Misteri Sepatu Kecil

Misteri Sepatu Kecil
45


__ADS_3

Sarah terkejut karena Rudi tiba-tiba mengajaknya pergi dari rumah orang tuanya, Sarah mulai menduga-duga bahwa ibunya Rudi tidak menyukainya.


"Ada apa sih?" tanya Sarah.


"Nggak ada apa-apa," jawab Rudi singkat.


Sarah tak berani menanyakan lebih lanjut. Dia tak mau keadaan menjadi semakin buruk jika dia terus bicara. Sepanjang jalan mereka berdua saling diam. Sarah menatap jalanan yang diterangi cahaya lampu jalan dari kaca mobil yang ada di sisinya. Dia mulai memikirkan hal buruk yang selama ini sudah ada di pikirannya. Dia harus siap dengan keadaan tersulit yang akan terjadi pada hubungan mereka.


Saat sampai di rumah Sarah, Rudi segera berpamitan, namun Sarah menahan kepergian kekasihnya itu.


"Apa ada masalah?" tanya Sarah. Matanya tak lepas memandangi wajah Rudi yang terlihat serius dan sedikit gusar.


"Nggak ada apa-apa," jawab Rudi datar.


Sarah menangkap kebohongan dari ucapan dan gerak tubuh Rudi.


"Apa ibu tidak menyukaiku?" tanya Sarah yang membuat Rudi terkejut dan mendongakkan kepalanya yang sedari tadi hanya tertunduk dan menghindari pandangan Sarah.


Dipandanginya Sarah lekat-lekat, lalu mendekatkan tubuhnya pada Sarah.


"Jangan dipikirkan. Kita akan menghadapi rintangan apapun bersama. Untuk saat ini serahkan dulu hal ini padaku. Aku akan berusaha meyakinkan ibuku dulu!" Rudi berusaha meyakinkan Sarah.


"Aku sudah mengira hal ini akan terjadi. Dan aku pun sudah siap dengan konsekuensinya. Jika memang kita harus berpisah, aku tidak akan keberatan," ujar Sarah lirih.


"Kamu ini ngomong apa sih? Dengar, Sar. Aku tak akan meninggalkanmu!" Rudi menjadi emosi mendengar perkataan Sarah.


"Kalau begitu aku yang akan meninggalkanmu," tukas Sarah tak kalah emosi.


"Sar... Kita gak boleh menyerah. Kita harus berjuang bersama. Kamu harus yakin bahwa hubungan kita akan baik-baik saja. Tolong bantu aku, Sar. Bantu aku untuk membuktikan pada ibuku bahwa anggapannya salah terhadapmu!" Rudi memohon pada Sarah.


"Apa anggapan ibumu terhadapku?" tanya Sarah.


Rudi tak menjawab, dia tak tega mengatakan yang sebenarnya pada Sarah.


"Ibumu tak suka karena aku janda dan punya anak?" tanya Sarah lagi.


Rudi tetap tak menjawab sehingga membuat Sarah semakin yakin dengan dugaannya.


"Benar-benar seperti dugaanku," ujar Sarah.


""Kamu jangan bilang begitu, Sar. Kita harus optimis bahwa kita pasti bisa melewati keadaan ini. Yang dibutuhkan sekarang adalah kita harus menguatkan hubungan kita Percayalah, Sar, kita akan bisa menghadapinya bersama!" sekali lagi Rudi berusaha meyakinkan Sarah yang mulai menangis.


Sarah terus menangis dan membuat Rudi menjadi kebingungan, dia terus berusaha menenangkan Sarah.


"Tolong jangan menangis lagi, Sar. Biar kita bisa memikirkan jalan yang teebaik. Kumohon jangan bersikap kayak gini. Ayo kita sama-sama berjuang, saling kasih semangat. Aku yakin kamu adalah jodoh yang telah Allah berikan untukku!" Rudi menggenggam tangan Sarah seolah ingin memberi kekuatan padanya.

__ADS_1


Sarah mulai tenang dan tidak menangis lagi. Rudi menghapus air mata Sarah yang masih mengalir dengan jarinya.


"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Sarah.


"Kita lihat keadaan dulu. Aku yakin waktu akan membantu kita jika kita saling menguatkan. Kamu mau, kan?" ujar Rudi. Sarah menjawabnya dengan anggukan.


Sekarang kamu tenangkan dirimu, jemput Bio di rumah Arini, mumpung belum terlalu malam. Oke?" kata Rudi yang menyadarkan Sarah bahwa dia belum menjemput anaknya.


"Bio? Ya Allah, aku sampai lupa!" Sarah bergegas menuju rumah Arini setelah membersihkan wajahnya dari sisa air mata dan sedikit membubuhkan bedak di wajahnya.


***


Siang itu Rudi sudah membuat janji temu dengan ayahnya untuk makan siang dan membicarakan saham ayahnya yang diinvestasikan di perusahaannya.


Rudi telah memesan sebuah ruang VVIP di sebuah restoran favorit mereka. Makan siang mereka diselingi dengan obrolan bisnis juga masalah keluarga mereka yang akhir-akhir ini menjadi renggang terutama hubungan Rudi dengan ibunya.


"Aku gak ngerti dengan alasan ibu menyuruhku menjauhi Sarah? Apa yang salah dengan Sarah?" ujar Rudi sedikit terbawa emosi.


