
Rizal menyambut Sarah yang baru keluar dari mushola. Diambilnya kantong belanjaan Sarah.
"Sini, biar mas yang bawa."
*Nggak usah, biar aku saja."
"Nggak apa-apa. Sini!" Rizal mengulurkan tangannya mengambil kantong belanja itu.
"Kita beli baju dulu, ya? Kamu boleh pilih semua yang kamu mau."
"Aku mau pulang!" tegas Sarah.
"Iya, nanti mas antar pulang. Tapi mas pengen beliin kamu baju dulu."
"Terima kasih. Tapi aku gak mau baju!"
"Gimana kalau beli tas, sepatu, atau perhiasan? Atau kita beli semuanya. Ya?" kata Rizal dengan nada memaksa.
Akhirnya Sarah mengikuti kemauan Rizal yang membawanya ke toko baju. Dia memilihkan beberapa baju mahal untuk Sarah karena Sarah diam saja dan menolak dibelikan baju.
Saat Rizal sedang membayar belanjaannya yang banyak, Sarah meminta ijin untuk ke toilet.
"Aku ke toilet dulu, ya?" Sarah berakting seolah kebelet buang air kecil, sehingga Rizal tak bisa apa-apa lagi selain mengijinkannya.
"Nanti kembali ke sini, ya? Mas tunggu di depan sana." Sarah mengangguk.
Dia segera berlari, tapi bukannya ke toilet, dia berlari ke arah lift yang menuju ke lantai dasar dan segera keluar dari mall itu.
Di depan mall dia buru- buru masuk ke dalam taksi yang kebetulan baru saja menurunkan penumpang. Dia sudah tak peduli lagi dengan barang belanjaannya yang masih ada di tangan Rizal. Yang dia pedulikan saat itu hanyalah segera menjauh dari tempat itu dan terbebas dari Rizal.
"Tolong cepat keluar dari kawasan mal ini, Pak!" kata Sarah.
"Mbak tujuannya kemana?"
"Nanti saya kasih tau, sekarang jalan dulu aja dan keluar dari tempat ini."
"Baik, Mbak," jawab supir taksi dan mulai menjalankan mobilnya.
Melihat Sarah yang seperti orang ketakutan, sopir taksi itu jadi penasaran dengan apa yang terjadi pada Sarah
"Kenapa, Mbak? Apa terjadi sesuatu? Maaf kalau saya jadi kepo. Soalnya mbaknya kelihatan ketakutan," tanya sopir taksi itu.
"Nggak terjadi apa-apa, Pak. Saya hanya sedang menghindari orang yang tidak ingin saya temui."
"Maksud mbak...? Apa dia orang jahat?"
__ADS_1
"Bukan, dia orang baik, hanya saja saya gak mau bertemu dengannya."
"Oh mantan pacar, ya?"
"Ya, kayak gitu deh."
"Emang, mbak. Mantan itu harus dibuang ke tempat sampah!" Sopir taksi itu bicara dengan menggebu-gebu.
"Koq jadi bapak yang emosi?" tanya Sarah tersenyum geli.
"Oh iya, ya." Sopir taksi itu menggaruk-garuk kepalanya
"Habisnya saya emosi, Mbak. Tapi wajar sih kalau dia ngejar-ngejar mbaknya. Mbaknya cantik begitu, jelas dia bakalan nyesel mutusin mbak."
"Lah bisa aja si bapak!"
"Beneran, mbak. Saya jujur ini."
Sarah hanya tersenyum kecil mendengar omongan sopir taksi itu.
Sarah menarik napas panjang begitu dia lihat taksi yang ditumpanginya sudah keluar dari kawasan mal itu. Dia mengarahkan supir taksi itu untuk membawanya ke rumah Arini untuk menjemput Fabio.
***
Karena dia merasa sudah terlalu lama menunggu Sarah yang belum kembali dari toilet, Rizal berinisiatif untuk menyusulnya ke toilet.
"Ya? Ada apa, Pak?"
