
Sarah menatap Vina dengan geram karena telah membuatnya tak bisa menolak tawaran Rudi, tapi Vina pura-pura tak melihat reaksi kegeraman Sarah. Dalam hati, Vina bersorak gembira karena dia berhasil membuat hubungan Sarah dan Rudi menjadi dekat.
"Tapi Vin, aku harus ke apartemen kamu dulu buat ngambil baju-baju kotorku sama Bio." Sarah masih tetap berusaha mencari alasan. Matanya melotot pada Vina, seolah memberi kode agar Vina membantunya menghindari Rudi.
"Gak apa-apa, Sar. Baju kotornya ntar gue laundry. Tenang aja, pokoknya terima bersih dan wangi."
Bukannya membantu Sarah, Vina malah membuat Sarah semakin tak bisa menghindari Rudi
Akhirnya Sarah terpaksa menerima tawaran Rudi untuk mengantarnya pulang. Tentu saja hal itu menjadi hal yang membahagiakan bagi Rudi karena dengan begitu dia bisa mengetahui dimana tempat tinggal Sarah.
Rudi melihat jalannya untuk mendapatkan Sarah semakin terbuka lebar. Tak dipungkirinya bahwa itu semua berkat bantuan Vina.
"Jadi kalian tinggal di sini? Abang juga ada teman yang rumahnya di sekitar sini. Kapan-kapan Abang kenalkan kamu padanya. Gak jauh koq rumahnya."
Sarah tak menanggapi omongan Rudi Dia menjulurkan tangannya untuk mengambil Fabio yang sedang tertidur di gendongan Rudi.
"Biar aku saja yang bawa ke dalam." Rudi menawarkan bantuannya untuk membawa Fabio ke dalam rumah kontrakan Sarah yang kecil.
Setelah meletakkan Fabio di kasur kecil Sarah, Rudi keluar dari kamar.
"Kasur kecil itu cukup untuk kalian berdua?"
"Alhamdulillah cukup."
Rudi merasa tak tega melihat orang-orang yang dicintainya tinggal dalam situasi seperti yang dilihatnya.
"Sar, kalau kamu butuh sesuatu, bilang aja padaku. Siapa tau aku bisa bantu. Ya?"
Sarah mengangguk.
"Terimakasih,* ujar Sarah pelan.
"Ya sudah. Udah hampir maghrib, Abang pulang dulu. Lain kali Abang mampir lagi." Rudi berpamitan pada Sarah.
Semakin hari hubungan Rudi dan Sarah semakin dekat. Keberadaan Fabio di tengah mereka menyemarakkan setiap pertemuan mereka. Dan seperti permintaan Sarah, mereka tidak bertemu di kantor dan saat jam kantor.
Rudi banyak menghabiskan akhir pekan bersama Sarah dan Fabio. Mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia. Malam-malam Rudi yang dulu sepi kini banyak diisi dengan video call dan chat bersama Sarah dan Fabio.
__ADS_1
Meskipun begitu Sarah masih belum membuka hati sepenuhnya untuk Rudi. Trauma masa lalu sepertinya masih sangat membekas di hatinya.
Rudi sangat memahami trauma yang selalu menghantui Sarah. Karena itu dia terus berusaha menunjukkan kesungguhannya untuk membawa hubungan mereka ke arah yang lebih serius.
Tak bisa dipungkirinya bahwa perasaannya untuk Sarah sangat berbeda dengan perasaannya dulu terhadap mantan kekasihnya. Sarah seperti magnet yang menariknya untuk selalu membuatnya ingin berdekatan. Bersama Sarah dan Fabio hidupnya terasa lengkap dan berwarna.
Hari itu hari Sabtu, Rudi mengajak Sarah dan Fabio pergi ke pantai. Fabio sangat senang, dia berlarian ke sana ke mari, bermain pasir pantai dan juga bermain bola bersama Rudi.
Sementara Sarah menggelar tikar di pinggir pantai sambil menatap deburan ombak laut. Karena lelah, Rudi dan Fabio beristirahat di samping Sarah. Setelah minum dan memakan beberapa snack mereka, Fabio tertidur di pangkuan Sarah.
"Sar, aku kira kita sudah sangat mengenal satu sama lain. Dalam hal ini aku tak mau main-main. Sarah mau kan jadi istri Abang?" Rudi memberanikan diri untuk menyatakan harapannya.
