
Setelah mengunci rumahnya Sarah bergegas membawa Fabio masuk ke mobil yang telah dipesannya melalui aplikasi.
"Barangnya sudah semua, Bu?" tanya pak sopir.
"Sudah, Pak," jawab Sarah singkat.
"Ke stasiun, kan Bu?"
"Iya, Pak. Ke stasiun. Mudah-mudahan masih cukup waktunya," jawab Sarah lagi.
"Mau naik kereta yang jam berapa?"
"Jam 4."
"Kayaknya masih keburu, Mbak. Sekarang baru jam 3 lebih sedikit. Kita lewat jalan lain aja biar gak kena macet," kata pak sopir.
"Iya, Pak. Terserah bapak aja yang penting gak ketinggalan kereta."
"Siap, Bu!"
Fabio yang mendengar pembicaraan ibunya dengan sopir menjadi penasaran.
"Ma, kita mau naik kereta, ya?" tanya Fabio.
"Iya, Sayang. Bio mau naik kereta lagi, kan?" jawab Sarah lembut.
"Emangnya kita mau ke mana?"
"Kita mau ke rumah nenek. Bio kangen nenek sama om Sandi, kan?" jawab Sarah.
Fabio mengangguk.
"Mau pulang kampung, Bu?" tanya pak sopir lagi.
"Iya, Pak."
Setelah beberapa waktu mereka tiba di stasiun dan segera melakukan boarding. Tak lama lagi kereta akan berangkat.
"Ayo, Nak. Keretanya udah mau jalan," kata Sarah pada Fabio agar berlari.
Seorang pria yang sama-sama mau naik kereta membantunya membawakan kopernya.
"Sini saya bawakan, Mbak," tawarnya.
Sarah mengangguk dan menyerahkan kopernya, lalu dia menggendong Fabio dan mengikuti pria itu.
"Gerbong berapa? Boleh lihat tiketnya?" tanya pria itu lagi.
Sarah mengambil tiketnya dari dalam tasnya dan ditunjukkan pada pria itu.
"Oh kebetulan sekali. Tempat duduk kita saling berhadapan." Pria itu menunjukkan tiketnya.
Setelah menemukan tempat duduk mereka, Sarah mengucapkan terimakasih pada pria itu.
"Makasih, ya," ucap Sarah.
__ADS_1
"Sama-sama, Mbak," jawabnya lalu dia mengeluarkan botol minum dari dalam tasnya.
"Mbak sama Adek mau minum?" Dia menyodorkan botol airnya pada Sarah dan Fabio.
"Nggak. Makasih. Kami bawa minum juga koq," jawab Sarah.
Pria itu meminum air minumnya sampai bersisa separuh.
"Haus sekali. Tadi saya buru-buru, langsung dari tempat kerja. Takut ketinggalan kereta," jelasnya
Sarah hanya tersenyum menanggapi omongan pria itu.
"Oh iya, kenalin, namaku Satria. Tapi bukan Satria Baja Hitam, ya? Apalagi motor Satria?" ujar Satria memperkenalkan dirinya dengan sedikit candaan.
Sarah tersenyum mendengarnya.
"Sarah," ucap Sarah memperkenalkan dirinya.
"Adek namanya siapa?" tanya Satrio pada Fabio.
"Bio," jawab Fabio.
"Oh namanya Bio. Bio apa? Biologi atau Biokimia?" goda Satria, namun Fabio diam saja karena tidak mengerti dengan candaan Satrio.
"Namanya Fabio," ujar Sarah.
"Ponakan, ya Mbak?" tanya Satria lagi.
"Ini anak saya."
Satria nampak terkejut mendengar jawaban Sarah.
Sarah mengangguk
"Gak nyangka, kecil-kecil sudah punya anak kecil. Maaf, Mbak. Becanda," kata Satria cengengesan.
Karena Satria terus-menerus mengajak ngobrol, Sarah sedikit melupakan masalahnya. Dia merasa terhibur dengan cerita-cerita Satria yang kadang mengundang tawa. Satria pun tak segan mengajak Fabio bercanda, sehingga rasa jenuh berada di dalam kereta pun sedikit terobati. Mungkin orang lain yang melihat keakraban mereka saat itu akan menganggap bahwa mereka satu keluarga.
Penumpang kereta saat itu tidak terlalu banyak. Suasana di dalam kereta cukup lenggang dan leluasa. Ditambah obrolan-obrolan mereka yang mengalir begitu saja membuat waktu perjalanan terasa singkat. Satria memberikan kartu namanya pada Sarah saat mereka berpisah di stasiun.
"Ini kartu namaku. Siapa tau suatu hari perlu. Jangan hilang, ya?" ujarnya sambil tersenyum manis pada Sarah.
