Misteri Sepatu Kecil

Misteri Sepatu Kecil
15


__ADS_3

Perasaan lega selalu dirasakan Sarah setiap kali usai bicara dengan bunda Aisyah. Darinyalah dia selalu mendapatkan pencerahan untuk setiap masalah dalam hidupnya. Meski pada awalnya tak setuju dengan Sarah yang ingin keberadaan Fabio ditutupi dari Rizal, akhirnya bunda Aisyah menyetujuinya setelah mendengar permohonan dan alasan kenapa dia ingin melakukan hal itu.


Kenangan masa lalu Sarah di panti itu bersama bunda Aisyah selalu menjadi kenangan manis. Darinya pula Sarah belajar untuk selalu ikhlaa dan berbaik sangka pada Yang Maha Kuasa.


"Ma, kapan-kapan kita ke panti asuhan lagi, ya? Bio mau ketemu nenek Aisyah sama teman-teman Bio."


"Iya, insha Allah ya Sayang. Tapi sekarang Bio bobo dulu. Sudah malam, besok kan mau belajar sama bunda Arini!"


Fabio menuruti ibunya dan tak lama sudah tertidur pulas. Dipandanginya wajah Fabio, lalu mengelus kepalanya.


"Mama akan pastikan nasibmu gak seperti mama. Mama akan berjuang sekuat tenaga untuk membuatmu bahagia," ucap Sarah lirih.


*****


Seluruh tulisan bertema charity telah dikirimkan oleh setiap penulis pada tim redaksi. Hari ini seluruh penulis kembali bekerja sesuai arahan ketua tim. Sarah pun mulai mengerjakannya dengan melakukan riset dan mengumpulkan referensi untuk tulisan berikutnya. Tak terlalu banyak kesulitan bagi Sarah karena kantornya selalu menyediakan semua bahan yang dia butuhkan untuk penulisannya.


Waktunya pulang. Sarah bergegas meninggalkan mejanya.


"Buru-buru amat, Sar," kata Leni.


"Iya, mau beli kebutuhan anakku dulu," jawab Sarah sambil melanjutkan langkahnya.


Dengan menaiki ojek online Sarah menuju ke salah satu mall karena ada beberapa kebutuhan rumah juga yang harus dibelinya.


Setelah semua yang dibutuhkannya berada di keranjang belanjanya, segera Sarah menuju kasir untuk membayarnya.


"Semuanya Rp 342.000," kata mbak petugas kasir.


"Ini, mbak!" Seseorang menyodorkan kartu debit pada petugas kasir itu Tentu saja Sarah terkejut, karena setau dia ini gilirannya membayar pada antrian kasir itu.


"Maaf, Pak. Ini giliran saya yang bayar. Bapak harus antri dulu!" kata Sarah tanpa melihat orang yang dia ajak bicara karena sibuk mencari dompet dan kartu debitnya.


Orang itu tak bergeming, dia masih berdiri di sampingnya dan membuat Sarah kesal.


"Pak, saya kan udah... Mas Rizal?"


Rizal tersenyum.


"Udah apa?" tanya Rizal menggoda.

__ADS_1


Seketika Sarah merasa seluruh persendiannya kaku.


"Ayo ikut," ucap Rizal lembut sambil menenteng belanjaan Sarah. Mau tak mau Sarah mengikutinya.


Rizal membawa Sarah ke sebuah kafe yang tak terlalu banyak pengunjungnya. Dia menarik kursi di depannya dan mempersilakan Sarah duduk lalu dia duduk berhadapan dengan Sarah.


"Kamu kemana aja?" tanya Rizal lembut sambil menatap wajah Sarah. Sarah tak menjawab, lidahnya serasa terkunci.


"Kamu sehat-sehat aja, kan selama ini?" tanya Rizal lagi.


"Alhamdulillah sehat," jawab Sarah.


Rizal terus menatap Sarah.


"Jangan pergi lagi, ya?" pinta Rizal sendu.


Seorang pelayan kafe datang menyodorkan menu.


"Kamu mau minum apa? Apa mau makan?" tanya Rizal.


"Nggak", jawab Sarah singkat.


Ternyata Rizal masih mengingat makanan dan minuman kesukaan Sarah. Nasi goreng seafood dan teh hangat.


