
Rizal melajukan mobilnya, namun tak lama setelah dia keluar dari halaman rumah Arini, Rizal melihat ada mobil di depannya yang berisi orang yang dikenalnya. Sarah dan calon suaminya serta seorang anak kecil.
"Itu mereka!" gumam Rizal dengan sedikit terkejut.
"Ya, itu Sarah dan calon suaminya. Anak itu! Anak itu bersama mereka!"
Seolah tak mau kehilangan jejak, Rizal segera mencari tempat untuk memutar balik mobilnya. Sayangnya dia tak menemukan tempat terdekat untuk melakukannya. Dia harus pergi cukup jauh.
"Semoga mereka belum terlalu jauh," batinnya.
Dipacunya mobil dengan menginjak pedal gas sambil memasang mata untuk menemukan mobil yang ditumpangi Sarah.
Akhirnya dia melihat mobil mereka di depan rumah Arini. Rizal langsung memarkir mobilnya di belakang mobil yang tadi ditumpangi Sarah lalu keluar menuju rumah Arini.
Sarah nampak terkejut melihat kedatangan Rizal. Apalagi dia telah diberitahu oleh Arini bahwa Rizal baru saja datang ke situ.
"Semua terserah padamu, Sar. Tapi kamu harus tenang," bisik Arini.
"Ar, tolong bawa masuk Fabio, ya?" pinta Sarah. Arini mengangguk lalu mengajak Fabio masuk.
"Sayang, aku percaya kamu akan memutuskan yang terbaik," bisik Rudi dengan tatapan yang teduh dan menenangkan.
Sarah menarik napas panjang dan menatap Rizal yang menuju ke arah mereka.
"Assalamualaikum," sapa Rizal.
"Wa'alaikumsalam." Rudi dan Sarah bersamaan menjawab salam Rizal.
"Sarah, bisa kita bicara?" tanya Rizal.
"Silakan duduk," kata Sarah.
Rudi berpamitan pada Sarah untuk masuk ke rumah Arini agar tak mengganggu pembicaraan mereka.
"Sar, aku mau tanya sesuatu, tapi kamu harus.jawab jujur, ya?" Rizal berusaha memegang tangan Sarah, tapi Sarah menolaknya dengan menarik tangannya dari genggaman Rizal.
"Maaf. Aku refleks," lirih Rizal.
"Mau tanya apa?" tanya Sarah sambil menatap Rizal.
Melihat tatapan Sarah yang seperti mengntimidasinya, Rizal tertunduk
__ADS_1
"Apa kita punya anak?" Rizal memberanikan diri untuk menatap Sarah.
"Menurutmu bagaimana? Apa kamu merasa punya anak?"
"Sar, tolong jangan membuatku merasa tambah bersalah."
"Memang kamu gak bersalah, Mas. Akulah yang bersalah di sini. Aku terlalu memercayaimu."
Rizal tersedu mendengar semua perkataan Sarah. Dia merasa semakin bersalah. Setelah tangisannya mereda dan merasa tenang, Rizal mengangkat kepalanya.
"Maafkan aku, Sar. Aku tahu aku memang bersalah. Aku siap mendapat hukuman apapun darimu. Sar, apa kita punya anak?" tanya Rizal lirih.
"Seingatmu apa aku pernah mengandung?" tanya Sarah sekali lagi.
"Jujur aku nggak ingat. Tolong beritahu aku, Sar," pinta Rizal dengan sungguh-sungguh.
"Oh, tidak ingat, ya? Baik. Aku akan memberitahumu. Kita memang punya anak."
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Dimana dia sekarang?"
Sarah terdiam dan tak langsung menjawab pertanyaan Rizal. Dia seperti masih menimbang-nimbang.
"Rizal berhak mengetahui anaknya, Sar. Bio juga berhak mengetahui ayah kandungnya. Kita tidak boleh memutuskan nasab seseorang. Itu berdosa, Sayang." Ucapan Rudi terngiang lagi di telinganya.
"Sar, dimana anak kita sekarang?" tanya Rizal sekali lagi yang membuat Sarah tersadar dari lamunannya.
"Eh... ada," jawab Sarah.
"Boleh aku bertemu dengannya? Aku mohon, Sayang. Aku ingin sekali bertemu dengannya," kata Rizal dengan memelas.
"Baik. Akan aku panggilkan." Sarah beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam rumah Arini.
