
Sudah hampir 2 minggu Sarah menghilang. Rizal mulai bertanya-tanya tentang keberadaan Sarah dan anaknya kini. Rizal sudah bertanya pada Arini dan bunda Aisyah, namun keduanya mengatakan tidak tahu. Tinggal satu orang yang belum ditanyainya, yaitu Rudi yang diketahuinya adalah calon suami Sarah. Namun Rizal tak tahu dimana dia bisa menemui Rudi.
"Assalamualaikum, Ar," Rizal memberi salam pada Arini di telepon.
"Wa'alaikumsalam," jawab Arini.
"Ar, kamu tau nomor calon suami Sarah nggak?"
"Maksudnya mas Rudi?" tanya Arini.
"Ya, betul. Rudi. Kamu tau nomornya?"
"Tau. Memangnya kenapa?" tanya Arini lagi.
"Aku mau nanyain Sarah sama Fabio, siapa tau dia tau dimana," jawab Rizal.
"Oh... Masih nyari Sarah?"
"Iya, Ar. Gimanapun juga dia ibu dari anakku. Aku juga kangen sama Fabio. Kira-kira kamu tau gak kenapa dia menghilang?" tanya Rizal.
Arini yang sudah mengetahui permasalahan teman baiknya itu merasa terkejut karena ternyata Rizal masih juga belum tahu kesalahannya.
"Aku nggak tau. Tapi setauku masalah Sarah itu selalu berasal dari satu orang."
Giliran Rizal yang terkejut dengan ucapan Arini.
"Apa maksud kamu orang itu adalah aku?" tanya Rizal.
"Maaf. Aku gak mau terlalu mencampuri urusan orang, meski itu sahabatku sendiri. Assalamualaikum!" Arini menutup percakapan.
"Wa'alaikumsalam. Tunggu, Ar. Arini!" Rizal berusaha menahan Arini agar tak menutup teleponnya, tapi sudah terlambat.
Dengan kesal Arini menutup percakapannya dengan Rizal. Dia bersungut-sungut sambil menatap ponselnya.
"Masih aja gak menyadari kesalahan! Mau sampai kapan kayak gitu? Sekarang rasakan akibatnya! Kamu tuh memang gak pantes deket-deket sama Sarah dan Fabio. Cuma bikin susah aja!" gerutu Arini
Ibunya yang melihat Arini bicara sendiri menjadi penasaran dan mendekatinya.
"Siapa yang telepon, Ar? Kenapa kamu ngomel kayak gitu?"
"Rizal, Bu. Dia nanyain nomor hp mas Rudi. Katanya mau nanyain Sarah padanya," jawab Arini
"Udah kamu kasih?"
"Belum. Biarin aja, paling dua akan telepon lagi atau WA!" ujar Arini kesal.
"Kenapa kamu kesal begitu?"
__ADS_1
"Gimana gak kesal, Bu. Dia masih gak nyadar juga kalau masalah-masalah Sarah itu selalu berasal darinya. Pengin getok aja itu orang!" gerutu Arini lagi
"Sabar, Ar. Mungkin dia gak tau kalau perbuatannya sangat membuat Sarah terpukul dan ketakutan," ujar ibu Arini berusaha menenangkan anaknya.
Tak lama ponsel Arini bergetar. Ada notifikasi pesan masuk. Ternyata itu dari Rizal yang menanyakan nomor ponsel Rudi. Arini tak langsung memberikannya pada Rizal. Dia merasa harus meminta persetujuan Rudi terlebi dahulu. Dicarinya nomor ponsel Rudi, lalu dia menekan lingkaran bewarna hijau dengan gambar gagang telepon di atasnya.
"Assalamualaikum, Ar," terdengar suara Rudi.
"Wa'alaikumsalam, Mas," jawab Arini.
"Tumben nelpon. Ada apa? Apa ada pesan dari Sarah?"
"Bukan Sarah, tapi Rizal."
"Rizal? Mantan suami Sarah? Mau apa dia?"
" Dia minta nomor telepon Mas Rudi. Aku belum kasih. Aku harus minta persetujuan Mas dulu boleh apa nggak," jelas Arini.
"Mau apa dia minta nomorku?"
"Mau nanyain Sarah katanya."
"Ya sudah, kasih aja. Mungkin sudah waktunya dia tau duduk permasalahannya. Dia harus tau kalau perbuatannya itu sangat melukai perasaan Sarah dan membuatnya ketakutan."
"Oh, ya sudah. Aku akan kirim nomor Mas Rudi sama dia sekarang. Maaf udah ganggu, ya? Assalamualaikum," Arini menutup obrolan mereka.
