Misteri Sepatu Kecil

Misteri Sepatu Kecil
9


__ADS_3

" Tenang, Sar. Kita udah jauh koq dari mal itu. Bentar lagi juga nyampe di apartemen gue," ucap Vina sambil sesekali melihat ke arah Sarah yang masih terlihat syok.


Mobil Vina masuki parkiran apartemen di rubanah gedung itu.


"Ayo, Sar, kita masuk. Lu aman di tempat gue, di sini dipasang CCTV dimana-mana. Len, tolong bawain belanjaannya, yaa?"


Leni mengangguk, lalu mengambil semua barang belanjaan mereka dan mengikuti Vina serta Sarah.


Mereka segera masuk begitu Vina membuka pintu apartemennya dan pintu itu terkunci secara otomatis. Setelah mereka berada di dalam Vina segera mengambilkan air minum untuk Sarah.


"Minum dulu, Sar. Biar lo tenang. Len, lo kalau mau minum ambil sendiri aja ya, bebas di tempat gue mah. Mau makan lagi juga boleh. Lo cari aja di pantry gue." kata Vina.


"Iya, Vin. Tenang aja." Leni melangkah menuju dapur kecil Vina dan menuangkan air minum dari dispenser. Dilihatnya beberapa kotak makanan tersusun di meja makan kecil di dekatnya.


"Hmm, sepertinya enak. Udah ada makanan enak di rumah, masih saja mau makan di luar," bisik Leni sambil menutup kotak makan yang dibukanya itu. Dia lalu kembali menemui Vina dan Sarah.


"Sar, kalau kamu mau, kamu bisa berbagi masalah kamu sama kita. Siapa tau kita berdua bisa bantu. Seenggaknya kamu bisa sedikit lega karena gak nyimpen masalah sendirian. Lagian kita ini kan temenan. Kamu jangan khawatir kalau aku sama Vina akan cerita-cerita sama orang lain," kata Leni sambil mengelus punggung Sarah. Sarah diam saja, dia masih tak menyangka akan bertemu dengan Rizal lagi.


"Kalau lu belum mau cerita sekarang juga gak apa-apa. Lu bisa istirahat, atau bersih-bersih dulu biar segar tubuh dan pikiran lu," ujar Vina sambil menyodorkan handuk dan baju rumah miliknya pada Sarah.


Sarah menuruti Vina dan pergi ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, pikiran Sarah sedikit ringan.


"Maaf ya, aku udah bikin kalian repot. Aku gak nyangka akan ketemu mantan suamiku di sana," Sarah memulai pembicaraan.


"Emang kenapa, Sar? Sampai kayak orang ketakutan gitu," tanya Leni.


Sarah menceritakan semua kisahnya bersama Rizal, mantan suaminya.


"Aku berusaha sebisa mungkin untuk gak ketemu dia lagi. Selain karena dia sudah menjadi suami orang, aku juga gak mau terjebak dalam kenangan masa lalu," jelas Sarah pada kedua temannya.


"Baguslah lu udah nyerein dia. Cerai mati lagi. Laki begitu mah harusnya disunat lagi, biar sampai buntung sekalian," kata Vina dengan emosi.


"Tapi kamu masih ada rasa gak buat dia?" tanya Leni.


"Nggak, Len. Kalaupun ada, itu mungkin hanya bagian kecil dari kenangan masa lalu. Aku sudah mengikhlaskan dia, tapi aku juga gak mau ketemu dia lagi," jawab Sarah.


"Jelas lah elo gak mau ketemu dia lagi, ketemu dia cuma bakalan bikin perasaan lu yang udah tenang jadi sakit lagi."

__ADS_1


"Sar, dia tau gak kalau kalian punya anak?" tanya Leni lagi.


"Harusnya dia tau, soalnya dia ninggalin aku waktu aku hamil 2 bulan," jawab Sarah.


"Bener-bener ya tuh laki, gak ada otaknya banget. Trus dia gak datang waktu lo lahiran?" tanya Vina berapi-api.


"Nggak, aku lahiran ditemani ibu pemilik kontrakanku yang sudah seperti ibuku sendiri," jawab Sarah sambil terisak. Terbayang kembali masa-masa menyedihkan itu, saat dia melahirkan Fabio.


