
Rudi selalu memikirkan Sarah dan Fabio. Perasaan rindu dan khawatir berbaur menjadi satu. Dia tak tahu harus kemana mencari mereka. Sarah dan Fabio seperti hilang ditelan bumi. Dia berusaha untuk selalu berpikiran positif tentang mereka dan mendoakan semoga mereka baik-baik saja.
Dalam kegalauannya Rudi tetap bekerja seperti biasanya. Konsentrasinya tak bisa terfokus karena pikirannya selalu tertuju pada keberadaan Sarah dan Fabio. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada tulisan IBU di layar ponselnya.
"Assalamualaikum, Bu."
"Wa'alaikumsalam, Nak." Terdengar suara perempuan dari seberang sana yang tak lain adalah ibunya.
"Iya, Bu. Ada apa?"
"Semalam ibu udah bicara dengan ayah. Kami sudah memutuskan untuk menyegerakan meresmikan hubunganmu dengan Arini. Kamu setuju, kan Nak?"
Deg.
Jantung Rudi serasa berhenti tiba-tiba. Rudi tak tahu bagaimana menjawab pertanyaan ibunya itu.
Karena terlalu fokus membangun hubungan dengan Sarah, dia melupakan rencananya dan Arini untuk menjelaskan pada orangtuanya bahwa mereka tak bersedia untuk dijodohkan. Akibatnya sekarang orangtua Rudi menganggap bahwa hubungannya dengan Arini baik-baik saja dan semuanya berjalan sesuai kemauan mereka.
"Maaf, Bu. Rudi akan bicarakan dulu dengan Arini."
"Kalau hubungan kalian baik-baik saja, ibu rasa tak perlu dibicarakan lagi. Arini itu anak yang baik. Ibu yakin dia akan setuju dan gak akan menolak permintaan kami para orangtua. Sekarang keputusannya ada padamu. Makanya ibu bertanya padamu."
"Tapi Bu..."
"Sudahlah, Rud. Apa yang kamu pertimbangkan lagi? Arini itu wanita yang baik untukmu. Apalagi yang kau cari?" Ibu Rudi memotong pembicaraan Rudi.
"Bukan begitu maksud Rudi, Bu." Rudi berusaha untuk menjaga intonasi suaranya agar tak meninggi.
"Lalu apa? Kamu masih mau terjebak di masa lalumu? Apa kamu masih mengharapkan wanita yang sudah tega mengkhianatimu?"
"Tidak, Bu. Rudi tidak mengharapkannya sama sekali. Ini masalah lain. Begini saja, ya Bu. Biarkan Rudi dan Arini nanti bicara dengan ibu dan ayah. Rudi akan mengatur waktunya dulu dengan Arini."
"Baiklah. Ibu akan tunggu kalian di rumah."
Rudi menutup pembicaraannya dengan ibunya setelah mengucapkan salam. Dihelanya napas dalam-dalam, beban pikirannya bertambah sekarang. Dia harus mencari cara untuk menjelaskan semuanya pada orangtuanya. Dia juga harus mencari cara untuk mengetahui keberadaan Sarah dan Fabio.
Rudi mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang.
"Assalamualaikum." Seseorang di seberang sana memberi salam.
"Wa'alaikumsalam, Arini." Rupanya Rudi menelepon Arini.
"Iya. Ada apa, ya?"
"Ar, ada yang harus kita bicarakan. Penting!"
"Ya, udah. Katakan aja padaku ada apa."
__ADS_1
"Sepertinya kita harus bertemu segera. Biar enak ngomonginnya. Kita ketemu di tempat biasa, ya?"
"Oh, baik. Kapan?"
"Sekarang. Bisa?"
"Mungkin nanti ba'da Dzuhur bisa. Insha Allah."
"Oke. Kamu lagi sibuk nggak?"
"Sekarang?'
"Ya."
"Kalau sibuk sih nggak, tapi salah satu orang yang bantu aku tadi minta ijin pergi sampai siang. Ada yang harus diurusnya. Jadi aku yang mengambil alih tugasnya sampai dia kembali," jelas Arini jujur.
"Apa perlu aku jemput?" tawar Rudi.
"Oh, nggak. Nggak usah. Insha Allah aku akan datang."
"Ya udah, sampai nanti, ya? Assalamualaikum." Rudi menutup pembicaraannya.
