Misteri Sepatu Kecil

Misteri Sepatu Kecil
24


__ADS_3

Hari Senin adalah hari yang sangat sibuk. Seperti biasanya Sarah dan rekan-rekannya berkumpul di satu ruangan dan mendengarkan arahan mengenai project penulisan untuk minggu itu.


Usai mendengarkan pengarahan itu Sarah kembali ke meja kerjanya dan mulai memikirkan tulisannya. Dia menatap monitor komputer yang ada di hadapannya, dengan terampil dia mengarahkan mouse untuk mencari bahan dan referensi yang dibutuhkannya. Wajahnya terlihat serius dan matanya membaca dengan seksama tulisan yang ada di hadapannya.


Sarah merasakan matanya sedikit perih dan lelah akibat terlalu lama memanndangi layar komputer. Dia memundurkan tubuhnya dan bersandar di kursinya sambil mengerjapkan matanya yang sedikit mengeluarkan air mata.


"Woi, ngelamun aja!" Tiba-tiba Vina sudah berada di sampingnya dan mengejutkannya.


"Vinnnaaa! Ih, bikin kaget aja."


"Makanya jangan ngelamun mulu, masa gue yang segede gini gak kelihatan. Ayooo, ngelamunin apa? Pacar yaaa?"


"Pacar apaan? Gak ada pacar-pacaran. Kamu tuh yang harusnya cari pacar!" omel Sarah.


"Lah terus tadi ngelamunin apa kalau bukan pacar?"


"Aku bukan ngelamun, mataku perih karena radiasi komputer, jadi aku istirahat dulu sambil mejamin mataku."


"Ooohh pantesan lu gak tau kalau gue udah ada di samping elo."


"Eh, Vin. Ngomong-ngomong soal pacar, aku mau nanya, kenapa kamu gak berusaha mencari jodoh?"


"iiihh apaan sih lo?"


"Aku serius! Aku lihat papa mama kamu udah sangat ingin punya cucu, sampai-sampai Fabio aja nyaman bersama papa mama kamu."


"Iya, gue tau. Tapi kan gak semudah itu cari jodoh yang cocok. Butuh waktu untuk saling kenal dan saling memahami. Jangankan yang pacaran, yang udah nikah aja banyak yang bubar."


"Iya sih. Contohnya yang ada di depan kamu ini. Tapi kondisiku sangat berbeda dengan kamu, Vin."


"Sorry, gue gak bermaksud menyindir elo, Sar. Itu realita. Bukan cuma kamu yang ngalamin itu."


Keduanya tercenung dan tak berkata-kata untuk beberapa saat.


"Eh Vin, kamu tiba-tiba ke sini mau ngapain?" Tanya Sarah mengalihkan topik pembicaraan.


"Oh iya, itu lho.. orang-orang lagi ngomongin soal tulisan charity yang waktu itu."


"Memangnya kenapa?"


"Katanya tulisan-tulisan itu diseleksi dan dikirim ke lomba penulisan nasional."


"Oh ya? Serius? Aku baru tahu. Semoga aja ada karya kita yang lolos, biar bisa banggain kantor kita."


Dari kejauhan tampak Feni berjalan menuju ke arah mereka.


"Kak Sarah, dipanggil Kepala Divisi tuh," kata Feni.

__ADS_1


"Aku? Waduh, ada apa ini? Kenapa dipanggil?"


"Kurang tau, Kak. Tadi dititipi pesan sama orang administrasi kalau gak salah."


Kriiing. Tak lama telepon di mejanya berdering.


"Dengan mbak Sarah? Ini aku Santi, sekretaris Kepala Divisi Penulisan dan Penyuntingan. Mbak diminta ke ruang Kepala Divisi sekarang."


"Baik, mbak Santi. Saya segera ke sana." Jawab Sarah.


"Oke, ditunggu yaaa?" Santi menutup pembicaraan di telepon.


Sarah bergegas menuju ruang Kepala Divisi dan bertanya-tanya dalam hati apa yang membuatnya dipanggil ke sana.


Tok tok tok.


Sarah mengetuk pintu ruang Kepala Divisi yang sudah terbuka.


"Ya, masuk!" Suara berat dari dalam ruangan itu mempersilakannya masuk. Dia adalah Hartono, sang Kepala Divisi.


Sarah memasuki ruangan itu dan menuju ke arah meja Hartono yang terdapat beberapa map dan lembaran kertas di atasnya.


"Silakan duduk."


