Misteri Sepatu Kecil

Misteri Sepatu Kecil
37


__ADS_3

Rizal terlelap setelah dia meminum obat pereda sakit kepala lagi karena semakin lama kepalanya bertambah sakit akibat stres memikirkan nasibnya yang ternyata sudah diceraikan oleh Sarah.


Sejak awal Rizal memang menyadari kesalahannya yang telah meninggalkan Sarah tanpa penjelasan, namun saat itu dia berjanji pada dirinya bahwa dia akan menjelaskan semuanya pada Sarah agar Sarah mengerti masalah yang sedang dihadapinya.


Saat itu Rizal tak punya pilihan lain selain menikahi Marlina, anak sahabat mamanya yang kaya raya dan kebetulan Marlina memang sudah menaruh hati pada Rizal.


Marlina sudah tahu bahwa Rizal sudah menikah, namun itu tak menyurutkan niatnya untuk tetap memiliki Rizal. Meski dia perawan tua dan kaya raya, dia tak mau asal memilih calon suami. Rizal yang tampan dan berpendidikan tinggi membuatnya jatuh cinta dan tak bisa berpaling pada yang lain sehingga dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.


Marlina meminta bantuan ibu Rizal untuk membujuk Rizal agar mau menikah dengannya. Setelah banyak penolakan dari Rizal, akhirnya Marlina mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia dan ibu Rizal menjebak Rizal agar menikahinya saat itu juga dan membuat Rizal tak bisa mengelak.


"Zal, Ibu mohon... nikahi Marlina sekarang juga!" sambil terisak ibu Rizal memohon padanya.


"Tapi Zal udah punya istri, Bu!" tolak Rizal.


"Itu bisa diatur, yang penting kamu nikahi dulu Marlina."


"Tidak bisa, Bu. Zal gak mau mengkhianati Sarah!"


"Ini untuk kebaikan kalian berdua juga. Sarah akan tetap jadi istri kamu "


"Bagaimana bisa, Bu? Zal gak mau menduakan Sarah. Zal mencintai Sarah!"


"Iya, Ibu tau. Tapi Ibu yakin istrimu akan memahaminya. Ibu juga akan merestui pernikahan kalian. Ibu akan menganggapnya menantu Ibu juga!"


"Pokoknya Zal gak mau, Bu!"


"Kalau kamu tak mau menikahi Marlina, Ibu akan bunuh diri! Ibu tak sanggup menanggung malu pada keluarganya. Ibu sudah berjanji pada mereka!" Ibu Rizal mengambil pisau buah yang ada di dekatnya dan mengarahkannya ke dadanya


Rizal terkejut dan berusaha merebut pisau itu, namun upayanya tak berhasil bahkan membuat tangan ibunya terluka saat sedang berusaha merebut pisau itu.


"Baik. Zal akan menikahi Marlina. Tapi lepaskan pisau itu!" teriak Rizal.


"Kalau begitu nikahi Marlina hari ini juga!" pinta ibunya.


"Sekarang? Yang benar saja, Bu. Zal harus bicara dulu dengan Sarah."


"Tidak bisa! Pokoknya harus hari ini juga. Atau kamu tak akan bertemu ibu lagi untuk selamanya!" teriak ibu Rizal sambil menangis dan semakin memajukan pisau yang dipegangnya ke arah dadanya.

__ADS_1


"Baik. Zal akan menikahinya sekarang!"


Malam hari itu juga pernikahan Rizal dan Marlina dilangsungkan. Dan tanpa diketahui Rizal, Sarah berada di sana menyaksikan pernikahan itu dengan penuh kesedihan. Dia menyadari bahwa dirinya yang bukan siapa-siapa dan tak jelas asal usulnya tak mungkin akan bisa diterima keluarga Rizal.


Saat itu juga Sarah memutuskan untuk pergi dari kehidupan suaminya, meski dia dalam keadaan mengandung buah cinta mereka. Sarah meninggalkan rumah kontrakan mereka tanpa meninggalkan pesan apapun untuk Rizal dengan berlinang air mata.


Berbekal uang seadanya Sarah menyewa sebuah kamar di sebuah rumah yang dihuni seorang ibu tua, yang tak lain adalah bu Sani. Berkat bantuannya dia bisa melewati hari-hari terberatnya, hidup tanpa suami dalam keadaan hamil.


Sementara itu, Rizal tak bisa menemukan Sarah di kontrakan mereka. Rizal berniat untuk menjelaskan semuanya pada Sarah, namun Sarah tak ditemuinya. Dia mencarinya kemana-mana, semua orang yang diketahuinya dekat dengan Sarah didatanginya, namun Sarah seperti hilang tanpa jejak.


Rizal berjanji bahwa cintanya hanya untuk Sarah sampai kapanpun dan bertekad untuk mencari Sarah sampai ketemu. Dia bahkan berusaha untuk tak menyentuh Marlina dan menghentikan sementara kesuburan dirinya agar tak membuat Marlina hamil.


Rizal tak pernah peduli pada Marlina dan melakukan berbagai cara agar Marlina menceraikannya, namun sejauh ini usahanya sia-sia.