"Sejauh yang ayah tau, ibumu tidak suka dengan status calonmu itu yang sudah pernah menikah. Dia merasa kamu layak mendapatkan yang lebih dari Sarah," jelas ayah Rudi.


"Memangnya apa yang salah dengan status janda? Kalau disuruh memilih dia pun tak akan mau menjadi janda. Ini sudah takdirnya, Yah. Apa kita juga harus menyalahkan takdir?"


"Lihat sisi baik pendapat ibumu, Nak. Sebagai orang tua, tentu ibumu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Ibumu merasa masih ada yang lebih baik dari calonmu itu di luar sana. Jadi kamu jangan berpikiran negatif tentang ibumu. Itu adalah salah satu cara dia menyayangimu," jelas ayahnya.


"Ya, Rudi tau, Yah. Tapi apa menurut Ayah pemikiran ibu itu bisa berubah?" nada suara Rudi mulai melunak.


Sepeninggal ayahnya, Rudi termenung sendiri memikirkan semua perkataan ayahnya. Benar sekali. Ini adalah sebuah tantangan baginya untuk bisa mengubah pendapat ibunya tentang Sarah. Namun dia masih belum bisa menemukan caranya.


Dengan langkah gontai Rudi meninggalkan restoran itu setelah membayar semua tagihannya.


Di perjalanan menuju kembali ke kantornya, Rudi melihat seorang wanita tua bersama seorang anak kecil yang lincah di sebuah taman. Wanita itu terlihat sangat bahagia bermain dengan anak yang sepertinya adalah cucunya. Kebahagiaan mereka tampak dari tawa riang mereka berdua. Anak itu dengan sabar menuntun sang nenek yang sudah tak bisa berjalan cepat lagi.


Melihat keakraban mereka, Rudi menjadi ingat dengan Fabio yang memiliki sifat hampir sama dengan anak itu


"Papa jadi kangen kamu, Nak," gumamnya.


Rudi memutar balik mobilnya dan pergi berlawanan arah dengan arah ke kantornya. Dia pergi ke daerah yang sudah sangat familiar sekali dengannya. Daerah tempat tinggal Arini dan tempat penitipan anak yang dikelola Arini.


Kedatangan Rudi di sana disambut hangat oleh Arini.


"Tumben ke sini siang-siang?" tanya Arini.


"Iya nih. Tiba-tiba kangen sama anakku. Boleh ketemu? Kalau bisa sih diijinkan juga untuk mengajaknya pergi. Nanti aku kembalikan lagi ke sini sebelum jam 4," kata Rudi.


"Udah ngasih tau Sarah?" tanya Arini.

__ADS_1


"Ini baru mau ngasih tau dia. Sebentar, ya?" Lalu Rudi menelepon Sarah dan Sarah memberikan ijin setelah Rudi mengatakan alasannya.


Fabio sangat senang bisa bersama dengan Rudi. Rudi membawa Fabio jalan-jalan. Tiba-tiba Fathia menelepon dan mengatakan bahwa dia kesepian di rumah.


"Bio mau ketemu tante Fathia, nggak?" tanya Rudi.


"Mau!" jawab Fabio.


"Ayo kita bikin kejutan buat tante Fathia!"


"Hore... mau ketemu tante Fathia!' seru Fabio.


Tibalah mereka di rumah orang tua Rudi. Dari luar rumah itu tampak sepi seperti biasanya.


"Kejutan!" kata Rudi saat Fathia membukakan pintu untuk mereka.


"Abang? Katanya lagi sibuk! Dasar tukang bohong!" rajuk Fathia.


Sikap Fathia mendadak berubah saat melihat Fabio ada di belakang kakaknya.


"Bio...! Tante kangen deh sama kamu, Ayo masuk!" Fathia memeluk Fabio lalu menarik tangan Fabio dan membawanya masuk ke dalam rumah mereka


"Anak siapa itu, Nak?" kata ibu Rudi pada Fathia.


"Anaknya abang! Oh, iya Bio. Ini nenek Bio. Ayo salim!" perintah Fathia.


"Assalamualaikum, Nenek. Namaku Bio," ujar Fabio lalu mencium tangan ibu Rudi.


"Anak pinter...! Fathia, tolong jawab yang betul pertanyaan ibu! Anak siapa ini?" ibu Rudi nampak bingung. Dia tak menyadari bahwa Rudi ada di rumahnya.


Rudi diam saja dan memperhatikan dari tempat yang sedikit tersembunyi.


"Bio ini anaknya abang. Ponakan Fathia! Eh, Bu. Dia ini pinter dan lucu lho!" jelas Fathia.


"Nenek masak apa? Bio lapar. Boleh nggak Bio makan masakan Nenek? Temen-temen Bio suka cerita kalo masakan neneknya enak banget!" kata Fabio.


"Boleh dong, Anak Manis. Fathia, kasih makan sana!" perintah ibu Rudi.


"Siap, Bos!" kata Fathia.


"Nenek gak ikut makan? Ayo makan sama-sama, nanti biar Bio yang pimpin doa," ujar Fabio.


Sikap Fabio yang mudah akrab dan ceria membuat ibu Rudi mulai menyukainya dan menyetujui untuk makan bersama.


Rudi menyelinap keluar dari rumahnya, lalu memberitahu Fathia bahwa dia harus pergi dan menitipkan Fabio padanya

__ADS_1


Dengan masih kebingungan ibu Rudi mengikuti semua kemauan Fabio, bahkan ikut menemaninya bermain bersama Fathia.


__ADS_2