
Dua hari menjelang pernikahan, kesibukan di rumah Rudi sudah terlihat. Ibu Rudi dan Fathia sibuk menyambut keluarga mereka yang mulai berdatangan dari berbagai daerah. Sementara untuk urusan gedung semuanya diserahkan pada panitia dan WO yang telah disewa oleh Rudi.
Sudah dua hari Sarah menempati rumah Rudi dan untuk sementara Rudi tinggal bersama orang tuanya. Rudi memaksa Sarah untuk pindah ke rumahnya agar Sarah dan Fabio bisa membiasakan diri tinggal di rumah itu. Sarah mulai menata barang-barangnya di rumah Rudi. Rumah dua lantai itu terasa sangat luas bagi Sarah dan Fabio. Agar Fabio betah di rumahnya, Rudi sudah menyewa ahli desain interior untuk menata kamar Fabio. Fabio sangat senang dengan kamarnya yang luas yang berisi banyak mainan dan terbaiknya dihias dengan wallpaper bergambar kartun lucu.
Menjelang hari pernikahan pihak WO mengirimkan pegawainya ke rumah Rudi untuk mendekorasi kamar pengantin. Tadinya Sarah tidak mau, namun Rudi berhasil membujuknya dengan mengatakan bahwa itu bagian dari paket pernikahan yang sudah dipilih oleh mereka berdua.
Sarah pun mendapat perawatan kulit tubuh dan wajah dari penata rias yang bekerja sama dengan pihak WO. Untuk sementara Arini tinggal di rumah Rudi untuk menemani Sarah dan Fabio dan memercayakan tempat penitipan anaknya pada para asisten.
Sarah merasa berdebar seperti saat dia akan menikah dengan Rizal dulu, tapi perasaan kali ini sangat berbeda karena pernikahannya yang sekarang mendapat dukungan dari banyak pihak, termasuk keluarga calon suaminya.
Pada saat hari pernikahan mereka, Sarah didandani oleh make up artist yang cukup terkenal. Wajah Sarah terlihat sangat cantik dan berbeda. Riasan wajah yang halus dipadu dengan baju pengantin yang dipakai Sarah, membuatnya terlihat elegan dan memesona.
Sedangkan Rudi dan Fabio memakai stelan jas yang serupa, hanya saja berbeda ukuran. Keduanya sangat tampan dan terlihat mirip seperti ayah dan anak yang sedang bergandengan tangan. Fabio tak pernah mau jauh dari Rudi.
Akad nikah akan dilangsungkan sebentar lagi. Menurut juru rias pengantin wanita akan siap sebentar lagi. Tampak Rudi yang mondar mandir terus untuk menghilangkan kegugupannya. Dia takut tak lancar membaca ijab kabul.
"Papa ngapain sih bolak-balik melulu? Aku capek.." kata Fabio yang sejak tadi ikut-ikutan mondar-mandir.
"Ya ampun, Papa lupa. Maaf, ya Nak? Kalau gitu gimana kalau Bio duduk aja di sana, tunggu Papa di sana. Ya?" ujar Rudi sambil menunjuk kursi yang terdekat.
"Iya deh. Bio capek! Abis Papa jalan melulu dari tadi!" rajuk Fabio.
"Iya. Maaf, ya Sayang?" kata Rudi.
"Tante Fathia mana sih, Pa? Koq nggak datang. Tante Fathia masih bobo, ya?"
"Tante Fathia udah bangun, Nak. Tapi Tante Fathia harus didandani dulu kayak mamanya Bio," jelas Rudi.
"Nenek sama kakek juga?"
"Nenek iya, kalau kakek nggak didandani. Kakek lagi menyambut tamu di sana," jelas Rudi lagi.
__ADS_1
"Emang kita ini mau ngapain, Pa?" tanya Fabio.
Rudi agak bingung menjelaskannya dengan bahasa Fabio.
"Kita iini mau... Gimana ya jelasinnya? Hmm... Bio mau nggak Papa, Mama, Bio tinggal sama-sama dalam satu rumah?"
"Mau!" jawab Fabio semangat.
"Jadi ini tuh, acara biar kita bisa tinggal sama-sama setelah acaranya selesai," jelas Rudi.
"Oh... Papa mau menikah sama Mama Bio?"
"Nah, itu dia!" ujar Rudi sambil garuk-garuk kepala.
"Ngapain susah-susah mikir,, nyari kata-kata bagus tadi. Taunya dia udah ngerti kata menikah!" batin Rudi.
"Nanti Bio juga akan menikah, ya Pa?"
"Iya. Nanti kalau Bio udah besar, udah dewasa," jawab Rudi.
"Ya ampun... anak ini nanya melulu, nggak tau apa orang lagi gugup!" batin Rudi lagi. Namun Rudi berusaha menjawab pertanyaan Bio.
"Papa gak tau, Dik. Itu hanya Allah yang tau."
