Misteri Sepatu Kecil

Misteri Sepatu Kecil
6


__ADS_3

Di tempat lain Sarah menikmati hari Sabtunya dengan menghabiskan waktu bersama Fabio yang hari ini tidak dititipkan di tempat penitipan anak yang dikelola Arini.


"Ma, hari ini Bio gak dititip ke bunda Arini. ya?" tanya Fabio yang baru bangun tidur.


"Nggak, sayang. Kan hari ini mama libur," jawab Sarah.


"Bio kangen sama bunda Arini."


"Emangnya Bio gak kangen sama mama?" selidik Sarah.


"Kangen juga sih, Tapi Bio pengen main sama mama sama bunda Arini juga. Kemarin Bio diajarin berhitung sama bunda Arini. Seru deh, ma. Bio suka belajar berhitung."


"Iya deh, nanti siang kita ke rumah bunda Arini. Mama juga kangen pengen ngobrol sama bunda Arini. Sekarang Bio mandi dulu trus sarapan yaa.." Fabio mengangguk dan pergi ke kamar mandi.


"Mau dimandiin nggak, Nak?" tanya Sarah di pintu kamar mandi.


"Nggak mau. Bio kan udah besar, udah bisa mandi sendiri."


"Iya deh. Bunda Arini ajarin Bio mandi juga, ya?" tanya Arini lagi.


"Iya, Ma. Bunda juga ajarin Bio berdoa juga kemarin."


Setelah mandi mereka sarapan bersama.


"Mama suapin, ya?" Arini menyodorkan sendok berisi nasi goreng.


"Bio makan sendiri aja. Bio bisa koq. Kata bunda Arini makannya pelan-pelan aja biar gak berantakan."


Sarah menyerahkan sendok dan piring berisi nasi goreng pada Fabio.


"Anak mama makin pinter. Mama jadi tambah sayang."


Semenjak di tinggal Sarah bekerja dan dititipkan pada Arini, perkembangan Fabio memang semakin baik. Anak itu menjadi lebih mandiri dan bertambah cerdas.


Terlintas dipikiran Sarah untuk mencari rumah kontrakan di dekat tempat penitipan anak yang dikelola Arini. Selain untuk menghemat waktu, juga untuk menghemat uang transport.


Selesai sarapan Sarah dan Fabio berangkat ke rumah Arini dengan menggunakan ojek online.


Arini tampak sedang merawat tanaman di depan rumahnya yang bersih dan asri.


"Bundaaaa..", Fabio berhambur ke arah Arini.

__ADS_1


"Hei... assalamualaikum, Fabio," jawab Arini.


"Wa'alaikumsalam, Bunda."


Arini menggendong Fabio dan mengajak Sarah masuk ke rumahnya.


"Assalamualaikum," ucap Sarah di pintu rumah Arini.


"Wa'alaikumsalam. Ayo masuk, Sar. Anggap aja di rumah sendiri kayak dulu." kata Arini.


"Ibu kemana?" tanya Sarah.


"Lagi ke warung, mungkin sebentar lagi pulang."


Tak lama ibu Arini datang. Sarah berdiri dan mencium tangannya. Ibu Arini memeluknya erat.


"Kamu kemana aja, Nak? Ibu kangen banget sama kamu. Kamu masih sama kayak dulu waktu SMA, cuma sedikit kurusan," ujar ibu Arini sambil memperhatikan bentuk tubuh Sarah.


Sarah hanya tersenyum menanggapi komentar ibu Arini.


Setelah bernostalgia tentang masa sekolah mereka, Arini tiba-tiba menanyakan Rizal, mantan suaminya dan ayah dari Fabio. Sarah menceritakan semuanya pada Arini.


"Ya Allah, tega sekali dia. Gak nyangka lho, padahal dulu kan kalian sangat dekat dan sepertinya sulit dipisahkan," kata Arini.


"Kamu ini selalu bisa ikhlas meskipun menghadapi masalah besar."


"Allah punya sesuatu yang lebih baik untukku, Ar. Aku yakin."


