
Meski belum mendapatkan kepastian dari Sarah, Rudi tak berpatah arang. Dia masih memelihara perasaan kasihnya untuk Sarah dan Fabio. Bahkan semakin hari perasaannya semakin menjadi-jadi. Merindui mereka berdua menjadi bagian hari-harinya meski sebenarnya dia bisa menemui mereka setiap malam melalui video call.
'Sar, aku boleh video call, ya? Aku kangen kalian.'
Sarah membaca pesan itu dari Rudi dan segera membalasnya.
'Ini sudah malam. Besok saja.'
Rudi merasa kecewa, namun perasaan rindunya sudah tak terbendung.
'Boleh, ya? Please.''
'Ya sudah. Tapi sebentar saja, ya? Ini sudah malam.'
'Oke, Jodohku.'
Sarah tersenyum simpul membaca pesan terakhir Rudi.
"Dia menyebutku 'Jodohku'?* gumamnya.
Tak lama panggilan video pun terdengar. Sarah segera membenahi pakaiannya lalu menerima panggilan itu. Terlihat wajah Rudi yang tampak lelah.
"Assalamualaikum, Jodoh," sapanya.
"Wa'alaikumsalam. Baru pulang, Bang?"
"Iya. Kalian belum tidur?"
"Belum. Ini udah mau tidur."
"Mana anakku?"
"Ada, sedang nonton tv. Sebentar, ya?"
Sarah memberikan ponselnya pada anaknya yang sedang menonton televisi.
"Siapa, Ma?" tanya Fabio.
"Om Rudi," jawab Sarah.
"Papa," sapa Fabio pada Rudi.
"Assalamualaikum, anak Papa yang ganteng."
"Wa'alaikumsalam, Papa."
"Kenapa anak papa belum bobo? Ini udah malam, Sayang."
"Iya, nanti Bio bobo, koq."
"Anak-anak bobonya gak boleh kemaleman, nanti bisa sakit lho. Kalau Bio sakit kasian mama, kan? Mama nggak bisa kerja, harus jagain Bio terus. Papa juga akan sedih kalau Bio sakit. Anak papa mau nurut, gak?"
__ADS_1
"Mau," jawab Fabio sambil menganggukkan kepalanya.
"Kalau gitu sekarang Bio bobo, ya?"
"Iya, tapi papa harus liatin Bio bobo, ya?" pinta Fabio.
"Iya deh. Papa liatin nih sampai Bio bobo."
Tak lama Fabio tertidur tanpa perlu dininabobokan oleh Sarah
"Sekarang mamanya yang bobo, ya?" goda Rudi.
Sarah tersenyum menanggapi godaan Rudi.
"Bang Rudi juga tidur, kelihatan capek banget tuh."
"Iya. Hari ini capek banget. Ada beberapa meeting, terus tempatnya jauh-jauh. Tapi alhamdulillah hasilnya menggembirakan."
"Alhamdulillah."
"Oh iya, kamu mau nggak pindah divisi?"
"Pindah divisi? Kemana?" tanya Sarah penasaran.
"Ke bagian editing. Yang kantornya satu lantai denganku."
Sarah bisa menangkap maksud Rudi ingin memindahkannya. Yaitu agar bisa sering bertemu dan bisa dengan leluasa mengawasinya
"Ayolah, Sar. Pindah aja, ya? Lagipula editing itu ada nulisnya juga." pinta Rudi.
"Tapi editing itu nulis cuma untuk memperbaiki tulisan orang lain. Aku sukanya nulis tulisanku sendiri."
"Dicoba dulu aja. Nanti kamu juga suka."
"Nggak ah. Jadi penulis aja. Lagian kenapa tiba-tiba nyuruh pindah?"
"Biar bisa dekat, jadi aku tak harus menahan kangen selama seminggu."
Seperti dugaan Sarah, Rudi ingin memindahkan Sarah dengan tujuan agar bisa berdekatan dengannya.
"Nggak ah. Aku tetap jadi penulis aja. Udah ya, aku mau tidur. Udah ngantuk nih."
"Iya deh. Sampai besok, ya Jodohku "
Tanpa menjawabnya Sarah langsung menutup panggilan video itu. Namun bukannya tidur, Sarah justru melamun. Kedekatan Rudi membuatnya menjadi bingung dengan perasaannya sendiri.
Sarah tak menampik bahwa perasaannya untuk Rudi telah bersemi indah, tapi dia tak berani untuk mengakuinya. Itu semua karena dia merasa ragu dengan kemampuannya untuk melayani Rudi yang nantinya akan menjadi suaminya. Ketakutan terbesarnya adalah ditinggalkan kembali oleh orang yang dicintainya. Ikhlas adalah kata yang mudah diucapkan, tapi tak mudah untuk dijalankan. Akan butuh waktu untuk menjalani arti kata ikhlas yang sesungguhnya.
Terlintas dalam pikiran Sarah untuk menjauhi Rudi secara perlahan. Dengan begitu dia akan bisa menguji perasaannya sendiri dan membuat dirinya yakin dengan langkah yang akan diambil selanjutnya.
