
Rudi tertawa mengejek Sinta yang berharap agar mereka bisa kembali bersama
"Apa kamu bilang? Memulai lembaran baru? Apa aku gak salah dengar? Kamu ini rupanya suka bercanda sekarang. Lembaran apa maksudmu? Lembaran kain?" Rudi kembali tertawa.
"Aku gak main-main! Aku serius. Aku mau kita kembali seperti dulu. Seperti saat kita bersama. Aku sangat mencintaimu. Hanya aku yang memahamimu dan hanya aku juga yang boleh memilikimu!"
"Menurutmu begitu? Aku akui kalau kamu adalah orang yang memahamiku, sehingga saking memahami kamu bisa dengan mudah menusukku dari belakang tanpa kuketahui dan membuatku tak bisa merasakan luka yang sudah kau buat sampai kamu juga menusukku di depan. Kamu tau lukaku saat itu separah apa? Aku yakin kamu gak akan tau, karena mata dan hati nuranimu sudah tertutup dengan uang dan kekuasaan. Dan sekarang kamu ingin kita kembali? Kamu bercanda!" ujar Rudi datar.
"Aku mohon, Sayang. Mari kita lupakan masa lalu kita! Aku minta maaf. Waktu itu si tua itu telah mempengaruhi pikiranku agar mengikuti kemauannya!"
"Sinta, jaga mulutmu!" pekik Hardi yang sedari tadi diam saja.
"Diam kamu, Pak Tua!" bentak Sinta.
"Oh ya? Mudah sekali kamu terpengaruh olehnya. Oleh uang dan kekuasaan. Seharusnya orang yang berpikiran dewasa dan memang benar mencintaiku, dia tak akan mudah terpengaruh oleh hal seperti itu! Memalukan sekali. Kualitasmu terlihat jelas saat itu. Kualitas wanita murahan, yang mau melakukan apapun demi uang!" Rudi mengeluarkan unek-uneknya pada Sinta.
"Sayang, aku minta maaf. Aku memang salah waktu itu, tapii aku janji sama kamu bahwa aku tak akan pernah seperti itu lagi," ujar Sinta penuh harap.
"Maaf, aku tak berminat memungut sampah yang sudah kubuang!"
"Aku mohon, Sayang. Aku gak bisa hidup tanpa kamu," rengek Sinta.
"Lalu kenapa kamu gak mati sejak dulu? Kenapa masih hidup sampai sekarang? Jangan membuat lawakan murahan di hadapanku. Aku tak tertarik dan muak mendengar ocehanmu!"
__ADS_1
"Come on, Honey. I want you and I need you," rayu Sinta.
"Really? You need me? Kamu butuh apa dariku? Uang? Apa uang yang kuberikan kemarin masih kurang? 2 milyar masih belum cukup? Mau berapa lagi?" ujar Rudi dengan nada suara tinggi.
Sinta tampak terkejut mendengar omongan Rudi, namun dia berusaha menutupi keterkejutannya dan berpura-pura tak mengerti.
"Apa maksud kamu, Sayang? Aku gak ngerti."
"Udahlah, gak usah pura-pura ****. Kalian berdua bersekongkol untuk mendapatkan uang dariku dengan menculik istriku, kan?" ujar Rudi ketus.
"No, Honey. Itu tuduhan yang keji. Aku gak mungkin melakukan hal seperti itu!"
"Gak usah pura-pura. Polisi udah mengidentifikasi orang yang ada di rekaman CCTV, dan itu adalah kalian berdua!"
"Nggak, Sayang. Nggak mungkin. Aku gak lakuin hal itu!"
"Kalau bukan kamu lalu siapa? Soalnya ada satu wanita lain yang berperawakan sepertimu, tapi dia agak gemuk. Apa mungkin suamimu punya wanita lain? Soalnya kita berdua kan tau gimana kelakuan dia dulu. Semua pegawai wanita ingin dicicipinya, terutama yang muda dan cantik," ujar Rudi memancing emosi Sinta dan Hardi.
Rupanya siasat Rudi memberikan hasil. Sinta menatap tajam Hardi yang sedari tadi diam saja.
"Ngapain kamu mandang aku kayak gitu? Kamu percaya dengan omongan laki-laki bodoh ini? Dia mau berusaha mengadu domba kita, Sinta!" ujar Hardi pada Sinta.
