Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
BAB 34| BENCANA MAKAN SIANG


__ADS_3

Di Minneapolis, Amerika Serikat, terdapat sebuah ruangan paling sunyi di dunia. Anechoic chamber. Ruangan itu dibangun sedemikian rupa hingga menjadi ruangan kedap suara tahap mengerikan. Orang yang berada di dalam ruangan itu bisa dengan jelas mendengar embusan napas paling lembut sekalipun, detak jantung, suara tulang saat bergerak, bahkan aliran darahnya sendiri. Hanya butuh waktu empat puluh lima menit bagi seseorang yang bertahan di sana untuk kehilangan akal sehatnya.


Namun bagi Selena, empat puluh lima menit terlalu lama. Di kamar Ocean yang tidak sesunyi anechoic chamber, tiga menit setelah Ocean memeluknya, Selena sudah merasa gila. Dia takut detak jantungnya yang menggila akan sampai di telinga Ocean, pun napasnya yang mulai menderu. Dia bahkan tidak bisa bergerak sedikit pun meskipun ingin melarikan diri sekarang juga.


“Selena?”


Suara parau Ocean membuat Selena terperanjat, batu yang menyumpal tenggorokannya seakan luruh perlahan. “K-kenapa?”


“Bagaimana sekarang? Aliennya sudah pergi?”


Jika diibaratkan sebuah komik, di atas kepala Selena pasti muncul simbol loading. Alien? Apa Selena hidup di genre yang salah?


“Kalau belum, terus bersembunyi di balik lenganku. Mereka tidak akan menemukanmu.”


Fantasi Selena runtuh seketika. Dia seperti dibanting ke dalam realita menyedihkan yang turut serta meleburkan kupu-kupu yang seakan beterbangan di kamar Ocean. Seharusnya Selena sudah bisa memperkirakannya, sehingga ketika terbanting jatuh seperti ini dia telah membuat landasan aman.


“Sial, lalu buat apa aku berdebar? Bahkan saat mabuk pun dia mempermainkanku.” Selena berdecak, memukul pelan lengan Ocean.


Meskipun kesal sekali, Selena tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa dia menyukai posisinya sekarang. Hangat yang menjalar melalui lengan Ocean dan ritme napasnya yang teratur membuat Selena berharap waktu berhenti sekarang. Tidak ada Agatha, tidak ada Felix, pun tidak ada masalah yang menyebalkan. Hanya ada Ocean.


Selena memejamkan matanya, menyimpan baik-baik setiap detik momen ini. Selena ingin menempatkan Ocean dalam ruang baru di sudut hatinya. Bukan Ocean si Perfect Cassanova yang tidak berperasaan, melainkan Ocean Arkananta, perisai paling mengagumkan yang pernah dia miliki.


“Pinjam lenganmu lima menit lagi, Ocean. Aku ingin tidur sebentar.”


...****...


“Kau tidak mau bangun?” Selena berseru galak, berkacak pinggang di samping Ocean.


Ocean melenguh pelan, merasakan kepalanya yang masih berat dan perutnya yang bergejolak mual.


“Kau ada meeting pagi ini, Ocean. Noah baru saja meneleponku. Ambil minuman pereda pengar di meja makan, aku akan membangunkan Felix dulu.” Selena balik badan, pagi ini ada banyak yang harus dia lakukan. “Hah ... apa mereka bocah lima tahun dan aku pengasuhnya? Bahkan punggungku masih sakit karena tidur si sofa. Aku pasti pernah membuat dosa besar di masa lalu.”


Menuruni anak tangga sambil menggerutu, Selena menghela napas panjang saat membuka pintu kamarnya. Felix masih bergelung di dalam selimut, tidurnya tampak nyenyak sekali.


“Bangun, Felix. Bukankah kau bilang ingin bertemu dengan manajer brand?” Selena menepuk kaki Felix berkali-kali.


Pria itu bergeming.


“Kau mau bangun atau aku siram dengan air mendidih?” Kesabaran Selena mulai habis.


“Lima menit lagi, Selena.” Felix menjawab dengan suara seraknya, tidak terlihat berniat untuk lepas dari selimutnya.


Selena mendesis, melompat ke depan Felix, lantas menarik kemejanya hingga membuat pria itu terpaksa bangun. “Jangan memancing emosiku, Felix.”


Dalam posisi duduk seperti ini, berhadapan dengan Selena dalam jarak dekat, Felix tersenyum. Tangannya kemudian bergerak untuk memeluk Selena, menariknya mendekat. Mata Felix terpejam seiring aroma shampo yang menelusup indra penciumannya. Rosemary. Segar dan khas Selena.


“Selamat pagi, Selena. Sudah lama sekali kita tidak melakukan pelukan selamat pagi seperti ini.” Felix berbisik, mengusap lembut rambut Selena yang masih setengah basah.

