengan Sarah. Dia ingin tahu siapa Sarah sebenarnya dan benarkah dia pemilik sepatu kecil itu.
"Aku harus menyelidikinya. Aku gak mau dihantui rasa penasaran seperti ini. Tapi dari mana aku harus memulai penyelidikan ku?" gumamnya.
Rudi terus berpikir. Dia bertekad untuk menemukan jawaban atas semua pertanyaan dalam dirinya. Setelah lama berpikir dan mempertimbangkan berbagai hal, Rudi menemukan dari mana dia harus memulai penyelidikannya.
"Vina. Ya, aku bisa menanyainya dan menemukan jawaban semua itu!" lirihnya dengan senyum simpul tersungging di bibirnya.
***
Jangan lupa tekan tombol suka, beri komentar juga (jika berkenan) dan tekan favorit agar kalian gak ketinggalan ceritanya.
Beri rate juga, ya.. dan vote juga..
__ADS_1
Terimakasih ❤️❤️