
Gemuruh tepuk tangan dan seruan penonton menggema di langit-langit ruangan, menciptakan euforia yang meletup-letup. Di depan sana, para pemain teater saling mengaitkan tangan, membungkuk memberi hormat, lantas tirai tertutup perlahan.
Pertunjukan Broadway telah berakhir. Para penonton mulai beranjak keluar dari teater, mengular menuju pintu keluar yang telah dibuka lebar-lebar. Selena masih setia duduk di kursinya, semakin menurunkan topi hitam untuk menutupi wajahnya. Dia akan menunggu keadaan kondusif, baru keluar dari sana.
“Seharusnya pertunjukan teater dimasukkan dalam daftar keajaiban dunia. Suasana hatiku jauh lebih baik setelah menontonnya.” Selena tersenyum lebar, menyandarkan punggungnya. “Sierra Boggess ... dia memang selalu luar biasa!”
Butuh berbulan-bulan bagi Selena untuk menunggu pertunjukan ini. Tiketnya ludes terjual hanya dalam hitungan jam. Beruntung, Liam sangat bisa diandalkan, Selena berhasil memperoleh satu tiket. Dan pertunjukan teater ini datang di waktu yang tepat, Selena sedang mengalami hari-hari yang buruk belakangan ini.
“Ah, aku harus memberi tahu Ocean.” Selena meraih ponselnya, mengetikkan pesan pada Ocean. Dia berjanji akan menjemput Selena jika pertunjukan telah selesai, bilang berbahaya jika pulang sendiri malam-malam. “Padahal aku bisa naik taksi—”
Deg!
Ekor mata Selena menangkap sesuatu. Seseorang yang amat familiar tengah tertawa di deret kursi di depan sana. Selena seperti kehilangan detak jantungnya, sorot matanya berubah nanar ketika pemandangan itu seperti tengah merenggut seluruh emosinya, melemparkannya menuju dunia tanpa warna.
Felix. Pria itu tengah bersenda gurau bersama seorang wanita. Dia menggenggam tangan wanita itu dengan erat, melangkah melewati deretan kursi yang hampir kosong. Felix terlihat membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu, untuk kemudian mereka tertawa lepas. Dari sudut pandang Selena sekarang, mereka tampak seperti pasangan yang sedang dimabuk asmara.
Meneguk saliva, Selena memaksa dirinya untuk bangkit berdiri, lantas berjalan cepat, mencoba mengimbangi langkah kaki mereka. Ketika Felix dan wanita itu keluar dari deretan kursi, hendak menuju pintu keluar, Selena menghadang mereka sambil menyembunyikan tangannya yang bergetar.
“Oh, Selena? Kau di sini.” Nada suara Felix terdengar tenang. Dia bahkan merasa tidak perlu repot-repot melepaskan genggaman tangannya pada wanita itu.
“Kau—” Selena mencoba mengendalikan lidahnya yang tiba-tiba terasa tercekat. “Rupanya kau menonton pertunjukannya juga, Felix.”
“Ya, aku menikmatinya.” Air muka Felix masih santai, seolah sedang mengobrol di suasana yang santai pula.
“Seharusnya kau bilang padaku, kita bisa pergi menonton bersama. Kau, ‘kan, tahu aku penggemar Broadway.”
“Kukira kau tidak datang karena bahumu terluka.”
Selena mengambil napas pelan. “Lalu ... siapa wanita yang bersamamu?” Tangan Selena di belakang punggung mengepal erat.
__ADS_1
“Ah, kenalkan, dia Ariana.” Felix menoleh ke arah wanita itu, tersenyum. “Dan kau pasti sudah kenal dengan Selena, Ari. Tidak ada orang yang tidak kenal Selena di negara ini.”
Ariana tersenyum ramah pada Selena, memperkenalkan dirinya singkat.
Selena terus membujuk dirinya agar bertingkah senormal mungkin, mengusir jauh-jauh pikiran buruk yang terus memenuhi kepalanya.
“Kau pasti penggemar pertunjukan teater juga, Ariana.” Selena memaksakan seulas senyum. “Kau tidak pernah memperkenalkan Ariana padaku sebelumnya, Felix. Kalian baru berteman?”
“Tidak.” Sorot mata Felix tampak lebih serius sekarang. “Aku sudah lama mengenalnya. Beberapa bulan belakangan ini, Ari yang selalu ada di sampingku, menjadi teman bicara yang menyenangkan, tempat menumpahkan perasaan paling nyaman. Dia bahkan menemaniku melakukan hal-hal kecil seperti membeli pakaian dan menonton film di rumah.”
Selena membeku, merasa ada ribuan duri yang menancap di kakinya, membuatnya tidak bisa bergerak.
