
Berbekal data-data yang didapatnya dari internet dan juga keterangan dari Sarah, Rudi melapor pada polisi. Dia sangat yakin bahwa orang yang ada di gambar artikel itulah yang telah melakukan penculikan pada Sarah dan meminta uang tebusan yang jumlahnya cukup besar.
"Betul, Pak. Saya sangat yakin kalau merekalah pelakunya. Coba Bapak bandingkan postur tubuh di gambar ini dengan yang di rekaman CCTV," ujar Rudi bersemangat menjelaskan pada polisi.
Polisi mencatat laporannya dan menanyakan beberapa pertanyaan pada Rudi yang berkaitan dengan penculikan itu, termasuk kisah masa lalunya yang mengakibatkan Sarah menjadi korban penculikan. Rudi menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar dan sesekali berpikir mengingat-ingat masa lalu.
"Tolong cepat ditindaklanjuti, Pak. Sebelum mereka keburu kabur ke luar kota atau bahkan mungkin saja ke luar negeri!" ujar Rudi penuh harap.
"Baik. Kami akan menyebarkan foto mereka ke seluruh kantor polisi dan bandara. Kami juga sudah berhasil mengidentifikasi nomer dan jenis mobil yang mera gunakan. CCTV gedung telah berhasil merekam keberadaan mereka saat di parkiran gedung," ujar pak polisi yang sedang melayaninya
"Baik, Pak. Kalau dibutuhkan, saya siap dimintai keterangan kapan saja!" kata Rudi.
Setelah urusannya selesai dengan polisi, Rudi kembali ke rumahnya dan berniat untuk membawa Sarah yang tadi ditinggalnya. Dia tak tega mwmbangunkan istrinya yang sedang tidur. Sebelum pergi ke kantor polisi, Rudi meminta orang suruhannya untuk menjaga Sarah dari kejauhan.
"Apa ada hal mencurigakan selama saya ak ada di rumah?" tanya Rudi pada dua orang suruhannya itu.
"Tidak ada, Pak. Saya hanya melihat seorang pengantar surat memasukkan surat ke dalam kotak surat."
"Bagus. Kamu sudah coba periksa kotak suratnya?" tanya Rudi.
"Belum, Pak. Takut dikira maling!"
Rudi segera menuju ke rumahnya dan hal pertama yang dilakukannya adalah memeriksa kotak suratnya. Ada beberapa surat di dalamnya. Rudi memeriksanya satu persatu, termasuk salah satu surat tanpa nama pengirim. Dia segera membuka surat itu. Surat itu terdiri dari potongan-potongan huruf yang ditempel yang disusun sedemikian rupa. Tulisan itu berbunyi: Jangan coba2 mencari kami atau satu persatu dari kalian bertiga akan kami habisi!
Betapa terkejut Rudi saat membaca surat itu. Dia meraba huruf-huruf yang ditempel itu. Terasa dingin. Rudi mulai mengarahkan pandangan ke sekeliling tempat dia berdiri berharap ada sesuatu yang mencurigakan dan layak untuk diselidiki. Namun dia tak menemukan apa-apa di sana.
Dengan tergesa-gesa Rudi segera masuk ke dalam rumahnya dan langsung menuju kamar dimana Sarah tidur saat dia tinggalkan tadi.
"Sar... Sarah? Sayang...!" panggil Rudi.
Rudi menarik napas lega saat dilihatnya Sarah masih tertidur. Sarah tidur dengan nyenyak karena dia memang kurang tidur sebelumnya. Rudi mengelus kepala Sarah, namun Sarah tak terusik sedikit pun. Selimut yang dipakai Sarah dibenahi Rudi agar Sarah bisa tidur dengan nyaman.
"Aku gak mau kamu pergi lagi!!" gumam Rudi lirih.
Rudi teringat surat yang tadi ditemukannya di dalam kotak surat. Dia lalu mengambil ponselnya dan segera melaporkan temuannya ini pada polisi. Dia juga memotret surat itu dan mengirimkannya pada polisi. Polisi menanggapi laporan Rudi dan mengirimkan personilnya ke rumah Rudi. Demi keamanan, Rudi meminta agar polisi yang dikirim ke rumahnya tidak memakai seragam.
Tak butuh waktu lama dua orang polisi datang ke rumah Rudi. Mereka memeriksa surat yang tadi ditemukan Rudi.
"Saat saya buka surat ini, lem yang menempelkan huruf-huruf ini masih terasa basah. Saya rasa ini belum lama dibuat dan mungkin mereka membuat ini tak jauh dari rumah ini. Orang saya yang saya tugasku mengawasi rumah mengatakan bahwa dia melihat ada orang yang memasukkan surat ini ke dalam kotak surat saat saya pergi ke kantor polisi tadi!" jelas Rudi pada kedua polisi itu.
