
"Kenapa lo gak nolak aja kalau lo gak mau, Len?" tanya Vina.
"Meski hatiku gak menerima, tapi gak ada pilihan lain selain menerimanya. Ayahku gak ada duit buat bayar utang. Aku? Kalian tau sendiri kan keadaanku. Sejak ayahku nikah lagi, aku mutusin untuk kos dan hidup mandiri."
"Kamu pernah ketemu orangnya?" tanya Sarah. Leni mengangguk.
"2 atau 3 kali."
"Kamu suka?" Leni menggeleng.
"Apa yang bikin kamu gak suka darinya? Menikahi seorang perempuan itu adalah niat baik dari seorang laki-laki, Len."
"Aku tau, Sar. Tapi hatiku merasa tidak yakin dengan niat baik dia!"
Beberapa saat ketiganya terdiam tak mengatakan sepatah kata pun.
"Aku cuma bisa menyarankan agar kamu shalat istikharah, meminta petunjuk pada Allah, mengembalikan segalanya pada keputusan-Nya. Jujur aku bilang, kamu berada di posisi yang sulit sekarang."
Sarah menatap Leni lalu mengelus punggungnya. Leni terisak lalu memeluk Sarah.
"Maaf ya, Len, sebagai teman aku gak bisa memberimu jalan keluar yang baik. Aku juga gak tau harus berbuat apa jika aku ada di posisi kamu saat ini."
Sarah mengeratkan pelukannya pada Leni.
"Gak apa-apa, Sar. Doain aku ya, Sar, Vin. Semoga apapun keputusan yang kuambil adalah yang terbaik buat semuanya."
Mereka bertiga lalu berusaha untuk tidur meski mereka tak bisa memejamkan mata karena masih memikirkan masalah Leni. Hampir bersamaan mereka bangun dari tempat tidur.
"Len, kalau elo udah nikah, lo masih mau kerja?" tanya Vina memecah kesunyian.
"Aku udah mengajukan resign ke kantor, Vin", jawab Leni lirih.
"Kenapa? Apa laki-laki itu gak bolehin kamu kerja?" tanya Sarah.
__ADS_1
"Sepertinya begitu. Lagipula mungkin aku gak akan tinggal di kota ini lagi. Dia akan membawaku ke daerah asalnya," jelas Leni
"Lo kalau entar ada masalah, jangan ragu buat hubungin kita, ya? Kita akan selalu ada buat lo." Leni hanya tersenyum menanggapi ucapan Vina.
"Len, kapan pun kamu butuh, kita selalu ada buat kamu. Kamu bisa curhat apa aja. Kapan-kapan kita juga bisa saling mengunjungi," ujar Sarah sambil memeluk Leni.
Beberapa hari kemudian Leni menikah dengan pria yang dijodohkan dengannya. Vina dan Sarah datang menghadiri akad nikah mereka. Dan itu menjadi waktu terakhir mereka berkumpul cukup lama karena Leni setelah menikah Leni dibawa ke kota lain oleh suaminya.
***
Siang itu Leni datang ke kantor untuk berpamitan dan mengambil barang-barangnya. Vina dan Sarah membantunya mengemas barang-barangnya agar tak ada yang tertinggal. Setelah menemui bagian HRD, Leni kembali ke ruangan kerja yang akan ditinggalkannya dan berpamitan pada teman-teman seprofesinya, lalu Leni kembali menemui Vina dan Sarah.
"Vin, Sar, aku minta maaf ya, kalau selama aku jadi temen kalian banyak ngelakuin kesalahan." Lalu mereka berpelukan.
"Lo gak ada salah, Len. Justru gue yang sering bikin lo kesel, bikin lo repot", ucap Vina sambil memeluk Leni.
"Nggak koq, Vin. Aku senang bisa menjadi teman kalian. Bersama kalian beban hidupku menjadi lebih ringan."
"Kamu sering-sering hubungin kita, ya?" pinta Sarah. Leni mengangguk.
Leni melambaikan tangannya saat akan keluar dari ruangan itu.
Kehadiran Leni hari itu yang hanya sebentar membuat Vina dan Sarah merasa sedih. Tapi semua sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa, ada pertemuan pasti ada perpisahan.
***
Setelah kepergian Leni, meja yang biasa Leni tempati tampak kosong, sehingga membuat Vina merasakan kesepian. Dia jadi sering bolak balik ke meja Sarah, meski hanya buat membicarakan hal yang gak penting
Saat dia membalik badannya dan akan melangkah menuju mejanya, dia melihat seseorang berada di meja Leni. Vina menepuk pundak Sarah.
"Sar, lihat itu." Vina menunjukkan jarinya ke arah meja Leni.
"Anak baru!"
__ADS_1
"Ayo kita ke sana, Sar", ajak Vina.
"Ngapain?" tanya Sarah.
"Kenalanlah, masa mau minta duit!"
Sarah berdiri lalu mengikuti Vina.
"Hai, baru masuk, ya?" tanya Vina sok akrab.
"Iya. Saya baru masuk hari ini."
"Kenalin gue Vina, dan ini Sarah. Nama lu siapa?"
"Nama saya Feni, mbak. Salam kenal, ya?" jawabnya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Hah? Entah kebetulan atau apa, nama lu hampir mirip sama nama penghuni meja ini sebelumnya. Cuma beda huruf depannya doang. Eh, kalau bisa jangan panggil mbak, ya? Panggil nama aja biar akrab", ujar Vina sambil menaikturunkan alisnya.
"Bisa aja kamu ini Vin, bilang aja gak mau dianggap lebih tua", goda Sarah.
"Bukan gitu, Sar. Gue kasian aja sama si Feni ini kl dia manggil gue mbak."
"Lah emang apa urusannya?" tanya Sarah penasaran. Feni pun tampak penasaran.
"Kalau gue jadi mbaknya Feni entar dia mesti salim atau cium tangan gue kalau ketemu."
Sarah dan Feni tertawa mendengar penjelasan Vina yang konyol.
"Maaf ya, Fen, Vina ini emang orangnya harus banyak dimaklumi. Tapi gak usah takut sama dia. Dia ini orangnya baik banget, meski kadang baiknya itu ada maunya," ucap Sarah sedikit bercanda untuk mencairkan suasana yang membuat Feni yang terlihat agak kaku.
"Sialan lo, Sar. Udah ngangkat gue tinggi-tinggi, trus elo jatuhin!" Vina mencubit Sarah dengan gemas.
Entah kenapa Sarah merasa bahwa Feni orangnya tertutup. Dia tidak seperti Leni yang tak ragu untuk mengobrol dengan dia dan Vina.
__ADS_1
"Mungkin dia masih adaptasi, makanya belum banyak bicara," pikir Sarah berusaha untuk tak berpikiran negatif.