
Rudi sangat terkejut melihat rekaman CCTV itu. Dia berusaha mengingat-ingat sosok yang ada di dalam rekaman itu, namun dia tak bisa mengingatnya. Dia pun mencoba mengingat kembali orang-orang yang mungkin menjadi musuh usahanya ataupun orang kemungkinan tidak suka padanya. Tapi tetap saja dia tak mengingat apapun.
"Rasanya aku tak punya musuh atau orang yang tidak suka padaku. Siapa mereka sebenarnya? Apa mungkin mereka musuhnya Sarah?" Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di dalam pikiran Rudi.
Semua pertanyaan itu tak satupun memiliki jawaban pasti. Terlintas dalam pikirannya nama Rizal, namun dia segera menepis prasangka itu. Meski ada kemungkinan, Rudi tak akan menempatkan Rizal sebagai tersangka pertama, karena Rizal tak mungkin akan menyakiti Sarah dan Fabio. Rudi tak mau menjadikan kecemburuannya sebagai dasar untuk mencurigai Rizal.
Rudi terus memerhatikan gambar penculik yang diperbesar itu. Dia seperti mengenalnya, tapi dia tak ingat siapa orang itu. Keduanya berjaket dan bertopi hitam serta memakai masker. Polisi yakin bahwa salah satunya adalah wanita, dengan melihat dari postur dan jenis sepatu yang dipakainya.
Dua hari berlalu begitu saja tanpa hasil dari pencariannya. Laporan orang hilang sudah dilayangkan ke kantor polisi. Menurut kabar, polisi telah menyebarkannya ke berbagai kantor polisi lain dan juga sudah melakukan pencarian.
Hampir seluruh bagian kota telah disambangi oleh Rudi, namun Sarah tak juga ditemukannya.
"Kamu dimana, Sar?" gumam Rudi.
Penampilan Rudi tampak acak-acakan, rambut tak disisir, mata kuyu dan berkantung akibat kurang tidur, tubuh pun tampak lemah karena kurang asupan makanan. Meski begitu Rudi tetap bersikeras mencari Sarah sampai ketemu.
Sementara Fabio, Rudi menitipkannya pada keluarganya. Sesekali Fabio menanyakan ibunya, terutama saat malam menjelang. Berbagai alasan telah digunakan Fathia untuk menenangkan Fabio dan sejauh ini tak ada masalah dengan Fabio.
"Mama Bio kenapa gak pulang-pulang, Tante?" tanya Fabio pada Fathia.
"Mama sedang kerja, mama Bio bilang sama Tante, 'Titip Bio, ya? Mau kerja dulu. Bio anaknya pinter koq' gitu katanya. Sekarang Bio bobo dulu. Kita sama-sama berdoa, yuk. Biar mama Bio cepat pulang," ujar Fathia.
Fabio percaya dengan apa yang dikatakan Fathia padanya dan menuruti semua perintahnya.
Saat sedang termenung memikirkan dimana kemungkinan Sarah berada, Rudi mendapat telepon dari nomor yang tak dikenalnya. Sejenak dia mengernyitkan keningnya karena melihat nomor tak dikenal di layar ponselnya. Namun dia tetap menjawab telepon itu.
"Halo," sapa Rudi.
"Halo, Tuan Rudi. Apa kabar?" ujar suara pria di ponselnya.
"Maaf, ini siapa, ya?"
"Tidak perlu tau siapa saya. Yang jelas saya tau siapa Tuan Rudi!" jawab pria di telepon.
"Apa maumu?" tanya Rudi tak sabaran.
"Rupanya Tuan Rudi masih tak suka berbasa-basi seperti dulu. Masih belum berubah. Saya suka yang to the point seperti ini!" ujar pria itu sambil tertawa.
"Cepat katakan, apa maumu?" bentak Rudi.
"Sabar, Tuan Rudi. Jangan buru-buru, saya ingin ngobrol dulu dengan Tuan Rudi. Kita ini kan sudah berteman lama... ha ha ha...!" kata pria itu seperti ingin menguji kesabaran Rudi.
"Jangan banyak bicara! Siapa kamu?" Rudi semakin tak sabaran.
"Tenang... tenang, Tuan Rudi. Saya sudah bilang, jangan buru-buru. Sabar...!"
"Jangan buang waktuku, cepat katakan!" bentak Rudi.