"Apa mbak lihat wanita memakai kerudung biru di dalam toilet? Atau keluar toilet?" tanya Rizal.
"Setau saya tidak ada, Pak."
Rizal langsung merasa lemas, kecurigaannya benar bahwa pergi ke toilet adalah akal-akalan Sarah untuk melarikan diri darinya. Dia sangat marah dan kesal karena sudah tertipu oleh Sarah. Tanpa disadarinya air mata menggenang di ujung mata Rizal.
"Sarah, kamu meninggalkanku lagi," bisik Rizal yang tertunduk lesu.
***
Esoknya di kantor SLC media, Sarah menuju meja Leni dan Vina yang kebetulan berdekatan.
"Vin, Len, kemarin aku ketemu Rizal."
"Serius lu? Rizal mantan lu yang jahatnya kebangetan itu, kan?" tanya Vina antusias. Sarah mengangguk mengiyakan.
"Maksud kamu ketemu gimana, Sar?" Leni tak kalah penasaran.
__ADS_1
"Nanti pas makan siang aku ceritain, ya?" kata Sarah.
Dia berjalan meninggalkan kedua sahabatnya yang sedang melongo dan penasaran menuju ke mejanya kembali. Tinggallah Vina dan Leni saling tatap-tatapan berdua.
Saat makan siang Sarah menceritakan kejadian pertemuannya dengan Rizal.
"Kenapa gak lu tabokin aja tuh orang? Biar tau diri dia! Siapa tau kalau ditampol kepalanya dia akan sadar," ujar Vina emosi.
"Nggaklah, Vin, buat apa? Gak akan menyelesaikan masalah juga", jawab Sarah datar.
"Emosi gue sama laki model gitu!"
"Tapi ada benernya juga omongan Sarah, Vin. Ngadepin orang model si Rizal gitu mah jangan pake emosi. Aku yakin nih si Rizal itu gak bisa tidur semaleman. Mungkin sekarang dia lagi guling-guling menyesali kebodohannya."
"Masa sih, Len?" tanya Sarah.
"Ya iyalah. Emang kalian gak lihat waktu pertama si Rizal lihat Sarah di mal waktu itu? Dia seperti cacing kepanasan, bahkan ngejar Sarah ke tempat kita beli sepatu. Apa coba artinya? Berarti dia masih menginginkan Sarah," jelas Leni.
Vina mengangguk-angguk mendengar penjelasan Leni.
"Nggak mungkinlah, Len. Itu gak boleh terjadi," kata Sarah.
"Ya itu kan kamu yang nggak mau, kalau dia kan jelas mau banget."
"Bener, Sar. Kayaknya dia masih mencintai lu. Saran gue sih mending lu permainkan aja dia, biar tau rasa," kata Vina memprovokasi.
"Nggak ah, Vin. Aku hanya takut dia tau keberadaan Fabio anakku."
"Lah.. jadi dia gak tau kalau kalian punya anak??" tanya Leni tampak terkejut.
Sarah menggelengkan kepalanya Vina tersedak dan segera minum.
"Astaganaga, berarti waktu itu dia gak tau kalau elo hamil, gitu?" tanya Vina.
"Aku gak tau dia tau atau nggak. Saat aku muntah-muntah dia ada membantuku memijat, tapi gak lama dia mendapat telepon dan pergi meninggalkanku," jelas Sarah.
"Ruwet begitu, ya ceritanya. OMG, ribet amat ya idup lo," kata Vina sambil menatap iba pada Sarah.
"Terus apa rencana kamu sekarang?"
"Sebisa mungkin aku akan menghindarinya."
"Terus kallau seandainya ketemu lagi gimana, Sar?"
"Ya mau gak mau harus dihadapi, Len," jawab Sarah.
__ADS_1
"Kalau mau belanja-belanja lo titip kita-kita aja , atau pake ojek online untuk meminimalisir kemungkinan ketemu sama si Rizal itu," kata Vina.
Sarah mengangguk. Lalu mereka kembali ke kantor.