Mengabaikan raut Selena yang seperti tidak bernyawa, Felix berucap dengan suara yang lebih dalam, “Maka dari itu kami memutuskan untuk berkencan, Selena.”
Selena mundur selangkah, kakinya lemas luar biasa. Omong kosong macam apa ini?
Oleh kesadaran yang menghantamnya begitu keras, air mata yang ditahan Selena akhirnya luruh. Selena sungguh tidak berhak menyalahkan Felix atas apa yang terjadi. Daripada merasa terkhianati, perasaan bersalah, kecewa dengan diri sendiri lebih pekat dirasakannya. Dalam beberapa sudut pandang, tindakan Felix benar-benar bisa dipahami. Dalam hubungan ini, Selena lebih cocok dikatakan sebagai penjahatnya.
“Jika tidak ada yang mau kaukatakan lagi, aku pergi.” Felix menarik lembut tangan Ariana, membawanya menuju pintu keluar.
Derap langkah Felix yang semakin menjauh membuat Selena tergugu, jatuh terduduk di kursi penonton. Ia terisak pelan, merasakan dadanya sesak bukan main.
Yang tidak Selena ketahui, Felix lebih patah dari siapa pun. Dia menahan seluruh rasa sakit, menyembunyikan sosok dirinya yang telah hancur dengan bertingkah seolah tidak cukup terluka. Felix tengah berusaha untuk menghapus nama Selena pada setiap lembar mimpi yang telah dia tulis, membiarkannya melebur bersama masa depan yang tidak lagi sama.
Mencapai pintu keluar, Felix menoleh ke arah Selena, berbisik, “Hari ini, aku benar-benar melepaskanmu, Selena. Kau bisa terbang bebas sekarang, setinggi yang kau mau.”
...****...
Jalanan tidak terlalu ramai malam ini, mobil Ocean bisa melaju tanpa hambatan berarti. Tangan Ocean lincah menggerakkan kemudi, menyalip dua mobil sekaligus. Dia tengah dalam perjalanan menjemput Selena, setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor.
__ADS_1
Gedung teater tinggal dua ratus meter lagi, laju mobil Ocean berkurang saat dia melihat sosok yang begitu dia kenali di jembatan, pinggir jalan. Sosok itu berdiri membelakangi jalan raya, satu tangannya yang tidak berbalut sling arm berpegangan pada pembatas jembatan. Tidak ada topi yang selalu dia pakai ketika berada di keramaian. Entah apa yang sedang Selena lakukan di sana.
Tidak bisa menghentikan mobilnya sembarangan, Ocean memilih untuk memarkirkan mobil di halaman gedung teater, lantas berlari menuju tempat dia melihat Selena.
Ocean memperlambat larinya saat semakin dekat dengan Selena. Napasnya sedikit tersengal, rambutnya bergerak-gerak tertiup angin malam.
“Apa yang sedang kaulakukan di sini, Selena? Sudah kubilang untuk menunggu di depan gedung teater.” Ocean menghela napas, melangkah cepat ke arah Selena.
Selena menoleh pelan. Rona yang selalu menghiasi wajahnya tidak tertinggal sedikit pun.
Saat akhirnya Ocean berdiri di sampingnya, Selena mengalihkan pandangan ke hamparan sungai dengan arus deras di bawah sana. Sorot matanya terlihat kosong. Ocean segera menyadari ada yang terjadi sebelum dia sampai di sana.
“Menurutmu, aku manusia seperti apa, Ocean?” Selena membuka suara, terdengar serak.
Ocean tidak membalas, hanya menatap Selena.
“Selama ini aku selalu memanggilmu kejam, tidak berperasaan, ternyata ... ternyata aku jauh lebih buruk dari itu.” Selena kembali terisak. Tubuhnya bergetar sebelum akhirnya dia luruh, terduduk sembari menutup wajahnya dengan tangan.
Pemandangan menyedihkan ini membawa Ocean menurunkan badannya, menarik Selena ke dalam pelukannya. Tangis Selena semakin pecah ketika Ocean mengusap lembut rambutnya, menyalurkan hangat.
“Felix pergi, Ocean. Dan aku satu-satunya yang bersalah di sini. Aku orang jahat ....”
Ocean menghela napas samar, membiarkan Selena menumpahkan perasaannya. Felix telah menyerah akan mimpinya bersama Selena. Dia pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal dengan benar. Ocean memang tahu pria itu akan meninggalkan Selena, tapi tidak Ocean sangka akan secepat ini.
Melihat bagaimana Selena begitu terpukul, Ocean tahu mereka berpisah tanpa menyematkan label ‘secara baik-baik’ dalam perjalanan panjang mereka. Ending yang tidak pernah diharapkan siapa pun.
"Saat matahari terbit, kupastikan kau akan baik-baik saja, Selena."
...****...
__ADS_1