__ADS_1
"Baiklah. Tuan siap mendengarkannya? Saya akan katakan pada Tuan," ujar pria itu lagi.
"Cepaaat!" bentak Rudi.
"Baiklah. Saya akan memberitahu bahwa wanita yang Tuan cintai ada bersama saya," kata pria itu dengan tenang.
"Sialan! Lepaskan istriku! Apa yang kau mau? Katakan!"
"Mau saya? Sederhana saja, Tuan. Saya ingin uang dari Tuan. Tidak banyak. Cuma 2 M. Sedikit, kan? Uang segitu tak ada artinya bagi Tuan yang seorang pemilik perusahaan bonafid," jelas pria itu.
"Kurang ajar! Dimana Istriku sekarang? Aku mau bicara dengannya!"
"Hei, hei... Tuan Rudi, jawab dulu pertanyaan saya ini, Tuan bisa menyiapkan uangnya dalam 1 jam, kan?"
"Biarkan aku bicara dulu dengan istriku!"
"Baiklah! Saya beri waktu 10 detik! Bicaralah dengan suami tercintamu, Cantik," ujar pria di sana. Terdengar suara Sarah yang sedang menangis.
"Halo, Sarah! Kamu gak apa-apa, kan? Aku akan segera membebaskanmu. Aku akan menjemputmu!" ujar Rudi.
"Tolong aku! Aku mau pulang!" ujar Sarah sambil terisak.
"Iya, kamu akan segera pulang, Sayang!"
"Waktu habis! Tuan Rudi, waktu anda dimulai dari sekarang untuk menyiapkan uangnya!" ujar pria itu.
"Siap, Tuan. Silakan Tuan siapkan uangnya. Setengah jam lagi saya akan menghubungi Tuan. Harap jangan mematikan ponselnya dan jangan coba-coba memberitahu polisi. Kalau tidak, Tuan akan menemukan istri Tuan ada di berita besok pagi. Oke?'
Tanpa menunggu jawaban dari Rudi, pria itu langsung memutuskan percakapan mereka.
Tanpa berpikir panjang Rudi langsung menghubungi ayahnya untuk meminjam uang.
"Assalamualaikum, Yah. Tolong Rudi, Yah. Rudi mau pinjam uang 2M. Ini demi Sarah, Yah!"
"Wa'alaikumsalam. Tunggu, tunggu. Kamu tenang dulu, Rud. Jelaskan apa yang terjadi. Mari kita pikirkan ini dengan tenang," ujar Ayahnya.
"Tapi waktu semakin sempit, Yah. Tak ada waktu lagi untuk berpikir tenang!"
"Iya, Ayah paham. Coba kamu jelaskan secara singkat. Ada apa sebenarnya?" tanya ayahnya.
Rudi menceritakan semua yang terjadi dan memberitahu ayahnya bahwa penculik itu meminta uang tebusan.
"Lebih baik kita minta bantuan polisi. Biar mereka yang mengurusnya," saran ayahnya.
"Jangan, Yah. Itu sama saja ayah menginginkan Sarah pulang tinggal nama. Penculik itu tak mau ada campur tangan polisi di sini!"
"Jangan khawatir, itu pasti hanya gertakan, agar kita menuruti kemauannya! Sudahlah, Ayah akan minta bantuan polisi, mereka pasti tau cara menghadapi penculik itu. Namun sebagai antisipasi, kita juga akan menyiapkan uang yang dimintanya," ujar ayah Rudi tenang.
__ADS_1
Ayah Rudi segera menghubungi polisi serta beberapa bodyguard- nya untuk bersiaga di sekitar rumah mereka dan bersiap jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Seperti yang dijanjikan pria itu, dia menelepon Rudi kembali setengah jam berikutnya. Saat itu polisi belum siap untuk melakukan tindakan. Namun mereka sudah siap berada di rumah Rudi. Nomor telepon yang digunakan penelepon itu berganti lagi. Nomor sebelumnya yang sudah berhasil dilacak nama pemiliknya.
"Sudah setengah jam, Tuan Rudi. Lebih cepat lebih baik, agar tugas saya di sini juga selesai dengan cepat! 20 menit lagi saya akan menghubungi Tuan lagi untuk menentukan tempat pertukaran kita!"
Klik. Pria itu memutuskan percakapan.