"Awas kamu kalau berani macam-macam, Bandot Tua!" kata Sinta sambil melotot pada Hardi.
__ADS_1
"Kalau kamu gak percaya, kamu bisa lihat rekaman CCTV-nya nanti. Istriku juga bilang gitu. Bahwa yang menculiknya ada 3 orang. Tapi perempuan yang satunya cuma datang sekali saat perempuan satunya gak ada. Nah, siapa perempuan yang satu itu?" ujar Rudi terus memanas-manasi Sinta.
"Sialan kamu, Bandot Tua! Gak tau diri! Udah gak berguna juga masih mau nyari perempuan lain!"ujar Sinta, lalu dia menyerang Hardi dengan pukulannya yang bertubi-tubi.
Hardi berusaha mengelak dan menjelaskan pada Sinta bahwa apa yang dikatakan Rudi adalah bohong. Tapi Sinta sudah dibutakan oleh rasa cemburu yang semakin menggila karena Rudi terus memanas-manasinya. Akhirnya Hardi kewalahan menghadapi Sinta dan memutuskan untuk pergi. Dia mengambil tas berisi uang yang diberikan Rudi saat menyelamatkan Sarah dari dalam sebuah lemari kayu.
"Hei, kembalikan tas itu!" teriak Sinta.
Hardi terus berjalan menuju mobil mereka yang terparkir di luar rumah. Sinta mengejarnya dan berusaha merebut tas itu dari tangan Hardi. Tanpa diketahui Sinta dan Hardi, Rudi menghubungi polisi dan melaporkan kejadian yang sedang berlangsung di hadapannya.
Sambil menunggu polisi datang, Rudi menonton aksi pertengkaran dan pergumulan kedua orang yang ada di hadapannya yang sedang memperebutkan sebuah tas tanpa berniat untuk melerainya sama sekali. Rudi berdiri sambil melipat tangannya menikmati adegan demi adegan kekerasan yang ada di hadapannya.
Pipi dan tangan Hardi penuh bekas cakaran dan pukulan Sinta. Sementara Sinta pun tak kalah babak belur. Darah segar keluar dari sela bibirnya karena bogem mentah pemberian suaminya. Sinta mulai menangis dan meminta Hardi untuk melepas tas yang sedang dipegangnya. Sinta berhasil mengambil kunci mobil dari dalam mobilnya dan melemparnya ke sembarang tempat.
"Dasar perempuan bodoh! Kamu sudah menghilangkan kunci kendaraan untuk kita berdua pergi dari tempat terkutuk ini!" ujar Hardi. Dia mendorong Sinta sampai jatuh dan berusaha untuk kabur. Namun dengan cekatan Sinta meraih salah satu kaki Hardi dan memeganginya, sehingga Hardi sulit bergerak. Sinta berpegangan erat di kaki Hardi.
Rudi yang melihat kejadian itu menjadi geli, tapi dia berusaha menahan diri untuk tidak tertawa karena takut mengacaukan rencananya yang sudah berjalan mulus sejauh ini.
Aksi tarik menarik kaki itu berlangsung seru karena Sinta berpegangan erat sekali ke kaki Hardi yang akhirnya membuat Hardi menyerah dan jatuh terduduk. Perlahan Sinta mulai mengendurkan pegangannya. Napas mereka terengah-engah dan keringat mengalir deras di wajah dan leher mereka.
Saat polisi datang mereka berdua sudah tak berdaya untuk melarikan diri. Polisi menangkap mereka tanpa perlawanan dan membawanya ke kantor polisi.
"Pak Rudi ikut dulu ke kantor polisi untuk membuat laporan, ya? Ada beberapa pertanyaan lain juga yang mungkin akan ditanyakan pada Pak Rudi nanti," ujar salah satu polisi yang telah menangkap Sinta dan Hardi.
__ADS_1
"Baik, Pak. Saya akan mengikuti mobil kalian dari belakang. Mobil saya diparkir di sebelah sana tadi," kata Rudi sambil menunjuk ke sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan.
Rudi berharap uang tebusan yang ada di dalam tas itu masih utuh atau setidaknya baru dihabiskan sedikit saja. Namun sayang, Rudi tak bisa langsung membawa uang itu karena akan dijadikan bukti dulu oleh polisi. Rudi menerima kenyataan itu, yang penting uangnya bisa kembali meski jumlahnya sudah tak utuh lagi.