Hartono memberikan ucapan selamat pada Sarah karena tulisannya terpilih menjadi nominasi kategori tulisan amal dalam lomba penulisan nasional. Dia juga meminta Sarah agar menyiapkan diri jika sewaktu-waktu dipanggil untuk wawancara mengenai tulisannya oleh pihak panitia lomba.


Tentu saja Sarah sangat terkejut, haru dan juga bangga atas pencapaiannya yang tak disangka-sangka itu.


"Baik, Pak. Saya permisi." Sarah memohon diri pada Kepala Divisinya.


Baru beberapa langkah keluar dari ruangan itu, Sarah mendengar namanya dipanggil oleh Santi.


"Mbak Sarah, barusan sekretaris CEO menelepon, katanya mbak Sarah ditunggu di ruang CEO. Sekarang juga!"


"Saya? CEO?" Sarah seolah tak percaya bahwa dia akan bertemu CEO perusahaan tempatnya bekerja. Dia bahkan belum tahu atau bertemu dengannya.


"Mbak Sarah! Mbak ditunggu Pak Rudi." Omongan Santi membuat Sarah terkejut dan menyadarkannya dari kebingungannya.


"Oh iya. Baik, mbak Santi. Terimakasih."


"Santi, kamu bisa antar Sarah ke ruang CEO, sekalian mengambil dokumen yang sudah dipersiapkan Robi," ujar Hartono saat melihat Santi sedang bicara dengan Sarah.


"Baik, Pak. Ayo, mbak. Bareng aja ke sananya," ajak Santi sambil melangkah menuju ruang CEO diikuti oleh Sarah.


***


Di ruang Kantor CEO

__ADS_1


"Siang, Pak Robi!" sapa Santi pada Robi yang sedang sibuk di mejanya.


"Siang. Hei, Santi, mau ambil dokumen pak Hartono, ya? Tunggu sebentar, ya?"


"Iya, pak. Saya juga nganterin Sarah, katanya Pak Rudi mau ketemu," terang Santi.


"Oh iya. Sarah yang tulisannya masuk nominasi itu, ya? Tunggu sebentar, ya? Coba saya cek dulu ke dalam." Robi memencet tombol telepon dan menghubungi seseorang.


"Sarah, silakan masuk," kata Robi tiba-tiba dan membuyarkan lamunan Sarah.


"Ah, saya? Masuk? Sekarang?" Sarah seolah tak percaya.


"Iya, sekarang," jawab Robi.


"Oh iya, baik, Pak. Terima kasih."


Sarah melangkah menuju pintu ruang CEO lalu mengangkat tangan kanannya untuk mengetuknya. Namun sebelum tangannya menyentuh pintu, seseorang membuka pintu itu dari dalam. Keduanya bersitatap.


"Kamu?" Rudi terkejut dengan kehadiran Sarah di depan pintunya.


"Maaf, Pak. Saya mau bertemu dengan Pak Direktur, eh CEO," ujar Sarah gugup dan tak menyangka akan bertemu pria itu lagi.


"Oh iya, ada perlu apa, ya?" tanya Rudi lagi.


"Tadi saya diminta menghadap Pak Direktur, eh CEO," Sarah semakin gugup.


"Oh, kamu penulis itu, ya?"


"Iya, Pak."


"Ayo, silakan masuk," ajak Rudi. Sarah mengikutinya di belakang.


Setelah di dalam ruangan, Sarah berusaha mencari sosok yang dalam bayangannya adalah CEO perusahaan itu, tapi dia tak menemukannya.


"Maaf, Pak. Pak Direktur, eh CEO-nya mana, ya?" tanya Sarah memberanikan diri.


Rudi terkejut sekaligus geli mendengar pertanyaan Sarah.


"Saya CEO-nya!" jawab Rudi.


Deg.


Jantung Sarah serasa ingin berhenti karena malu. Sarah menjadi salah tingkah dan merasa tak enak hati pada pria di hadapannya.


"Maaf, Pak," segera Sarah meminta maaf.


"Tidak apa-apa. Mungkin menurutmu saya tidak pantas menjadi seorang CEO," goda Rudi.

__ADS_1


"Tidak, bukan begitu maksud saya. Saya hanya tidak tahu bahwa Bapak adalah pimpinan perusahaan ini. Apalagi Bapak masih muda," jelas Sarah.


"Iya, gak apa-apa. Oh iya, kamu penulis yang jadi nominator juara penulisan Nasional itu, ya? Selamat, ya?" Rudi menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Sarah.


__ADS_2