Misteri Sepatu Kecil

Misteri Sepatu Kecil
52


__ADS_3

Wanita itu memakai masker, dia menatap ke arah Rudi yang sedang berusaha menenangkan Sarah yang masih syok.


"Sudahlah. Ayo kita pergi. Jangan cari masalah, uangnya ada di dalam sini!" ujar pria bermasker di depannya


"Tidak. Aku mau di sini dulu sebentar!" ujar wanita itu.


"Jangan macam-macam, polisi bisa saja datang ke sini!" ujar pria itu sedikit keras.


Wanita itu tertawa keras mendengar omongan mitranya itu.


"Polisi? Aku gak takut. Mereka gak akan pernah bisa menangkapku!"


"Udah deh. Ayo kita pergi!" ujar pria itu lagi sambil menarik lengan si wanita.


Wanita itu terpaksa menuruti kemauan si pria. Mereka berdua bergegas keluar dari ruangan itu. Namun wanita itu sempat menoleh pada Rudi dan Sarah yang sedang menatap mereka.


"Kamu masih ganteng kayak dulu!" ujarnya.


"Kalian siapa?" bentak Rudi pada wanita itu.


"Kamu pasti tau siapa aku," jawab wanita itu sambil tertawa mengerikan.


Rudi mengernyitkan keningnya, dia terus beeusaha mengingat-ingat suara itu. Suara wanita yang sekarang sudah lenyap dari pandangan mereka.


"Mas kenal dia?" tanya Sarah masih terisak.


"Sepertinya kenal, tapi aku belum tau siapa dia," jawab Rudi sambil memeluk Sarah.


Rudi segera menghubungi kepala polisi yang sedang memimpin pasukannya untuk menangkap orang yang menculik Sarah di tempat yang salah


"Halo, Pak. Istri saya sudah ditemukan. Mereka membawanya kembali ke gedung tempat istri saya terakhir terlihat!"


Entah apa yang dikatakan komandan polisi itu. Rudi terlihat serius mendengarkan instruksi darinya.


"Ya. Ya. Baik, Pak!" jawab Rudi pada komandan polisi itu


"Wanita itu sangat membenciku, Mas," ujar Sarah menangis seperti mengingat kembali apa yang telah dialaminya selama disekap.


"Dia melukaimu?" tanya Rudi sambil memerhatikanku seluruh tubuh Sarah.


"Tadinya begitu. Tapi pria itu menghalanginya," ujar Sarah lieih.


"Kamu lihat gimana tampang wanita itu?"


"Nggak, dia gak pernah menunjukkan wajahnya. Selalu memakai masker!"

__ADS_1


"Tapi dia selalu berada di dekatmu?" tanya Rudi sambil mengelus kepala Sarah yang masih ada dalam dekapannya


"Sesekali dia datang. Tapi dari cara dia ngomong dia gak suka sama aku. Bahkan tak pernah mau berada di dekatku lama-lama. Aku gak tau apa penyebabnya. Seingatku aku gak pernah mengenalnya," ujar Sarah yang sudah tenang.


Rudi membimbing Sarah keluar dari ruangan itu. Dia tak henti-hentinya menciumi tangan Sarah sepanjang menuju mobilnya yang berada di parkiran.


"Mas, kamu bener-bener ngasih uang sebanyak yang diminta mereka?" tanya Sarah di dalam mobil.


Rudi mengangguk. Sarah menarik napas panjang.


"Tapi itu banyak sekali, Mas!"


"Nggak apa-apa. Uang masih bisa dicari," jawab Rudi.


Keadaan Sarah saat itu sangat berantakan. Matanya sembab dengan lingkaran hitam akibat menangis dan kurang tidur. Tubuhnya sangat lemah karena kurang asupan makanan. Wajahnya terlihat pucat dengan bibir yang pecah-pecah. Dia terkulai lemah di kursi depan mobil Rudi.


"Kita ke dokter dulu, ya?" ajak Rudi.


"Nggak usah. Kita pulang aja. Aku mau ketemu Bio," jawab Sarah.


'Kamu gak bisa ketemu Bio dalam keadaan begini. Dia pasti akan banyak bertanya."


Akhirnya Sarah setuju untuk diperiksa dokter terlebih dahulu. Rudi segera mencari rumah sakit terdekat dan membawa Sarah untuk diperiksa secara menyeluruh. Tak lama komandan polisi yang tadi bicara dengan Rudi datang setelah Rudi memberitahukan posisi mereka saat ini.


"Selamat siang!" sapa polisi itu pada Rudi.


"Bagaimana keadaan istri Bapak?" tanyanya.


"Masih diperiksa dokter di dalam," jelas Rudi.


Sambil menunggu hasil pemeriksaan, Rudi dan polisi itu terus mengobrol dan membicarakan tentang penculikan yang baru saja dialami Sarah.


"Mungkin untuk lebih jelas, kami akan menanyai ibu Sarah," ujar polisi itu.


