Misteri Sepatu Kecil

Misteri Sepatu Kecil
8


__ADS_3

Pagi itu setelah sarapan Sarah dan Fabio berpamitan untuk pulang ke rumahnya.


"Sering-sering main ke sini ya, Nak," kata ibunya Arini.


"Iya, Bu. Insha Allah satu atau dua bulan lagi Sarah juga akan pindah ke dekat sini. Nanti ibu dan Arini bisa ketemu saya dan Fabio sampai kalian bosan," jawab Sarah sambil mencium tangan ibu Arini.


"Bio pulang dulu ya, Nek. Tapi besok Bio ketemu lagi sama bunda Arini. Bio sayang banget sama bunda," Fabio mencium tangan ibu Arini dan memeluk lalu mencium tangan Arini.


"Bunda juga sayang sama Bio. Jadi anak yang sholeh ya, Nak," ujar Arini.


"Dadah nenek, dadah bunda." Fabio melambaikan tangannya pada mereka berdua, Arini dan ibunya pun membalas lambaiannya.


***


Hari gajian pun tiba, Vina dan Leni dengan semangat memeriksa rekening banknya melalui e-bankingnya.


"Yeay, udah gajian!" seru Vina.


"Coba aku cek rekeningku," kata Sarah. Dia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi banknya.


"Aku juga udah gajian. Alhamdulillah," ujar Sarah.


"Pulang kerja kita jalan, yuk?" Vina mengajak kedua sahabatnya.


"Tapi pulangnya jangan terlalu malam, ya? Kasihan anakku."


"Siap, Bos!" jawab Vina dan Leni.


"Gue janji, pulangnya gue anterin deh sampai rumah lu dengan selamat."


Sarah tersenyum dan mengangguk setuju


***


Saat istirahat makan siang tiba, Rudi bergegas ke mushola. Dia berharap bisa menemukan sepatu kecil itu lagi Dia bertekad untuk menunggu wanita mungil pemilik sepatu itu, jika hari ini dia melihat sepatu itu. Sayangnya dia tak bisa menemukan sepatu itu di sana. Rasa kecewa dan penasaran berkecamuk dalam batinnya.


"Dimana kamu sepatu kecil?" gumam Rudi.


Tentu saja Rudi tak akan menemukan sepatu itu karena Sarah sudah tidak lagi membawa serta sepatunya ke mushola, dia memakai sandal jepit yang dibawanya dari rumah. Selain lebih nyaman, dia juga tak mau kejadian tempo hari terjadi lagi padanya.


***


Jam kerja hari itu sudah usai, Vina, Leni dan Sarah pun pergi ke sebuah mall dengan menumpang mobil Vina.

__ADS_1


Mereka melihat-lihat baju, sepatu dan tas. Vina membeli beberapa baju dan sebuah tas.


"Kamu gak beli, Sar?" tanya Leni pada Sarah yang belum membeli satu barang pun


"Aku pengen beli sepatu sih, tapi kayaknya gak sekarang deh, waktunya terlalu mepet," jawab Sarah.


"Ayo, gue anterin," ajak Vina.


"Nggak usah, lain kali saja. Sepatu ukuran kakiku agak susah nyarinya."


"Masa sih? Emang kaki kamu kenapa?" tanya Leni penasaran.


Vina dan Leni melirik kaki Sarah. Mereka baru menyadari kalau kaki Sarah sangat kecil dibandingkan dengan ukuran kaki orang dewasa pada umumnya.


"Sar, gak salah tuh kaki? Lu pake nomor berapa?" tanya Vina.


"35. Tapi itu juga cocok-cocokan, kadang 35 itu kebesaran, kadang juga kekecilan, harus lihat model sepatunya juga. Makanya kayaknya aku gak akan beli sekarang deh."


"Nomor segitu biasanya buat anak-anak. Lu mau gue anter ke ruko sepatu anak-anak?"


"Nggak usah. Lain kali aja. Lagipula gak penting-penting amat. Yang ini juga masih enak dipake koq," cegah Sarah.


Akhirnya Sarah memutuskan untuk membeli satu stel baju kerja yang sedang diskon, begitu juga dengan Vina dan Leni. Selebihnya dia hanya menemani Leni dan Vina berbelanja.


