Misteri Sepatu Kecil

Misteri Sepatu Kecil
44


__ADS_3

Beberapa hari setelah pembicaraannya dengan Rudi, Sarah merasa yakin dan memutuskan untuk kembali ke rumahnya.


"Bu, inshaAllah besok Sarah dan Bio mau pulang," ucap Sarah pada Bu Sani.


"Lho kenapa? Apa masalahmu dengan mantan suamimu sudah selesai?" tanya Bu Sani.


Bu Sani memang tak tahu kelanjutan masalah Sarah, dia tak ingin ikut campur dan menyerahkan keputusan pada Sarah sendiri.


"Selesai atau tidak selesai Sarah harus menghadapinya, Bu. Sarah tak boleh lari seperti ini," jelas Sarah.


"Betul, Anakku. Tak ada gunanya lari dari masalah. Tapi kalau kamu merasa belum mampu menghadapi, kamu harus mundur dulu untuk selanjutnya menyiapkan kekuatan untuk menghadapinya. Apa yang kamu lakukan ini sudah benar," jelas Bu Sani dengan sangat lembut.


"Oh iya, Sar. Hari ini kakakmu akan pulang dari pelatihannya. Katanya mau ngenalin seseorang sama kita."


"Seseorang? Siapa, Bu? Calonnya?" tanya Sarah penasaran.


"Semoga aja begitu. Habis kamu gak mau jadi menantu Ibu sih, Sar. Tapi gak apa-apa, kamu akan tetap jadi anak Ibu selamanya," kata bu Sani lembut.


Sarah tersenyum mendengar hal itu.


Sandi memperkenalkan mereka dengan calon istrinya. Dengan sedikit kaku Sandi memperkenalkannya pada Sarah dan Fabio.


"Nisa, kenalin ini adekku dan anaknya," katanya pada wanita itu yang ternyata.bernama Annisa.


"Ayah... Koq baru pulang? Bio kangen Ayah!" kata Fabio yang sudah tak bisa membendung rasa kangennya pada Sandi.


"Ayah kerja, Sayang," jawab Sandi sambil menggendong dan menciumi Fabio.


Annisa kelihatan sedikit kaget saat mendengar Fabio memanggil Sandi dengan sebutan ayah. Sarah menjelaskan pada Annisa, bahwa sejak kecil Fabio sangat dekat dengan Sandi dan Annisa memahaminya.


Keadaan yang kaku diantara mereka berubah menjadi ceria berkat Fabio yang terus membuat mereka tertawa dengan ulahnya.


Esoknya Rudi datang menjemput Sarah. Dengan membawa berbagai oleh-oleh untuk bu Sani, Rudi mengetuk pintu rumahnya. Sandi membukakan pintu untuknya bersama Fabio yang selalu mengikutinya.


"Assalamualaikum," sapa Rudi.


"Wa'alaikumsalam," jawab Sandi.


"Papa...!" Fabio menghambur ke arah Rudi.


"Hai, anak Papa. Papa kangen sama kamu. Bio gak bakal kan selama di sini?" berbagai pertanyaan keluar dari mulut Rudi. Fabio menggeleng lalu memeluk leher Rudi yang sedang berjongkok sejajar Fabio.


Melihat hal itu Sandi langsung menerka bahwa itu pasti Rudi.


"Rudi, ya? Masuk, masuk. Aku panggilkan Sarah dulu di dalam," ujar Sandi.


Ada perasaan cemburu di hati Sandi yang berusaha ditutupinya. Rudi mengetahui hal itu, tapi dia tak mempedulikannya. Rudi berpura-pura tak mengetahuinya.


"Oh... rupanya tamu yang ditunggu sudah datang!" kata Bu Sani yang baru saja keluar dari dapur bersama Sarah.


Rudi menyalami bu Sani dan mencium tangannya, lalu mendekati Sarah, mencium pucuk kepala Sarah dan mengelusnya lembut.


Setelah sedikit berbasa-basi, Rudi memberi kode pada Sarah untuk bersiap-siap dan pulang. Setelah memasukkan barang-barang ke mobil, Sarah dan Rudi berpamitan

__ADS_1


"Nak Rudi, titip anak dan cucu Ibu, ya? Tolong jaga mereka," pinta bu Sani. Rudi mengangguk.


"Titip adikku!" ujar Sandi lalu memeluk erat Rudi.


Akhirnya Rudi, Sarah dan Fabio sudah berada di mobil menuju rumah Sarah.


"Sar, nanti kita atur waktu untuk ketemu orangtuaku, ya?" ujar Rudi.


Sarah mengangguk.


"Ya, tapi aku maunya setelah masalahku ini selesai," ujar Sarah memberi syarat.


"Ya. Pokoknya sesiapnya kamu. Tapi secepatnya."


Sebetulnya Sarah merasa takut keluarga Rudi tak bisa menerimanya, mengingat statusnya yang janda beranak satu. Tak semua orangtua bisa menerima anaknya menikah dengan wanita dengan embel-embel.


"Apa mereka akan mau menerimaku?" tanya Sarah pada Rudi yang sedang menyetir.


"InshaAllah akan terima. Pikiran mereka modern koq," Rudi berusaha meyakinkan Sarah.


Meski ragu dengan apa yang dikatakan Rudi, Sarah memutuskan untuk menemui calon mertuanya suatu hari nanti.


