
Saking asyiknya bermain dengan Fabio dan Fathia, ibu Rudi sampai lupa dengan pertanyaannya mengenai anak siapa Fabio itu. Dia begitu menikmati kebersamaan dengan anak kecil lucu itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.35. Rudi segera kembali ke rumah orang tuanya untuk menjemput Fabio dan mengembalikannya pada Arini sesuai dengan janjinya.
"Assalamualaikum," Rudi mengucap salam saat memasuki rumah orang tuanya.
"Wa'alaikumsalam!" serempak Fathia, Fabio dan ibunya menjawab ucapan salam Rudi.
Rudi terpana melihat keakraban Fabio, Fathia dan ibunya yang sedang asyik bermain ular tangga di ruang keluarga mereka.
"Papa...!" Fabio menghambur ke arah Rudi
Ibu Rudi mengernyitkan keningnya saat mendengar Fabio memanggil anaknya dengan sebutan 'Papa'.
"Rud, Fabio ini anak siapa?" tanya ibunya.
"Anak Rudi, Bu," jawab Rudi sambil menggendong Fabio.
"Jangan main-main. Ibu serius bertanya padamu!" kata ibunya sedikit membentak.
"Rudi serius, Bu. Tanya aja sama anak ini! Bio anak siapa, Sayang?"
"Anak Papa," jawab Fabio.
"Papa siapa?" tanya Rudi lagi.
"Papa Rudi!"
"Orangnya yang mana?"
"Yang ini!" Fabio menunjuk ke dada Rudi.
"Pinter. Anak Papa pinter banget," Rudi mencium pipi Fabio.
"Kalian semua mempermainkan Ibu. Jawab yang betul! Anak siapa Bio ini?" tanya ibunya kesal
"Bio ini anaknya Sarah, Bu. Sebelum dia mengenal ayah kandungnya, dia sudah menganggap Rudi sebagai ayahnya. Ayah kandungnya meninggalkan Sarah untuk menikah lagi saat Bio masih berada dalam kandungan," jelas Rudi.
Ibu Rudi terkejut mendengar cerita Rudi. Dia menjadi kasihan pada Fabio.
"Sejak lahir dia tak mengenal ayah kandungnya. Baru beberapa bulan ini saja dia mengenal ayahnya. Sarah membesarkan anak ini sendiri tanpa bantuan dari mantan suaminya," jelas Rudi lagi.
Ibu Rudi terus mendengarkan penjelasan Rudi.
"Sejak kapan Sarah bercerai dengan suaminya?" tanya ibu Rudi.
__ADS_1
"Tepatnya Rudi gak tau, Bu. Tapi kalau tidak salah setelah Fabio berusia 2 tahun dan pengadilan memutuskan cerai mati karena mantan suaminya tak merespon semua surat panggilan pengadilan."
"Cerai mati? Apa mantan suaminya benar-benar tak peduli?" tanya ibunya lagi
"Waktu itu mungkin begitu. Entahlah, yang pasti sebelum Bio bertemu ayahnya, Sarah menghidupi anaknya sendirian," jelas Rudi lagi.
"Apa ayah kandungnya menolak Bio, Bang?" tanya Fathia.
"Justru ayah kandungnya ingin mengambil Bio dari Sarah," ujar Rudi.
"Kenapa begitu? Enak banget maen ambil aja!" kata Fathia.
"Sarah ketakutan sampai meninggalkan kota ini, tapi sepertinya masalah ini udah mereda! Mantan suaminya sudah tak menemui mereka lagi."
"Artinya ayah kandung Bio udah gak menginginkan Bio lagi?" tanya Fathia lagi.
Rudi mengangkat bahu dan kedua tangannya mengisyaratkan bahwa dia tidak tahu.
"Nanti lagi bicaranya, ya? Abang harus mengembalikan Bio ke tempat penitipan anak Arini. Udah mau jam 4 ini. Tadi Abang janji sebelum jam 4 udah dikembaliin! Ayo, Sayang. Kita pulang ke bunda Arini."
Fabio mengangguk lalu berlari menuju ibunya Rudi.
"Nenek, Bio pulang dulu, ya?" kata Fabio lalu mencium tangan ibunya Rudi.
Ibunya Rudi tak menjawab perkataan anak kecil itu. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Oh iya. Hati-hati, ya Sayang?"
"Iya, Nek. Assalamualaikum," jawab Fabio.
Rudi pun ikut berpamitan, lalu membawa Fabio ke mobilnya dan menuju tempat penitipan Arini.
***
Di Rumah Orang Tua Rudi
Ibu Rudi masih memikirkan cerita Rudi tentang Sarah dan Fabio. Sisi keibuannya merasa kasihan pada ibu dan anak itu. Perjuangan Sarah untuk bertahan hidup bersama anaknya layak diacungi jempol. Tapi sisi idealisme seorang ibu yang menginginkan yang terbaik untuk anaknya pun tak kalah kuatnya.