Sarah mulai memikirkan cara dan rencana untuk melakukannya, termasuk membuat Fabio perlahan melupakan Rudi, meski dia tahu bahwa itu akan sulit dan membutuhkan perjuangan.
__ADS_1
"Ya, aku harus melakukannya. Inilah jalan yang terbaik untuk kami," gumamnya.
Esoknya Sarah bekerja seperti biasanya, dia masih menjawab pesan-pesan dari Rudi yang masuk ke ponselnya, meski hanya singkat dan berkesan seperlunya tanpa satu pun pertanyaan balasan yang akan mengundang percakapan lebih jauh. Rudi tak merasakan perbedaan apa-apa dari balasan pesan yang Sarah kirimkan, karena dia tahu bahwa Sarah adalah tipe wanita yang tak akan berkirim pesan jika tidak perlu.
Hal itu berlangsung setiap hari, dan Rudi masih tetap menganggapnya wajar. Begitu pun saat Rudi melakukan panggilan video dan Sarah menolaknya dengan alasan capek, sudah mengantuk dan bahkan tak menjawabnya sama sekali, Rudi tak pernah mempermasalahkannya meski itu berarti dia harus menahan rasa kangennya.
Tak hanya itu, Sarah pun mulai menjalankan rencananya untuk menjauhkan Fabio dari Rudi. Dia menjadi sering membuat alasan dan berbohong saat Fabio menanyakan Rudi.
"Ma, kenapa papa gak telepon Bio?" tanya Fabio suatu hari.
"Om Rudi sedang banyak kerjaan, Nak. Kita gak boleh mengganggunya."
"Kalau gitu ayo kita ke rumahnya, Ma. Kita bantuin papa biar kerjaannya cepet selesai!" ujar Fabio bersemangat.
"Kita gak bisa bantu, Sayang. Karena hanya om Rudi yang bisa mengerjakannya. Kita bisa bantu dengan mendoakan dan gak mengganggunya. Oke?"
"Tapi Bio kangen papa? Telepon sebentaaar aja," pinta Fabio.
"Nggak boleh, sayang. Nanti kalau kerjaannya udah selesai, om Rudi pasti telepon Bio."
"Ma, kalau nanti mama ketemu papa, bilang sama papa, Bio marah kalau papa kerjaannya banyak terus," rajuk Bio sambil memajukan bibirnya.
"Iya deh, insha Allah nanti mama bilangin."
Sejauh ini rencana Sarah berjalan mulus, apalagi dua akhir pekan berturut-turut Rudi tak bisa menemui mereka karena harus melakukan perjalanan dinas dan mengantar orangtuanya untuk berobat di Singapura. Meskipun berjauhan Rudi selalu menyempatkan untuk mengirim pesan, menelepon dan melakukan panggilan video. Semuanya tampak biasa saja, tak ada yang berubah.
Akhir pekan ketiga Rudi mendatangi rumah Sarah dan karena berniat untuk memberi kejutan, dia tak memberitahu Sarah tentang kepulangannya. Dengan percaya diri dia mengetuk rumah Sarah. Tak lupa dia pun membawa beberapa paper bag yang berisi oleh-oleh yang telah dibelinya selama di luar kota dan juga Singapura.
Berkali-kali dia mengetuk pintu, namun tak ada tanda-tanda bahwa pintu akan dibuka. Rudi mulai memanggil Sarah dan Fabio, tapi tak ada sahutan dari arah dalam. Diambilnya ponsel dan dia berusaha menghubungi Sarah, tapi dia tak berhasil. Rasa khawatir mulai menghinggapinya. Berbagai pikiran buruk terlintas di pikirannya. Dalam kebingungannya dia mengambil kembali ponselnya.
"Assalamualaikum, Vin." Rupanya Rudi menelepon Vina.
"Wa'alaikumsalam, Bang." Suara Vina terdengar di ponselnya.
"Vin, kamu tau nggak Sarah pergi ke mana? Aku lagi di rumahnya ini, tapi sepertinya tak ada orang."
"Gue gak tau, Bang. Kemarin dia mengajukan cuti selama seminggu. Gue kira kalian janjian dan dia mau nyusul Abang."
"Nggak koq, gak ada janji. Dia juga gak bilang kalau mau mengajukan cuti."
"Coba aja ditelepon."
"Sudah, tapi gak terhubung. Mungkin ponselnya mati. Duh, kemana, ya dia?"
"Sumpah. Gue gak tau. Gue kira dia udah ngasih tau, makanya gue gak tanya-tanya sama dia. Coba nanti gue telepon dia, siapa tau hpnya udah nyala. Entar gue kabarin deh."
"Oke. Makasih, ya? Sorryr ganggu."
"it's okay, bro..No need to say sorry. Okay, see yah'."
Rudi memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong celananya dan pergi meninggalkan tempat itu dengan rasa kecewa bercampur bingung.
__ADS_1