
Sarah memeluk Feni, begitu juga dengan Vina yang ikut memeluknya.
"Sekarang tenangkan dirimu, Fen. Kita masih di kantor. Nanti kita bicarakan lagi, ya? Nggak enak dilihat orang kalau kamu menangis begitu. Entar disangka ada apa-apa," ujar Sarah berusaha menenangkan.
Feni mengangguk dan menyeka air matanya, dia berdiri dan berjalan ke arah toilet untuk mencuci mukanya dan memperbaiki riasan wajahnya agar tak terlihat sembab.
"Gimana, Sar?"
"Apanya yang gimana? Kita harus membantunyalah."
"Caranya?" tanya Vina.
"Itulah yang harus kita pikirkan. Ini tak bisa kita biarkan lebih jauh lagi. Kasihan dia, pasti tersiksa. Harus menjalani hidup yang bertolak belakang dengan hati nuraninya."
***
Setelah kejadian itu sikap Feni menjadi lebih ceria dan terbuka pada Sarah dan Vina. Meskipun masalahnya belum selesai, Feni merasa menemukan kenyamanan dalam persahabatan mereka. Tak jarang dia menginap di apartemen Vina atau di kontrakan Sarah. Sarah dan Vina pun tak segan memberi saran atau bantuan pada Feni.
"Sar, Fen, nih." Vina menyodorkan dua buah kartu pada Sarah dan Feni.
"Apaan nih? Undangan ya? Kamu mau nikah? Alhamdulillah. Kenapa gak pernah cerita? Ih curang!" goda Sarah pada Vina.
Vina melotot pada Sarah.
"Kak Vina mau nikah? Kapan?" Vina beralih melotot pada Feni sambil menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil yang merajuk.
Melihat hal itu Sarah dan Feni tertawa lalu membuka undangan itu.
"Oh ulang tahun, Fen. Bukan undangan nikah ternyata," kata Sarah pada Feni.
"Makanya dibaca dulu, jangan asal tebak aja!" Vina memajukan bibirnya.
"Iya deh... Siapa yang ulang tahun nih?"
"Baca yang benerrr!!" jawab Vina gemas.
__ADS_1
"Kamu? Ulang tahun?" Sarah tertawa.
"Kirain gak punya tanggal lahir," sambung Sarah.
"Terus aja ngeledek!"
"Kamu udah gede masih ngerayain ulang tahun aja, pake pesta segala lagi."
"Iya, kak. Ada badutnya, nggak? Aku takut badut, kak. Serem..." goda Feni tak mau kalah dengan Sarah.
"Iya, ledekin teruuus... Kerjaan papa gue itu, udah gue bilang gak usah, masih aja dirayain. Emang gue bocah apa, ya?" gerutu Vina.
"Vin, orangtua itu selalu menganggap anaknya masih kecil meskipun mereka juga tau bahwa anaknya sudah dewasa," jelas Sarah.
"Iya, kak. Kakak beruntung punya orangtua yang peduli, gak kayak orangtua aku." Suara Feni terdengar sedih.
"Bagaimana pun orangtua kita, kita harus berterima kasih pada mereka."
"Tapi gue gak suka diperlakukan kayak bocah, Sar!"
"Nggak apa-apa. Dihargai aja niat baik mereka."
***
Sarah membawa serta Fabio atas permintaan Vina. Vina ingin malam itu Fabio bersenang-senang dan makan yang banyak.
"Eh, ponakan tante yang ganteng ada di sini," sambut Vina pada Fabio.
Fabio menyodorkan kado pada Vina, "Ini buat Tante!"
"Apa ini?" tanya Vina.
"Tante..., itu tuh namanya kado. Masa tante gak tau, tante kan udah gede," kata Fabio dengan polosnya.
"Ih... kamu ya, bikin tante gemes aja! Sar, ajak Bio ambil makanan sana!" Sarah mengangguk.
__ADS_1
Sarah menyalami Vina dan mengucapkan selamat ulangtahun lalu membawa Fabio ke tempat makanan.
Acaranya berlangsung cukup sederhana, lebih berkesan kekeluargaan. Tak ada bingar bingar, hanya ada musik lembut yang mengalun, membuat para tamu betah berada di sana.
"Ma, itu kan om yang waktu Bio hilang!" Fabio menunjuk ke arah Rudi.
"Om itu teman Bio. Bio mau ke sana," ujar Fabio lalu berlari ke arah Rudi.
Sarah ingin mencegahnya, tapi sudah terlambat. Fabio sudah berada di dekat Rudi. Sarah mengejar Fabio, dia takut Fabio akan melakukan hal yang akan membuatnya malu.
"Om! Om kemana aja? Katanya mau temenan sama Bio!" Fabio menarik-narik celana Rudi.
Rudi terkejut melihat seorang anak kecil menarik-narik celananya.
"Hai.. kamu anak yang waktu itu, ya? Siapa nama kamu? Bio, ya?" ujar Rudi. Dia berjongkok sejajar dengan Fabio.
"Iya, Om."
"Bio ke sini sama siapa?" Rudi mulai melihat ke sekeliling tempat itu.
"Sama mama, itu di sana!" Fabio menunjuk ke arah Sarah yang sedang menuju ke arahnya.
"Bio.. jangan ganggu Om. Maafkan anak saya, Pak," ujar Sarah lalu menarik tangan anaknya agar menjauh dari Rudi..
"Nggak apa-apa. Saya juga kangen pada Bio." Rudi menggendong Fabio lalu mengelus kepalanya.
"Teman atau saudaranya Vina?" tanya Rudi pada Sarah.
"Teman", jawab Sarah.
"Tante Vina itu temannya mama, nanti kalau udah besar tante Vina akan menikah sama Bio, soalnya tante Vina suka cium-cium Bio," ujar Fabio polos. Rudi tertawa mendengar hal itu.
"Hush, Bio... gak boleh bilang gitu! Maaf, Pak. Anak saya suka asal bicara. Ayo turun, Nak. Kita ke sana. Tante Vina manggil tuh! Permisi ya, pak", ajak Sarah yang dijawab Rudi dengan anggukan.
Fabio turun dari gendongan Rudi, lalu mengikuti ibunya menuju ke arah Vina yang sedang bersama Feni. Mereka lalu berfoto bersama dengan berbagai gaya yang menggelikan. Fabio pun tak mau kalah, dia berpose lucu dan nelengkapi foto-foto kegembiraan mereka bertiga.
__ADS_1
Sepeninggal Sarah dan Fabio, Rudi merasakan ada sebuah rasa di hatinya. Rasa bahagia yang tak diketahui penyebabnya.
Rudi menatap Sarah dan Fabio dari kejauhan.