Misteri Sepatu Kecil

Misteri Sepatu Kecil
21


__ADS_3

"OMG, itu beneran dia bukan sih? Beda banget, ya? Lo lihat kan, Sar?" Sarah mengangguk.


"Gue jadi nambah penasaran dengan cewek itu. Bisa beda gitu, ya? Beda banget penampilannya dengan di kantor," kata Vina sambil tak henti menatap Feni dari kejauhan.


"Udah, Vin. Itu urusan dia. Gak usah dibesar-besarkan." Sarah berusaha mengingatkan Vina agar tak terlalu mempermasalahkan hal itu.


"Emang lo gak penasaran? Temen kita itu! Apa kita kejar aja?"


"Jangan, Vin. Entar dia malu!" cegah Sarah.


"Kalau itu suami atau pacarnya seharusnya dia gak perlu malu. Lumayan juga tampang cowok itu, meski kelihatan udah berumur. Kecuali kalau itu bukan suami atau pacar..."


"Vin, udah. Gak baik berburuk sangka. Ayo kita jalan."


"Entar dulu, Sar. Gue masih ingin mastiin kalau itu memang si Feni. Ayo kita ikutin." Vina menarik tangan Sarah.


"Vin, ngikutinnya jangan deket-deket. Entar dia curiga."


"Iya, iya. Gue cuma mau ngawasin doang," ujar Vina yang terus tak melepaskan pandangannya pada pasangan yang tampak mesra yang berjalan menelusuri mall itu.


"Beneran si Feni, Sar. Dandanannya dewasa banget. Lo aja kalah dewasa dandanannya dibanding dia. Pake make up sama perhiasan, booo..."


"Udahlah, Vin, ayo kita pulang. Kan kamu udah yakin kalau itu Feni." Sarah menarik tangan Vina yang matanya masih saja mengawasi Feni.


Meski masih penasaran Vina menuruti Sarah dan berjalan ke arah eskalator.


"Sar, nanti anter gue ke supermarket bawah, ya? Ada beberapa kebutuhan bulanan yang harus gue beli."


"Oke, sekalian aku mau belanja kebutuhan


Bio juga."


Saat sedang mencari barang yang mereka butuhkan, Fabio minta diturunkan dari troli belanjaan. Dia ingin mengambil makanan kesukaannya di rak yang agak jauh dari sana. Karena terlalu bersemangat dia tidak sengaja menyenggol seseorang dan membuat orang itu kaget.


"Hati-hati, sayang. Jangan lari!" teriak Sarah memperingatkan anaknya. Pria yang ditabrak Fabio menatap ke arahnya.


"Maaf, pak. Anak saya tidak hati-hati!"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bu". jawab pria itu.


"Ada apa, sayang?" tanya seseorang dari arah belakang Sarah. Dengan refleks Sarah menengok ke arah suara itu.


"Feni? Kamu Feni, kan?" ujar Sarah.


"Kak Sarah..." Feni terlihat kikuk dengan situasinya saat itu.


Sarah menyadari perubahan sikap Feni yang terlihat kaku dan tak banyak bicara.


"Ya sudah, Selamat belanja ya, Fen. Pak, sekali lagi saya minta maaf. Sayang, ayo kita ke sana!" ujar Sarah sambil mengajak Fabio pergi tanpa menengok ke belakang.


Sarah kembali pada troli belanjaannya yang sedang ditunggui Vina.


"Tante...!" teriak Fabio sambil menunjukkan makanan yang baru saja diambilnya.


"Ya ampun, anak ganteng. Nggak sabaran, ya? Sampai harus lari demi makanan kesukaan!" kata Vina lalu mencubit pipi Fabio.


"Vin, jangan ke arah sana. Ada Feni di sana", bisik Sarah.


"Dia ngelihat elo?" Sarah mengangguk lagi.


"Bio menabrak pria yang bersama Feni, terus Feni muncul. Ya gitu deh," bisik Sarah.


"Jadi si Feni ngelihat elo dong? Reaksinya dia gimana?"


"Ya pastinya kaget. Makanya aku buru-buru balik ke sini, biar dia gak terlalu malu sama aku."


***


Jiwa kekepoan Vina membuat dia terus memikirkan Feni. Dia penasaran dengan hubungan antara Feni dan pria berumur itu.


Saat di kantor sikap Feni sedikit berubah, dia lebih banyak diam dan berusaha menghindari Sarah. Bahkan tak ada lagi senyum cerianya.


"Fen, kayaknya elo ngehindar dari Sarah, ya? Kenapa sih? Sorry kalau gue kepo," tanya Vina pada Feni.


"Nggak apa-apa, kak."

__ADS_1


"Yakin gak apa-apa? Bilang aja sama gue, apa lo ada masalah sama dia? Entar gue bantu bilang sama dia. Sarah orangnya baik koq, kalau salah pasti dia minta maaf."


"Nggak ada apa-apa koq, kak," jawab Feni.


"Tapi sikap lo beda, Fen. Sarah aja bilang sama gue kalau sikap lo beda sama dia. Dia bingung, tau...?"


Sarah datang mendekat setelah mendapat kode dari Vina.


"Fen, aku ada salah sama kamu, ya? Maaf ya, Fen," ujar Sarah.


"Nggak koq, kak, kakak gak ada salah," jawab Feni lirih.


"Fen, kita ini kan teman, bahkan kalian berdua sudah aku anggap keluarga. Kalau ada apa-apa bilang aja. Kalau kamu kesel, kamu juga boleh marah. Tapi jangan diemin orang begitu, biar kita gak menduga-duga dan berburuk sangka," jelas Sarah. Ketiganya terdiam.


"Soal yang waktu itu, kak..."


"Waktu itu? Waktu yang mana?" tanya Sarah pura-pura tak mengerti.


"Yang di mall itu..." lirih Feni.


"Oh yang itu..., memangnya kenapa? Tidak ada masalah, kan? Apa anakku merusak sesuatu?"


Feni lalu menceritakan bahwa pria itu adalah orang yang telah membiayai kuliah dan biaya hidupnya selama dia kuliah dan tinggal di Jakarta. Sebetulnya Feni ingin terlepas dari pria itu, tapi dia tidak tahu caranya apalagi dia sangat berhutang budi pada pria itu.


Istri pria itu sudah berkali-kali memintanya untuk menjauhi suaminya, dan Feni sudah memberitahukan hal itu pada pria itu dan memintanya untuk menjauhinya, tapi pria itu malah menganggapnya tak tahu membalas budi dan bersikukuh masih ingin melanjutkan hubungan mereka.


"Aku nggak tau harus gimana lagi, kak. Rasanya gak ada pilihan buatku. Aku capek hidup begini terus. Menjadi perusak rumah tangga orang lain, itu perbuatan yang hina, kak..." ucap Feni terisak. Vina menyodorkan tissu padanya.


"Pria itu mau menikahi kamu?" tanya Sarah. Feni menggeleng.


"Aku gak tau, kak. Dia gak pernah ngebahas itu. Aku juga gak berani menanyakannya."


"Dia pernah bersikap kasar padamu?" Feni menggeleng.


"Dia selalu baik sama aku, bahkan sangat baik kecuali saat aku memintanya untuk menjauhiku dan kembali pada istri dan anaknya." Feni tertunduk lesu.


Sarah menghela napas panjang, sementara Vina hanya diam karena tak tau apa yang harus dikatakannya. Vina tak punya pengalaman dengan hal-hal berat seperti yang pernah dialami Sarah dan Feni.

__ADS_1


__ADS_2