Sarah menerima kartu itu, lalu memasukkannya ke dalam tasnya. Dia pun mengambil kartu namanya dari dalam dompetnya dan diserahkan pada Satrio
"Oke, makasih. Ini akan selalu kusimpan di dalam dompetku. Tapi nama kamu akan selalu kusimpan dalam hatiku," ucapnya serius.
Sarah tertawa mendengar hal itu. Dia mengira bahwa Satria hanya bercanda seperti omongan-omongan dia saat di kereta.
"Sar, kalian ada yang jemput apa gimana? Kalau gak ada yang jemput biar aku anter. Kebetulan adikku akan jemput bawa mobil. Atau mau ikut ke rumahku sekalian juga boleh, biar aku kenalin sama orangtuaku," ujar Satria.
"Kamu ini! Aku ada yang jemput. Mungkin sebentar lagi sampai." Sarah masih menganggap omongan Satria hanya becandaan.
"Nah, jemputanku udah datang. Mau ditungguin apa gimana? Yang jemput kalian masih lama nggak?" tanya Satria saat dia melihat mobil yang menjemputnya sudah datang
"Nggak apa-apa. Duluan aja. Jemputanku sebentar lagi sampai."
__ADS_1
"Beneran?" tanya Satria seolah tak percaya.
Sarah mengangguk.
"Ya sudah, aku duluan, ya? Kalian hati-hati. Bio... Om pergi dulu, ya? Kapan-kapan kita ketemu lagi. Oke?"
"Oke, Om. Hati-hati, ya Om." jawab Fabio.
"Siap, Bos! Kamu juga jagain mama kamu, ya Jagoan?" ujar Satria sambil mengelus kepala Fabio.
"Siap, Bos!" jawab Fabio yang disambut dengan tawa Satria.
"Duluan, ya?" Satria melambaikan tangan, tatapannya terus tertuju pada Sarah dan Fabio seolah enggan berpisah.
Beberapa saat setelah Satria pergi, Sandi datang menjemput Sarah dan Fabio.
"Assalamualaikum," sapa Sandi dari arah belakang Sarah dan Fabio.
"Wa'alaikumsalam," jawab Sarah dan Fabio.
"Ayah...!" teriak Fabio berlari ke arah Sandi.
Sandi membuka tangannya lebar menyambut kedatangan Fabio ke dalam pelukannya.
"Anak Ayah tambah besar dan tambah ganteng!" ujar Sandi sambil memeluk dan mencium Fabio.
"Sar, koq mendadak sekali. Aku jadi tak sempat ngasih tau ibu. Ibu pasti kaget dan senang lihat kalian datang. Ayo kita ke mobil. Sopirku sudah menunggu di parkiran," ajak Sandi.
Sarah mengangguk lalu Sandi mengambil koper Sarah dan berjalan di sisi Sarah. Fabio tampak nyaman berada di gendongan Sandi.
"Bio turun, yuk? Kamu ini berat lho," ujar Sarah pada Fabio.
"Biarin aja, Sar. Mungkin dia kangen. Aku juga kangen sekali pada kalian," ujar Sandi.
Sesampai di rumahnya, Sandi mempersilakan Sarah dan Fabio masuk.
"Ayo, masuk, masuk. Ini rumah kalian juga. Jadi bebas, ya...?" kata Sandi sambil memasukkan koper Sarah ke dalam rumahnya.
"Bu! Ibu! Lihat nih siapa yang datang?" panggil Sandi pada ibunya.
Tak lama Bu Sani keluar dari dalam kamarnya.
"Ya Allah, kalian datang. Mimpi apa ibu semalam, ya? Gak nyangka kalian akan datang. Ibu kangen sekali," ujar bu Sani sambil menciumi Sarah dan Fabio.
"Duduk dulu, ya? Ibu buatkan minum untuk kalian!" ujar bu Sani.
"Nggak usah, Bu. Jangan repot-repot, biar nanti Sarah ambil sendiri kalau mau minum," cegah Sarah.
"Lho koq kamu tau, San, kalau Sarah mau datang? Apa kalian sudah janjian mau bikin kejutan?" tanya Bu Sani pada Sandi.
"Tadi siang Sarah WA Sandi, katanya mau ke sini. Ibu kan tau kalau di kantor Sandi gak bisa telepon. Mau ngasih tau Ibu gimana? Di WA juga ibu gak pernah baca."
"Iya, Ibu gak terbiasa megang-megang hp. Kecuali kalau ada telepon, baru ibu jawab," jelas Bu Sani pada Sarah.
"Maaf, Bu. Sarah gak sempat beli oleh-oleh."
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Ibu udah senang kalian main ke sini. Kalau bisa sering-seringlah main ke sini, ya?" ujar bu Sani.
Bu Sani memandangi Sarah. Dia tahu pasti, ada masalah yang sedang dihadapi oleh Sarah. Namun Bu Sani menahan diri untuk menanyakannya, dia ingin Sarah sendiri yang bercerita padanya.