"Insha Allah, Sar. Aku kagum sama kamu."


Sarah juga mengutarakan keinginannya untuk pindah dan mencari kontrakan di dekat penitipan anak yang dikelola oleh Arini. Arini menunjukkan rumah kontrakan di dekat rumahnya, tapi sayangnya rumah itu sedang direnovasi dan masih harus menunggu sekitar 1 atau 2 bulan lagi.


"Gak apa-apa. Aku tunggu aja, lagipula aku belum minta ijin sama bu Sani," ujar Sarah.


"Bu Sani ibu angkatmu?" tanya Arini.


"Iya, dia sudah sangat baik padaku."


"Ya sudah, nanti kalau rumahnya sudah selesai, aku kabarin kamu deh."


Saat kembali dari melihat rumah kontrakan, Sarah melihat Fabio sudah tertidur di depan tv bersama dengan beberapa mainan yang berserakan. Sarah segera merapikan mainan-mainan itu.

__ADS_1


"Sar, kamu nginep di sini aja. Kasihan Fabio, lagipula sudah lama sekali kamu gak tidur di sini." Sarah mengangguk setuju.


***


Rudi bersiap-siap menuju rumah orangtuanya sore itu. Di pertengahan perjalanan dia mampir ke toko buah dan tak lupa membeli beberapa camilan untuk adiknya di mini market.


"Abaaaang...!" pekik Fathia mengagetkan Rudi yang baru saja turun dari mobilnya.


"Kamu ini sukanya bikin kaget saja," kata Rudi sambil mencubit hidung adiknya.


"Ih sakit, tau?" Fathia mengelus hidungnya.


"Abang bawa oleh-oleh apa?" tanya Fathia sambil melihat barang bawaan Rudi.


Rudi menyodorkan kantong yang berisi makanan yang dibelinya tadi.


"Nih, bawa masuk!"


Setelah menyalami kedua orangtuanya Rudi duduk bersama ayahnya.


"Gimana usahamu, Rud?" tanya ayah membuka pembicaraan.


"Baik, Yah. Tapi masih belum terlalu besar," jawabnya.


"Mau sebesar apalagi? Lagipula perusahaanmu itu kan masih terbilang baru. Masih butuh proses panjang untuk menjadi lebih besar lagi."


"Iya sih, Rudi juga paham. Tapi setidaknya Rudi ingin punya beberapa cabang lagi di daerah dan kalau bisa mengembangkan bisnis baru selain media."


"Jangan terlalu ngoyo. Kamu harus mikirin diri kamu juga. Nikmati aja prosesnya dan tetap berusaha sebaik mungkin."


"Iya, Yah. Ini kan cuma rencana jangka panjang. Untuk sekarang ini Rudi masih fokus membuat rencana kerja yang akan menarik investor dan pengiklan di media online Rudi.


Ibu Rudi menyela pembicaraan mereka dan mengajak makan malam. Mereka sekeluarga menikmati masakan ibu Rudi yang memang selalu menjadi favorit keluarga itu.


"Bang, kapan mau bawa calon kakak ipar ke sini?" Fathia membuka pembicaraan saat mereka duduk bersama sambil nonton tv setelah selesai makan malam.


"Apa sih kamu ini? Pertanyaan macam apa itu?" jawab Rudi.


"Betul juga adikmu, Rud. Sudah waktunya kamu mikirin masa depanmu. Jangan terjebak dengan masa lalu," kata ibunya.


"Iya, Rudi juga lagi nyari, Bu. Rudi ke kamar dulu, ya, Yah, Bu?" Rudi berusaha mengakhiri pembicaraan itu dan masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Rudi tak mengira bahwa orangtuanya akan menanyakan hal itu sekarang. Sebelumnya mereka tak pernah mempermasalahkan kesendiriannya. Dia tak tau apa yang harus dilakukannya sekarang, mencari jodoh tidak semudah mencari sepatu di toko.


"Sepatu? Sepatu kecil itu? Wanita mungil itu? Siapa dia?" batinnya.


__ADS_2