
Setelah pertemuan itu Rizal merasa punya alasan untuk sering-sering bertemu dengan Sarah dan Fabio. Meski sering kali mendapatkan penolakan, Rizal terus maju dan memberikan berbagai alasan untuk bisa menemui mereka Hal itu membuat Sarah merasa risih dan tidak enak pada Rudi. Meski Rudi tak mempermasalahkannya Sarah merasa tidak suka jika Fabio terlalu dekat dengan Rizal.
"Mas, itu lho bapaknya Bio... ngajakin ketemuan melulu," keluh Sarah.
"Ya nggak apa-apa, dia kan ayahnya Bio," jawab Rudi.
"Aku nggak suka dia dekat-dekat dengan Fabio. Aku takut."
"Takut kenapa? Dia kan ayahnya, nggak mungkin lah dia menyakiti anaknya sendiri."
"Bukan begitu maksudku. Aku takut dia akan mengambil Fabio dariku," isak Sarah.
"Jangan khawatir, sampai kapan pun Bio akan bersama kita. Aku akan memperjuangkannya dengan cara apapun. Sampai kapan pun Bio tetap anak kita." Rudi berusaha menenangkan Rudi.
"Aku takut, Mas. Aku takut. Aku takut dia mengambil Bio. Aku gak mau Bio pergi dari kita," Sarah tmenangis ersedu.
"Iya, aku paham. Kamu yang tenang, ya? Kalau kamu tenang, kita bisa berpikir jernih. Percayalah, Bio tetap akan bersama kita selamanya." Rudi terus meyakinkan Sarah.
Sarah mengusap air matanya. Dia menyadari bahwa apa yang dikatakan Rudi benar. Dia harus tenang dan berpikir lebih jernih. Meski kemungkinan itu ada, tapi jika langkah yang diambil benar, maka semuanya akan baik-baik saja.
"Jangan terlalu dipikirkan. Rizal itu ayahnya Bio. Jadi dia punya hak juga atas dirinya, tapi dia tidak boleh mengambilnya dari sisimu, dari sisi kita. Kalau hanya pergi atau bermain, ya tidak masalah. Meski masih kecil, aku rasa Bio juga sudah bisa memilih dengan siapa dia merasa nyaman " Rudi memberi penjelasan pada Sarah.
Rudi terus menenangkan Sarah. Dia tak mau Sarah terus-terusan memikirkan hal yang tak selayaknya dipikirkan terlalu dalam dan membuatnya menjadi sedih atau sakit.
Sarah merasa nyaman saat dia berada di dekat Rudi. Semuanya menjadi terasa lebih mudah saat bersamanya. Beban yang biasanya dia pikul sendiri, sekarang bisa dia bagi dengan Rudi.
***
Hari itu Rizal datang dengan berbagai macam hadiah untuk Fabio. Diketuknya rumah kontrakan Sarah. Sarah membukakan pintu untuknya. Tampak Rizal di depan pintu sambil menyunggingkan senyum manisnya. Senyum yang dulu sempat membuat Sarah jatuh hati.
"Sarah. Assalamualaikum. Boleh aku ketemu Bio?" ujarnya.
Sarah menatapnya sesaat.
"Fabio lagi tidur? Lain kali saja kalau Bio tidak tidur," ucap Sarah datar.
__ADS_1
"Boleh aku menciumnya saat dia tidur. Aku kangen sekali. Sebentar aja!" pinta Rizal.
"Dia baru saja tidur, takutnya dia terbangun. Kasihan dia butuh istirahat," tolak Sarah.
"Sebentar aja, Sar. Aku kangen anakku," pinta Rizal lagi.
Dengan terpaksa Sarah membiarkan Rizal masuk dan menunjukkan dimana Fabio tidur. Rizal nampak memperhatikan keadaan rumah yang ditempati orang-orang yang sangat dicintainya itu. Rumah sederhana dengan perabot seadanya. Rizal merasa sedih melihat keadaan itu. Apalagi saat melihat tempat tidur yang menurutnya tidak layak ditiduri anak seorang Rizal yang merupakan pengusaha sukses.
Hanya ada beberapa mainan dan buku cerita serta alat belajar.
"Kamu sudah lama tinggal di sini?" tanya Rizal pada Sarah.
"Baru beberapa bulan," jawab Sarah.
Rizal mendekati Fabio, lalu memeluk dan menciumnya. Ditatapnya lekat wajah anaknya yang selama ini selalu hadir di mimpi-mimpinya. Dielusnya kepala Fabio dengan lembut.
