Misteri Sepatu Kecil

Misteri Sepatu Kecil
43


__ADS_3

Rudi merasa dirinya di atas angin. Rizal tak berkutik mendengar penjelasan Rudi yang tanpa emosi. Namun Rudi tak bisa memastikan apa yang ada di pikiran Rizal, menyesal ataukah hal lainnya? Setelah makanan dan minumannya habis, Rudi menunggu Rizal untuk bicara, tapi Rizal hanya diam seolah tak ada yang perlu dibicarakan lagi.


"Karena makanan dan minumanku sudah habis dan perut juga sudah kenyang, mungkin sudah waktunya aku pergi!" ujar Rudi lalu memasukkan ponselnya yang tadinya berada di atas meja.


Rizal menoleh padanya dan memintanya untuk menunggu.


"Tunggu. Ada yang aku ingin tanyakan padamu," cegahnya.


"Tanya apa? Katakan saja."


"Menurutmu apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Rizal.


"Aku tidak tau. Aku hanya bisa menyarankan... tanyakan pada hati nuranimu. Di situlah kamu akan menemukan kebenaran!" Rudi beranjak dari tempat duduknya dan menuju tempat pembayaran. Sementara Rizal masih termenung di tempat duduknya.


Setelah membayar semua pesanan, Rudi berpamitan pada Rizal dan meninggalkan tempat itu. Langkahnya terasa ringan dan hatinya pun puas setelah dia menjelaskan semuanya pada Rizal. Rudi yakin bahwa setelah ini Rizal tak akan berani mengusik keberadaan Fabio di dekat Sarah.


***


Rizal termenung di atas tempat duduknya, matanya menerawang ke langit-langit kamarnya. Malam ini dia menyendiri lagi di kamar apartemen pribadinya. Dia masih memikirkan apa yang telah dikatakan Rudi tadi siang. Dia merasa harga dirinya dicabik-cabik.


"Aku sudah kejam pada Sarah!" gumam Rizal.


"Aku tak pernah memikirkan perasaannya. Aku memang layak dicampakkan olehnya! Aku memang tak berguna!" Rizal mengutuki dirinya sendiri.

__ADS_1


Air matanya mengalir dari sudut matanya. Dipandanginya foto Sarah yang dibingkai besar olehnya. Wajah itu tak pernah berubah, selalu menenangkan. Diusapnya foto pernikahan mereka yang sederhana. Sarah tampak bahagia di sana. Meski acaranya sederhana dengan mas kawin tak seberapa, Sarah menerima dirinya dengan ikhlas.


"Aku memang tak tau diri, tak tau diuntung!"


Dia menangisi kebodohannya tanpa henti. Matanya sembab dan mulai meminum alkohol untuk menghilangkan beban pikirannya. Dikeluarkannya beberapa botol minuman dari tempat penyimpanan khusus, tak hanya itu, dia juga mengeluarkan beberapa minuman beralkohol kalengan dari dalam kulkasnya yang besar. Malam itu dia habiskan dengan minum minuman keras sampai tak sadarkan diri.


"Sarah... Sayang... Maafkan aku...! Aku ini bodoh... Sayang... Jangan tinggalkan aku... Sayang...!" hanya itu yang keluar dari mulut Rizal yang diucapkannya terus menerus.


Saat pagi dia tersadar dari pingsannya. Dilihatnya kamar berukuran studio itu sangat berantakan. Kaleng bekas minuman berserakan di lantai. Rizal berusaha memunguti kaleng itu, tapi dia malah terjatuh karena masih terpengaruh minuman semalam. Dengan sempoyongan dia berusaha menuju kamar mandi untuk mengguyur kepalanya dengan air dingin.


Setelah merasa tubuhya segar, Rizal keluar dari kamar mandi dan segera mengambil baju dari dalam lemarinya. Lemari yang sengaja dia kosongkan sebagian dengan tujuan untuk menyimpan baju-baju Sarah saat mereka kembali bersama. Rizal menatap sisi kosong lemari itu dengan sendu.