Dengan beban kerja yang semakin banyak ditambah harus memikirkan masalah pribadinya, Rudi harus pandai membagi fokusnya agar bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Dan kali ini dia memilih untuk menyelesaikan masalah perjodohannya terlebih dulu
***
"Assalamualaikum. Udah lama?" Ucapan salam Rudi mengejutkan Arini yang sedang bermain ponselnya.
"Oh, wa'alaikumsalam. Belum, belum lama."
"Maaf, ya? Kamu jadi harus nunggu."
"Nggak apa-apa. Lagipula baru kali ini aku nunggu, biasanya kan ditunggu."
Setelah mereka memesan makanan dan minuman, Rudi memulai lagi pembicaraan.
"Jadi begini, Ar. Tadi ibu nelpon aku dan menginginkan hubungan kita segera diresmikan. Tadi aku berusaha untuk menjelaskan, tapi ibu seperti gak mau mendengarkan. Akhirnya aku mengatakan bahwa kita akan datang untuk menjelaskan. Menurut kamu gimana?"
"Oh gitu. Sepertinya kita memang harus menjelaskannya. Dan ini memang salah kita juga karena tidak menjelaskannya lebih awal."
"Jadi kamu setuju untuk menjelaskan semuanya, kan?"
"Tentu saja. Kapan kita akan jelaskan?"
"Kalau hari ini bisa?"
"Bisa saja sih. Tapi waktunya sempit. Bagaimana kalau besok? Aku akan mengatur jadwal biar sedikit leluasa dan tidak terburu-buru. Aku juga perlu memberitahu ibuku agar bersiap-siap dengan penjelasan kalau ibunya mas menghubunginya."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Oh iya, gimana kabar calonmu?"
"Alhamdulillah sudah pulang kemarin."
"Alhamdulillah. Jadi sekarang sudah pindah tugas ke sini?"
"Belum tau. Tapi kalaupun nggak bisa, mungkin aku yang ikut ke sana. Ibu juga sudah setuju."
"Coba nanti aku bicarain lagi dengan atasannya. Waktu itu dia memang bilang kalau dia tidak bisa menjanjikan memindahkan dalam waktu dekat, karena tenaga Fajar sangat dibutuhkan di sana. Sedangkan kalau pindah ke sini, keahlian Fajar gak akan terpakai karena kantor pusat hanya mengurusi administrasi saja."
"Iya, mas Fajar juga bilang begitu padaku. Dan setelah dipertimbangkan, aku rasa memang lebih baik di sana, makanya aku bersedia diboyong ke sana setelah menikah. Mas sendiri gimana?" Arini membalikkan pertanyaan pada Rudi.
"Panjang ceritanya, Ar. Kami sudah sempat dekat. Dan sekarang aku sedang bingung."
"Sempat dekat? Pemilik sepatu itu? Bingung kenapa?" tanya Arini penasaran.
"Ya, sekarang dia menghilang."
"Menghilang gimana? Maksudnya kabur?"
"Sebetulnya belum pasti begitu. Tapi kami memang tidak ketemu selama 3 pekan karena kesibukanku, tapi masih berkomunikasi. Nah pekan ketiga saat aku mau menemuinya, dia tak ada di rumahnya dan sudah meminta cuti dari kantor selama seminggu tanpa memberitahuku."
"Mungkin dia sedang ada keperluan keluarga."
"Tapi semestinya memberitahuku."
"Sudah ditelepon?"
"Nomornya tak bisa dihubungi. Aku jadi khawatir!"
"Doakan saja agar tidak ada hal buruk."
"Oh iya, rumahnya dekat denganmu lho."
"Oh ya? Kenapa tak pernah mengenalkannya denganku? Siapa tahu aku kenal."
"Aku sudah berencana untuk mengenalkan kalian. Tapi keburu dianya hilang."
"Wah, aku jadi penasaran. Kalau orang yang tinggal di dekat rumahku, insha Allah aku kenal semua."
"Aku juga berpikiran begitu. Ya sudah, aku pamit dulu, ya? Masih banyak kerjaan di kantor." Rudi berdiri dan menuju kasir untuk membayar semua pesanan mereka lalu kembali menemui Arini yang sudah menunggu di luar kafe itu.
"Apa mau aku antar?" tawar Rudi pada Arini.
"Tidak usah. Aku pesan ojek online saja, kan tidak jauh dari sini. Oh iya, boleh tau siapa nama wanita itu?"
"Sarah," jawab Rudi singkat.
__ADS_1