
Sandi sudah kembali ke kotanya. Dia berjanji akan sering mengunjungi Sarah dan Fabio saat punya waktu luang.
"Ayah pulang dulu ya, Sayang," ujar Sandi pada Fabio.
"Tapi ayah perginya jangan lama-lama, ya? Ayah ajak aja nenek ke sini, biar bisa tinggal di sini sama Bio," Sandi mengangguk sambil melirik Sarah. Sarah pura-pura tak mendengar dan menatap ke arah lain.
"Sar, kakak pulang dulu, ya? Kakak akan berusaha untuk sering-sering jengukin kalian di sini. Jagain Bio untukku, ya?" Sarah mengangguk dan mengantar Sandi ke mobilnya.
Fabio melambaikan tangannya untuk melepas kepergian Sandi. Sarah menghela napas panjang seperti merasa telah terbebas dari sebuah himpitan. Dia tahu bagaimana perasaan dan perhatian Sandi untuknya dan Fabio, tapi dia tak pernah bisa merasakan perasaan khusus untuk Sandi. Berkali-kali menolak pria itu membuatnya menjadi semakin yakin untuk segera meninggalkan rumah yang selama ini ditempatinya. Dia tak ingin lagi menjadi beban Sandi dan bu Sani.
****
Sarah kembali disibukkan dengan pekerjaannya. Dengan bertambahnya uang yang didapatnya bertambah juga pekerjaan yang harus diselesaikannya. Meskipun begitu Sarah menjalaninya dengan senang hati.
"Sar, kamu ada ide gak buat tulisan bertema charity? Kita semua diwajibkan membuat satu tulisan untuk misi amal", kata Leni.
"Oh ya? Aku baru tau sekarang", kata Sarah.
*Kan udah diumumin waktu briefing mingguan. Lo kemane aje, Mpok?" Vina menimpali. Sarah bengong sambil mengingat-ingat briefing waktu itu
"Oh iya, aku baru ingat. Waduh, pikiranku dipenuhi masalah pindahan rumah sampai-sampai lupa soal tulisan misi amal itu", ujar Sarah.
Sarah teringat pada bunda Aisyah, orang yang telah berjasa membesarkannya bersama anak-anak yatim piatu lainnya di panti asuhan yang dikelolanya.
"Sudah lama sekali aku tak mengunjungi panti. Aku juga sudah lama tak bertemu ataupun menghubungi bunda Aisyah", gumam Sarah.
Terbersit di pikirannya untuk mengangkat panti bunda Aisyah ke dalam tulisannya. Dia ingin panti yang selama ini menjadi tempat bernaungnya dikenal banyak orang, agar bunda Aisyah tak repot dan pusing untuk mencari donatur untuk panti mereka.
****
Pagi itu Sarah dan Fabio sudah ada di depan sebuah panti.
"Ini tempat apa, Ma?" tanya Fabio.
"Ini namanya panti asuhan. Ini tempat tinggal anak-anak yang gak punya orangtua. Dulu mama juga tinggal di sini," jelas Sarah sambil menuntun Fabio memasuki halaman panti itu.
"Assalamualaikum," Sarah memberi salam di ambang pintu.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," terdengar seorang wanita dari dalam panti.
"Sarah! Ya Allah, Nak, kamu datang," ucap wanita itu memeluk Sarah sambil menitikkan air mata.
"Iya, Bunda. Sarah pulang," Sarah mencium tangan wanita yang dipanggilnya bunda itu.
Itulah bunda Aisyah, wanita berusia 50 tahunan
"Sudah lama sekali kamu tidak ke sini, Nak. Bunda kangen sekali padamu."
"Sarah juga kangen, Bunda."
"Siapa anak ganteng ini?" tanya bunda Aisyah.
"Namaku Bio." Fabio menyodorkan tangannya dan mencium tangan bunda Aisyah.
"Masya Allah, pintarnya. Anakmu, Sar?"
"Iya, Bun. Namanya Fabio".
"Sar, Rizal..?" tanya bunda Aisyah. Sarah sudah paham dengan maksud pertanyaan bunda Aisyah.