"Jadi penyelidikan masih akan terus dilakukan?"


"Tentu saja. Ini jelas perbuatan kriminal. Mereka menjadi buronan kami sekarang. Anak buah saya masih menelusuri jejak mereka!" jelas polisi itu.


Dokter memeriksa Sarah dengan cermat dan teliti seperti yang diminta Rudi. Kepala polisi juga memerintahkan pihak rumah sakit agar segera memberikan salinan laporan pemeriksaan kesehatan Sarah pada pihak polisi.


"Baik, Pak. Segera setelah hasil pemeriksaannya keluar, kami akan menyerahkan salinannya pada pihak kepolisian," kata petugas rumah sakit.


Tanpa merasa lelah Rudi terus menemani Sarah menjalani pemeriksaan medis. Setelah semua selesai, Rudi membawa Sarah ke rumahnya agar Sarah bisa membersihkan diri dan beristirahat dulu di sana tanpa mendapat gangguan. Rudi ingin saat Sarah bertemu Fabio, Sarah dalam keadaan segar. Rudi pun sudah memberitahu keluarganya tentang keadaan Sarah saat ini.


"Ibu setuju. Kamu bawa Sarah ke rumahmu dulu biar bisa istirahat yang cukup, kasian dia. Fabio biar di sini aja sama Fathia," kata ibu Rudi.

__ADS_1


"Apa perlu bibi di suruh ke situ? Biar bisa masakin kalian," tanya ayah Rudi.


"Nggak usah, Yah. Rudi bisa mengurusnya koq. Lagipula Sarah masih belum mau makan. Ini baru mau Rudi masakin," jelas Rudi.


Rudi menolak tawaran ayahnya dengan tujuan agar dia bisa mendapat waktu yang berkualitas bersama Sarah. Dia ingin memberi Sarah perhatian sebanyak mungkin. Apalagi mereka masih pengantin baru.


"Sayang, kamu istirahat aja dulu, jangan banyak bergerak. Biar cepat pulih tenaganya," ujar Rudi saat melihat Sarah menghampirinya setelah selesai mandi.


"Iya, Mas. Badanku sakit semua," kata Sarah.


"Apa mereka memukuliku di sana?" tanya Rudi.


"Nggak. Tapi aku gak tidur selama di sana, karena aku ketakutan," jelas Sarah.


"Aku sudah masakin kamu. Mau makan di sini apa di kamar?" tanya Rudi.


"Di sini aja."


Rudi menyiapkan makanan untuk sarah.


"Mau aku suapi?" tanya Rudi sambil menyodorkan piring berisi makanan yang dimasaknya.


"Makan sendiri aja. Kamu juga makan, Mas," ujar Sarah.


"Aku ingin lihat istriku makan dulu, baru aku bisa makan. Aku juga sama sepertimu selama kamu gak ada. Aku hanya tidur sebentar, makan juga gak teratur, itupun kalau ibu paksa. Aku sangat khawatir!"


"Maafin aku karena telah begitu mudah percaya pada orang yang baru kukenal," ujar Sarah sambil menyuapkan makanan ke mulutnya


"Berarti saat penculikan itu kamu sempat bicara dulu dengan mereka?"


"Iya. Pria itu meyakinkanku bahwa dia adalah suruhan Mas untuk mengantarku, karena katanya Mas harus pergi menyelesaikan urusan penting. Dia juga sempat cerita bahwa Mas Rudi adalah temannya sejak dulu. Tapi yang wanita diam aja," jelas Sarah lagi.


"Kamu melihat wajahnya?" tanya Rudi penasaran.


"Cuma yang pria, itupun hanya sekilas. Sedangkan yang wanita, dia terus memakai masker. Katanya dia baru perawatan wajah, jadi wajahnya lagi jelek, jadi gak mau buka masker."


"Apa aja yang dia ceritakan tentang aku?"


"Kebanyakan tentang masa lalu, di tempat kerja Mas yang dulu. Katanya Mas itu orang yang berbakat dan cerdas, tapi untuk satu hal Mas itu bodoh. Mas mudah percaya sama orang," jelas Sarah. Suapan terakhir mendarat di mulut Sarah.


"Mau nambah?" tanya Rudi. Sarah menggeleng.


Mendengar cerita Sarah, Rudi teringat pada seseorang di masa lalunya. Sinta dan Hardi.


"Apa mungkin mereka? Tapi bukankah mereka sedang di penjara? Apa mereka sudah bebas?" batin Rudi.

__ADS_1


Rudi mencari informasi di internet tentang kasus Hardi dan Sinta, mantan kekasihnya di masa lalu. Kasus penggelapan uang perusahaan yang mereka lakukan saat itu sempat menjadi pemberitaan. Dengan mudah Rudi bisa menemukan artikel tentang kasus mereka.


Setelah membacanya Rudi semakin yakin bahwa pelakunya adalah mereka. Rudi segera menghubungi kepala polisi yang menangani kasus penculikan istrinya itu


__ADS_2