Ibu Rizal dan keluarga Marlina sangat menginginkan cucu dari mereka mengingat umur Marlina yang sudah bisa dibilang tak muda lagi. Rizal tak peduli dengan hal itu, dia bahkan mengatakan pada ibunya bahwa dia tak akan memberikan cucu pada ibunya.


"Maaf, Bu. Zal sudah menuruti kemauan Ibu, tapi Zal pastikan Ibu gak akan bisa mendapatkan cucu dari Zal dan Marlina."


Meski sedih dan terkejut dengan ucapan anaknya, ibu Rizal tak bisa berbuat apa-apa.


"Zal, Ibu ini sudah tua, mungkin umur ibu tidak lama lagi. Beri ibu kesempatan untuk menimang cucu dari kalian."


Marlina sangat sedih karena Rizal seperti tak tertarik untuk menyentuh dirinya. Rizal bahkan jarang pulang ke rumahnya, dan lebih banyak mengurusi bisnis yang sedang dirintisnya. Marlina berkali-kali menawarkan bantuannya untuk mengembangkan bisnisnya namun Rizal menolaknya. Dan hal itu membuat Marlina putus asa. Dia hanya bisa pasrah dengan keadaan yang menimpanya.


"Zal, sekali-kali coba kau pedulikan Marlina. Ajak bicara, jalan-jalan, atau sekedar berlibur. Kasihan dia. Ibu rasa kalian perlu pergi berbulan madu."


"Gak bisa, Bu. Zal sibuk!"


"Kamu bisa menyerahkan pekerjaanmu pada asistenmu, lagipula bulan madu kan hanya beberapa hari, tak akan mengganggu bisnismu."


"Zal gak punya waktu untuk hal yang gak penting!"


Hari-hari Rizal hanya diisi dengan bekerja dan mencari Sarah di sela-sela waktu luangnya. Sampai suatu hari dia melihat Sarah di sebuah mal. Rizal sangat gembira karena usahanya membuahkan hasil, tapi tak lama dia harus menelan kekecewaan karena Sarah menghilang lagi.


***


Pagi itu Rizal terbangun dan segera bersiap untuk pergi walaupun hari itu hari libur. Dia sudah merencanakan untuk menanyakan perihal Sarah pada Arini setelah urusannya selesai dengan salah satu kliennya. Rizal yakin bahwa Arini mengetahui semua hal tentang Sarah.

__ADS_1


Rizal melajukan mobilnya ke arah rumah Arini.


"Assalamualaikum, Ar."


"Wa'alaikumsalam," jawab Arini yang sedang merawat tanaman di halaman rumahnya.


"Bisa kita bicara sebentar?"


"Oh iya, silakan duduk, Kak. Tunggu sebentar, ya? Mau cuci tangan dulu."


Sambil menunggu Arini, Rizal duduk di kursi yang ada di teras depan Rumah Arini. Tak lama Arini datang sambil membawa dua cangkir teh.


"Jangan repot-repot, Ar."


"Nggak, Kak. Cuma teh aja. Silakan diminum."


"Terimakasih. Langsung aja, Ar. Aku ke sini mau nanya soal Sarah. Apa betul Sarah sudah menceraikanku?"


"Ya. Sarah pernah cerita bahwa dia sudah mengurus perceraiannya. Sarah sudah mengikhlaskan Kakak."


"Tapi aku tak pernah dapat surat panggilan sidang, atau apapun tentang perceraian itu, Ar "


"Aku juga gak tau gimana ceritanya, Sarah cuma bilang hakim memutuskan cerai mati. Aku rasa pasti ada alasan kenapa hakim memutuskan seperti itu. Coba tanya ke diri Kakak sendiri. Aku sebetulnya gak mau ikut campur, Kak. Tapi sebagai sahabat Sarah, aku tau Sarah bagaimana." Arini sedikit emosi pada Rizal.


"Aku tau kalau aku salah, makanya aku ingin menebus semua kesalanku."


"Jangan khwatir, Kak. Sarah sudah mengikhlaskan dan alhamdulilah sahabatku itu seorang wanita yang kuat dan tegar."


Rizal merasa tersudut oleh semua ucapan Arini. Dia terdiam sesaat.


"Ar, apa Sarah punya anak dariku?" tanya Rizal tiba-tiba.


"Aku tidak berhak memberitahukan hal itu. Coba Kakak tanya pada diri Kakak sendiri, apa Kakak pernah menghamili Sarah? Atau mungkin Kakak terlalu bahagia saat itu sehingga melupakan keadaan Sarah?"


Sekali lagi Rizal merasa tersudut, dia semakin tak berdaya di hadapan Arini


"Tolong kasih tau aku, Ar," pinta Rizal.

__ADS_1


"Maaf. Aku gak bisa. Aku cuma bisa menyarankan agar Kak Rizal lupain Sarah. Jangan ganggu dia lagi. Biarkan dia membangun kehidupannya yang baru. Kasihan dia, sudah terlalu lama menanggung penderitaan dan kesedihan."


Setelah berpamitan Rizal pergi meninggalkan rumah Arini. Tak ada gunanya dia berlama-lama di sana karena dia tak akan mendapatkan keterangan yang diinginkannya dari Arini.


__ADS_2