Perjalanan mereka terasa cepat karena dinikmati bersama kekasih hati. Setelah mengantar Sarah dan Fabio ke rumah mereka, Rudi langsung berpamitan untuk pulang. Fabio tertidur karena kelelahan akibat perjalanan jauh, sehingga mudah bagi Rudi untuk meninggalkan rumah Sarah.


***


Esoknya Sarah disambut hangat oleh sahabatnya Vina dan Feni di kantor.


"Lo kemana aja, Sar? Kangen...!" pekik Vina tanpa mempedulikan orang di sekeliling yang sedang menatap pada mereka.


"Ups, sorry. Kelepasan!" bisik Vina nyengir.


"Kebiasaan!" omel Sarah.


"Kak Sarah kemana aja? Gak enak gak ada Kakak. Diisengin terus sama Kak Vina!" Feni mengadu pada Sarah.


"Yaelah pake ngadu segala ni bocah!"


"Vina... Kamu ini gak berubah, masih aja suka iseng!"


"Biar seru, Sar. Gak sepi kayak di kuburan. Iya gak?" alis mata Vina dinaikturunkan, membuat Sarah dan Feni tertawa.


"Si Rizal masih gangguin elo, Sar?" tanya Vina.


"Nggak. Semoga saja dia bisa memahami bahwa aku gak mau dipisahkan dengan anakku," jawab Sarah sendu.


"Udah, lupain aja dia. Gak usah dipikirin. Kalau dia macem-macem lagi, biar gue yang ngadepin!" kata Vina sok jagoan.


Hari itu terasa menyenangkan bagi Sarah. Kerinduannya pada kedua sahabatnya terobati dalam sekejap. Berbagai cerita dibagi diantara mereka bertiga.


Saat sedang asyik mengobrol, ponsel Sarah berbunyi. Ternyata Rudi menelepon memberitahu Sarah bahwa sepulang kerja dia akan mengajak Sarah untuk berkenalan dengan orangtuanya. Sarah terkejut karena Rudi memberitahunya mendadak, dia merasa belum siap. Tapi Rudi mengatakan bahwa lebih baik sekarang karena takut orangtuanya pergi lagi untuk urusan bisnis.


Saat jam pulang kerja, Rudi sudah menunggu Sarah di parkiran. Untuk menghindari pandangan karyawan lain, Rudi memandu Sarah lewat ponsel menuju ke tempat dimana dia menunggu Sarah.

__ADS_1


"Gak pake nyasar, kan tadi waktu ke sini?" tanya Rudi di dalam mobil. Sarah menggeleng.


Rudi mulai menjalankan mobilnya menuju ke rumah orangtuanya. Di depan rumah mereka sudah disambut Fathia dan kedua orangtua Rudi.


"Ayo masuk. Ibu sudah masak buat kalian!" kata ibunya Rudi ramah.


"Terimakasih, Tante," jawab Sarah.


Makanan yang dimasak ibu Rudi sangat enak, mereka begitu menikmatinya.


"Sarah ini kenal dimana dengan Rudi?" tanya ibu Rudi.


"Di kantor, Tante. Saya ini karyawannya," jawab Sarah jujur.


Sejauh ini Sarah merasa ibu Rudi bisa menerimanya, namun hal itu berubah secara tiba-tiba.


"Kak, Bio koq nggak diajak? Fathia kangen sama dia. Lucu!" tanya Fathia.


"Ya nggak diajak, kan ini langsung dari kantor, Bawel...!" jawab Rudi. Sarah tertawa melihat ulah kakak beradik itu.


"Siapa Bio?" tanya ibu Rudi serius.


"Bio itu anaknya Kak Sarah, Bu. Anaknya lucu deh," jelas Fathia santai.


"Anak? Jadi Sarah udah punya anak? Sudah menikah?" ibu Rudi nampak terkejut mengetahui hal itu.


Perasaan Sarah mulai tidak enak. Apa yang diperkirakannya benar-benar terjadi.


"Suami kamu dimana sekarang?" nada bicara ibu Rudi berubah menjadi tegas seperti menginterogasi


"Sarah sudah..." omongan Rudi langsung dipotong ibunya.


"Biar Sarah yang bicara. Kamu diam aja!" bentak ibunya.


"Saya sudah bercerai, Tan. Mantan suami saya ada di kota ini juga," jelas Sarah.


Mata ibu Rudi mulai berkeliling mengamati Sarah dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia tampak tak suka pada Sarah dan membuat Sarah menjadi salah tingkah.


"Rud, ibu mau bicara sebentar!" ibunya memberi isyarat agar Rudi mengikutinya.


"Sebentar, ya?" kata Rudi pada Sarah.


Beberapa saat Rudi dan ibunya berada di dalam kamar. Tak ada yang tahu apa yang mereka bicarakan di dalam sana. Fathia dan ayahnya sedikit terkejut saat melihat tampang Rudi yang tampak lesu keluar sendirian dari kamar ibunya.


"Ayo, Sar. Aku antar kamu pulang!" ajak Rudi serius.


Fathia dan ayah Rudi saling berpandangan, mereka tidak mengerti apa yang telah terjadi


"Bang, koq buru-buru?" tanya Fathia bingung.


"Iya. Sarah harus buru-buru pulang. Kasian Bio!" jawab Rudi sekenanya.


"Ya udah. Hati-hati, ya? Kalau ke sini lagi ajak Bio, ya Kak?" ucap Fathia lugu. Sarah menjawab Fathia dengan senyum yang dipaksakan.

__ADS_1


"Ada apa ini?" gumam ayah Rudi.


__ADS_2