Rizal benar-benar menghubungi Rudi dan membuat janji untuk bertemu di sebuah tempat.
Akhirnya Rudi menemui Rizal di tempat yang telah ditentukan. Sebuah restoran kelas atas telah dipilih Rizal. Rudi memasuki restoran itu menuju meja yang telah dipesan Rizal. Rizal sudah menunggu di sana dan menyambutnya dengan ramah.
"Apa kabar?" sapa Rizal sambil menyalami Rudi.
"Baik. Alhamdulillah," jawab Rudi.
Rizal mempersilan Rudi duduk dengan isyarat tangannya.
"Terimakasih," ucap Rudi.
"Mau pesan apa? Biar enak ngobrolnya," tawar Rizal.
Rudi pun memesan air mineral, jus dan steak. Tak lama pesanannya pun datang. Sambil makan mereka mengobrol.
"Apa ada kabar soal Sarah?" tanya Rizal.
"Ada. Selalu ada kabar darinya," jawab Rudi santai.
"Oh ya? Syukurlah. Dimana dia sekarang?"
__ADS_1
"Dia ada di suatu tempat," jawab Rudi sedikit misterius.
"Boleh aku tau dimana?"
"Kalau dimana tepatnya aku juga gak tau. Tapi aku yakin Sarah berada di tempat yang aman. Setidaknya selama beberapa hari ini, mereka aman. Dan dia selalu keep in touch denganku. Makanya aku percaya padanya," ujar Rudi.
"Kenapa dia harus pergi? Apa kau yang menyuruhnya?"
"Tidak. Aku awalnya bahkan tidak tau kalau dia pergi. Aku juga sempat mencarinya, namun tak lama dia menghubungiku. Makanya aku bisa tenang," jawab Rudi datar.
"Tapi dia membawa serta anakku. Harusnya kalau dia mau pergi, dia bisa menitipkan Fabio padaku!"
"Fabio itu adalah harta terbesar bagi Sarah. Dia tak akan mempercayakan anaknya pada orang sembarangan," Rudi menjawab dengan tenang.
"Maksudmu orang sembarangan itu aku?" tanya Rizal sedikit emosi.
"Siapa saja. Bahkan dia pun belum pernah mempercayakan Fabio padaku, meskipun dia tau kalau aku sangat menyayangi Fabio."
Emosi Rizal mereda setelah mendengar penjelasan Rudi.
"Selalu ada alasan di balik semua yang dilakukan Sarah. Dia tidak mungkin seenaknya pergi, apalagi dia juga terikat dengan kontrak kerja," jelas Rudi lagi.
"Lalu apa yang membuatnya pergi? Apa kau tau?"
"Ya. Aku tau. Sarah menjelaskan semuanya padaku. Dan aku rasa dia wajar melakukannya."
Rizal terdiam mendengar hal itu. Dia merasa sedikit tersindir, karena selama ini dia merasa bahwa dialah orang yang paling mengenal dan mencintai Sarah. Ternyata dia salah, dia tak tahu apa-apa tentang Sarah.
"Apa yang membuatnya pergi? tanya Rizal lagi.
"Dia pergi karena dia tak ingin bertemu denganmu," Rudi terus menikmati steaknya seolah apa yang dikatakannya bukan masalah besar.
"Apa? Kenapa begitu?" Rizal sangat terkejut mendengar omongan Rudi.
"Pernah bilang bahwa kau akan membawa Fabio?" tanya Rudi dengan santai.
Rizal berpikir sebentar.
"Ya!"
"Nah, itu alasannya."
"Tapi aku mengatakan hal itu karena ada alasan. Kalian bisa mendapatkan anak lagi setelah menikah, jadi biar kalian tidak repot biar Fabio bersamaku!" jelas Rizal.
"Tidak bisa begitu. Kamu tau kenapa Sarah mau denganku? Karena anaknya menyukaiku. Lalu tiba-tiba begitu kami menikah dia melepaskan Fabio? Itu tidak mungkin. Dia melahirkan dan membesarkan Fabio dengan susah payah. Sendirian!" Rudi sengaja menyebut kata kata sendirian dengan sedikit ditekan.
"Beruntung dia cerdas dan pantang putus asa. Sehingga dia bisa menghidupi dirinya dan anaknya. Coba bayangkan bagaimana perasaannya jika ada orang yang datang begitu saja ingin mengambilnya?" lanjut Rudi.
__ADS_1
Rizal diam dan merenungkan apa yang dikatakan Rudi.
"Tentu dia akan menjawab 'Langkahi dulu mayatku!'," sambung Rudi sambil menyeruput jusnya.