
Hubungan Rudi dan Sarah menjadi erat lagi, apalagi setelah Sarah diperkenalkan Rudi pada Fathia, adiknya. Fathia yang pandai mencairkan suasana membuat Sarah dan Fabio tidak merasa canggung lagi saat mereka bersama.
Begitu pula saat di rumah Rudi, mereka terlihat akrab dalam kehangatan keluarga. Sehingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat.
"Sudah sore, ayo kita pulang, Sayang," ajak Sarah pada Fabio.
"Nanti aja pulangnya," rengek Fabio.
"Ini udah sore, Nak. Kita pulang dulu, ya? Lain kali kita main lagi," bujuk Sarah.
"Lain kali Bio gak usah pulang, Bio akan tinggal di sini sama Papa," kata Rudi sambil melirik Sarah.
"Iya, kan Ma?" sambung Rudi lagi.
Sarah segera mengalihkan pembicaraan tanpa menjawab pertanyaan Rudi.
"Bio mau main mandi bola lagi, kan?"
"Mau, Ma."
"Kalau begitu ayo kita pulang," ajak Sarah lagi.
"Tapi main mandi bola dulu, ya?"
"Iya. Ayo, Nak."
"Kak, aku ikut, ya? Mau mandi bola juga," kata Fathia sbil nyengir.
"Ayo. Tuh... Tante Fathia juga mau ikut. Pamit dulu sama Om Rudi."
Rudi yang baru keluar dari kamarnya terkejut melihat tamu-tamu kesayangannya sudah berkemas untuk pergi.
"Lho mau kemana ini?"
"Bio mau pulang, mau main mandi bola sama Tante Fathia."
"Kamu ini, mengaruhin anak kecil aja," kata Rudi pada Fathia.
"Ye... suudzon aja. Kak Sarah tuh yang ngajak Bio pulang."
"Iya. Sudah sore, kami pamit dulu."
"Biar aku antar," kata Rudi.
"nggak usah. Biar naik taksi online saja," cegah Sarah.
__ADS_1
"Nggak, nggak. Tunggu sebentar, aku ambil kunci mobil dulu!"
Berempat mereka menuju mal yang ditunjukkan Sarah untuk membawa Fabio bermain mandi bola.
Fathia menemani Fabio di dalam arena bermain.
"Kak, biar Fathia aja yang jaga Fabio di dalam." tawar Fathia pada Sarah.
"Ah bilang aja pengen ikutan main," celetuk Rudi.
"Hehe... tau aja Abangku yang kurang cerdas ini," jawab Fathia sambil bergegas masuk ke dalam arena bermain untuk menghindari ocehan Rudi.
Sarah terkekeh melihat kakak beradik yang tak ada hentinya bercanda. Melihat tingkah Rudi yang santai dan humoris meleburkan keseriusan dan ketegasan Rudi yang sering ditunjukkannya di kantor. Sarah pun merasa nyaman berada di samping Rudi dengan sikap santainya.
Karena Fathia menemani Fabio di arena bermain, tinggallah Rudi bersama Sarah menunggu di ruang tunggu.
"Aku ke toilet dulu sebentar," kata Sarah.
"Mau ditemani?"
"Ih... nggak perlu. Masa ke toilet ditemani," jawab Sarah geli. Rupanya keisengan Fathia sudah menular padanya.
"Eh maksudku, aku tunggu di luar, gak ikut masuk ke toilet, Sayang..." ujar Rudi gemas sambil berpura-pura akan mencubit Sarah
Sarah tertawa dan pergi meninggalkan Rudi menuju ke toilet terdekat.
Sebuah tangan menarik bahu Sarah saat dia keluar dari toilet. Sarah membalikkan badannya untuk melihat siapa yang menariknya.
"Mas Rizal?" Sarah terkejut melihat mantan suaminya.
"Apa kabar? Akhirnya kita bertemu lagi, Sar."
"Mas mau apa?"
"Lho koq kamu nanyanya gitu? Apa aku gak boleh kangen sama kamu?" tanya Rizal.
"Nggak, Mas. Kamu gak boleh!"
"Kenapa? Aku tahu kamu marah dan benci padaku. Aku minta maaf!"
"Gak ada yang perlu dibahas lagi, semuanya sudah selesai. Kamu sudah punya istri."
