
Rizal memandang sedih kepergian Sarah, seribu penyesalan ada dalam dirinya. Dia menyesali keputusannya untuk menikahi Marlina, istrinya, yang mengakibatkan dia harus kehilangan orang yang sangat dicintainya. Cinta yang tak terbatas untuk Sarah harus dikuburnya dalam-dalam. Hatinya perih karena kehilangan orang yang paling berharga untuknya.
Dia juga menyesali keputusan Sarah untuk menggugat cerainya, yang tak pernah diketahuinya. Seandainya dia tahu, mungkin dia akan mati-matian menghalanginya. Pandangannya menerawang ke masa-masa saat mereka masih bersama. Dalam kekurangan harta, Sarah selalu bersabar mendampinginya.
"Aku memang tak tau diri. Aku sudah menyakiti perasaannya. Maafkan aku, Sarah. Maafkan aku, Sayang." Tak terasa ujung matanya meneteskan air. Air mata kesedihan dan penyesalan.
Pelan-pelan Rizal mengangkat badannya dari kursi kafe yang didudukinya dan mulai melangkahkan kakinya. Dia tak mau orang-orang yang ada di situ melihat kesedihan di wajahnya. Dia merasa badannya melayang, jiwanya entah berkelana kemana.
Dia berusaha mencapai parkiran secepat mungkin agar bisa segera pergi untuk menenangkan perasaannya. Namun saat dia melewati arena bermain anak, entah kenapa dia ingin sekali menolehkan wajahnya ke arena bermain itu. Dia melihat Sarah sedang bersama Rudi, seorang wanita muda dan seorang anak.
Langkahnya terhenti sesaat, Rizal terus memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Anak itu. Aku seperti mengenal anak itu. Wajahnya mirip dengan seseorang. Tapi siapa?" Rizal bertanya-tanya dalam hatinya.
Rizal masih memlerhatikan mereka. Dia melihat kebahagian di wajah-wajah orang yang sedang diperhatikannya. Dia melihat Rudi menggendong anak itu dan sesekali menciuminya. Dan Sarah, orang yang dicintainya, tersenyum bahagia. Senyum yang sangat dirindukannya selama ini. Senyum yang selalu bisa menenangkannya dan membuatnya bahagia.
Rizal merasa tenggorokannya tercekat, penyesalannya semakin menjadi-jadi. Dia segera melangkahkan kakinya kembali, seolah tak mau melihat kebahagiaan mereka lebih jauh. Dia sudah tak tahan membendung air matanya yang hampir membasahi pipinya
Sesampainya di dalam mobilnya, Rizal tak langsung menjalankan mobilnya. Dia menangis tersedu di atas roda kemudi yang ada di hadapannya.
Setelah dirinya merasa tenang, dia mulai menjalankan mobilnya dan meninggalkan area parkiran. Kesedihannya masih belum bisa hilang, matanya memerah karena tangisannya. Dia memutuskan untuk tidak pulang ke rumah dan menuju ke sebuah apartemen.
Apartemen berukuran studio itu dia khususkan untuk menyimpan kenangan-kenangannya bersama Sarah. Beberapa foto pernikahan sederhana mereka terpampang di dindingnya. Di atas meja kerjanya terdapat foto Sarah yang sedang berpose manis dengan senyuman di bibirnya. Rizal selalu mendatangi apartemen itu saat dia merindukan Sarah. Tak ada yang tahu tentang apartemen itu, termasuk istri dan ibunya.
Di hempaskannya tubuhnya ke atas tempat tidur. Matanya menerawang ke atas langit-langit ruangan itu. Pikirannya terasa kosong, yang dirasakannya hanya rasa pusing. Dia berusaha untuk tidur dan melupakan masalahnya meski untuk sesaat, namun dia tak bisa memejamkan matanya. Dibukanya laci meja yang ada di samping tempat tidur, tangannya menggapai-gapai mencari sesuatu di dalamnya. Diambilnya obat dari sana dan meminumnya dalam sekali tenggak. Tak lama dia pun tertidur.
***
__ADS_1
Di tempat lain Rudi dan Sarah masih menunggu Fabio yang masih betah bermain bersama Fathia.
"Maaf, Sar. Tadi aku mengaku-ngaku bahwa aku calon suami kamu." Rudi membuka pembicaraan.