Namun bukannya reaksi bahagia yang dilihat Rudi di wajah Sarah. Sarah malah menunjukkan keterkejutannya yang tak bisa disembunyikannya.
"Boleh aku tidak menjawabnya sekarang?"
Rudi mengangguk. Dia memang sudah siap menghadapi apapun yang akan dikatakan Sarah setelah mendengar lamaran darinya.
"Kamu boleh menjawabnya saat kamu siap. Tapi kalau bisa jangan lama-lama, ya?"
"Harus secepatnya?"
"Terus terang aku belum siap menjalani sebuah hubungan yang terikat. Aku masih kurang percaya diri untuk memulainya lagi," ujar Sarah dengan pandangan nanar.
"Aku akan berusaha membuatmu yakin untuk memulainya kembali denganku!" Rudi menatap Sarah yang sedang menundukkan kepalanya
"Keadaanku berbeda, aku bukan wanita lajang yang bisa dengan mudah menentukan pilihannya. Aku ada Fabio yang harus kupertimbangkan juga perasaannya."
"Aku paham, Sar. Aku pun sudah memikirkan hal itu. Tapi perlu kamu tahu, Sar, aku sudag menyayangi Fabio sejak pertama kali kami bertemu. Bio membuatku sadar, bahwa umurku sudah tidak muda lagi. Celoteh-cwlotehnya membuatku merasa menjadi orangtua."
"Terimakasih sudah menyayangi anakku. Tapi untuk saat ini aku tak bisa menjanjikan apa-apa padamu."
"Sampai kapan pun aku akan menganggap Bio seperti anakku sendiri. Aku pun tak akan memaksamu untuk menerima lamaranku. Tapi aku akan menunggu sampai kau siap memulai segalanya denganku," ujar Rudi dengan mantap.
"Maafkan aku, ya," ucap Sarah lirih.
"Tidak apa-apa. Aku memahaminya," jawab Rudi.
__ADS_1
Beberapa saat mereka terdiam, hanya deburan ombak dan suara riuh orang yang sedang menikmati pantai seperti halnya mereka.
Hari sudah menjelang senja saat mereka meninggalkan pantai itu. Fabio pun sudah bangun dari tidurnya yang hanya beberapa saat. Udara lembab pantai membuat tak bisa tidur nyenyak.
"Papa, ayo kita pulang. Bio gerah, mau mandi!" ujar Fabio pada Rudi.
"Oh ya? Anak papa kegerahan, ya? Kalau begitu ayo kita pulang. Tapi biar mama selesaikan dulu bersihin badan kamu dengan tisu basah dan mengganti baju kamu, ya? Biar gak bau acem!"
Setelah membenahi barang bawaan mereka, ketiganya berjalan menyusuri pantai menuju tempat Rudi memarkirkan mobilnya.
"Papa kenapa gak gandeng mama?" tanya Fabio dengan polosnya.
Sarah dan Rudi terkejut mendengar pertanyaan itu.
"Kalau papa gandeng mama, nanti papa gak bisa gandeng Bio, dong," ujar Rudi memberikan alasan.
"Lagipula Om Rudi kan repot bawa barang-barang. Lihat itu!" ujar Sarah sambil menunjuk barang-barang mereka yang sedang di bawa Rudi.
"Kalau gitu biar Bio aja yang bawa, biar papa dan mama bisa gandengan! Sini, Pa. Biar Bio yang bawa," pinta Fabio pada Rudi yang membuat Rudi tertawa.
"Emangnya Bio kuat? Ini berat, Sayang. Biar papa aja yang bawa, ya?"
Akhirnya mereka sampai di parkiran dan meluncur pulang.
"Bio suka main di pantai?" tanya Sarah.
"Suka, Ma. Bio tadi main bola sama papa, main pasir juga."
"Nanti kapan-kapan mama ajak Bio lagi ke pantai. Mau?"
"Mau! Tapi sama papa juga, kan?"
"Oh papa juga diajak, ya?" tanya Rudi.
"Diajak dong. Kan papa papanya Bio."
Sarah merasa salah tingkah di hadapan Rudi karena sikap Fabio yang sangat memuja Rudi dan selalu menganggapnya papanya.
__ADS_1
"Kenapa jadinya begini? Kenapa Bio harus dekat dengannya?" batin Sarah.