__ADS_1


Selena mengusap pipinya, agak kurang nyaman dengan pelukan tiba-tiba Felix. “Benar juga. Ada banyak hal yang berubah belakangan ini.” Selena termenung sejenak, merasa amat bersalah karena jarang meluangkan waktu untuk Felix. Beberapa waktu belakangan Selena sibuk sekali dengan urusan perasaannya yang menyedihkan, memusatkan dunianya pada Ocean. “Aku sudah menyiapkan sarapan ....”


“Tidak, tunggu sebentar lagi. Aku benar-benar rindu denganmu.” Felix mengeratkan pelukannya.


Kini tidak ada yang bisa Selena lakukan selain berdiam diri di tempatnya, membiarkan Felix menumpahkan rasa rindunya.


Mereka terlalu tenggelam dalam pikiran masing-masing hingga tidak menyadari Ocean yang berdiri di luar kamar, menghentikan langkahnya sejenak saat ingin pergi ke dapur. Ia menoleh, menatap Selena dan Felix yang tampak begitu menikmati kebersamaan mereka.


Biasanya Ocean tidak begitu peduli dengan hubungan keduanya, namun kali ini dia tidak bisa mengalihkan pandangannya.


...****...


“Ah, dia masih meeting rupanya.” Selena menggembungkan pipinya kecewa.


“Nyonya Selena membawakan makan siang untuk Pak Ocean?” tanya Noah di balik meja kerjanya.


Selena mengangkat paper bag, menunjukkan makan siang Ocean. “Aku akan menunggu kalau begitu .... Hei, kau ada waktu luang, Noah? Ayo temani aku main sesuatu selagi menunggu Ocean. Aku cepat bosan jika tidak melakukan apa pun.”


“Kalau Nyonya Selena yang meminta, meskipun sedang berperang sekalipun saya akan selalu bersedia meluangkan waktu.” Noah mengatakan gurauan itu dengan wajah serius, membuat Selena tertawa melihatnya. “Apa Nyonya bisa bermain kartu?”


“Aku bahkan julukan Card Wizard saat SMA karena terlalu mahir, Noah.” Selena menyibak rambutnya, menyombongkan diri. “Meskipun kau manis sekali, aku tidak akan mengalah, ya. Persiapkan kekalahanmu.”


Noah tertawa, mengacungkan jempol. Setelah mengambil kartu yang biasa dia mainkan dengan karyawan lain, Noah bergegas menyusul Selena yang telah lebih dulu masuk ke ruangan Ocean.


Duduk bersila di lantai, Noah yang bertugas membagi kartu, sementara Selena menyiapkan compact powder miliknya sebagai ganti karena tidak ada bedak tabur. Aturan dasar bermain kartu: yang kalah wajahnya harus dibaluri bedak.


“Kau kalah lagi. Kemari, biar kubuat gambar kotoran di dahimu.” Selena tertawa keras sembari mengoleskan jari telunjuknya di compact powder.


Noah menampilkan ekspresi memelas sebelum akhirnya memajukan wajahnya ke arah Selena.


“Kau mau gambar kotoran ayam atau kucing, Noah?” Selena sudah sibuk mengoleskan bedak ke dahi Noah, menggambar sesuatu di sana.


“Ayam saja yang kecil—”


Noah sedikit tersentak saat pintu ruangan dibuka dari luar. Mereka menoleh hampir bersamaan, menemukan Ocean dan Agatha di daun pintu. Agatha terlihat kaget, kontras dengan Ocean yang tetap beraut datar.


“Ah, kau kembali.” Selena membuka suara terlebih dulu. “Sudah makan siang?”


“Melihat kau bisa bermain-main, sepertinya pekerjaanmu sudah selesai, Noah.” Ocean memberikan tatapan horor kepada Noah hingga membuat pria itu bergidik, menyadari akan mendapat omelan karena meninggalkan pekerjaannya.


“Aku yang memintanya menemaniku selagi menunggumu. Kau kenapa kejam sekali padanya?” Selena balas menatap sinis. “Aku tanya kau sudah makan siang atau belum.”


“Sudah.” Ocean menjawab pendek, santai melangkah menuju sofa panjang, diikuti Agatha di belakangnya.  


“Tahu begitu, aku tidak repot-repot membawakanmu makan siang.” Selena berdecak. “Kau belum makan siang, ‘kan, Noah? Ayo kita makan bersama.”


“Oh, sejak lama saya sudah ingin mencicipi masakan Nyo—nya ....” Noah meneguk saliva saat Ocean memberinya lirikan tajam, seperti tengah mengulitinya. “Tidak usah, Nyonya. Saya makan sendirian saja nanti.”

__ADS_1


“Apanya yang tidak usah? Aku sengaja membawa untuk dua porsi. Tunggu sebentar.” Selena bersemangat sekali mengeluarkan kotak makan dari paper bag, menatanya di depan Noah hingga membuatnya berdecak kagum.


