
Hari-hari berlalu begitu cepat, sudah cukup lama juga Sarah bekerja di kantor SLC media. Sarah pun sudah mengenal banyak karyawan dan OB di kantor itu. Karena selain cantik, Sarah juga pandai menempatkan dirinya dan memperlakukan mereka dengan baik.
Sementara Rudi sebagai pimpinan perusahaan itu, dia hanya mengenal beberapa orang saja, itu pun hanya para pimpinan divisi yang ada di kantornya. Baginya para pemimpin divisi itu sudah cukup untuk mengawasi kinerja karyawan level bawah dan mengatasi semua masalah yang ada, kecuali masalah yang akan berpengaruh pada lajunya perusahaan.
Hari itu Rudi disibukkan dengan setumpuk dokumen yang harus diperiksa dan ditandatanganinya. Setengah tumpukan dokumen sudah diselesaikannya, dia berhenti sejenak karena merasa tubuhnya sedikit pegal dan kaku. Digerak-gerakannya tubuhnya untuk memulihkan rasa pegal dan kaku itu, lalu bersandar di kursinya.
Pikirannya melayang kemana-mana. Lalu dia mengambil ponselnya dan melihat beberapa notifikasi yang masuk dan membalas beberapa pesan. Tiba-tiba dia teringat lagi pada sepatu kecil itu.
"Apa kabarnya kamu, Sepatu kecil? Apa kamu sedang bersama pemilikmu?" gumamnya.
Pikirannya kembali menerawang mengingat kembali ke masa-masa saat dia melihat sepatu kecil itu... dan pemiliknya yang mungil yang tak sempat dia lihat jelas wajahnya.
"Sepertinya aku harus menemui Arini. Ada beberapa hal yang harus kubicarakan dengannya," gumamnya lagi.
Dia mengambil ponselnya dan menuliskan pesan pada Arini, dan tak lama Arini membalas pesan itu.
"Baik, nanti aku carikan waktu, karena akhir-akhir ini ada beberapa orangtua yang menitipkan anaknya sampai malam."
Lalu Rudi membalas pesan itu.
"Baik. Kita bisa ketemu akhir pekan saat kamu libur dan tak ada anak yang dititipkan."
Setelah dua pertemuan mereka sebelumnya Rudi merasa sedikit nyaman untuk menemui Arini lagi, karena ternyata Arini pun merasa tidak nyaman dengan perjodohan mereka. Mereka pun membuat rencana untuk mengungkapkan perasaan mereka yang sebenarnya pada orangtua Rudi. Hanya saja karena kesibukan ayah Rudi dan ibunya harus menemani ayahnya ke luar negeri, rencana mereka harus tertunda. Orangtua Rudi meyakini bahwa hubungan Rudi dan Arini baik-baik saja, karena Rudi tak pernah mengeluh atau menolak perjodohan itu.
Hari itu hari libur, Rudi segera bersiap untuk menemui Arini di suatu tempat yang dijanjikan. Rudi telah memesan tempat di sebuah kafe yang cukup nyaman di pinggir kota namun tak begitu jauh jaraknya dari rumah Arini.
Rudi sudah lebih dulu berada di kafe dan menunggu kedatangan Arini. Untuk mengisi waktu dia memesan teh hangat kesukaannya.
Tak lama Arini datang. Rudi melambaikan tangannya memberi tanda pada Arini bahwa dia ada di sana. Arini menghampiri Rudi.
"Sudah lama? Maaf ya, telat. Aku harus menunggu ibu pulang dari pasar," jelas Arini.
"Nggak apa-apa. Belum lama koq, lagipula kamu juga gak terlambat." Rudi menunjuk jam dinding yang ada di kafe itu yang menunjukkan jam 9 tepat.
"Gimana pekerjaanmu? Banyak yang menitipkan anak, ya?" tanya Rudi berbasa-basi.
__ADS_1
"Tidak banyak, hanya ada 6 orang. Tapi insha Allah akan bertambah beberapa anak lagi."