"Papa..." gumam Fabio dengan mata terpejam.
"Iya, Sayang. Ini ayah. Ayah di sini. Ayah akan selalu jaga Bio," bisik Rizal.
Fabio masih tertidur, seolah tak terganggu dengan kehadiran Tizal. Rizal meletakkan semua mainan dan bingkisan yang dibawanya di samping Fabio yang tertidur pulas. Sekali lagi Rizal menciumi Fabio dan mengelus kepalanya.
Rizal bangkit dari duduknya dan menatap Sarah sehingga membuat Sarah jadi salah tingkah.
"Sudah selesai?" tanya Sarah pada Rizal yang seolah tak ingin keluar dari kamarnya.
Rizal mengangguk, lalu melangkahkan kakinya setelah menoleh pada Fabio yang masih saja tertidur pulas.
"Sar, bisa kita bicara sebentar?" tanya Rizal.
Sarah tak menjawab, namun dia mengikuti langkah Rizal.
"Sarah, apa boleh Bio tinggal bersamaku?" tanya Rizal yang membuat Sarah sangat terkejut.
"Apa maksud kamu, Mas? Kamu mau mengambil Bio dariku?" tanya Sarah sengit
__ADS_1
"Nggak, bukan begitu maksudku. Aku..."
"Jelas sekali tadi kamu bilang ingin Bio tinggal bersamamu. Aku tak akan pernah mengijinkannya!" ujar Sarah memotong pembicaraan Rizal.
"Tidak, Sar. Bukan begitu maksudku. Aku hanya..."
"Sudahlah, aku bisa menebak apa yang kamu inginkan. Sekarang tolong tinggalkan rumah ini!" ujar Sarah dengan penuh emosi. Tanpa disadarinya dia meneteskan air matanya.
"Iya, baik. Baik. Aku akan pergi. Tapi kamu jangan marah, ya? Kamu jangan nangis, Sayang. Aku tak mau melihatmu sedih dan meneteskan air mata lagi karena aku. Aku akan pergi, tapi kamu harus janji, jangan sedih lagi. Ya?" Rizal ingin sekali menyeka air mata Sarah, tapi Sarah menepiskan tangannya.
Rizal menarik napas panjang. Dia sadar betul bahwa Sarah masih belum bisa memaafkannya. Rizal tak bisa berkata apa-apa lagi, dia melangkahkan kakinya keluar dari rumah Sarah.
"Assalamualaikum," ujarnya sebelum meninggalkan rumah itu.
Setelah kepergian Rizal, pacahlah tangis Sarah. Apa yang selama ini ditakutinya sepertinya akan terjadi. Sarah semakin yakin bahwa Rizal akan mengambil Fabio darinya. Sarah menangis tersedu, dia tak mau kehilangan Fabio. Dia harus segera menemukan jalan keluar untuk menjauhkan Fabio dari Rizal.
Sarah mengemas semua pakaian Fabio dan pakaiannya. Untuk sementara dia harus pergi dari kota itu untuk menghindar dari Rizal. Yang terpenting menurutnya adalah menjauh dari Rizal sejauh mungkin.
Setelah selesai mengemas semua barang yang akan dibawanya, Sarah membangunkan anak Fabio yang masih tertidur pulas.
"Nak, Sayang. Bio, bangun, Nak. Ayo kita pergi," bisiknya lembut sambil mengguncang-guncang badan Fabio.
Fabio membuka matanya sedikit, lalu mengusap matanya.
"Masih ngantuk, Ma..." rengek Fabio
"Iya, nanti bisa dilanjutin lagi tidurnya di mobil. Ya? Sekarang Bio bangun dulu. Kita mau pergi. Pakai jaketnya, ya?" ujar Sarah.
"Kita mau ke mana, Ma? Mau jalan-jalan, ya? Emang papa udah jemput?" tanya Fabio penuh ingin tahu.
"Kita pergi berdua aja. Nanti papa nyusul," jawab Sarah.
"Kita mau ke panti lagi, ya Ma? Papa bilang papa mau main dengan teman-teman Bio di panti."
Sarah tak menjawab pertanyaan Fabio. Dia mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang.
__ADS_1
"Sudah dimana, Pak? Apa masih jauh?" tanya Sarah.
"Jangan lama-lama, ya Pak? Saya lagi buru-buru ini," ucap Sarah lagi, lalu dia memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.