“Aku masih perlu membicarakan pekerjaan dengan Agatha, kalian bisa makan siang di luar ruangan.”


Perkataan Ocean berhasil melenyapkan semangat di wajah Selena. “Kalau kalian ingin membicarakan sesuatu, ya tinggal bicara saja. Aku dan Noah akan makan tanpa berisik.”


Ocean menghela napas pelan, atensinya masih terpusat kepada dua orang yang seperti tengah piknik itu.


“Wah, sup ayam dan udang tepung. Ibu saya sering membuatnya di rumah.” Noah bertepuk tangan ceria. Ia mengucapkan terima kasih saat Selena menyodorkan kotak makan. “Rasanya sungguh—uhuk!”


Noah spontan tersedak rasa antah-berantah menyambut lidahnya. Dia bergegas menutup mulut, mencegah makanan keluar meskipun sepertinya dia tidak akan sanggup menelan makanan itu. Noah menoleh ke arah Ocean, mendapati bosnya itu masih setia menatapnya.


“Telan.” Ocean berucap tanpa suara, tatapannya menajam.


Demi melihat itu, Noah menelan bulat-bulat makanan tanpa mengunyahnya terlebih dulu. Bisa-bisa dia yang akan ditelan jika membantah ucapan Ocean. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana bisa bosnya itu selalu menghabiskan makanan yang seperti siksa Tuhan ini? Benar-benar tidak bisa dipercaya.


“E-enak sekali, Nyonya Selena ....” Noah tersenyum dipaksakan.


“Kau membuatku malu, Noah. Aku masih perlu belajar lagi.” Selena mengibaskan tangannya, tertawa kecil.


“Bisa kita mulai, Ocean?” Agatha bertanya pelan, mengalihkan perhatian Ocean.


Ocean mengangguk sekali.


“Aku akan langsung membuat desain interiornya setelah mendengar pendapatmu. Aku membayangkan tentang desain kontemporer yang tidak melepaskan ‘khas’ Labuan Bajo. Wisatawan asing, wiasatawan domestik, bukankah mereka pergi ke sana karena ingin merasakan sesuatu yang autentik?”


“Kurasa semua hotel di sana juga mengusung konsep autentik, Agatha.”


“Ah, maaf. Sepertinya aku tidak bisa berpikir jernih, sisa mabuk semalam.” Agatha bergerak-gerak kikuk, menyalahkan otaknya yang hari ini tiba-tiba tidak berjalan seperti biasanya.


“Aku tidak ingin hotel baru ini ‘terkutuk zaman’ meski beberapa elemen tradisional memang perlu kita masukkan. Bagian lobi harus terlihat lebih mencolok, mungkin kita bisa menambahkan feature wall yang elegan. Aku berencana menjadikan tangga yang meliuk di tengah lobi sebagai ikon hotel. Buat tangga itu menjadi objek paling menarik perhatian.” Ocean menjeda perkataannya sejenak, memikirkan sesuatu. “Dan kita juga bisa memasang lampu-lampu gantung kristal transparan ukuran kecil di bagian tengah langit-langit lounge, sehingga para tamu seolah bisa menyaksikan taburan bintang selagi mereka bersantai. Di hotel ini aku ingin mengusung kesan kuat pada pandangan pertama. Mutiara di rumah komodo.”


Selena menyuapkan udang tepung ke mulutnya, merasakan asin keterlaluan yang membuatnya meringis. Dia dan Noah benar-benar seperti patung tidak berguna yang hanya mendengarkan pembicaraan serius mereka. Noah berkali-kali ingin muntah, yang kemudian dia tutupi dengan berdeham.


Hampir dua puluh menit berdiskusi tanpa henti, Ocean bangkit berdiri bersamaan dengan Selena yang selesai membereskan kotak makan. Selena segera meraih sesuatu di paper bag, lantas berjalan ke arah Ocean.


“Jus pisang. Kudengar cocok diminum setelah mabuk.”


Ocean menatap Selena sejenak, sebelum akhirnya menerima jus itu.


“Aku pulang dulu kalau begitu. Kabari aku jika pulang terlambat.” Selena balik badan, berniat mengobrol sebentar dengan Noah di luar ruangan. Namun baru selangkah, Selena kembali menoleh saat tangannya ditarik oleh Ocean.


Ocean berjalan mendekat, mengangkat tangannya ke arah pipi Selena, lantas mengusapnya lembut. “Kau tidak membersihkan bedaknya dengan sempurna.”


Dan ada tiga reaksi di ruangan itu. Noah yang mengulum senyum sembari menutup wajahnya, Selena yang merasakan panas menjalar di pipinya, dan Agatha yang mengepalkan tangan seiring matanya yang mulai nanar.


Agatha menyadari jaraknya dan Selena sudah terlampau jauh.

__ADS_1


...****...


__ADS_2