"Baik. Kami akan mengkoordinasikan hal ini dengan komandan di kantor. Untuk sementara teman saya ini akan berada di sini, takutnya ada hal lain yang dikirimkan atau dilakukan terduga penculik itu," jelas salah satu polisi.
"Iya, Pak. Silakan. Dengan senang hati," ujar Rudi.
Sepeninggal salah satu polisi itu, Rudi mempersilakan polisi yang bertugas di rumahnya untuk melakukan apa yang diperlukan, termasuk mengambil makanan dan minuman sendiri.
"Silakan, Pak. Saya mau melihat istri saya dulu, dia sedang tidur di atas. Kalau mau makan atau minum, silakan ambil saja sendiri," kata Rudi sambil berjalan menuju kamarnya.
"Baik, Pak. Terimakasih," ujar polisi itu.
__ADS_1
Rudi kembali ke kamar, dia melihat Sarah masih tertidur, namun posisi tidurnya sudah berubah. Rudi mwmeriksa jendela dan pintu yang menuju ke balkon. Semuanya dalam keadaan terkunci.
"Sinta, aku tak pernah mengira kalau kamu bisa melakukan hal kriminal seperti ini," gumam Rudi.
Rudi berbaring di samping Sarah dan memeluknya. Karena merasa lelah, Rudi tak bisa menahan kantuknya dan tertidur di samping Sarah.
Rudi terbangun saat dia merasakan bahwa Sarah sudah tak ada di sampingnya. Dia sangat terkejut dan mulai memeriksa kamarnya.
"Sarah... Sayang... Kamu dimana?" panggil Rudi.
Rudi berusaha membuka pintu kamar mandinya. Namun pintu itu terkunci. Dia mulai merasa tenang, karena dia pikir Sarah berada di kamar mandi. Diketuknya pintu kamar mandi itu.
"Sarah... Sayang..." panggil Rudi.
"Iya, Mas. Aku lagi mandi. Mas mau ke kamar mandi?" jawab Sarah dari dalam kamar mandi.
Perasaan Rudi benar-benar merasa tenang sekarang. Dia kembali ke tempat tidurnya, namun rasa kantuknya sudah hilang sekarang karena keterkejutan tadi saat dia pikir Sarah hilang lagi. Persendiannya masih terasa lemas.
Tak lama Sarah keluar dari kamar mandi dengan memakai kimono mandi.
"Mas Rudi mau ke kamar mandi? Aku udah selesai tuh!" ujar Sarah enteng.
"Nggak. Tadi aku kaget waktu kamu gak ada di sini. Aku kira orang itu datang lagi dan menculik kamu," jelas Rudi.
"Maaf, Mas. Tadi aku lihat Mas tidurnya pules banget, jadi aku gak berani bangunin. Ini udah sore lho."
Rudi melihat jam dindingnya yang sudah menunjukkan pukul 4 sore. Rudi ingat bahwa di rumahnya sedang ada polisi yang bertugas
Rudi segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri secepat mungkin dan segera menemui polisi yang berada di rumahnya. Polisi itu terlihat sedang mengamati rumah Rudi dan memeriksa setiap akses masuk ke rumah itu.
"Maaf, Pak. Saya tadi ketiduran, ngantuk sekali tadi."
"Gak apa-apa, Pak Rudi. Lagipula tadi kantor mengirim dua personil tambahan yang sedang berjaga di depan. Sebentar lagi saya akan pulang dan mereka yang akan berjaga di sini!" ujar polisi itu.
"Tidak apa-apa, Pak. Lagipula saya berencana untuk membawa istri saya ke rumah orang tua saya demi keamanan dan kenyamanan dia. Tapi kalau memang diperlukan, kalian bisa tetap di sini," ujar Rudi
"Baik, Pak. Kalau begitu mungkin kami harus menempatkan personil juga di rumah orang tua Pak Rudi."
"Oh ya, silakan. Saya sangat berterimakasih pada pihak kepolisian yang sudah sangat peduli pada kami!" kata Rudi.
Sarah menyusul Rudi ke bawah dan bertemu dengan para polisi yang ditugaskan di rumahnya.
"Mas, sebelum kita ke rumah ayah, aku siapin makanan dulu buat bapak-bapak ini, ya?" bisik Sarah pada Rudi.
"Gak usah, Sayang. Biar nanti Mas pesanin makanan aja. Sekarang kita ke rumah ayah aja," kata Rudi.
Rudi dan Sarah meninggalkan rumah mereka dan segera menuju rumah orang tua Rudi. Sarah sudah sangat rindu dengan Fabio yang sudah beberapa hari tak bertemu.