"Baik, Pak. Ditunggu, ya?" ucap pelayan itu.


"Sar, maafin mas, ya?" ucap Rizal lirih.


Sarah diam saja. Rizal berusaha menggenggam jemari tangan Sarah, tapi Sarah menarik tangannya. Rizal tertunduk lesu.


"Lupakan saja, mas. Aku sudah lama memaafkan mas. Aku juga mau minta maaf."


"Kamu gak punya salah apa-apa, maslah yang banyak salah padamu."


"Lupakan saja, aku sudah mengikhlaskan."


"Sar, kamu boleh marah padaku atau menamparku, mencaci makiku. Ayo, pukul aku. Aku akan menerimanya. Sikap ikhlas dan memaafkanmu membuatku semakin merasa bersalah."


"Sudahlah, tak perlu dibahas lagi," jawab Sarah lirih dan berusaha untuk tetap tenang.

__ADS_1


"Pak, Bu, ini pesanannya. Selamat menikmati," kata seorang pelayan.


"Terima kasih," ucap Sarah.


"Makan ya, Sayang. Kamu mau nasi goreng apa steak? Atau kita makan sama-sama aja seperti dulu, ya?" tawar Rizal.


Entah kenapa kata sayang yang diucapkan Rizal padanya terasa janggal di telinga Sarah. Dia ingat dulu saat Rizal memanggilnya sayang, dia merasa bahagia dan merasa bahwa hanya dialah orang yang dicintai Rizal.


"Aku nggak lapar," jawab Sarah.


"Makan dong, kan udah dipesan. Makan, ya?" bujuk Rizal.


Dengan setengah hati Sarah menuruti Rizal. Dia mulai menyantap nasi goreng di hadapannya.


"Koq makannya gak semangat gitu. Aku suapi, ya? Eh, cobain steak ini, enak lho!" Rizal mengiriskan daging steak dan menyodorkan irisan daging itu ke mulut Sarah.


"Nggak. Nggak usah," kata Sarah.


"Cicipi dulu, ini enak, Sayang," Rizal terus menyodorkan irisan daging panggang itu.


Sarah mengulurkan tangannya untuk mengambil garpu dari tangan Rizal.


"Biar mas aja, mas kangen menyuapimu. Aaa.." Akhirnya Sarah membuka mulutnya.


"Gimana? Enak, kan? Makan lagi, ya?" Rizal mengiriskan steaknya lagi.


"Nggak, udah cukup," cegah Sarah.


Rizal tampak kecewa dengan penolakan Sarah.


"Sayang, kamu mau kan kita mulai semuanya lagi dari awal?" tanya Rizal. Sarah pura-pura tak mendengar.


"Aku mau shalat Maghrib dulu. Waktunya sudah hampir habis," kata Sarah bergegas keluar dari kafe itu menuju ke mushola mall.


Rizal segera membayar makanan mereka dan buru-buru mengikuti Sarah yang berjalan cukup cepat dan dia hampir saja kehilangan jejaknya. Tapi Rizal sangat mengenal Sarah, dia tak pernah meninggalkan shalat. Rizal yakin Sarah akan pergi ke mushola terdekat. Dan memang benar, Rizal melihat Sarah sedang menuju tempat wudhu.wanita. Rizal tak berkedip memandang Sarah dari kejauhan.


"Dia masih cantik seperti dulu. Ya Allah tolong jangan pisahkan kami lagi." Tak terasa air matanya sudah berada di ujung matanya.


Sarah sengaja berlama-lama di dalam mushola, berharap Rizal tak tahan dan pergi meninggalkannya. Dia bahkan sempat menelepon Arini untuk mengabari bahwa dia akan pulang terlambat karena ada urusan yang harus diselesaikan. Sengaja dia tak memberitahu Arini bahwa dia sedang bersama Rizal.

__ADS_1


Sarah terkejut saat melihat Rizal menunggunya di depan mushola seraya tersenyum pada Sarah saat melihatnya keluar dari mushola. Sarah merasa kesal karena triknya tidak berhasil. Sepertinya dia harus memutar otak untuk bisa terbebas dari Rizal yang terus membuntutinya kemanapun dia pergi.


__ADS_2