"Tapi kamu juga masih istriku, Sarah."
"Bukan! Aku bukan istrimu lagi."
__ADS_1
"Apa maksudnmu? Aku tak pernah menceraikanmu."
"Aku yang mengajukan cerai, dan hakim sudah memutuskan cerai mati atas dirimu."
"Kamu jangan bercanda, Sar. Ini tidak lucu."
"Aku tidak sedang bercanda. Aku serius. Coba kamu tanyakan pada keluargamu. Salinan putusannya sudah dikirim ke rumah orangtuamu."
"Aku tidak terima. Aku akan mengurus semuanya dan kita akan kembali bersama!"
"Silakan!" tantang Sarah.
Rizal terduduk lemas di lantai, pandangannya nanar. Seolah tak ada tenaga, dia berusaha untuk duduk di kursinya dengan pelahan. Dia mulai menceritakan kejadian saat dia terpaksa harus menikahi wanita pilihan ibunya, karena ibunya.
"Aku terpaksa melakukannya karena mama mengancam akan bunuh diri kalau aku tak menikahi wanita itu."
"Jangan sebut wanita itu, katakan saja kalau dia istrimu," ujar Sarah lirih.
"Ya, istriku. Dan setelah pernikahan itu aku mencarimu ke kontrakan kita, tapi kamu sudah tak ada. Aku terus berusaha mencarimu. Aku ingin minta maaf dan menjelaskan semuanya. Karena bagiku kamulah istriku satu-satunya sampai kapanpun. Aku mencintaimu bahkan sampai sekarang. Aku tak mau kehilanganmu, Sarah."
Sarah hanya diam seolah tak tertarik dengan apa yang dikatakan Rizal.
"Aku sudah bertanya pada semua orang yang kamu kenal. Arini, bunda Aisyah, semuanya bilang tidak tau. Aku hampir putus asa. Sampai suatu hari aku melihatmu di mal bersama teman-temanmu, aku berusaha mengejarmu, tapi kamu sudah tidak ada. Harapanku timbul kembali."
Sarah masih tetap tak bergeming. Dia membiarkan Rizal bicara panjang lebar.
"Aku menemukanmu lagi, tapi kamu berusaha melarikan diri dariku. Saat itu hatiku hancur. Aku merasa bahwa kamu sudah tak menginginkanku lagi. Kamu membenciku. Tapi saat itu aku berjanji aku akan berusaha untuk membahagiakanmu, bagaimanapun caranya. Aku ingin menebus semua kesalahanku padamu."
Sarah melihat bulir bening di sudut mata Rizal. Namun semua penjelasan Rizal tak ada gunanya bagi Sarah. Perasaannya sudah terlalu sakit, sehingga hatinya tak terenyuh dan tak satu tetes pun air mata keluar dari matanya. Sarah hanya diam mematung.
"Maafkan aku," ucap Rizal lirih.
Di tempat lain Rudi mulai khawatir karena Sarah belum kembali juga dari toilet.
"Ini sudah terlalu lama kalau hanya untuk pergi ke toilet. Kemana dia?" pikir Rudi.
Rudi memutuskan untuk menyusul Sarah. Namun belum sampai toilet, dia melihat Sarah sedang bersama seorang pria di sebuah kafe kecil. Rudi mendekati mereka.
"Sayang, kamu di sini? Katanya mau ke toilet?" tanya Rudi.
"Iya, ini udah dari toilet. Oh iya, kenalin ini Rizal, mantan suamiku."
Rudi menatap Rizal dan berusaha tersenyum padanya.
"Rudi. Calon suami Sarah." Rudi memperkenalkan dirinya pada Rizal sambil mengajaknya bersalaman. Rizal diam saja sambil menatap Rudi.
__ADS_1
"Sayang, ayo kita pergi." Rudi menggandeng mesra Sarah seakan ingin memanas-manasi Rizal.
"Maaf, kami permisi. Sudah ada janji dengan orangtua saya." Rudi berbohong lagi pada Rizal. Dia ingin membuat Rizal menyesali semua perbuatannya pada Sarah. Bahkan kalau bisa, dia ingin memukul wajah pria yang telah tega menyakiti wanita yang dicintainya itu.