Misteri Sepatu Kecil

Misteri Sepatu Kecil
26


__ADS_3

Rudi sudah lama mengenal Vina. Rudi bahkan sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri. Orangtua mereka berteman sejak masih muda dan hubungan mereka sudah seperti keluarga. Tak heran jika Rudi dan keluarganya selalu ada di setiap acara keluarga Vina, begitu juga sebaliknya.


"Vin, ada waktu, gak?" tulis Rudi di layar whatsaap di ponselnya. Tak lama ponsel itu bergetar.


"Waktu selalu ada, Bang. Kalau gak ada kita bakalan kaku kayak di pilem-pilem (emotikon lidah terjulur)"


"Abang serius, Vin. Ada yang mau Abang tanya sama Vina (emotikon menyembah)"


Vina sedikit penasaran dengan emotikon sembah di belakang pesan terakhir Rudi.


"Berarti ini ada yang serius," pikir Vina.


"Ada hal serius ya, Bang? Soal kerjaan?" tulis Vina.


"Ya, bisa dibilang gitu deh". Rudi sedikit berbohong agar Vina tak bisa menolak untuk menemuinya.


"Kerjaan Vina?"


"Nanti deh Abang ceritain. Ada waktu gak?"


"Tentu saja ada. Mau ketemu kapan?"


"Kamu bisanya kapan?"


"Oke, nanti aja sepulang kerja. Gimana?


Rudi membalas pesan terakhir Vina dengan emotikon dua acungan jempol.


Dan emotikon dua jempol itu mengakhiri pembicaraan mereka di aplikasi chat itu.


***


"Hai, Vin!" sapa Rudi.


"Hai, Bang!" jawab Vina sambil menengok ke arah suara yang menyapanya.


"Udah lama?"


"Belum lama koq, Bang."


Rudi menarik kursi yang ada di samping Vina.


""Aku pesan minuman dulu, ya? Haus. Kamu mau pesan lagi?"


"Nggak ah, masih ada. Nanti saja."


Rudi memanggil waiter dan memesan minuman untuknya. Tak lama pesanannya pun datang. Rudi segera meminumnya.


"Ada apa sih, Bang? Kayaknya penting banget." tanya Vina penasaran.


"Nggak penting-penting banget sih. Cuma mau nanya dikit sama kamu."


"Soal kerjaan? Kerjaan gue dikomplain ya, Bang? Parah kesalahannya? Aduh gimana ini? Abang belum bilang papa, kan?" Vina nyerocos tanpa henti sambil mengguncang-guncang lengan Rudi.

__ADS_1


Rudi tertawa melihat tingkah Vina yang terlihat kuatir.


"Nggak, tenang aja, Vin."


"Jadi bener ya, kerjaan gue dikomplain? Ya Tuhan, kerjaan yang mana? Perasaan udah gue review semua sebelum disend ke editor."


Rudi tersenyum geli melihat sikap Vina, tapi karena tidak enak dengan pengunjung lainnya, Rudi berusaha menenangkan Vina.


"Vin, Vina. Tenang dulu. Ini bukan soal kerjaan kamu. Kamu tenang, ya?"


"Bukan? Terus apa?" tanya Vina penasaran.


"Aku mau nanya tentang seseorang."


"Seseorang? Siapa? Orang kantor kita?"


Rudi mengangguk mantap


"Orang kantor? Kenapa gak nanya HRD aja?"


"Ini masalahnya lain, Vin. Aku butuh bantuan kamu," jelas Rudi.


"Gue? Bantu apa?"


"Aku mau nanya sesuatu tentang teman kamu."


"Teman gue yang mana?"


"Sarah? Emangnya dia kenapa? Oh, aku tau. Kemarin Sarah bilang kalau dia dipanggil ke ruang CEO. Apa ada yang salah dengan dia?"


"Nggak ada. Cuma pengen tau aja dia orangnya gimana?"


Vina menyunggingkan senyum jahatnya untuk menggoda Rudi


"Sepertinya ada yang penasaran dan butuh informasi penting nih? Wani piro?"


"Ya ampun, anak ini! Masih belum hilang juga kebiasaannya. Iya deh, tapi janji mau bantu abang, ya?"


"Siap, bos!"