"Udah, Sar. Nggak usah dipikirin lagi. Selama kamu sama kita berdua, kamu bakalan aman. Aku sama Vina akan jagain kamu dari orang itu," Leni berusaha menguatkan Sarah.


"Iya, Sar. Lihat aja kalau dia berani ganggu lo, gue teriakin copet, biar digebukin sekalian!"


Akhirnya Sarah bisa tersenyum kembali, setelah melihat dukungan dari kedua sahabatnya itu.


"Makasih, ya, kalian udah mau ngedukung aku. Aku gak tau harus gimana tadi kalau gak ada kalian," kata Sarah sambil memeluk kedua sahabatnya.


"Vin, makanan kamu di dapur siapa yang bikin?" tanya Leni penasaran.


"Pembantu di rumah gue. Dia datang tiap hari ke sini buat masakin dan nyiapin semua kebutuhan gue."


"Enak amat. Kamu bisa bayar pembantu, berarti duit kamu banyak dong. Tapi kenapa kamu kayak orang susah kalau menjelang gajian?" tanya Leni penasaran.


***


Sementara di tempat lain, Rudi sedang menonton tv di kamarnya. Tapi karena tak ada acara yang menarik dia memutuskan untuk mematikan tv-nya. Dia mengambil ponselnya, lalu iseng-iseng dia membuka aplikasi belanja online. Tak sengaja dia melihat model sepatu yang selama ini dirindukannya.


"Hei, ini dia sepatu itu!!" serunya girang.


Diamatinya sepatu itu, dan dibuat screenshotnya.


"Pantas saja sepatu ini kelihatan kecil, ini sepatu buat anak-anak," gumamnya sambil tersenyum sendiri.


Keasyikannya harus terhenti karena ada panggilan telepon di ponselnya. Panggilan telepon dari ibunya.


"Assalamualaikum, Rud?"


"Wa'alaikumsalam, Bu."

__ADS_1


"Rud, ibu udah menghubungi temen ibu itu. Ibu udah bilang sama dia kalau besok malam kita akan datang ke rumahnya. Kamu bisa datang, kan besok?"tanya ibunya.


"Iya, Bu. Insha Allah Rudi bisa datang."


"Beneran ya, Rud. Kamu jangan sampai gak datang, ibu bisa malu kalau kamu nggak datang."


"Iya, Bu. Rudi besok datang, kirimin aja alamatnya, Rudi ntar nyusul ke sana."


"Iya, nanti ibu kirim. Ya sudah, ya Nak. Sampai ketemu besok malam. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam".


Pikiran Rudi menerawang entah kemana. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan perjodohan itu. Dia hanya bisa pasrah.


Keesokan harinya dia bersiap untuk pergi ke alamat yang dikirimkan ibunya setelah sebelumnya melaksanakan shalat Maghrib dan berdoa agar diberikan yang terbaik dalam hidupnya.


Meski sebetulnya malas, dia pergi juga memenuhi keinginan ibunya.


Di depan rumah sesuai alamat yang dikirimkan ibunya, Rudi melihat mobil ayahnya terparkir di halaman depan rumah itu.


"Berarti ini bener rumahnya," Rudi turun dari mobilnya.


"Assalamualaikum..." kata Rudi sambil mengetuk pintu.


"Ini pasti nak Rudi," kata seorang wanita yang membukakan pintu untuknya.


"Iya, Bu."


"Ayo masuk, Nak," ajak ibu itu.


Rudi mengikuti ibu itu masuk, dilihatnya keluarganya sudah ada di sana. Ibunya sedang bicara dengan seorang wanita muda.


"Lumayan cantik," pikirnya.


"Rud, kenalin ini Arini. Dia ini pengelola tempat penitipan anak di dekat sini, udah lulus kuliah 2 tahun lalu," kata ibu Rudi.


"Iya, Bu," sahut Rudi sambil merapatkan kedua telapak tangan sambil menganggukkan kepalanya tanda memberikan salam.

__ADS_1


Setelah makan malam dan sedikit berbasa-basi Rudi beserta keluarganya berpamitan. Rudi kembali ke rumahnya yang sepi.


__ADS_2