
*Ayah, lihat. Bio udah habis makannya!" teriak Fabio menunjukkan piringnya.
"Wah hebat anaknya ayah!" jawab Sandi sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Tapi lebih hebat lagi kalau makannya nambah," Sandi mengulurkan tangannya untuk menyendok nasi untuk Fabio.
"Nggak, Ayah. Kata mama kita harus makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang," kata Fabio. Sandi melirik Sarah yang masih makan di sampingnya lalu tersenyum.
"Oh gitu, ya sayang? Mama sama Bio memang paling hebat," sambung Sandi sambil menatap Sarah, sementara Sarah seperti tak ambil peduli dengan sikap Sandi.
Selesai makan dan merapikan semuanya, mereka berempat duduk di depan tv. Bu Sani tak lama berada di sana, dia masuk ke kamarnya, sementara Fabio berada di pangkuan Sandi. Sandi mengelus kepala Fabio sampai Fabio terkantuk-kantuk.
"Bio bobonya di kamar, yuk?" ajak Sarah.
"Nggak mau!" jawab Fabio.
"Nggak apa-apa, biarkan Bio tidur dulu, lagipula aku juga masih kangen anakku ini," kata Sandi.
"Sar, lamaran aku waktu itu masih berlaku koq. Aku mau kamu jadi istriku," Sandi langsung pada tujuannya.
Ditatapnya Sarah yang sedang tertunduk. "Aku tak akan menyia-nyiakan kalian. Kita bisa mengurus ibu dan Bio bersama-sama," sambungnya. Sarah tak bicara apa-apa, hanya menundukkan kepala.
"Kamu meragukan aku? Kamu bisa lihat mataku. Aku sungguh-sungguh."
"Maaf, kak. Bukannya Sarah meragukan kakak, hanya saja Sarah belum bisa menerima pria manapun. Sarah tau kakak juga sangat menyayangi Bio. Sarah juga tau kalau kakak bersungguh-sungguh. Tapi Sarah belum bisa, kak," lirih Sarah.
"Tidak apa-apa. Kakak akan menunggu sampai kamu mau membuka hatimu,"
__ADS_1
Sandi mengangkat Fabio dan memindahkannya ke kamar, Sarah mengikuti di belakang.
"Kamu istirahat, ya? Sudah malam," Sandi mengecup puncak kepala Sarah yang ditutupi dengan jilbab. Sarah mengangguk dan menutup pintu kamarnya.
***
Esoknya Sarah berpamitan pada Bu Sani, dia harus pulang karena harus memindahkan barang-barangnya ke kontrakan barunya. Bu Sani menyuruh Sandi untuk mengantar Sarah dan membantu Sarah pindahan. Sarah sudah menolaknya, tapi Bu Sani terus memaksa.
"Nggak usah diantar kak Sandi, Bu. Kasihan kak Sandi kalau harus bolak balik ke sini, lagipula hari Senin kan harus kerja," kata Sarah pada Bu Sani.
"Udah gak usah membantah. Sandi akan mengantar kalian pulang!"
"Iya, gak apa-apa, Sar. Kakak antar aja, sekalian mau lihat rumah. Kakak udah ngambil cuti koq."
Mendengar Sandi akan mengantar, Fabio kegirangan. "Yeay, ayah mau ikut!"
****
Sandi mengajak mereka ke sebuah restoran yang sudah menjadi langganannya setiap datang ke kota itu.
Sandi sangat memanjakan Fabio, dia menuruti semua kemauannya termasuk dalam hal makanan. Dia juga tak segan menyuapi Fabio, membuat para wanita yang ada di restoran itu mengaguminya dan beberapa orang menyebutnya 'Hot Daddy'.
"Jangan terlalu memanjakannya, kak, nanti malah kebiasaan," kata Sarah.
"Nggak apa-apa, selagi kakak mampu kakak akan berusaha membahagiakannya."
"Tapi kak..," sebelum Sarah melanjutkan omongannya Sandi udah menutup bibir Sarah dengan jarinya.
__ADS_1
"Sshhh udah, jangan dibahas. Aku senang dan ikhlas melakukannya, Sayang."
Sarah menjadi salah tingkah mendengar omongan Sarah. Sandi tertawa melihat wajah wanita pujaannya memerah.
"Ayah, Bio mau ke sana," rengek Fabio sambil menarik tangan Sandi membuat Sandi secara refleks menarik tangan Sarah. Saat menyadari tangannya dipegang Sandi, Sarah berusaha melepasnya.
Sarah tak menyadari kalau dari kejauhan ada sepasang mata yang memerhatikan kebersamaan mereka.
****
Rudi memasuki sebuah mall setelah terlebih dulu memarkirkan mobilnya. Dia ingin mengisi perutnya sebelum menemui Arini di suatu tempat.
Saat melewati tempat permainan anak entah kenapa matanya seperti tertarik untuk melihat ke arah satu keluarga yang tampak bahagia dan saling menyintai sedang bermain bersama.
"Sarah!!" gumamnya "Ternyata kamu masih bersuami Tapi kenapa anaknya memintaku menjadi papanya? Apa itu suami barunya atau...," pikirnya.
"Ah sudahlah, itu bukan urusanku."
Ada rasa sakit di dada Rudi. Dia cemburu melihat keakraban mereka. Rudi mengepalkan tangannya. Dia memutar tubuhnya dan kembali ke parkiran. Rudi membatalkan rencananya untuk makan. Seleranya sudah hilang dan ingin segera pergi dari mall itu.
******
Pembaca yang baik,
Mau ngingetin lagi nih, jangan lupa klik like, favorit dan berikan komentar juga vote yaa...
Terima kasih....❤️❤️❤️❤️
__ADS_1