Saat sedang asyik berkeliling mall, Arini menelepon Sarah.


"Maaf ya, Ar. Aku terlalu asyik jalan, sampe lupa waktu," jawab Sarah.


"Gak apa-apa, Sar. Lagipula kamu juga jarang kan pergi jalan-jalan. Nikmati aja, kamu harus refreshing sekali-kali."


"Makasih ya, Ar. Maaf, aku jadi ngerepotin kamu," sesal Sarah.


"Sudahlah, jangan dipikirkan. Kamu jemput Fabio besok aja, takutnya kamu kemalaman sampai sini," kata Arini menutup pembicaraan.


"Iya, Ar. Makasih ya, udah mau jagain Fabio. Assalamualaikum."


"Siapa, Sar? Pengasuh anak lo, ya?" tanya Vina.


"Iya. Dia teman SMA-ku, kebetulan dia mengelola tempat penitipan anak tempat aku nitipin anakku."


"Gak ada masalah, kan sama anak lo?"


"Gak ada sih, dia cuma ngasih tau kalau anakku udah tidur, jadi anakku akan menginep di rumahnya."

__ADS_1


"Bagus dong. Kita jadi bisa jalan lagi" seru, Leni.


"Kita makan yuk, gue lapar. Emangnya kalian gak lapar?" Vina mengajak kedua temannya ke kafe favoritnya yang ada di mal itu.


Mereka memilih tempat duduk di dekat kaca yang menjadi pamisah kafe dengan area jalan pengunjung mal itu Mereka memesan beberapa makanan dan minuman. Tak lama pesanan mereka datang dan mereka langsung mengisi perutnya yang sudah koroncongan minta diisi.


"Eh, gimana kalau lo berdua nginep di apartemen gue? Biar bisa ngobrol banyak. Kasian besok kan libur," pinta Vina saat mereka selesai makan.


"Boleh juga ide kamu, Vin. Gimana, Sar? Kamu mau, kan?" tanya Leni.


"Iya deh," Sarah menyetujuinya.


Setelah membayar pesanannya, mereka keluar dari kafe itu. Leni masih ingin melihat-lihat sepatu di toko dekat kafe itu.


"Eh, kita ke sana dulu, yuk? Tadi aku lihat ada sepatu yang lucu." Leni menunjuk sebuah toko sepatu yang tampak cukup ramai pengunjungnya.


Deg.


"Dia di sini!" ucap Sarah lirih.


"Lo lihat siapa, Sar?" tanya Vina saat melihat pandangan Sarah tertuju pada satu titik.


"Mantan suamiku. Ayo kita pergi dari sini!" ajak Sarah dengan gelisah.


"Ya udah. Len, cepet bayar sepatunya, kita pulang sekarang!" Vina menyuruh Leni untuk segera membayar sepatunya. Leni mengangguk dan buru-buru pergi ke kasir.


Sarah melihat Rizal bersama seorang wanita yang bergelayut mesra pada lengannya.


Seperti ada sesuatu yang menuntunnya, Rizal pun melihat ke arah Sarah dan teman-temannya.


Deg.


Jantungnya serasa berhenti, dia memandangi Sarah dari kejauhan dengan mata tak berkedip.


Mengetahui Rizal menyadari keberadaannya, Sarah semakin gelisah. Beruntung Leni sudah selesai membayar belanjaannya. Dengan terburu-buru mereka keluar dari mal itu menuju parkiran.


Sementara Rizal di tempat lain, dia mencari alasan agar bisa meninggalkan wanita yang bersamanya dan segera menemui Sarah.


"Sayang, aku ke toilet dulu, ya? Kamu masuk saja duluan, nanti aku nyusul."


Wanita di sampingnya mengangguk dan masuk ke sebuah restoran mewah itu sendirian.


Setengah berlari Rizal menuju ke tempat dia melihat Sarah, tapi Sarah sudah tak berada di sana. Rizal melihat sekeliling tempat itu, tetap saja dia tak melihat sosok Sarah yang sangat dirindukannya.

__ADS_1


"Sarah, kamu dimana, sayang? Aku kangen kamu. Jangan pergi lagi!" bisiknya dengan raut wajah sedih.


Sarah dan teman-temannya dengan terburu-buru keluar dari parkiran dan meluncur menuju apartemen Vina.


__ADS_2