Rudi mulai menanyakan hal-hal tentang pribadi Sarah pada Vina. Tapi karena hari sudah malam, hanya sebagian kecil yang bisa dijelaskan Vina, karena Vina sibuk menggoda Rudi yang terlihat penasaran dengan Sarah.


"Wah, udah malam banget nih, pulang ah. Pengen mandi, terus tidur. Tuh lihat, kafenya aja udah mau tutup. Ayo kita pulang, Bang," ajak Vina.


Rudi seperti tersadar dari kekepoannya atas Sarah, dia melihat ke sekeliling kafe yang sudah mulai sepi.


"Ya ampun. Bener kamu, Vin. Ini sudah malam banget. Padahal belum nanya semuanya sama kamu, tapi udah harus pulang."


Mereka lalu berpisah di parkiran dan menuju ke mobil masing-masing.


"Besok Abang tanya-tanya lagi, ya?"


"Sip, bisa diatur," kata Vina sambil mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


***


Sepanjang perjalanan pulang, pertanyaan tentang Sarah masih bertumpuk di kepalanya. Seandainya Vina tidak terlalu banyak menggodanya, mungkin beberapa hal lain sudah dia ketahui tentang Sarah, meski itu versi Vina yang suka bicara sambil bercanda.


Sesampainya di rumah pun pikiran Rudi masih tetap pada Sarah. Entah kenapa sosok itu semakin memenuhi kepalanya. Sayangnya Vina baru memberi sedikit informasi. Diambilnya ponsel yang tergeletak di atas meja.


"Vin, boleh nanya lagi gak?"


"Ya ampun, Bang. Baru aja mau tiduran... besok aja lagi, ya?"


"Bentar aja, Vin."


"Ya udah, mau nanya apa? Sarah lagi?"


"Iya sih. Dia beneran singel?"


"Setahuku ya begitu. Ih penasaran amat. Suka ya sama Sarah?? Gw bilangin Sarah, ya?"


"Jangan, Vin. Jangan dulu."


"Emang kenapa? Kan malah enak, kalian bisa jadian."


"Nanti-nanti aja lah."


"Kenapa? Takut ditolak? Ya emang pasti ditolak."


"Koq gitu sih? Katanya mau bantu."


"Kayaknya dia masih trauma."


"*T*rauma kenapa?"


Lama Rudi menunggu balasan chat dari Vina, tapi yang ditunggu tak membalas chatnya. Tentu saja, karena Vina sudah tidur pulas dan menyisakan rasa ingin tahu yang semakin besar di hati Rudi.


***


Hari-hari berikutnya Rudi dan Vina sering bersama dan hal itu membuat waktu Vina dengan kedua temannya menjadi berkurang. Awalnya hal itu tidak menjadi perhatian Sarah, tapi setelah beberapa hari Sarah mulai ingin tahu apa yang membuat Vina sering menghilang dan jarang bersama mereka lagi.


Sampai suatu hari Sarah melihat Vina sedang bersama Rudi di sebuah kafe yang tak terlalu jauh dari kantor. Mereka tampak akrab dan bahagia. Sarah merasa sangat senang melihat hal itu, meski ada rasa yang hilang dan menohok dadanya.


"Semoga kamu bahagia bersamanya, Vin," batin Sarah.


Sarah tak tahu bahwa dialah yang menjadi bahan pembicaraan kedua orang itu. Melihat keakraban mereka membuat Sarah bahagia sekaligus merasa kehilangan. Kehilangan waktu bersama Vina dan juga perasaan kehilangan yang lain yang tak pernah bisa dipahaminya. Dia hanya bisa menerima keadaan dan perasaan kehilangannya.


Sebetulnya Vina ingin sekali memberitahu Sarah perihal Rudi yang mencari informasi darinya, tapi Rudi selalu menyuruhnya untuk tidak memberitahunya. Vina juga mulai merasa direpotkan karena Rudi terus menerus mengajaknya pergi. Sudah berkali-kali dia absen makan siang bersama Feni dan Sarah tanpa memberi mereka alasan yang jelas. Vina betul-betul tak berdaya berada di tengah Rudi dan Sarah.


***


Hai pembaca yang baik..


Kalau kalian suka karya aku, tolong klik suka, jadikan favorit dan berikan vote juga bintang 5. ❤️❤️


Terima kasih sebelumnya 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2