"Bulan sama tante Fathia atau tante Vina, kan?" tanya Fabio lagi. Sontak Rudi tertawa karena merasa apa yang dikatakan Fabio itu lucu, belum lagi melihat mimik wajah Fabio yang seperti memelas.
"Nggak, bukan, Nak. Emang Bio gak mau menikah sama salah satu dari mereka?" tanya Rudi.
"Nggak mau! Nanti mereka berantem melulu, soalnya mereka sama-sama mau disayang sama aku..."
Rudi tertawa lagi mendengar penjelasan Fabio.
__ADS_1
"Mas Rudi, penghulunya sudah datang. Dimohon untuk bersiap, acara akan segera kita mulai!" ujar salah seorang koordinator dari WO.
Rudi segera bersiap-siap. Dia mulai mencari sosok yang ingin sekali dilihatnya, tapi satangnya sosok itu tak ditemuinya.
"Lama banget dandannya, memangnya setebal apa bedaknya?" gumam Rudi.
Tak berapa lama Sarah muncul dengan riasan yang cantik dan memesona semua orang yang melihat. Termasuk Rudi tentu saja.
Prosesi akad nikah berjalan lancar. Semua orang mengatakan kata sah hampir bersamaan. Rudi menarik napas lega dan tak henti-hentinya bersyukur. Setelah itu mereka berfoto dengan keluarga inti yang semuanya hadir di situ Kegembiraan terpancar dari sorot mata kedua mempelai.
"Kamu cantik sekali, Sayang," bisik Rudi. Dia tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Sarah, seolah tak mau terpisah lagi.
Keluarga terdekat dan kerabat yang menghadiri akad nikah memberikan ucapan selamat pada mereka. Namun kebersamaan mereka harus terpisah sementara saat mereka harus mengganti pakaian akad menjadi pakaian resepsi.
Penata rias segera membantu mereka berganti pakaian. Karena tak perlu dirias, Rudi keluar dari ruang rias lebih dulu dan bergabung dengan keluarganya yang sedang berkumpul. Tinggallah Sarah di dalam ruangan itu bersama dua orang juru rias.
Saat sedang aayik bicara dengan keluarganya, orang dari WO datang dan memberitahu Rudi bahwa resepsi akan segera dimulai. Dia segera menemui Sarah di ruang rias dan bersama-sama menuju ruang resepsi.
Acara berlangsung lancar. Orang tua Vina didapuk menjadi perwakilan orang tua Sarah. Mereka tak keberatan saat Sarah memintanya untuk mendampinginya di pelaminan.
Hampir semua tamu undangan hadir di sana, termasuk Bu Sani, Sandi dan calon istrinya. Mereka sangat bahagia melihat pernikahan Sarah dan Rudi, serta mengucapkan selamat pada sang pengantin.
Semua tampak kagum dengan penampilan kedua mempelai yang terlihat serasi, makanan yang serba lezat dan juga dekorasi ruangan yang ditata apik dan simpel namun terkesan mewah. Tampak beberapa orang berfoto selfie dengan latar belakang dekorasi ruang yang indah. Vina dan Feni tampak tak mau ketinggalan berpose di sana. Meski datang terlambat Leni pun datang menghadiri resepsi itu. Hanya Rizal yang tak hadir di sana, namun Rudi dan Sarah memaklumi hal itu.
Menjelang sore acara resepsi itu berakhir. Hampir semua tamu sudah meninggalkan ruangan, termasuk pihak keluarga pengantin. Sebelum meninggalkan gedung resepsi, Rudi dan Sarah mengganti baju pengantinnya dengan baju biasa yang kasual dan nyaman.
Rudi menunggu Sarah yang sedang mengganti bajunya di kamar ganti. Hampir setengah jam dia menunggu, namun Sarah belum muncul juga. Rudi jadi merasa khawatir dan memutuskan untuk menyusulnya ke ruang ganti. Betapa terkejutnya dia, karena Sarah tak ditemukannya di sana.
"Kemana perginya?" gumam Rudi. Dia mulai mencari Sarah di setiap toilet gedung itu. Namun hasilnya nihil.
Hampir setengah jam dia mencari istrinya di gedung itu, bahkan sempat menanyakannya pada para pegawai WO yang sedang membersihkan gedung resepsi. Rudi hampir putus asa. Lalu dia menghubungi keluarganya yang sudah ada di rumah untuk menanyakan Sarah. Tapi keluarganya mengatakan Sarah tak bersama mereka.
__ADS_1
Rudi tak mengerti, bagaimana bisa istrinya menghilang begitu saja tanpa jejak. Akhirnya Rudi dan keluarga meminta bantuan pihak gedung untuk membuka rekaman CCTV gedung itu, terutama CCTV yang dipasang di dekat ruang ganti.
Rekaman CCTV itu akhirnya membuka tabir misteri hilangnya Sarah. Di rekaman itu tampak ada seorang pria dan seorang wanita berjalan keluar dari ruang ganti bersama Sarah, namun kedua orang itu tak terlalu jelas karena menggunakan masker dan topi.