Misteri Sepatu Kecil

Misteri Sepatu Kecil
7


__ADS_3

"Kamu gak ada niatan buat. nikah lagi, Sar?" Arini membuka pembicaraan mereka di kamar.


"Belum, Ar. Sepertinya masih berat untuk menerima orang baru dalam hidupku. Saat ini aku juga harus memprioritaskan Fabio dan kerjaan yang baru saja kudapatkan."


"Tak baik lho sendiri terlalu lama, pikirkan juga dampaknya buat anakmu."


"Ya, aku juga tau, Ar. Tapi rasanya sulit juga menemukan pria yang mau menerima paketan kayak aku."


"Kayak barang aja paketan, Sar", kata Arini sambil tertawa.


"Iya, buy one get one free!" celetuk Sarah. Mereka pun tertawa.


"Nggaklah, Sar. Kamu itu cantik, cerdas, pasti banyak mau sama kamu."


"Iya, mau nabok...", timpal Sarah.


"Kamu ini ada-ada saja. Aku serius, Sar."


"Kamu sendiri gimana, Ar?" tanya Sarah.


"Aku? Ada sih calon, tapi dia sedang tugas di luar pulau. Entah sampai kapan dia bertugas di sana. Orangnya baik dan insha Allah shaleh."


"Oh jadi kalian selama ini LDR? Gak mau nyari yang lain aja, Ar?" tanya Sarah lagi.


"Insha Allah nggak, Sar. Meskipun teman ibu ada yang mau ngenalin aku dengan anaknya."


"Sudah ketemu orangnya?"


"Belum, lagipula aku juga gak semangat buat ketemu dia," ujar Arini.


"Ditemui aja dulu, Ar. Siapa tau berjodoh, kalaupun gak berjodoh, yaah bisa nambah saudara dan silaturahmi dengan keluarga teman ibu kamu," saran Sarah.

__ADS_1


"Ya, lihat nanti aja. Lagipula belum ada kabar lagi dari mereka. Semoga aja gak jadi."


Kedua sahabat itu lalu tertidur. Mereka tampak bahagia dan tidur mengapit anak kecil lucu yang sudah lebih dulu tertidur.


***


Hari itu Rudi menginap di rumah orangtuanya, karena permintaan Fathia, adiknya yang cerewet yang sangat disayanginya.


"Abang ini udah lama gak pulang, masa baru pulang sebentar udah mau pergi lagi!" Fathia protes saat Rudi mengatakan bahwa dia akan kembali ke rumahnya.


"Iya, iya. Abang gak jadi pulang. Nginep nih, soalnya ada yang protes. Kayaknya orang itu kesepian malam Minggunya gak ada yang ngapelin, jadi abangnya disuruh nemenin," goda Rudi.


"Ih, apaan sih Abang ini nyebelin. Abang juga gak ada yang diapelin kaaaan...?"


Rudi tak bisa membalas ucapan adiknya karena memang kenyataannya seperti itu.


Saat-saat berkumpul dengan orangtua dan adiknya adalah saat yang sangat menyenangkan, namun karena kesibukannya dia sudah jarang berkumpul dengan mereka.


"Gak bisa, ibu sudah masak banyak ini..!" teriak ibunya dari arah ruang makan.


"Lagian Abang ngajaknya dadakan gitu sih, udah tau ibu kita sukanya masak. Harusnya bilang dari semalam, Bang!" Fathia merengut, karena sebenarnya dia ingin juga makan di luar.


"Udah, lain kali aja, kasihan ibu kalian sudah masak," ujar ayahnya.


"Ayo kita makan. Nanti keburu dingin, gak enak kalau udah dingin," kata ibunya.


"Ayolah," jawab ayahnya sambil mengajak kedua anaknya.


"Masakan ibu selalu enak", kata Rudi.


"Nanti juga kalau sudah punya istri, selera kamu akan berubah. Masakan istrimu pasti akan lebih enak," kata ibunya.

__ADS_1


"Masa sih, buatku masakan ibulah yang paling enak."


"Makanya, Bang, cepetan cari istri. Biar aku juga punya temen buat jahilin Abang," kata Fathia sambil cekikikan.


Rudi mendekati Fathia dan mencubit pipi adiknya yang usil itu.


"Nak, ibu mau kenalin kamu dengan anak teman ibu. Kamu mau, ya? Kenalan aja dulu. Kan tidak ada salahnya."


"Tapi Rudi gak ada waktu, Bu. Apalagi sekarang mau gajian karyawan, pasti sibuk sekali," Rudi beralasan pada ibunya.


"Ya tidak perlu sekarang juga. Nanti saja setelah urusan kantormu selesai."


"Iya, Bu," Rudi tak bisa menolak dan juga tak mau mengecewakan ibunya.


"Yeay, Abang mau ketemu jodoh..!" seru Fathia dengan gembira. Rudi tertawa melihat tingkah Fathia.


"Fathia ikut ya, Bang, kalau nanti Abang ketemuan," sambung Fathia.


"Hussh, kamu ini ada-ada aja, Fathia. Nanti kita sama-sama datang ke rumahnya untuk berkenalan. Anaknya baik koq, cantik juga," jelas ibunya.


"Semoga jodoh ya, Bang. Fathia udah pengen banget punya ponakan. Ayah ibu juga pasti udah pengen punya cucu. Iya, kaaan?" ucapan Fathia membuat Rudi tak berkutik dan hanya bisa menghela napas.


"Yah, gak ada salahnya kamu temui dia. Masalah jodoh atau tidak, itu urusan belakangan. Allah sudah mengatur semuanya. Kita hanya berusaha," ujar ayahnya menengahi.


Sebetulnya Rudi ingin sekali menolak, tapi dia juga tak mau mengecewakan orangtuanya. Rudi masih belum bisa membuka hatinya setelah berpisah dengan mantan kekasihnya yang telah sangat mengecewakannya.


Perasaannya sedikit berbeda saat dia melihat sepatu kecil itu bersama pemiliknya, meski dia tak terlalu melihat jelas wajah wanita mungilnya itu. Wanita mungil berbaju muslimah, sang pemilik sepatu kecil.


"Ah sepatu kecil itu. Apa kabar wanita mungil itu?" gumam Rudi sesaat sebelum dia tidur.


"Ijinkan aku melihatmu lagi, wanita mungilku. Aku ingin melihat wajahmu sekali lagi, meskipun itu hanya dalam mimpi," gumamnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2