
Ponselnya bergetar menunjukkan ada pesan dari Vina.
"Sar, bang Rudi udah di lobby, lo turun aja."
Sarah tak menjawab pesan itu, dia segera keluar dari apartemen Vina dan pergi menuju lift yang akan membawanya turun menuju lobby gedung itu
Tampak Rudi sedang berdiri di pintu masuk gedung apartemen dengan mengenakan t shirt polo warna putih dan celana jeans sambil melipat tangannya. Selain terlihat gagah dan tampan, Rudi terlihat santai dengan pakaian kasualnya.
Rudi tersenyum pada Sarah yang sedang berjalan ke arahnya. Sangat terlihat binar kebahagiaan di mata Rudi saat melihat pujaannya menuju ke arahnya.
Hari itu Sarah pun tampak berbeda menurut Rudi. Dia tampak sangat cantik dalam balutan baju muslim yang tampak lebih santai.
"Assalamualaikum," sapa Rudi sambil tersenyum.
"Wa'alaikumsalam," jawab Sarah sambil menundukkan pandangannya membuat Rudi semakin menyukainya.
"Bio ke mana? Nggak ikut?"
"Bio sedang ikut dengan Vina ke rumah orangtuanya."
Mereka lalu menuju ke mobil Rudi yang tengah terparkir di halaman gedung apartemen itu. Rudi membukakan pintu untuk Sarah dan mempersilakan Sarah masuk, setelah itu dia masuk melalui pintu sopir.
"Dipasang dulu sabuk keselamatannya," Rudi mengingatkan Sarah saat dilihatnya sabuk keselamatannya belum terpasang.
Rudi mulai menjalankan mobilnya dan membawa Sarah ke sebuah restoran yang telah dibookingnya yang letaknya tak terlalu jauh dari apartemen Vina. Selama di perjalanan Sarah hanya diam saja.
"Koq diam aja. Gak apa-apa, kan kalau kamu pergi denganku?"
"Nggak apa-apa, Pak."
Rudi tersenyum mendengar sebutan yang Sarah berikan padanya.
"Kalau bisa jangan panggil 'pak', karena ini kan bukan di kantor. Panggil mas, kakak, abang atau panggil nama juga boleh." Rudi berusaha membuat suasana di antara mereka sedikit santai dan tidak kaku. Sarah tak menggubris omongan Rudi, dia hanya diam tertunduk.
"Sudah lama gak ketemu Bio. Aku kira dia akan ikut, aku kangen banget sam dia."
Sarah masih diam saja, tak menjawab apa-apa.
"Oh iya, gimana perkembangan tulisanmu yang jadi nominasi itu? Sudah ada kabar?" tanya Rudi.
"Hanya mendapat pemberitahuan bahwa tulisan itu akan dimuat dibeberapa media dan akan dilihat respon pembaca untuk menentukan pemenangnya."
"Kapan kamu dapat pemberitahuannya?"
"Beberapa hari lalu melalui telepon dan email."
"Berarti tinggal menunggu hasilnya saja, ya? Semoga tulisanmu menjadi salah satu pemenangnya. Biar nama kantor dikenal di kalangan yang lebih luas dan bisa menjaring pembaca potensial untuk menjadi pembaca setia di media kita."
__ADS_1
"inshaAllah," jawab Sarah singkat.
"Aku lihat kamu memang handal dalam membuat tulisan. Beberapa kali karyamu mendapat pujian dari editor juga beberapa pembaca setiamu."
"Alhamdulillah."
Mereka pun tiba di tempat tujuan. Kembali Rudi membukakan pintu untuk Sarah dan mempersilakannya turun.
Pelayan di restoran itu menunjukkan meja yang telah dipesan oleh Rudi dan mempersilakan mereka duduk. Rudi menarikkan kursi untuk Sarah, lalu dia duduk di kursi dan berhadapan dengan Sarah membuat Sarah tak bisa menolak tatapan Rudi.
Dengan menggunakan segala cara Rudi berusaha agar Sarah merasa nyaman bersamanya. Dan usahanya tak sia-sia. Sarah mulai lebih banyak bicara dan sesekali tersenyum mendengar lelucon Rudi.
Keakraban di antara mereka mulai terjalin.
"Kapan-kapan boleh kan kita ketemu seperti ini lagi?" tanya Rudi saat mereka keluar dari restoran itu. Sarah mengangguk.
"Tentu saja. Tapi mungkin tidak saat hari kerja."
"Kenapa?"
