Misteri Sepatu Kecil

Misteri Sepatu Kecil
12


__ADS_3

Rudi berdiri dari duduknya saat dilihatnya seorang wanita berkerudung itu mendekat. Wanita itu memeluk anak laki-laki yang sedari tadi bersamanya. Dia hanya bisa diam memandangi kedua sosok yang saling berpelukan seakan sudah lama sekali tak bertemu. Entah kenapa dia ingin sekali menyeka air mata wanita itu.


"Om, ini mama Bio. Cantik, kan?" anak itu memegang tangannya. Rudi terkejut mendengar perkataan Fabio.


"Oh iya," jawab Rudi singkat. Dia melihat wanita itu berdiri sambil mengusap air matanya.


"Terima kasih, Pak," kata wanita itu yang tak lama setelah itu dia ketahui namanya Sarah.


"Sama-sama. Lain kali jangan lepaskan pengawasan dari anak anda. Berbahaya membiarkannya berkeliaran sendiri di tempat ramai dan besar seperti ini," ujar Rudi.


"Iya, saya memang ceroboh. Tapi tak ada niat saya untuk membuatnya berkeliaran apalagi sampai hilang. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih," jelas Sarah.


"Ya sudah, saya permisi, mbak...? Siapa tadi?" tanya Rudi berpura-pura lupa.


"Sarah. Panggil saja Sarah."


"Iya, Sarah. Om pergi dulu ya, sayang. Sampai ketemu lagi," pamit Rudi.


"Om mau kemana? Om gak mau ya jadi papanya Bio?" Sarah terkejut mendengar perkataan anaknya. Dia menjadi salah tingkah.


"Eh Bio. Gak boleh bilang begitu! Maafkan anak saya, ya?" Sarah segera meminta maaf.


"Nggak apa-apa. Namanya juga anak kecil," jawab Rudi.


"Bio, om harus pergi. Kapan-kapan kita bisa ketemu lagi. Oke? Tapi Bio harus janji dulu sama om kalau Bio gak akan bikin susah mama lagi kayak tadi!" kata Rudi yang dijawab dengan anggukan Fabio.


Rudi segera pergi dari tempat itu, dia harus menemui seseorang di suatu tempat.


Ada rasa di hati Rudi yang tak bisa dipahaminya, entah kenapa dia merasa sangat bahagia saat itu.


***


Hari terus berlalu, masa sebulan dilaluinya dengan rutinitas yang sama. Pagi mengantar Fabio ke tempat penitipan anak Arini, lalu berangkat kerja, pulang kerja, menjemput Fabio di rumah Arini, hanya itu yang mengisi keseharian Sarah. Sampai suatu hari Arini menyampaikan bahwa rumah kontrakan yang dia incar sudah selesai. Sarah segera menemui pemiliknya dan membayar uang sewa rumahnya.


"Insha Allah hari Minggu saya akan memindahkan barang-barang ke sini," ucap Sarah sambil berpamitan pada pemilik rumah kontrakan itu.


Sarah segera pulang, dia harus segera mengemas barang-barangnya, karena besok dia harus pergi menemui ibu Sani di kota lain. Karena barangnya tidak terlalu banyak, Sarah tak membutuhkan banyak waktu untuk mengemas semuanya, kecuali barang-barang yang masih akan dipakai.


Esoknya Sarah dan Fabio bersiap-siap untuk mengunjungi ibu Sani untuk memberitahunya bahwa mereka akan pindah dan berpamitan padanya.

__ADS_1


Kereta yang dinaiki Sarah dan Fabio sudah sampai di stasiun tujuan Di sana Sandi sudah menunggu kedatangan mereka berdua. Sandi memeluk dan menggendong Fabio.


"Bio capek nggak?" tanya Sandi.


"Nggak, Om", jawab Fabio malu-malu.


"Bio koq malu-malu? Udah lupa ya sama Om?" Sandi berpura-pura sedih.


"Ya udah, sekarang kita temui nenek di rumah. Nenek udah masak yang enak buat Bio," ajak Sandi.


"Mama juga boleh makan, Om?" tanya Fabio lugu. Sandi tertawa mendengar pertanyaan Fabio.


"Tentu saja boleh, Jagoan," kata Sandi sambil menciumnya.


Sandi membawa Sarah dan Fabio ke mobilnya. Dia membukakan pintu untuk Sarah dan Fabio, lalu memasukkan barang bawaan Sarah di jok belakang.


"Gimana kerjaanmu, Sar? Betah nggak kerja kantoran?" tanya Sandi membuka pembicaraan.


"Alhamdulillah betah, kak," jawab Sarah singkat.


Sesekali Sandi melirik ke arah Sarah lalu tersenyum seolah dia telah melihat pujaan hatinya yang sudah lama tak bertemu.


Sarah menghampiri ibu Sani dan memeluknya.


"Assalamualaikum, Bu," sapa Sarah sambil mencium tangan Bu Sani.


"Wa'alaikumsalam, sayang," jawab Bu Sani lalu mengajak Sarah masuk.


"Cucu nenek udah besar, ya?" Bu Sani menjawil pipi Fabio.


"Iya, bu,, tapi masih malu-malu nih kayaknya," kata Sandi.


"Nah, biar gak malu lagi, gimana kalau Bio ikut Om Sandi. Om Sandi punya hadiah buat Bio," kata Bu Sani.


Sandi membawa Fabio ke kamarnya. Tak lama terdengar tawa Sandi dan Fabio di kamar.


"Bio mudah akrab ya, Sar?" kata Bu Sani. Sarah hanya tersenyum.


"Sar, apa kamu masih belum ada niat untuk menikah lagi?" tanya Bu Sani. Sarah menggeleng.

__ADS_1


"Kamu harus memikirkan Fabio, Nak. Dia butuh figur seorang ayah, apalagi anakmu laki-laki," tambah Bu Sani.


"Tapi mungkin nggak sekarang, Bu," jawab Sarah.


Sarah membantu ibu Sani memasak dan menyiapkan makan malam. Sandi dan Fabio masih asyik bermain dan bercanda sambil nonton tv.


"Bio mau nggak jadi anak Om?" tanya Sandi.


"Mau!" jawab Fabio.


"Beneran? Kalau gitu panggilnya jangan om lagi dong. Panggil ayah." Fabio mengangguk.


"Ayo kita makan!" ajak Bu Sani.


"Sudah, jangan bercanda terus. San, bawa Bio ke sini. Kita makan dulu!" Bu Sani melambaikan tangannya.


Sandi menggendong Fabio dan membawanya ke meja makan.


"Bio mau duduk dimana?" tanya Sandi.


"Bio mau duduk dekat ayah dan mama," jawab Bio.


"Kalau gitu ajak dong mamanya," kata Sandi.


"Mama duduk di sini dekat ayah!" Fabio menarik tangan Sarah.


"Mama mau duduk di dekat nenek, kasihan nenek sendiri," jawab Sarah.


"Gak apa-apa. Kamu duduk di sana aja," kata Bu Sani.


Bu Sani tau bahwa anaknya menaruh hati pada Sarah dan bersedia menunggu Sarah membuka hatinya.


Kesempatan makan malam itu dipergunakan Sarah untuk mengungkapkan tujuannya, yaitu tentang kepindahannya dari rumah Bu Sani. Bu Sani menyetujuinya meskipun dengan berat hati.


*******


Hai pembaca yang baik hati, jangan lupa klik like, favorit dan beri komentar di bawah. Kalau tak keberatan berikan vote juga yaaa...


Terima kasih....❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2