Tak lama Sarah keluar bersama seorang anak, yang tak lain adalah Fabio yang digendong oleh Rudi. Rizal menatap mereka seolah meminta penjelasan.
"Ini anak kita?" tanya Rizal. Sarah mengangguk.
Rizal menatap Fabio seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Anak yang sangat mirip dengan anak yang selalu ada dalam mimpinya. Anak yang selama ini dirindukannya.
Rizal mengulurkan tangannya untuk menggendong Fabio.
"Sini, Nak. Ini Papa."
__ADS_1
Fabio menolak untuk digendongnya dan membuat Rizal sedih dan kecewa.
"Papa, om itu siapa? Kenapa om itu bilang papa Bio? Papa Bio kan ini." Fabio menunjuk pada Rudi.
"Iya, Sayang. Papa akan selalu jadi papanya Bio sampai kapanpun. Tapi itu juga papa Bio." Rudi berusaha menjelaskan pada Fabio
"Bukan. Papa Bio cuma satu. Om itu bukan papa Bio! Bio gak mau punya papa yang lain!" teriak Fabio.
Rizal menangis tersedu melihat anaknya tak mau dekat dengannya dan mengakuinya sebagai ayah. Rudi berusaha membujuk Fabio agar mau mendekat pada Rizal.
"Sayang, Bio anak Mama dan Papa. Inget apa yang Mama, Papa dan bunda Arini ajarin sama Bio? Kita nggak boleh bikin orang lain sedih. Iya, kan?" Fabio mengangguk.
"Sekarang Bio lihat bapak itu. Bapak itu papa Bio juga. Dia sedih soalnya Bio gak mau dipeluk dan digendongnya. Sekarang Bio mau kan dipeluk sama bapak itu? Biar bapak itu gak sedih lagi," bujuk Rudi lagi. Fabio mengangguk dan berjalan mendekati Rizal.
"Om. Om jangan sedih. Bio mau koq dipeluk Om."
Rizal mengangkat wajahnya dan menyeka air matanya. Dia segera memeluk Fabio.
"Jangan panggil Om, ya Sayang? Panggil papa. Papa Rizal. Papa ini papa kamu, Nak."
Fabio memeluk Rizal lalu menoleh pada Rudi. Rudi mengacungkan jempolnya pada Fabio sambil tersenyum. Sedangkan Sarah sejak awal hanya diam dan menangis. Rudi memeluk Sarah dan menenangkannya.
Rizal terus memeluk dan menciumi Fabio.
"Maafkan Papa, ya Nak? Maafkan Papa. Papa janji, mulai sekarang Papa akan selalu ada buat kamu. Papa janji." bisik Rizal di telinga Fabio.
Suasana begitu haru, Arini dan ibunya pun turut meneteskan air mata menyaksikan pertemuan ayah dan anak itu. Lain halnya dengan Fabio yang masih belum mengerti dengan apa yang terjadi saat itu. Dia hanya mengikuti apa yang diperintahkan Rudi padanya.
Sambil menggendong Fabio, Rizal mendekati Sarah.
"Sar, makasih sudah menjaga dan membesarkan anak kita. Dia anugerah terbesar dari Allah untukku. Aku berjanji akan menjadi ayah yang baik untuknya. Aku harap kamu gak keberatan. Aku ingin menebus segala kesalahanku pada kalian. Tolong beri aku kesempatan."
Sarah tak menjawab perkataan Rizal.
"Namanya Fabio. Muhammad Fabio. Nama panggilannya Bio," jelas Rudi pada Rizal.
"Terimakasih, ya? Terimakasih sudah mau menggantikan posisiku saat aku tidak di sampingnya," ucap Rizal pada Rudi
Rudi mengangguk dan mengulurkan tangannya pada Fabio yang meminta untuk digendong Rudi
"Anak pintar. Ini baru anak Papa yang sholeh dan hebat. Papa bangga dan sayang sama Bio." Rudi memeluk dan mencium kening Fabio.
__ADS_1
"Bio juga sayaaaang sekali sama Papa." Fabio mencium pipi Rudi kiri dan kanan.
Ada perasaan iri dalam diri Rizal saat melihat kedekatan anaknya dengan Rudi. Dia ingin sekali berada di posisi Rudi saat itu. Berada di antara orang-orang yang sangat dicintainya.