"Aku tak sanggup melihat tatapan dan mendengar omongan karyawan lain," jelas Sarah. Rudi tertawa mendengar penjelasan Sarah itu.
"Jadi kamu takut seperti Vina, ya? Dia juga marah padaku gara-gara hal itu. Ya sudah, nanti kita atur saja waktunya dan next time kita ajak Bio juga."
Seperti yang dikatakan Vina, Rudi mengantar Sarah ke rumah orangtua Vina. Tampak Fabio sedang bermain di halaman depan rumah Vina. Dia memperhatikan mobil Rudi yang sedang memasuki carport rumah Vina yang lumayan luas.
Fabio berlari menuju Sarah yang sedang berjalan ke arahnya. Langkah Fabio terhenti saat melihat Rudi.
"Papaaaa...!" Dia berlari menuju Rudi yang sedang menatapnya sambil tersenyum
Rudi memeluk Fabio erat.
"Apa kabar jagoan?"
"Baik, Pa," jawab Fabio yang masih berada dalam pelukan Rudi.
Semua orang yang berada di situ terhenyak kaget sekaligus erharu melihat keakraban Rudi dan Fabio.
"Wah, kalian seperti keluarga sungguhan. Udah klop ini. Tinggal diresmiin aja," Vina mengerlingkan matanya menggoda Sarah dan Rudi.
"Iya nih, Rud. Tante setuju kalau kalian menjadi satu keluarga!" Mama Vina menimpali omongan anaknya.
Hal itu tentu saja membuat wajah Sarah bersemu merah.
"Ciyeee, wajahnya merona tuh. Bang, cepetan diresmiin. Udah cocok tuh," goda Vina lagi.
"Iya, didoakan aja, ya?" jawab Rudi sambil melirik pada Sarah.
__ADS_1
"Jangan lama-lama, ntar diambil orang lho."
"Lagian nunggu apalagi, Rud?"
"Iya, Om. Nunggu persetujuannya Sarah. Kalau Sarah setuju, Rudi tak akan menunda-nunda."
Sarah merasa terpojok dan tak berkutik saat mendengar Rudi bicara begitu. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia tak tahu apa yang harus dikatakannya karena semuanya serba mendadak. Dia harus memikirkan segalanya sebelum mengambil keputusan.
Sementara Rudi, dia merasa bahwa dia secara tak langsung sudah berhasil mengungkapkan isi hatinya pada Sarah di hadapan orang selain mereka berdua. Dia pun sudah menunjukkan kedekatannya dengan Fabio, yang selama ini menjadi pertimbangan Sarah dalam mencari pasangan hidupnya.
Beberapa saat Rudi bermain bersama Fabio sebelum berpamitan pulang karena hari sudah menjelang malam.
"Papa mau kemana?" tanya Fabio saat dilihatnya Rudi berpamitan.
"Mau pulang dulu, sayang. Lain kali kita main lagi, ya?"
"Pulang ke rumah Bio?"
"Bukan, Nak. Om Rudi pulang ke rumahnya," jawab Sarah seolah mengoreksi sebutan Fabio pada Rudi.
Rudi menggendong Fabio sampai teras rumah Vina dan menurunkannya di sana, lalu dia berjongkok dan berbicara pada Fabio.
"Bio harus nurut sama mama, ya? Papa janji, nanti kita jalan-jalan dan main sama-sama lagi. Oke?"
Fabio mengangguk mantap, lalu mereka saling berpelukan seperti ayah dan anak yang akan berpisah cukup lama. Sarah bersikap seolah-olah tak melihat adegan itu.
"Bio... sini, Nak. Om Rudi mau pulang. Kita juga mau pulang ke rumah kita."
"Pulang sama papa, Ma?"
"Nggak, nanti kita pulang sama tante Vina."
"Nggak apa-apa, Sar kalau mau bareng. Abang bisa antar kalian."
"Nggak usah. Nanti saja sama Vina. Terimakasih." Sarah menolak tawaran Rudi untuk mengantarnya.
Seolah mendapat ide, Vina menyuruh Sarah menerima tawaran Rudi.
"Sar, sorry, ya? Kayaknya gue gak bisa nganter lo deh. Soalnya papa mama ngajakin gue pergi."
Sarah tahu kalau itu hanya akal-akalan Vina agar dia mau menerima tawaran Rudi.
***
Jangan lupa klik suka, komen dan jadikan favorit agar tak ketinggalan cerita lanjutannya. Beri bintang dan vote juga boleh.
Terimakasih ❤️❤️❤️
__ADS_1