Suaminya melihat perubahan sikap istrinya yang tiba-tiba menjadi pendiam dan tak lagi mengeluhkan tentang Sarah, calon istri pilihan anaknya.
"Bu, ada apa?" tanya ayah Rudi.
"Ada apa apanya? Gak ada apa-apa," ibu Rudi berusaha menutupi kegalauannya
"Udah, ngomong aja ada apa? Ibu tuh Ayah lihat banyak diam hari ini. Apa ada masalah?"
__ADS_1
Ibu Rudi akhirnya menceritakan kejadian tadi siang yang membuatnya menjadi bingung mengambil keputusan mengenai hubungan Rudi dan Sarah.
"Doakan yang terbaik untuk anak kita. Kita tak bisa mencegah takdir yang telah digariskan Allah. Sekuat apapun kita menghalangi mereka, kalau sudah jodoh... ya tetap akan menikah juga."
"Tapi kenapa harus dengan janda, Yah?" ujar ibu Rudi
"Apa yang salah dengan janda? Itu hanya status, Bu. Lagipula wanita manapun tak akan ada yang mau menjadi janda. Lebih baik buka hati Ibu. Tak ada salahnya menerima pilihan anak kita. Ayah rasa dia tau yang terbaik untuk dirinya," jelas ayah Rudi datar.
Hati kecil ibu Rudi membenarkan ucapan suaminya, namun egonya masih tak bisa menolak Sarah untuk menjadi pasangan hidup anak sulung kesayangannya. Bayangan Bio tiba-tiba berkelebat di pikirannya.
"Anak itu!" gumam ibu Rudi.
Suasana menjadi sunyi, ayah dan ibu Rudi tak bicara sepatah kata pun. Sang suami memusatkan perhatiannya pada acara tv, sedangkan sang istri sibuk dengan pikirannya sendiri.
Tak lama datang Fathia bergabung bersama mereka. Fathia selalu bisa membuat suasana rumah itu menjadi hidup.
"Ngapain sih pada diem-dieman? Ayah sama Ibu lagi musuhan?" goda Fathia.
"Kamu ini! Datang-datang malah nuduh orang musuhan. Ayah lagi nonton tv, tentang prediksi perekonomian negara kita selanjutnya. Sini, temani ayah nonton!"
"Ih, acara apaan itu? Bosenin banget! Males, ah! Nonton yang lain napa, Yah. Nonton film serial kesukaan kita aja, bentar lagi udah mau mulai tuh!" kata Fathia sambil meraih remot tv di samping ayahnya. Namun dia kalah gesit dari ayahnya yang berhasil lebih dulu mendapatkannya.
"Jangan dipindah dulu. Sedikit lagi ini!" kata ayahnya.
Fathia cemberut karena tak berhasil mendapatkan remot tv, terpaksa dia ikut menonton acara itu.
"Bu, anaknya Kak Sarah lucu, ya? Gemesin!" kata Fathia berusaha mengajak ibunya ngobrol.
"Hmm!" jawab ibunya.
"Nggak cengeng, sopan, pinter lagi. Kalau diajarin apa-apa cepet bisanya tuh anak. Waktu itu aja Fathia ajarin main game, dia langsung bisa, Bu!" kata Fathia lagi.
Ibu Rudi menatap anak gadisnya itu, dia menangkap kesan dari pembicaraan Fathia bahwa Fathia sudah beberapa kali bertemu dengan Fabio.
"Kamu udah sering main sama anak itu?" tanya ibunya.
"Maksud Ibu Bio? Udah beberapa kali, Bu. Seru kalau main sama dia, Fathia jadi suka gak inget umur. Ha ha ha...!"
"Hmm."
"Ibu kenapa sih jawabannya dari tadi ham hem ham hem aja? Lagi males ngomong, ya?" tanya Fathia.
"Sarah itu gimana menurut kamu?" tanya ibunya seolah tak mendengar pertanyaan Fathia tadi
"Kak Sarah menurut Fathia sih orangnya baik, nggak galak, sayang sama anaknya, nggak pelit, gak selalu pengin berduaan melulu sama Abang. Fathia itu suka sebel kalau lihat orang maunya berduaan melulu kalau pacaran! Abang sama Kak Sarah tuh gak kayak gitu!" jelas Fathia bersemangat.
__ADS_1
Ibu Rudi merasa upayanya untuk menghalangi hubungan Rudi dan Sarah akan sia-sia. Selain tak akan ada yang mendukungnya, dia juga mulai menyukai Fabio yang telah membuat harinya tadi menjadi ceria seperti saat anak-anaknya masih kecil.