Misteri Sepatu Kecil

Misteri Sepatu Kecil
23


__ADS_3

Pesta ulangtahun Vina berjalan dengan lancar dan penuh kekeluargaan, karena memang hanya orang-orang terdekat dan keluarga saja yang diundang. Waktu pun terus berjalan, jam menunjukan pukul 22.30. Fabio tampak sudah kelelahan dan mulai rewel karena mengantuk. Sarah dan Feni mendekati Vina yang juga tampak sudah lelah dan tak bersemangat untuk berpamitan.


"Vin, aku sama Feni pamit pulang, ya? Fabio udah rewel, dia kecapekan," ujar Sarah sambil menggendong Fabio.


"Iya, kak. Aku juga pamit ya?" kata Feni menimpali.


"Jangan dong. Kalian nginep di sini aja! Temenin gue biar gue gak kesepian di rumah ini. Pleaseeee...!"


Sarah dan Feni saling berpandangan. Tampak mama Vina mendekati mereka.


"Ada apa ini? Kalian jangan pulang, ya? Nginep di sini aja, kasihan Vina gak ada temennya kalau di rumah. Lagipula ini kan hari ulangtahun Vina, sekali-kalilah kalian menginap di sini."


"Iya nih, Ma. Masa pada mau pulang. Ayolah nginep di sini. Pleaseeee..!" Vina memohon sekali lagi


"Makasih, Tante. Tapi mungkin lain kali saja kami menginap di sini. Lagipula kami gak ada persiapan untuk menginap, bahkan kami gak bawa baju ganti," jawab Sarah.


"Udahlah, gak usah kuatir. Gue udah bawa baju-baju kalian yang ada di apartemen gue. Kalau kurang bisa pinjem baju gue."


"Vinnnaaaa..." Sarah dan Feni berbarengan berteriak gemas ke arah Vina. Vina hanya membalasnya dengan senyum kemenangan.


Akhirnya Sarah dan Feni menginap di rumah Vina yang cukup besar dan memiliki beberapa kamar tamu. Feni dan Sarah tidur di kamar terpisah. Karena kelelahan Feni langsung pamit masuk ke kamarnya untuk beristirahat, sedangkan Sarah, setelah menidurkan Fabio, dia tak langsung tidur, dia membersihkan dirinya dulu. Saat akan mengunci pintu, terdengar ketukan di pintu kamarnya.


Tok tok tok.


Lalu Vina masuk sambil cengengesan.


"Belum tidur, Sar?"


"Belum. Baru mau mengunci pintu lalu tidur."


"Gue tidur di sini, ya? Iseng kalau sendirian di kamar." Sarah menganggukkan kepalanya menanggapi permintaan Vina.


Vina berbaring di samping Fabio.


"Iiihh, gemesin banget anak kecil ini..."

__ADS_1


"Kamu juga udah bisa bikin anak kecil lho, Vin," ledek Sarah.


"Apaan sih, gue mah masih lama, masih pengen menikmati masa muda dulu."


"Jangan lama-lama, nanti jadi perawan tua lho. Kasian tuh papa mama kamu, pasti udah pengen gendong cucu."


"Jangan kuatir, nanti kalau udah waktunya gue pasti nikah, Sar."


Vina mengambil ponselnya dan membuka galerinya. Sesekali dia tampak senyum sendiri.


"Sar, lihat deh foto kita ini. Posenya anti mainstream!" Sarah melihat foto yang ditunjuk Vina.


"Lagian kamu, ada-ada aja idenya!"


Keduanya tertawa geli.


***


Pagi sekali Sarah sudah bangun karena dia harus menjalankan shalat subuh. Selesai shalat dia termenung karena tak tahu apa yang harus dilakukannya. Akhirnya dia memutuskan untuk turun dan membantu bi Mimin yang sedang menyiapkan sarapan.


"Gak apa-apa, bi. Lagipula saya gak biasa tidur lagi setelah shalat subuh."


Sarah mulai memasak, dan bi Mimin menyiapkan sayur dan bahan lainnya untuk dimasak. Setelah beberapa saat, makanan pun sudah terhidang di meja makan. Bi Mimin tampak sedang mencuci perabotan bekas masak tadi.


"Wah, wangi sekali masakan pagi ini. Jadi gak sabar pengen makan nih!" Tiba-tiba mama Vina muncul dan memperhatikan semua makanan yang ada di meja makan.


"Iya, Tan. Silakan dicicipi, semoga Tante dan semuanya suka masakan sederhana ini."


Mama Vina mengambil sendok dan mencicipi masakan Sarah yang sudah terhidang manis di atas meja makan.


"Kamu yang masak, Sar? Enak banget ini. Sebentar, Tante mau panggil Om dulu, katanya dia lapar tadi."


"Iya, Tan. Sarah juga mau bangunin Vina dan yang lainnya."


Sarah membangunkan Vina, Fabio dan Feni. Mereka beriringan menuruni tangga dan menuju meja makan. Tampak papa Vina sedang makan dengan lahap.

__ADS_1


"Lapar apa doyan, Pa?" goda Vina yang dijawab dengan anggukan dan acungan jempol.


"Banget. Masakan pagi ini enak, jadi pengen nambah terus," jawab papa Vina.


"Iya, Pa. Sarah yang masak. Vin, kamu belajar masak sama Sarah. Biar nanti kalau udah nikah kamu gak kesulitan nyiapin makanan buat suami kamu," kata mama Vina.


"Apaan sih, Ma. Suami, suami aja, Vina masih lama nikahnya. Lagian entar Vina mau bawa bi Mimin biar bisa masakin Vina."


"Kamu ini kalau dibilangin ada aja alasannya. Suami itu kadang ingin dimasakin sama istrinya. Jadi gak ada salahnya kamu belajar masak sama Sarah."


"Udah, ayo makan. Nanti kehabisan baru tau rasa!" lerai papa Vina.


Vina dan mamanya tersadar dan melihat makanan di atas meja sudah hampir habis.


"Papa...!" Vina dan mamanya berteriak bersamaan.


"Nah gitu dong kompak, jangan berantem melulu. Gak enak dengernya. Apa gak malu dilihatin Sarah sama Feni?" kata papa Vina.


"Iya, tapi jangan dihabisin juga kali, Pa."


"Tante Vina sih, bukannya makan malah ngomong melulu," celetuk Fabio dan mendapat peringatan dari Sarah agar menutup mulutnya.


"Nah, tuh Bio aja tau. Ayo cepat makan, nunggu apalagi sih? Ini makanan enak lho, entar kamu nyesel kalau kehabisan," kata papa Vina.


"Masakan mama Bio emang paling enak sedunia!" kata Fabio sambil mengacungkan jempolnya.


"Setujuuuu!!" jawab yang lainnya serempak.


Sarah sangat malu dan juga bangga atas sanjungan itu. Dia merasa bahagia berada di tengah-tengah keluarga Vina. Kebahagiaan inilah yang selalu dia rindukan sejak dulu saat dia tinggal di panti asuhan. Memiliki sebuah keluarga yang hangat dan saling mengasihi.


*******


Jangan lupa tekan tombol suka, yaaa... biar penulis tambah semangat melanjutkan ceritanya. Beri komentar juga dong...


Terima kasih ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2