"Nggak apa-apa. Aku berterima kasih karena sudah membantuku menghindarinya."
"Tapi seandainya benar pun aku bersedia."
"Maksudnya?"
"Menjadi suamimu, menjadi imam kamu dan Fabio." Rudi tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk melamar Sarah.
Sarah hanya diam tak menjawab omongan Rudi.
"Kamu mau, kan jadi makmumku?" tanya Rudi.
"Yes!" Ucapnya sambil mengepalkan tangannya.
"Terimakasih, ya Sayang? Kita akan menjalani hubungan ini lebih serius dan mulai mempersiapkan pernikahan kita," ujar Rudi penuh semangat.
Sarah tersenyum melihat tingkah Rudi yang begitu bersemangat meluapkan kegembiraannya.
"Alhamdulillah, ya Allah," ucap Rudi sambil tak henti tersenyum.
***
Rizal terbangun dari tidurnya, kepalanya masih terasa sakit karena tidurnya belum terlalu lama. Dia terbangun karena mimpinya yang membuatnya terkejut. Mimpi bahwa Sarah dan dia hidup bersama kembali, lalu tiba-tiba terdengar suara seorang anak memanggil 'ayah, ayah' dari kejauhan. Anak laki-laki itu berlari ke arahnya dan mencium tangannya dengan wajah yang terlihat sedih.
__ADS_1
"Anak itu..." Rizal mencoba mengingat-ingat kembali mimpinya.
"Ya, anak itu! Anak yang selalu hadir dalam mimpiku! Anak yang bersama Sarah tadi!" gumamnya.
"Siapa anak itu sebenarnya? Apa dia benar-benar anakku? Apa saat aku tinggalkan, Sarah dalam keadaan hamil? Ya Allah, betapa berdosanya aku ini." Rizal mengutuki dirinya sendiri.
Kesedihan Rizal semakin dalam saat dia memikirkan hal itu. Dia merasa malu dengan apa yang telah dia perbuat pada Sarah
"Aku harus menanyakannya pada Sarah siapa anak itu sebenarnya? Kenapa dia selalu hadir dalam mimpiku?" gumamnya.
"Dan kenapa wajahnya selalu terlihat sedih?"
Rizal mengambil ponselnya yang sedari tadi tak disentuhnya sama sekali. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari ibunya dan juga sederet pesan yang menanyakan keberadaannya. Rizal tak menjawab semua pesan itu. Dia meletakkan kembali ponselnya di meja dan berusaha kembali memejamkan matanya.
Sejak pernikahannya dengan Marlina, hubungan Rizal dengan ibunya menjadi tidak akrab. Rizal selalu berusaha menghindari pembicaraan dengan ibu dan istrinya. Bahkan Rizal dengan sadar dan sengaja menemui dokter untuk menghentikan sementara kesuburannya tanpa diketahui mereka. Rizal tak mau mengambil resiko punya anak dari wanita yang tak dicintainya itu.
Berkali-kali ibunya meminta cucu dari mereka, namun Rizal tak memedulikannya. Rizal bahkan tak peduli pada istrinya, akibatnya Marlina sering melampiaskannya di luar. Rizal mengetahui semua yang dilakukan istrinya di luar, namun dia tak peduli.Dia pun tak berniat untuk menceraikannya.
Rizal sudah tak peduli lagi dengan hidupnya, yang dia inginkan hanyalah menemukan kembali Sarah dan menebus semua kesalahannya. Tapi apa yang dia upayakan hancur begitu saja karena Sarah sudah tak peduli dan tak menginginkannya lagi. Bahkan Sarah sudah menganggapnya mati.
Dalam kesedihannya yang mendalam Rizal seperti menemukan titik terang untuk meraih kebahagiaannya yang lain. Namun dia harus menundanya untuk sementara karena dia harus mencari bukti bahwa anak laki-laki yang bersama Sarah adalah anak kandungnya bersama Sarah.
"Aku harus segera menemui Sarah dan menanyakan hal ini," gumam Rizal.
"Aku harus menemukan cara untuk bisa bertemu dengannya lagi, karena dia pasti tak ingin bertemu denganku lagi dan berusaha menghindariku."
Wajah anak kecil itu kembali berkelebat di pikirannya.
__ADS_1
"Semoga kamu benar-benar anakku, Nak," busuknya.