"Mas Rizal meninggalkan Sarah saat Fabio berada dalam kandungan, Bunda. Dia sudah memilih wanita pilihan keluarganya. Mungkin ini sudah jalan hidup Sarah. Sarah sudah mengikhlaskannya."
"Sabar ya, Nak. Allah pasti punya rencana yang lebih indah untuk kamu."
"Maaf ya, Bun. Sarah baru bisa silaturahmi. Sarah terlalu sibuk menata kembali hidup Sarah. Insha Allah Sarah akan lebih sering datang ke sini," Sarah berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Sar, beberapa kali Rizal datang ke sini. Dia mencarimu, tapi dia tak bicara apa-apa tentang masalah kalian. Sebetulnya Bunda sudah curiga, pasti ada apa-apa dengan kalian sampai kamu pergi meninggalkannya. Bunda tau kamu gak mungkin melakukan itu kalau Rizal tak melakukan sesuatu. Saat ibu bilang kamu tak ada di sini dia tak percaya. Dia menunggumu di sini sampai larut malam." Sarah diam saja mendengar cerita bunda Aisyah itu.
"Rizal hanya bilang ada sesuatu yang harus dia jelaskan padamu. Mungkin dia mau menjelaskan mengenai keputusannya meninggalkanmu."
"Mungkin, Bun. Karena mas Rizal tak pernah membicarakan rencananya dengan Sarah. Sarah mengetahui mas Rizal sudah menikah lagi karena Sarah ada saat mas Rizal mengucapkan ijab qabul dengan wanita itu. Sarah juga tau diri, Bun. Wanita itu memang lebih layak untuk menjadi istri mas Rizal dibandingkan Sarah. Makanya Sarah mengikhlaskannya."
"Tapi anakmu..?" tanya bunda Aisyah.
"Tidak apa-apa, Bun. Insha Allah Sarah mampu membesarkannya," jawab Sarah.
__ADS_1
Mendengar hal itu bunda Aisyah menitikkan air mata dan memeluk erat Sarah.
"Bunda tau Sarah pasti kuat. Sarah anak bunda yang shalihah. Allah pasti selalu bersamamu, Nak. Bunda akan selalu berdoa untukmu dan anakmu," bisik bunda Aisyah.
Sarah tak bisa membendung air matanya, dia menangis dipelukan bundanya itu.
Diusapnya air matanya. Sarah tak mau larut dalam kesedihan yang seharusnya sudah tak membuat dirinya menitikkan air mata. Air matanya terlalu berharga untuk menangisi laki-laki yang sudah meninggalkannya.
"Bunda, kantor Sarah menugaskan tim penulisnya untuk membuat tulisan bertema amal, boleh kan Sarah menulis tentang panti ini?" tanya Sarah.
"Tentu, Sayang. Kamu boleh menulisnya, lagipula kamu kan bagian dari panti ini, jadi kamu tau apa yang harus ditulis tanpa harus mewawancarai bunda. Iya, kan?"
"Iya, Bun. Tapi mungkin nanti ada beberapa hal yang harus Sarah tanyakan pada bunda juga."
"Kamu bisa tanyakan apa aja sama bunda, Nak."
Sarah melihat Fabio sangat ceria bermain dengan anak-anak panti asuhan itu, tapi karena hari sudah sore, Sarah berpamitan untuk pulang bersama Fabio.
"Sering-sering datang ke sini, ya? Kasihan bundamu yang sudah tua ini."
"Bunda tak pernah menjadi tua untuk Sarah, Bunda selalu menjadi bunda Sarah seperti dulu. Sehat terus ya, Bun," Sarah memeluk, mencium pipi dan tangan bunda Aisyah.
"Cucu nenek yang ganteng, jagain mamanya ya, Sayang? Patuh sama mama," pesan bunda Aisyah pada Fabio yang menjawabnya dengan anggukan.
"Sarah pulang dulu, Bun? Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab bunda Aisyah dan anak-anak panti asuhan.
"Dadah Bio. Main ke sini lagi, ya..." kata anak-anak panti sambil melambaikan tangan mereka.
************
Pembaca yang baik hati,
Mau ingatkan lagi nih buat klik like, favorit dan beri komentar yaaa...
Terima kasih ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1