"Lumayan juga tuh menghadapi 6 anak, satu aja kadang merepotkan."
"Nggak juga, lagipula aku dibantu dua orang asisten."
"Anak warga terdekat?" tanya Rudi sedikit tertarik.
"Ya, beberapa. Ada yang jauh juga. Dan satu orang anaknya teman dekatku," jelas Arini.
"Maksudnya anak calon suamimu?"
Arini tertawa mendengar pertanyaan Rudi itu.
"Bukan, temanku itu perempuan. Dia single parent, kadang-kadang harus menitipkan anaknya sampai malam, bahkan tak jarang juga anak itu menginap di rumahku," jelas Arini.
"Wah merepotkan sekali, ya?"
"Tidak juga. Anak itu baik dan tak terlalu merepotkan, sudah seperti cucu buat ibuku."
Arini tak menjawab ucapan Rudi. Dia hanya tersenyum.
"Apa kabar calonmu? Ada kabar tentang kepindahannya ke sini?" Rudi memulai percakapan mereka lagi.
"Belum. Malah semakin gak jelas. Tapi aku masih akan sabar menunggunya."
"Masih di perusahaan itu, kan?"
Arini mengangguk.
"Coba nanti aku lihat, mudah-mudahan aku bisa membantumu."
"Terima kasih!" jawab Arini. Lalu mereka berdua terdiam.
Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka berdua.
__ADS_1
"Mau bicara apa? Apa ada hal yang penting?" tanya Arini memecah suasana sunyi di antara mereka.
"Tidak. Aku hanya butuh teman ngobrol saja. Akhir-akhir ini aku merasa butuh teman untuk kuajak bicara. Kamu gak keberatan, kan?"
"Tidak," jawab Arini singkat.
"Sekarang ini aku sedang bingung dengan perasaanku sendiri. Sepertinya aku menyukai orang yang rasanya sulit aku jangkau."
"Maksudnya gimana?" tanya Arini tak mengerti.
"Aku menyukai seseorang karena sepatunya," jelas Rudi.
Arini semakin tak mengerti.
"Sepatu? Bisa dijelaskan lagi?" tanya Arini mulai penasaran. Dia mulai curiga dengan Rudi.
"Bagaimana mungkin manusia bisa berhubungan dengan sepatu. Apa karena terlalu lama membujang sehingga membuat dia mengalami penyimpangan seksual?" pikir Arini.
Karena dia melihat wajah Arini uang nampak bingung, akhirnya Rudi menjelaskan semuanya pada Arini. Arini senyum simpul setelah mendengar cerita Rudi yang sedikit absurd itu.
"Ya Allah, aku sudah berburuk sangka padanya. Ampuni aku ya, Allah," batin Arini.
Rasanya Arini ingin tertawa terbahak-bahak, tapi dia berusaha menahannya. Dia takut Rudi merasa tersinggung. Dia berusaha untuk tidak tertawa dan membuat wajahnya tampak serius.
"Lalu apa rencana selanjutnya?" tanya Arini.
"Aku gak tau. Tapi perasaan ini sangat menyiksaku. Semakin berusaha kulupakan, semakin ingat aku pada wanita dan sepatu itu!" jelas Rudi.
"Sudah berusaha mencari tau siapa wanita itu?" tanya Arini lagi.
"Sudah. Tapi sejak seminggu pertama itu aku sudah tak melihat sepatu dan wanita itu lagi."
"Seharusnya tidak sulit mengetahuinya, karena dia berada di gedung yang sama, dan kemungkinan pula ada di kantor yang sama."
"Itulah yang membuatku semakin bingung sekaligus penasaran. Kamu tau, aku jadi suka browsing dan memperhatikan sepatu cewek-cewek di kantorku."
__ADS_1
Arini tersedak mendengar penjelasan Rudi itu, cepat-cepat Rudi menyodorkan gelas padanya, dan Arini segera meminumnya. Setelah minum, Arini tak bisa menahan tawanya dan membuat Rudi merasa malu.