"Lemari ini tak akan pernah terisi baju-bajumu, Sayang. Aku akan membiarkannya kosong sampai kapanpun," gumamnya.


Hari ini Rizal emutskan untuk tidak pergi ke kantor. Dia hanya ingin sendiri di apartemennya, merenungkan semua yang telah dilakukannya. Pikirannya tak bisa berpaling dari Sarah dan Fabio. Dua orang yang sangat berarti baginya.


Saat ini dia berada di sebuah kafe yang menyediakan menu sarapan. Dipesannya secangkir kopi, air mineral dan roti bakar pisang cokelat. Menu yang dulu sering Sarah siapkan untuknya selain nasi goreng pedas.


Kembali dia mengingat masa-masa indah itu. Sarah akan menemaninya sarapan dengan senyum manisnya. Membuatkan kopi untuknya dan menyajikannya di hadapannya. Rizal sangat merindukan saat-saat itu.


Rizal menarik napas panjang, dia mulai menikmati sarapannya. Suap demi suap selalu mengingatkannya pada Sarah dan hal itu membuat Rizal semakin merasa bersalah.


Rizal ingin sekali bertemu dengan Sarah, memeluknya dan meminta maaf padanya. Tapi sepertinya Sarah tak akan Sudi lagi bertemu dengannya. Sesaat pandangannya mengamati suasana kafe itu. Tak sengaja dia menangkap bayangan sosok yang dikenalnya di sebuah cermin yang dijadikan ornamen kafe itu. Segera dia memotret sosok itu dengan ponselnya.

__ADS_1


Rizal buru-buru menghabiskan makanannya dan segera pergi dari kafe itu. Lalu dia pergi ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan yang sudah habis di apartemennya. Termasuk stok minuman beralkohol yang menjadi teman di kala dirinya sedang banyak masalah.


***


Rudi mengabari Sarah tentang pertemuannya dengan Rizal. Diceritakannya apa yang telah mereka bicarakan tadi siang. Sarah mendengarkan dengan seksama semua yang dikatakan Rudi.


"Jadi aku rasa dia menyesali perbuatannya," ujar Rudi


"Aku belum merasa yakin kalau dia akan mengurungkan niatnya untuk mengambil Bio. Aku masih takut!"


"Kalau begitu kita tunggu beberapa hari, aku akan terus mengawasinya. Sekarang dia sudah punya nomor hoki, jadi kurasa kalau dia ingin menanyakan sesuatu tentang kamu dan Bio, dia pasti akan menghubungiku," jelas Rudi.


"Ya," jawab Sarah singkat.


"Kamu sama Bio baik-baik, ya di situ? Kalau ada apa-apa segera hubungi aku, kapan saja!"


"Ya. Terimakasih udah bantu aku, ya Mas?" ucap Sarah.


"Ya. Salam buat semua, ya? Titip cium buat anak aku! Assalamualaikum," Rudi menutup pembicaraan mereka malam itu.


Sarah merasa sedikit lega mendengar kabar dari Rudi. Ada sedikit keberanian dalam dirinya untuk kembali ke rumahnya. Karena dia tidak mungkin tinggal berlama-lama di rumah bu Sani meskipun bu Sani tak keberatan.Dipandanginya anaknya yang sedang tertidur pulas, lalu dibelainya dengan lembut.


Sarah membaringkan tubuhnya di samping Fabio, namun matanya belum juga bisa terpejam. Dia masih memikirkan kemungkinan yang akan terjadi setelah Rudi bertemu dengan Rizal seperti yang diceritakan tadi.

__ADS_1


"Kenapa kamu selalu kejam padaku? Aku sudah mengikhlaskan apa yang telah kau lakukan padaku. Tapi aku tak akan mrngampunimu kalau kamu tetap ingin memisahkanku dari anakku!"


__ADS_2