Saat mobil Rudi dan Sarah keluar dari rumahnya, sepasang mata mengawasinya dari kejauhan. Orang itu berada di dalam mobil dan bersiap-siap untuk membuntuti mobil Rudi. Melihat mobil bosnya ada yang mengikuti, timbul inisiatif orang suruhan Rudi untuk mengikuti mereka. Dia merasa ada keganjilan dengan gerak-gerik pengemudi mobil itu.
__ADS_1
***
Mobil Rudi memasuki halaman rumah orang tuanya, mobil itu berhenti di seberang rumah itu. Tanpa menimbulkan kecurigaan, orang suruhan Rudi mengawasi pengemudi mobil itu dan segera melaporkannya pada Rudi. Rudi memerintahkannya untuk terus mengawasi mobil dan juga pengemudinya..
Rudi melaporkan apa yang dikatakan orang suruhannya pada pihak kepolisian dan membuat rencana dengan pihak polisi untuk menggiring pengemudi itu ke suatu tempat. Namun baru saja selesai bicara dengan polisi, orang suruhan Rudi kembali melaporkan bahwa mobil itu sudah bergerak lagi dan dia sedang membuntutinya dan mobil itu berhenti di sebuah rumah dan alamatnya sudah dilaporkan pada Rudi.
"Baik. Awasi terus. Kabari lagi kalau ada aktifitas mencurigakan," kata Rudi.
Kini Rudi sudah mengantongi alamat orang yang dicurigainya. Dia pun meminta pihak kepolisian untuk berjaga tak jauh dari lokasi yang disebutkannya. Semakin lama Rudi semakin tak sabar untuk mendatangi rumah itu dan menggerebek rumah itu, tapi dia tak mau gegabah sehingga akan mengakibatkan upayanya untuk menangkap komplotan itu menjadi hancur berantakan. Dilihatnya Sarah sedang melepas rindu dengan Fabio, lalu dia ikut bergabung dengan mereka
Menjelang malam penghuni rumah itu keluar membeli nasi goreng dari tukang nasi goreng yang lewat di depan rumahnya. Orang suruhan Rudi berhasil memotretnya dengan ponsel dan segera mengirimkannya pada Rudi.
"Ini memang dia dan suaminya!" kata Rudi dengan geram.
Dengan terburu-buru dia segera menuju rumah orang itu. Polisi yang ditugaskan di sekitar rumah tersangka terkejut saat melihat Rudi turun dari mobilnya dan menuju rumah itu dengan memakai masker dan topi. Sementara orang suruhan Rudi bersiap-siap untuk menyusul bosnya jika dia melihat ada yang tidak beres dengan bosnya itu
Seseorang datang membukakan pintu untuk Rudi. Rudi terpana melihat sosok yang ada di depannya, tapi orang itu tak bisa mengenali Rudi yang memakai masker. Tanpa berpikir panjang, Rudi langsung menerobos masuk ke rumah itu, tapi orang itu menghalanginya. Rudi membuka masker dan topinya.
"Kamu?" kata orang itu.
"Apa kabar, Pak Hardi? Apa uang dari saya sudah habis?" tanya Rudi.
"Apa maksudmu? Aku gak tau apa yang kamu bicarakan!"
"Tidak tau atau pura-pura tidak tau?" ujar Rudi sinis.
Tiba-tiba seorang wanita muncul di hadapan mereka
"Ada apa ini ribut-ribut?" kata wanita itu
"Selamat malam, Sinta," kata Rudi.
"Kamu? Mau apa kamu ke sini?" ujar Sinta.
"Aku yang harusnya bertanya begitu. Apa yang kamu inginkan dariku?" ujar Rudi.
Sinta tertawa licik yang membuat Rudi semakin geram padanya.
"Aku tak suka kamu berhubungan dengan perempuan itu. Tadinya aku akan menghabisi dia. Tapi bocah tua tak berguna ini melarangku!" ujar Sinta.
"Sakit jiwa kamu!"
"Ya. Mungkin aku memang sakit jiwa. Aku gak rela kamu bersama perempuan mana pun selain aku. Titik!" ujar Sinta dengan nada yang marah.
"Aku tak menyangka kalau kamu akan berbuat senekat ini!"
"Kenapa? Karena kamu masih menganggap bahwa aku orang baik? Itu salah, Rud! Aku ini penjahat," ujar Sinta sambil tertawa licik.
"Rudi, kembalilah padaku. Kita mulai lagi lembaran baru," kata Sinta menggoda Rudi.
__ADS_1
Kini giliran Rudi yang menertawakan Sinta.