
Matahari sudah tergelincir ketika Selena dan Ocean sampai di vila. Semalaman penuh Ocean dirawat di rumah sakit. Bahunya mengalami retakan ringan sehingga perlu memakai sling arm untuk mencegah gerakan berlebih pada bahu. Luka di pipinya juga sudah mendapatkan perawatan, namun Ocean harus tetap beristirahat selama beberapa hari.
Sebelum kembali ke vila, Ocean dan Selena lebih dulu datang ke kantor polisi sebagai saksi dan memastikan pelaku penyerangan mendapatkan hukuman yang setimpal.
Melalui penyelidikan polisi, diketahui nama penyerang itu adalah Niko Mahendra, orang Indonesia asli. Dia adalah penggemar fanatik Selena. Setiap kali Selena mengadakan jumpa penggemar, promosi film baru, dan melakukan konferensi pers, Niko tidak pernah absen datang. Bahkan, saat Selena hendak ke luar negeri, Niko selalu datang ke bandara untuk mengucapkan selamat jalan atau sengaja mengikutinya dan menaiki pesawat yang sama dengan Selena.
Seperti layaknya penggemar fanatik lain, Niko kerap kali mengirimkan hadiah-hadiah mewah untuk Selena. Meskipun dari pihak Selena beberapa kali menolaknya, dikembalikan, kado itu akan selalu datang lagi.
Berita tentang pernikahan Selena dan Ocean jelas menjadi cambuk besi bagi Niko, dia merasa seperti dikhianati. Semua telah dia lakukan untuk Selena. Uang, barang mewah, loyalitas, perasaan cinta yang begitu besar ... namun Selena malah meninggalkannya begitu saja, menikah dengan pria asing.
Jelas Niko tidak terima. Dia berniat menculik Selena, membawanya pergi ke antah-berantah. Sayangnya, sebelum rencananya berhasil, Ocean telah kembali ke vila. Niko memanfaatkan kesempatan itu untuk menghabisi “perebut cintanya”. Namun Niko sama sekali tidak memperkirakan jika Ocean memiliki kemampuan bela diri yang mengagumkan. Dia kalah dalam duel sengit dan akan menghadapi tuntutan hukum dan pasal berlapis karena Ocean tidak akan pernah membiarkannya bebas dengan mudah.
“Hati-hati.” Selena berucap dengan nada khawatir sembari memegang lengan kiri Ocean.
Ocean melirik Selena sekilas, tersenyum tipis. “Hei, aku tidak separah itu, Selena. Kenapa sampai dibantu berjalan?”
“Diam saja, Ocean. Siapa tahu tiba-tiba kakimu lemas karena ada luka dalam yang belum diketahui.” Selena berdecak, mempererat cekalannya pada lengan Ocean.
Di dalam vila, sisa kekacauan semalam belum dibereskan, terutama di kamar Selena. Di lantai kamarnya, masih terdapat banyak bercak darah di lantai. Selena langsung membuang muka, tidak kuasa menahan kengeriannya saat melewati pintu kamarnya yang terbuka.
Selena dengan sigap memosisikan dua bantal di belakang punggung Ocean ketika dia hendak duduk di tempat tidur. Selena harus menelan segala ketakutan yang menyergapnya, saatnya fokus pada kesembuhan Ocean.
__ADS_1
“Selain bahu dan pipi, apa ada lagi yang sakit?” Kerutan terlihat di antara alis Selena, menandakan dia masih khawatir terjadi sesuatu yang lebih serius pada Ocean.
“Kau sendiri bagaimana? Kejadian semalam pasti menimbulkan trauma bagimu, bukan? Kau harus segera pergi ke psikolog.”
Selena menggeleng pelan, bertingkah seolah dia baik-baik saja. “Ini bukan hal baru bagiku, Ocean. Sudah beberapa kali aku mengalami hal yang serupa. Yah, meskipun kali ini memang sangat keterlaluan, sih. Aku akan menganggapnya sebagai konsekuensi menjadi seorang aktris.”
Hening. Ocean menatap Selena selama beberapa saat, sebelum berucap, “Itu bukan konsekuensi, Selena. Itu kejahatan. Tidak ada satu pekerjaan pun di dunia yang berhak memperoleh perlakuan yang tidak pantas, apalagi sampai membahayakan nyawa. Aku berjanji, pria itu akan mendapatkan hukuman paling berat, hingga dia tidak akan berani mengganggumu lagi.”