Polisi segera melacak nomor yang digunakan penelepon itu. Pemilik nomor yang pertama berbeda dengan yang kedua. Tapi polisi tak tinggal diam, mereka berusaha melacak keberadaan kedua nomor itu. Namun hasilnya nihil. Akhirnya semua sepakat untuk menunggu telepon berikutnya dari orang itu.
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, pria itu menelepon lagi dan memberitahukan alamat tempat mereka bertukar uang tebusan dengan Sarah.
Begitu mendengar alamat itu, polisi segera menuju tempat itu dan bersiap untuk menyergap pria itu. Namun upaya polisi itu harus sia-sia, karena 5 menit sebelum waktu yang ditentukan tiba, orang itu mengubah tempat pertemuannya. Tentu saja para polisi menjadi kalang kabut karena harus mengubah strategi mereka dalam waktu singkat.
Akhirnya ayah Rudi berinisiatif untuk mengerahkan tim bodyguard-nya untuk mengatasi masalah itu. Karena sudah terlatih, mereka langsung bergerak ke sasaran tanpa mencurigakan. Rudi pun sudah menuju ke tempat yang disebutkan penculik itu bersama uang tebusan yang dibawanya.
Rudi terus memandangi ponselnya, dia berharap penelepon itu segera muncul atau meneleponnya. Saat sedang duduk di bangku yang ada di tempat itu, tiba-tiba seorang anak kecil mendekatinya dan berjongkok di dekat Rudi. Dia terlihat sedang bermain dengan kelerengnya.
"Dik, mainnya jangan di sini, ya?" ujar Rudi lembut. Dia tak mau anak itu ikut menjadi korban seandainya sesuatu yang buruk terjadi.
"Baik, Om," kata anak itu sambil berlari meninggalkan kelereng serta sebuah kotak kecil yang dikira Rudi adalah tempat kelereng anak itu.
"Dik, ini mainannya ketinggalan!" teriak Rudi, namun anak itu terus berlari tanpa menengok sedikitpun.
Rudi mengambil kotak itu dan membukanya, dengan tujuan untuk memasukkan kelereng anak itu ke dalamnya. Rudi melihat secarik kertas di dalamnya yang dilipat rapi dengan tulisan namanya di atasnya. Karena penasaran Rudi mengambil kertas itu dan membacanya.
"Jangan banyak bergerak. Kembali ke mobil dan kembali ke tempat pertama istrimu hilang".
Tanpa banyak berpikir Rudi langsung menuju gedung tempat pernikahan mereka waktu itu. Ada sebuah mobil di ujung tempat parkir yang cukup luas itu. Tanpa curiga apapun Rudi segera menuju ke tempat yang dimaksud, yaitu ruang ganti dimana Sarah terlihat terakhir kalinya.
Dengan penuh percaya diri Rudi memasuki ruangan itu. Dia melihat Sarah terikat di kursi dengan mulut dilakban.
"Sarah, Sayang!" teriak Rudi sambil berusaha mendekati Sarah. Namun langkahnya terhenti saat dia mendengar suara dari arah belakang tubuhnya.
"Oh... Rupanya perempuan cantik ini bernama Sarah! Seleramu tidak berubah, Tuan Rudi!"
"Siapa kamu? Lepaskan istriku! Kalau kamu ada masalah denganku, tolong jangan libatkan dia!" ujar Rudi.
"Begitu maumu? Baiklah. Aku akan segera melepaskannya dan menyelesaikan urusan kita. Mana uangnya? Kamu tidak lupa membawanya, kan Tuan Rudi yang terhormat?"
Rudi melemparkan uang yang dibawanya dalam sebuah tas. Pria bertopeng itu membukanya dan sepertinya merasa puas dengan apa yang dilihatnya.
"Baiklah, kalau begitu. Senang berbisnis denganmu, Tuan. Sampai jumpa," ujar pria itu sambil membawa tas berisi uang itu.
Langkah pria itu terhenti saat tiba-tiba seseorang berperawakan seperti yang dilihat Rudi pada rekaman CCTV.
"Tunggu. Ini belum selesai. Aku masih mau bermain-main dengan pria bodoh itu!" Rudi menangkap bahwa suara itu berasal dari seorang wanita.
__ADS_1
Rudi mulai mengamati sosok wanita yang baru datang itu. Dia berusaha mengingat-ingat wanita itu, namun dia belum juga bisa mengingatnya, tapi Rudi merasa bahwa dia sangat familiar dengan suara itu yang sedikit berat.