Sorot tanpa keraguan yang ditampilkan Ocean, seolah dia adalah pemenang tunggal di dunia ini, berhasil membuat panas dengan cepat menjalar di pipi Selena, darahnya berdesir hebat. Menatap manik kelam Ocean sedekat ini, Selena merasa tengah bertamasya dalam lembah yang gelap dan dingin. Anehnya, Selena sangat menyukai tempat itu, dia bisa melihat keindahan dalam gulita.
“Ah! Bukannya lukamu harus dibersihkan dan diobati sekarang? Aduh, sudah lebih dari delapan jam sejak dokter mengganti plaster lukanya.”
Selena segera mencuci tangannya, lantas meraih kotak obat yang dia dapatkan dari rumah sakit. Ia duduk di pinggir tempat tidur, dengan hati-hati membuka plaster luka Ocean, ketika tiba-tiba derap langkah cepat menghentikan pergerakannya.
Di ambang pintu kamar, Agatha berseru histeris, lantas berlari menghambur memeluk Ocean. Selena melebarkan mata demi melihat adegan itu, segera menurunkan tangannya yang hendak melepaskan plaster luka.
“Syukurlah ... syukurlah kau tidak apa-apa.” Agatha terisak di lengan Ocean yang bebas dari sling arm, badannya bergetar. “Aku takut sekali ....”
Seolah tengah menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat, Selena tahu diri untuk membuang muka. Suasana hatinya menjadi aneh sekali, dalam sekejap perasaan bahagia karena ucapan Ocean menguap tak bersisa.
“Agatha ... aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Ocean bergerak-gerak canggung, melirik Selena beberapa kali. “Tidak perlu menangis.”
__ADS_1
Sambil sesenggukan, mengusap air matanya, Agatha perlahan melepaskan pelukannya. Pandangannya langsung tertuju pada Selena yang duduk di seberangnya. “Eh, Selena ... aku minta maaf. Sepertinya aku sudah berlebihan.”
Status baru Ocean sebagai suami orang lain benar-benar membuat Agatha tidak bisa bergerak leluasa. Semua tindakannya pada Ocean serba dibatasi agar tidak menyinggung perasaan Selena.
“Kau baru mau mengganti plaster luka, ya, Selena? Boleh aku saja yang melakukannya? Aku pernah mengikuti kursus emergency medicine.” Agatha—seperti biasanya—menawarkan diri untuk membantu.
Selena sejenak menatap Agatha, lantas mengangguk pelan. Agatha mengucapkan terima kasih berkali-kali sebelum akhirnya dengan hati-hati melepaskan plaster luka di pipi Ocean.
“Kalau begitu aku akan membuatkanmu bubur, Ocean. Kau belum makan siang.” Selena beranjak berdiri. Suasana mengharukan yang terjalin karena “ketulusan” Agatha seolah menjadi isyarat agar Selena segera menyingkir. Ocean dan Agatha butuh waktu berdua.
“Kau yakin bisa melakukannya sendiri, Selena?” seru Ocean sebelum Selena benar-benar keluar dari kamar.
Selena menoleh, tersenyum tipis dan mengangkat bahu, sebelum berlalu dari sana.
Namun sikap seolah baik-baik saja Selena hanya bertahan hingga di ambang pintu kamar Ocean, karena sesampainya di dapur, bibir Selena sudah lincah memaki Agatha.
Jleb!
Pisau dapur menancap pada talenan kayu setelah dihunuskan dengan kuat oleh Selena sebagai pelampiasan kekesalannya. Meskipun menyukai Ocean sebesar itu, bukankah seharusnya Agatha bisa menahan diri agar tidak berbuat seenaknya? Biar bagaimanapun, Ocean sudah punya istri sekarang. Tidak etis rasanya memeluk suami orang sembarangan.
Karena adanya penggemar fanatik itu juga membuat Selena lupa akan rencananya membuat Ocean jatuh cinta padanya. Kalau dipikir-pikir, bukankah ini kesempatan emas Selena untuk menjalankan rencananya? Ocean sedang sakit, dia yang merawat. Mudah sekali mengambil hati Ocean jika Selena bisa melakukan dengan baik.
__ADS_1
Sekarang, tugas Selena hanya satu: menyingkirkan Agatha yang menjadi penghalang rencana besarnya. Setelah ini, Selena bersumpah dia tidak akan pernah kalah lagi.
...****...